FOCUS ON FUNCTIONALISM AND CHILDREN: MOVING BEYOND LIMITED EFFECTS

Pasca perang dunia II terjadi perubahan secara massa pada masyarakat Amerika, meliputi banyak aspek kehidupan, seperti halnya sistem teknologi dan juga pada sistem media. Hingga kemudian, media dipandang sebagai pihak yang bersalah dalam banyaknya permasalahan social yang terjadi di masyarakat. Misalnya, aksi kekerasan pada remaja, anak yang membangkang pada orang tua atau dewasa, serta maraknya isu-isu rasial dan diskriminasi pada golongan tertentu. Hingga dirasakan keburuhan akan teori-teori komunikasi massa untuk kemudian menjelaskan seperti apa peranan ataupun fungsi media pada kehidupan masyarakat. Seperti misalnya, kemudian teori-teori tentang fungsionalisme berkembang pesat dan menjadi tren pada kisaran tahun 1950-1960an.

Fungsionalisme merupakan pendekatan teori yang memahami bahwa suatu system social merupakan organism hidup yang terdiri dari berbagai macam bagian yang bekerja, berfungsi bersama-sama untuk mempertahankan proses utama dari system tersebut. Melalui fungsionalisme, komunikasi massa dapat dipahami dengan jelas sebagai efek yang tampak “terbatas” bagi bagian lain dalam suatu sistem. Hal inilah kemudian yang mendasari beberapa peneliti memiliki pemikiran bahwa sebenarnya teori fungsionalisme dapat dikaitkan dan juga menjelaskan tentang system komunikasi, tak hanya system social saja.

Salah satu teori yang juga menjadi tren di masa itu adalah middle range theory yang digagas oleh , yang didesain untuk menjelaskan domain terbatas atau rentang aksi yang dapat dieksplorasi dengan menggunakan pendekatan empiris. Bila kemudian harus dikaitkan dengan media, implikasi teori ini adalah menghadapi efek terbatas dari media, masing-masing individu yang berperan dalam system komunikasi dapat menambahkan atau mengadakan konstruksi dari perspektif tentang peranan media itu sendiri.

Ketika efek terbatas dari media dikatakan sangat berperan, kebangkitan dari teori-teori fungsionalisme termasuk juga, middle range theory menjadi topic menarik yang dibahas dan diteliti oleh para penggagas teori. Dimana dalam fungsionalisme terdapat perihal mengenai latency dan juga fungsi yang nyata nantinya.

Tapi kemudian fungsionalisme terbentur pada isu narcotizing dysfunction, suatu fenomena ketika terbanjiri oleh suatu isu atau pemberitaan tertentu, masyarakat cenderung menjadi apatis. Media seolah-olah menjadikan masyarakat pihak yang tak berkepentingan dan tak memiliki kekuatan apapun untuk bereaksi akan sesuatu yang tengah terjadi di system sosialnya ataupun system komunikasinya.

Hal ini kemudian menimbulkan perdebatan dan juga pemikiran ulang dari beberapa peneliti dan ahli komunikasi massa mengenai teori efek terbatas. Dimana titik terberat dari pemikiran-pemikiran ini bertumpu pada televisi dan anak-anak. Adalah kemudian pihak yang mempertahankan teori efek terbatas dan perspektifnya, yang memunculkan konsep katarsis. Dalam hal ini, media dikatakan bukanlah penyebab dari mengapa kekerasan seolah mewabah di masyarakat. Bahkan media menjadi penyalur dari stress audience-nya. Konsep ini dianggap kabur dan tidak memiliki validasi dan dicela sebagai teori kognitif social, namun kemudian akhirnya diterima secara meluas.

Teori kognitif social sendiri kemudian menjadi teori yang dianggap mampu mendefinisikan dengan jelas hubungan antara audience dan media, dalam hal ini efek dari tayangan-tayangan di televisi pada perilaku audience sendiri. Dimana anak-anak mejadi imitator, identificator secara langsung menirukan adegan kekerasan yang mereka lihat di televisi. Intinya, anak-anak kehilangan jati dirinya.  Melalui teori ini dijelaskan bahwa pembelajaran (behavior learning) untuk berperilaku bias didapat dari interaksi dengan lingkungan yang melibatkan hubungan timbal balik dari perilaku dan factor-faktor dari individunya sendiri. Teori ini sangat membantu untuk menjelaskan bagaimana audience belajar dari media.

Perdebatan tentang audience dan media serta efeknya kemudian juga memunculkan adanya perspektif active theory. Teori ini memandang pemahaman audience tentang tayangan-tayangan televise akan menyebabkan perhatian, dan oleh karenanya dapat merujuk pada satu efek, bisa juga tanpa efek sama sekali. Di perdebatan teoritik selanjutnya lebih merujuk pada satu teori dimana audience dianggap sangat mampu melakukan apapun dengan adanya media, termasuk bebas memaknai. Sehingaa pengaruh dari media di bawah kontrol si viewers.

Akhirnya, dengan perdebatan demi perdebatan, media tetap memunculkan pemikiran-pemikiran yang kritis. Mengingat media sangatlah penting, dalam konteks media dan anak-anak. Media dalam hal ini, televisi, media dapat dikatakan sebagai jendela awal yang dikenal mereka-mereka di usia dini dan belia sebelum mengenal dunia sebenarnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s