Globalisasi Informasi di Televisi dan Reproduksi Informasi: Kelompok Informasi Masyarakat di Kota Batu Sebagai Bentuk Reproduksi Dalam Sistem Komunikasi Pedesaan

Dalam sebuah tulisannya John Dewey, seorang filsuf Amerika, pernah menyatakan bahwa komunikasi adalah hal yang paling menakjubkan. Dalam pandangannya, masyarakat manusia bertahan karena adanya komunikasi dan terus mengalami perkembangan karena komunikasi juga. Dengan komunikasi, manusia melakukan berbagai penyesuaian diri yang diperlukan dan memenuhi berbagai kebutuhan dan tuntutan yang ada sehingga masyarakat manusia tidak tercerai-berai. Melalui komunikasi pula manusia mempertahankan institusi-institusi sosialnya berikut segenap nilai dan norma perilaku. Bukan sekedar dari hari ke hari. Tapi dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Di setiap masyarakat, mulai dari yang paling primitive  hingga terkompleks, sistem komunikasi menjalankan 4 fungsi. Harold Laswell menjelaskan di antaranya. Seperti penjagaan lingkungan, pengaitan berbagai komponen agar dapat saling menyesuaikan diri dengan lingkungan serta pengalihan warisan sosial. Wilbur Schram menggunakan istilah yang lebih sederhana, sistem komunikasi sebagai penjaga, forum dan guru, kemudian ditambahkan pula fungsi keempat, hiburan.

Setiap masyarakat memiliki sejumlah penjaga yang menyajikan indormasi dan penafsiran atas berbagai peristiwa. Penjaga ini juga memantau kondisi lingkungan dan mendeteksi berbagai ancaman dan masalah, juga berbagai peluang dan dukungan, serta memberitahukan atau menginformasiakn pada masyarakat afar dapat menyesuaikan diri.

Di masyarakat konservatif, penjaga ini adalah sesepuh, yang membimbing dan mengarahkan generasi muda, mesti banyak di antaranya mengeluh bahwa kian tipisnya perhatian generasi muda terhadap tradisi. Di masyarakat modern, jenisnya beragam, termasuk para jurnalis yang meliput berbagai macam informasi beserta perkembangan informasi terkininya.

Dalam menentukan apa yang harus dilakukan untuk menghadapi suatu tantangan, masyarakat menggunakan sistem komunikasi sebagai sebuah ajang diskusi atau forum. Karena perubahan seringkali tak terelakkan, masyarakat harus berembuk sejauh mana perubahan tersebut dapat diterima atau disepakati secara consensus. Dalam masyarakat konservatif atau bisa dikatakan sederhana, keseopakatan dapat dicapai dengan pembicaraan langsung, seang pada masyarakat industry yang kompleks diandalkanlah media massa.

Sistem komunikasi juga dapat merubah kebudayaan. James Carey (2001: 4) dalam tulisannya The Mass Media and Democracy: Between The Modern And Postmodern menyatakan bahwa berbagai media komunikasi yang ada telah mempengaruji asosiasi-asosiasi di antara manusia. Karena pola-pola asosiasi yang tidak bebas maka penerapan control terhadap komunikasi sama dengan penerapan control terhadap kesadaran dan organisasi-organisasi sosialnya.

Sistem komunikasi membawa perubahan ini melalui media, dimana tantangan terhadap hal-hala lama disalurkan. Paradoksnya kemudian adalah, media cenderung mempertahankan status quo, sekaligus juga cenderung untuk menggerusnya sendiri

Sebagai sebuah institusi, sistem komunikasi memiliki kekuatan yang sangat besar. Sistem ini dapat membuat institusi lain lebih kuat atau melemah. Kemampuannya menyebar pesan sekaligus ke berbagai tempat, hingga pelosok pedesaan, menjadikannya sebagai sumber kekuatan terlepas dari informasi ataukah gagasan apa yang disebarkan oleh media. Disini, banyak pihak yang berusaha memanfaatkannya.

Di Indonesia sendiri diyakini pengaruh media massa, terutama televisi sesuai dengan teori jarum hipodermik yaitu bersifat sangat kuat dan langsung kepada masyarakat. Ini disebabkan rendahnya tingakt pendidikan masyarakat Indonesia, yang juga berdampak pada kurangnya minat baca (2006: 92).

Memperbincangkan televisi tak akan ada habisnya. Semua orang menonton televisi, tak ada yang tak menyukainya secara konsumsi informasi maupun hiburan. John Turow menuturkan bahwa kita semua memiliki tontonan favorit di setiap hari kehidupan kita. Bahkan ada kalanya dalam satu hari atau hitungan minggu kita merencakanan apa yang akan kita konsumsi dari televise. Untuk sebagian besar dari kita televise adalah sarana relaksasi yang murah dan menghibur. Dibalik “kotak” tersebut segala seusatunya serba tak terprediksi. Segala ide tentang apa makna televise bagi kita mendarah daging di setiap lini kehidupan (2009:505).

Banyak program-program acara televise yang melekat dalam kehidupan kita. Masing-masing memiliki ruang akses yang besar dalam ruang kehidupan kita. Baik berita resmi maupun tayangan berita yang menghibur. Salah satu program televisi yang paling diperdebatkan misalnya adalah infotainment. Betapa tidak infotainment telah memaksa kita bercinta dengan segala keburukan-keburukan sesama manusia. Tapi, masih juga besar animo masyarakat pada program ini.

Penting bagi kita untuk mengkonsumsi infotainment meski sebagian besar dari kita menyadari konten dari infotainment tidaklah mengedukasi, murni fungsi menghibur. Sebuah penelitian yang dilakukan di kota Klaten dan Sragen menyebutkan bahwa para ibu  di kota tersebut menyadari tentang bahaya infotainment bagi anak-anak dengan tidak membiarkan  anak  menonton  infotainment  sendiri. Para ibu tersebut sebenarnya sadar tentang bahaya tayangan infotainment, namun mereka tetap saja menikmati waktu luang  (leisure  time)  mereka  diisi  dengan  menonton tayangan  infotainment. Mereka intens mengkonsumsi tayangan tersebut (2010:2).

Terpaan program televise tak hanya berimbas di area kota, hal ini juga terjadi pada masyarakat pedesaan. Masyarakat pedesaan dapat dikatakan notabene masyarakat yang hampir tak terdengar feedback-nya dalam sistem komunikasi kita. Pemikiran dan pendapatnya hampir pasti terpinggirkan. Padahal untuk tercapai pada suatu mufakat consensus atas sebuah sikap akan suatu fenomena yang terjadi di media, prosedur dan sistemnya lebih lama dibandingkan masyarakat industry atau modern yang tak pelak terkena terpaan globalisasi informasi seiring berkembangnya teknologi informasi.

Memang untuk beberapa pedesaan di Indonesia telah tersentuh internet dan perkembangan produksi teknologi informasi lainnya. Namun untuk sebagian lainnya masih belum terkena terpaannya dan tetap saja, dalam regulasi di sistem komunikasi kita, minoritas terdengar suaranya. Lalu, bagaimanakah kemudian terjadinya globalisasi informasi melalui televisi ini mempengaruhi dan kemudian terjadi reproduksi informasi oleh masyarakat pedesaan dalam sistem komunikasi Indonesia atau media kita?

Di beberapa desa di Indonesia, misalnya di propinsi Jawa Timur telah terbentuk Kelompok Informasi Masyarakat (KIM). KIM merupakan perkumpulan di masyarakat desa yang memiliki peran strategis dalam upaya menjawab tantangan tersebut, karena KIM sebagai komunitas masyarakat informasi yang tumbuh dan berkembang di tengah – tengah kehidupan masyarakat khususnya di Indonesia merupakan masyarakat sadar informasi yang diharapkan dapat berperan menjadi fasilitator untuk menjembatani kesenjangan komunikasi dan informasi yang terjadi antara pemerintah dengan masyarakat (top down) atau sebaliknya antara masyarakat dan pemerintah (bottom up).

KIM sebagai agen informasi, berperan aktif mendistribusikan informasi yang perlu diketahui oleh masyarakat, sehingga masyarakat dapat melakukan langkah antisipatif yang bermanfataan untuk menopang aktivitas mereka.

Televisi Dan Konsumsi Televisi

Tak hanya infotainment, banyak program televise yang menjadi jenis tayangan televisi yang cukup populer dewasa ini. Tingginya popularitas beberapa program televisi dapat dibuktikan dengan semakin variatifnya program televisi dengan berbagai bentuk dan konsepnya yang menemui pemirsa. Walaupun semakin beragamnya nama tayangan atau program televisi, namun keberagaman nama ini tidak diikuti oleh keberagaman format acara. Anehnya di tengah kualitas tayangan televisi yang begitu-begitu saja, setiap tayangan tetap digandrungi para pemirsa. Pada jam tayangan utama (prime time) yang berkisar pukul enam sore sampai dengan sembilan malam, dimana umumnya di kisaran jam ini program acara memiliki rating tinggi, berbagai program televisi hiburan pun ikut meramaikan kompetisi perebutan rating di kisaran waktu ini.

Graeme Burton dalam bukunya, Memperbincangkan Televisi menjelaskan fenomena ini. Menurut Burton, fenomena tersebut dapat diterminologikan dalam sebuah konsepsi produk dan kesenangan. Semua dapat dimulai dengan ketersediaan dan aksesibilitas penuh terhadap televisi; dengan volume programming yang silih berganti setiap harinya. Pemirsaan digambarkan sebagai sebuah kesenangan. Skala interaksi dan khalayak berbanding lurus dengan taraf kesenangan (2000:116)

Pemirsa dapat begitu mudahnya teralihkan perhatiannya pada acara televisi dan sesegera mungkin mendapat kepuasan. Misalnya kehidupan para selebritis tak memiliki relevansi dengan kehidupan mereka secara literal, namun hal tersebut mempengaruhi dalam konteks mendapat kepuasan ketika mengikuti suatu kasus tertentu pada seorang selebriti. Ada sejumlah penikmat televisi yang menikmati informasi tentang Jokowi atau juga begitu menggilai serial drama tertentu. Baik produk lokal maupun produk negara tetangga, misalnya drama Korea.

John Hartley dalam Burton menyatakan bahwa televisi adalah sebuah usaha kapitalis, alat control sosial sekaligus sumber kesenangan yang populer (2000:117). Jika kita memahami hubungan khalayak dengan televise, kita harus menerima bahwa masyarakat memang menyukai televise. Menurut Burton (2000:118), ada beberapa kesenangan menurut Burton yang dapat diterima oleh khalayak saat menonton televisi:

  • Kesenangan akan pengakuan.

Hingga taraf tertentu ada keakraban yang menyenangkan ketika berbicara tentang televisi. Akan tetapi kesenangan itu adalah kesenangan yang khusus berhubungan dengan familiaritas program atau tokoh yang terkait dengan program tersebut. pengakuan membawa keamanan. Kebiasaan menonton merupakan upaya mendapatkan rasa aman, terlepas dari kesenangan untuk terlibat kembali dengan tokoh yang dianggap menarik. Jenis kesenangan ini berkaitan dengan pengulangan materi dan lain sebagainya.

  • Kesenangan akan refleksi.

Masyarakat suka berbicara tentang televise. Sedikitnya beberapa program telah menjadi pengalaman sosial dan budaya. Materi televise menjadi bagian dari interaksi sosial. Khalayak menikmati kesenangan dalam merefleksi pengalaman pemirsaan mereka, dan dalam mengulang kembali perckaapan, motif-motif, hasil yang dramatis.

  • Kesenangan akan kelanjutan.

Narasi yang tidak selesai, msialnya program yang berseri akan menciptakan sebuah pengertian bahwa senasntiasa ada sesuatu untuk kembali, yang ditunggu. Ada kesenangan dalam melanjutkan, kembali terlibat dalam urusan yang belum usai.

  • Kesenangan akan keterlibatan.

Kesenangan ini membawa khalayak untuk menaruh perhatian kualitas pemirsaan televise yang bersifat aktif. Makna-makna tidak sekedar diserap melalui mata, makna dibangun dalam benak.

  • Kesenangan akan penyelaman.

Hal ini terkait dengan derajat keterlibatan dalam materi. Kesenangan ini memutus hubungan khalayak dengan realitas keseharian. Kesenangan ini mengusir keberadaan realitas lain tanpa tanggung jawab yang menyertai.

  • Kesenangan mengetahui: informasi dan kepuasan.

Kesenangan ini muncul karena keluarbiasaan dan kesenangan yang berasal dari aktualitas. Berbagai jenis kesenangan ini sebagian merupakan konsekuensi dari beragam produk televise, namun berkenaan dengan cara-cara di mana pemirsa merespon produk televisi tersebut.

Menurut Fiske dalam Burton (2002:121), kesenangan merupakan hasil dari hubungan khusus antara makna dan kuasa. Pemirsa merasakan kesenangan saat merasa berada dalam kendali makna yang diperoleh dari materi, saat pemirsa merasa bahaw mereka menentang struktur dominasi yang ada dalam teks televise.

Roland Barthes dalam Burton (2000:122) membedakan dua jenis kesenangan terkait fenomena tersebut. yang pertama disebut dengan jouissance, semacam kesenangan mendalam namun spontan dan terkait dengan emosi. Kedua, plaisir, kesenangan yang dirasionalisasi. Sementara Bordieu berpandangan bahwa melalui televise, khalayak mendapat kesenangan akan sebuah pemahaman tentang identitas, harga diri, pengelompokan, meski terdapat fakta bahwa sistem dominan memberi tempat bagi minat mereka yang subordinat, yang kurang berkuasa. Menurutnya, kesenangan semacam ini membuat pemirsa maerasa kuat. Perasaan kuat menambah resistensi terhadap mereka yang ingin “mempertahankan agar anda tetap pada posisi anda”.

Khalayak Televisi Untuk Program Televisi

Dalam penelitian terkait tentang tayangan televisi yang khusus mengkaji persoalan infotainment dan audience yang dilakukan oleh Fajar Djunaedi (2010) mengutip kajian yang dilakukan oleh Frank Biocca dalam artikelnya yang berjudul  ”Opposing Conceptions  of  the Audience  :  The  Active  and  Passive  Hemispheres  of  Communication Theory”, dijelaskan beberapa kategori khalayak:

  • Pertama adalah  selektifitas  (selectivity).  Khalayak  aktif dianggap selektif  dalam proses  konsumsi  media yang mereka pilih  untuk  digunakan.  Mereka  tidak  asal-asalan  dalam mengkonsumsi  media,  namun  didasari  alasan  dan  tujuan

tertentu.

  • Kedua adalah  utilitarianisme (utilitarianism) di mana khalayak aktif dikatakan mengkonsumsi media  dalam  rangka  suatu  kepentingan  untuk  memenuhi kebutuhan dan tujuan tertentu yang mereka miliki.
  • Karakteristik  yang  ketiga adalah  intensionalitas (intentionality),  yang mengandung makna  penggunaan  secara sengaja  dari  isi  media.
  • Karakteristik  yang  keempat adalah keikutsertaan (involvement),  atau usaha.  Maksudnya khalayak secara  aktif  berfikir  mengenai  alasan  mereka  dalam mengkonsumsi  media.
  • Yang  kelima,  khalayak  aktif  dipercaya sebagai  komunitas  yang  tahan  dalam menghadapi  pengaruh media (impervious to influence), atau tidak mudah dibujuk oleh media itu sendiri.

Masyarakat Pedesaan dan Komunikasinya

Masyarakat pedesaan merupakan bentuk masyarakat dengan kepemilikan ikatan perasaan batin yang kuat. Ciri-ciri masyarakat pedesaan antara lain adalah sebagai berikut :

1. Di dalam masyarakat pedesaan diantara warganya mempunyai hubungan yang lebih mendalam dan erat bila dibandingkan dengan masyarakat pedesaan lainnya di luar batas-batas wilayahnya.

2. Sistem kehidupan umumnya berkelompok dengan dasar kekeluargaan ( Gemeinschaft atau paguyuban )

3. Sebagian besar warga masyarakat pedesaan hidup dari pertanian. Pekerjaan-pekerjaan yang bukan pertanian merupakan pekerjaan sambilan (part tim ) yang biasanya sebagai pengisi waktu luang.

4. Masyarakat tersebut homogen, seperti dalam hal mata pencaharian, agama, adapt istiadat dan sebagainya.

Karena sebagian besar masyarakat mempunyai kepentingan pokok yang hampir sama untuk mencapai kepentingan-kepentingan mereka. Seperti pada waktu mendirikan rumah, upacara pesta perkawinan, memperbaiki jalan desa, membuat saluran air dan sebagainya, dalam hal-hal tersebut mereka akan selalu bekerjasama. Bentuk kerjasama dalam masyarakat itu disebut dengan istilah gotong royong dan tolong menolong.

Bentuk komunikasi di pedesaan lebih cenderung kepada komunikasi antar personal. Yaitu proses pertukaran informasi di antara seseorang dengan paling kurang seorang lainnya atau biasanya diantara dua orang yang dapat langsung diketahui balikannya. Dengan bertambahnya orang yang terlibat dalam komunikasi, menjadi bertambahlah persepsi orang dalam kejadian komunikasi sehingga bertambah komplekslah komunikasi tersebut

Ciri khas dalam hubungan komunikasi masyarakat pedesaan lebih banyak menggunakan komunikasi antarpribadi karena masyarakat pedesaan belum begitu percaya terhadap media massa. Artinya, masyarakat lebih percaya terhadap informasi yang di sampaikan oleh seseorang yang patut di percaya. Disinilah peran opinion leader berbicara.

Dengan proses komunikasi antarpersonal yang terjadi di pedesaan yang biasa di sebut dengan istilah “gethok tular” artinya pesan komunikasi tersebut disampaikan secara lisan melalui satu orang kepada orang yang lainnya. Dengan demikian, proses komunikasi melalui lisan atau antar persona akan cepat berubah apabila pembaharuan cepat diterima oleh masyarakat desa tetapi bukan berarti masyarakat desa tidak berhak dalam mengkonsumsi teknologi dalam semakin majunya perkembangn zaman seperti sekarang ini.

Perkembangan tekonologi komunikasi dan informasi dewasa ini telah berkembang dengan sangat cepat. Hal ini berimbas pada adanya globalisasi informasi yang menerpa khalayak televisi. Mayoritas masyarakat yang tinggal di daerah pedesaan memerlukan upaya-upaya dan program-program untuk meningkatkan kualitas pembangunan agar tidak semakin tertinggal dengan masyarakat perkotaan. Maka untuk hal ini dibutuhkanlah media. Meski penerimaan masyarakat desa rendah akan media massa,, namun tak bisa dinafikan terpaan dari televisi telah menggantikan beberapa peranan komunikasi antar personal, termasuk peranan opinion leader.

Globalisasi Informasi di Televisi

Globalisasi media massa berawal pada kemajuan teknologi komunikasi dan informasi sejak 1970-an. Dalam masa itulah masyarakat mulai mengenal istilah-istilah populer seperti era informasi atau pun era satelit. Hal ini dilatarbelakangi oleh arus informasi yang semakin meluas ke seluruh dunia, globalisasi informasi dan media massa pun menciptakan keseragaman pemberitaan maupun preferensi acara liputan. Pada akhirnya, sistem media masing-masing negara cenderung seragam dalam hal menentukan kejadian yang dipandang penting untuk diliput. Peristiwa yang terjadi dalam suatu negara, akan segera mempengaruhi perkembangan masyarakat di negara lain. Atau dengan kata lain, menurut istilah John Naisbit dan Patricia Aburdene dalam bukunya  Megatrend 2000 pada tahun 1991, dunia kini telah menjadi ”global village” (Kuswandi 1996).

Akan tetapi ternyata di sisi lain, globalisasi informasi dan komunikasi tidaklah sepenuhnya membawa keuntungan bagi semua orang, masyarakat atau sebuah bangsa. Pengetahuan dan preferensi yang cenderung seragam terhadap informasi yang berasal dari barat justru dapat menumbuhkan kesenjangan internasional dalam berbagai bidang.

Dalam globalisasi media massa dan informasi, dunia menyaksikan peranan telekomunikasi serta media elektronik yang luar biasa. Dunia kian menjadi kosmopolitan dan manusia saling mempengaruhi dalam hal perilaku (1996). Arus globalisasi itu tidak berdiri sendiri, tetapi ditemani oleh perdagangan (globalisasi pasar) serta perjalanan dengan transportasi yang cepat.Memang membahas mengenai globalisasi media juga tidak terlepas dari kepentingan kapitalisme di dalamnya.

Beberapa akibat yang dapat terjadi kemudian adalah fenomena dehumanisasi dan alienasi. Itulah dampak yang mungkin timbul sebagai konsekuensi dari globalisasi media massa dan informasi. Akibat yang lebih jauh lagi adalah sulitnya mengendalikan arus nilai-nilai kosmopolit (asing) di suatu negara, khususnya pada negara-negara berkembang seperti halnya Indonesia. Meskipun globalisasi informasi dan media massa tidak lagi terlalu relevan untuk dipersoalkan dari sudut isu ketimpangan arus informasi dan komunikasi dunia internasional, tetapi muncul masalah lain yaitu siapakah yang mengontrol nilai budaya apa yang dominant dalam globalisasi media itu.

Segala perubahan yang terjadi dalam penjelasan di atas tidak terlepas dari revolusi industri dan masa setelahnya yang penuh kemajuan di bidang teknologi. Seperti pula yang telah dijelaskan oleh Alfin Toffler mengenai gelombang ke-tiga. Selain itu juga masyarakat pascaindustri oleh Daniel Bell yang diantaranya adalah; komunikasi dan pemrosesan data, penerbangan dan angkasa luar, energi alternatif dan dapat diperbaharui, teknologi biologi dan teknologi genetik (1996).

Banyak sekali memang pendapat para tokoh komunikasi mengenai fenomena kemajuan teknologi komunikasi dan informasi ini, begitu pula dampak serta akibat yang dihasilkannya. Dennis McQuail, dalam bukunya Mass Communication Theory menyatakan bahwa batasan public tentang media lebih banyak dibentuk oleh media itu sendiri secara langsung (2010). Adapun kondisi sosial budaya serta ciri-ciri intrinsik berbagai teknologi pun juga turut menyertainya. Setiap media cenderung mempunyai tempat dalam citra massa, serangkaian asosiasi dan harapan menyangkut fungsi dan kegunaannya.

Secara tidak langsung, globalisasi informasi serta komunikasi massa yang berhubungan dengan perangkat-perangkat teknologi tinggi akan membudaya dan tersosialisasi dalam kehidupan masyarakat yang lama kelamaan berkembang menuju tingkat kemajuan pengetahuan teknologi industrialisasi, khususnya proses interaksi antar manusia dalam berbagai isi pesan yang semakin universal.

ANALISA KASUS DENGAN TEORI TERKAIT PERSPEKTIF SISTEM & AKTOR

Pada masyarakat pedesaan dimana sebagian besar mereka adalah masyarakat tradisional, sudah sangat akrab dengan media rakyat. Namun masyarakat pedesaan saat ini begitu terikat dengan televisi. Di sebuah desa di Cepu (berdasar pengamatan pribadi penulis setiap hari lebaran), peran televisi mampu menggantikan keinginan untuk saling bersilaturahmi antar masyarakatnya yang dulu begitu melekat dengan tipikal masyarakat ini. Ketika sedang mengkonsumsi tayangan televisi, maka ketika membicarakan perihal program televisi terkait, kedekatan atau proximity yang baru dengan anggota masyarakat yang lain pun tercipta.

Tulisan ini mencoba menghubungkan realitas terpaan globalisasi informasi melalui televise di masyarakat pedesaan dengan teori strukturasi milik Anthony Giddens. Yang menjadi titik beratnya adalah dualitas struktur dan bagaimana informasi dari media massa tersebut dapat direproduksi oleh masyarakat pedesaan, meski, kecil kemungkinannya reproduksi informasi tersebut untukl didengar hingga di kalangan atas.

Beberapa pandangan tentang Giddens telah seringkali dianalisa dan digunakan oleh penulis lain untuk menjelaskan fenomena tentang televisi. Gauntlett misalnya, (2002) menjelaskan fenomena media massa dengan pemikiran Giddens untuk menelaah interaksi identitas dan media melalui telaahnya atas modernisasi. Juga melalui telaah Giddens atas tubuh, keagenan, dan identitas. Pemikiran Giddens sangat dekat dengan fenomena industri media dan komunikasi organisasi.

Menurut Giddens, misalnya dalam kajian media, kita dapat melihat wartawan sebagai agen, kemudian pola kerja, prosedur, dan yang berkaitan dengan konteks produksi pesan lainnya adalah struktur. Berita yang diproduksi tersebut selalu berkaitan dengan kecakapan wartawan, ketentuan prosedur di dalam profesi pencari berita, dan strategi organisasi media di mana wartawan tersebut bekerja. Proses produksi berita tersebut juga ada di dalam “struktur” lain yang lebih besar, semisal norma yang berlaku di dalam masyarakat, dan juga “sistem” bila struktur tersebut sudah relatif stabil

Bagaimanakah strukturasi Giddens menjelaskan tentang globalisasi informasi melalui televisi pada masyarakat desa? Komunikasi elektronis yang cepat dan langsung bukanlah sekedar cara untuk menyampaikan berita atau informasi dengan lebih cepat, keberadaannya dapat mengubah setiap relung kehidupan manusia. Globalisasi bukan hanya sekedar soal apa yang terjadi diluar sana, ia juga merupakan fenomena di sini, yang mempengaruhi aspek – aspek kehidupan yang intim dan pribadi. Ini adalah revolusi global yang konsekuensinya dirasakan diseluruh dunia, dari wilayah keerja hingga wilayah politik

Perubahan – perubahan yang terjadi menciptakan sesuatu yang disebut dengan masyarakat cosmopolitan global, yang tidak tenang atau terjamin, namun penuh dengan kegelisahan, serta ditandai dengan jurang pemisah yang dalam. Ketidakberdayaan ini bukanlah disebabkan secara alamiah akan tetapi merefleksikan ketidak mampuan lembaga-lembaga kita.

Hal yang penting dalam teori strukturasi Giddens dalam penulisan ini adalah mengenai konsep dualitas struktur. Dimana struktur bukan hanya menghambat melainkan juga memberdayakan sehingga aktor individu ditentukan oleh sejumlah kekuatan sosial yang ada diluar diri mereka sebagai obyek individu.sedangkan struktur sosial tersebut memberdayakan subyek untuk bertindak.

Sebelumnya perlu kita uraikan dulu bagaimana sebuah sistem komunikasi di pedesaan dengan formula Lasswell; who says what to whom through which channel with what effect. Who di sini merupakan media massa, what merupakan bentuk informasi yang dikonsumsi, whom merupakan masyarakat desa, channelnya adalah televisi, dengan efek adanya perubahan kultur sosial budaya di pedesaan karena adanya program-program televisi yang dipilih oleh masyarakat desa.

Sebelum media massa menyerbu pedesaan, opinion leader dan kelompok-kelompok kecil sangatlah berperan dalam sistem komunikasi pedesaan. Namun sejak masuknya televisi, peran opinion leader mulai terminimalisasikan dan termajinalisasi. Bukan hilang sama sekali. Karena untuk beberapa desa, hal ini masih termasuk kasuistik. Sebab masih banyak juga masyarakat desa yang tak begitu diterpa oleh media massa.

Dalam teori strukturasi, Giddens menyatakan bahwa kehidupan sosial tidak semata-mata ditentukan oleh kekuatan-kekuatan sosial. Antara agen dan struktur sosial berhubungan satu sama lain. Tindakan yang berulang-ulang (repetisi) dari agen-agen individual yang mereproduksi struktur tersebut. tindakan sehari-hari seseorang memperkuat dan mereproduksi seperangkat ekspektasi. Perangkat ekspektasi inilah yang kemudian membentuk kekuatan sosial dan struktur sosial. Sehingga terdapat struktur sosial seperti tradisi, institusi aturan moral, serta cara-cara untuk melakukan sesuatu. Sehinga juga, bahwa semau struktur dapat diubah ketika orang mulai mengabaikan, menggantikan dan mereproduksinya dengan secara berbeda.

Dualitas pada struktur, yakni, struktur sebagai medium sekaligus sebagai hasil dari tindakan-tindakan agen secara berulang. Sehingga perubahannya tidak berada di luar tindakan, namun sangat terkait dengan produksi dan reproduksi tindakan-tindakan tersebut. Struktur dan agen, beserta tindakan-tindakannya tidak dapat dipahami secara terpisah, pada tingkatan dasar, misalnya, orang menciptakan masyarakat, namun pada saat yang sama orang juga dibatasi oleh masyarakat.

Struktur diciptakan, dipertahankan melalui tindakan-tindakan agen. Sedangkan tindakan-tindakan itu sendiri diberi bentuk yang bermakna hanya melalui kerangka struktur. Jalur kausalitas ini berlangsung ke dua arah timbal balik, sehingga tidak memungkinkan untuk menentukan apa yang mengubah apa. Struktur, dengan demikian memiliki sifat membatasi sekaligus membuka kemungkinan bagi tindakan agen.

Seperti telah dituliskan sebelumnya, masyarakat pedesaan menerapkan sistem komunikasi antarpersonal dalam kehidupan sehari-harinya. Sistem gethok tular sangatlah melekat. Namun media massa menyatakan dan menginformasikan secara berbeda. Bahwa komunikasi dapat dilakukan tanpa tatap muka atau hanya dapat disampaikan pada dan tersampaikan oleh opinion-opinio leader. Melalui tayangan-tayangan berita yang mengedepankan konsep streaming atau katakanlah Metro TV dengan program berita yang memiliki fitur “suara anda”, dimana masyarakat dapat langsung memberikan feedback akan segala sesuatu yang tengah terjadi melalui teknologi informasi.

Di kota Batu, di mana sebagian masyarakatnya memiliki perkebunan sebagai pemasukan utama, selain bertani dan berdagang terdapat KIM, Kelompok Informasi Masyarakat. Anggota KIM sendiri, sebagian besar bertani dan berdagang. Melalui kelompok ini, feedback masyarakat tentang tayangan televise lokal, Batu TV atau Televisi lokal lainnya yang ditonotn oleh masyarakat dapat terdistribusikan ke divisi di pemerintahan daerah.

Sistem yang berubah adalah, sebelum berdirinya KIM, masyarakat berusaha menyalurkannya ke kepala dusun, kepala desa atau opinion leader setempat. Atau bahkan perihal protes akan tayangan televise lokal diperbincangkan di paguyuban-paguyuban atau perkumpulan kelompok informal. Namun berakhir dengan menguap begitu saja.

Hal ini mengalami perubahan ketika terjadi pelaksanaan kuliah kerja nyata oleh mahasiswa dari beberapa perguruan tinggi di Malang di desa Batu. Sebagian menjelaskan tentang penting dan bahayanya televisi, bahkan memberikan pelatihan blog, sebagai produk dari teknologi informasi, dan bagaimana kemudian hal-hal tersebut dapat membawa opini mereka naik ke jenjang yang lebih tinggi.

Beberapa ketua paguyuban akhirnya melakukan rembug desa dan dalam proses yang cukup lama akhirnya berdirilah KIM. Dengan terbentuknya KIM, otomatis prosedur dan berjalannya sistem komunikasi mengalami perubahan. Opinion leader bukan lagi perorangan namun menjadi kelompok. Mereka yang dituakan tak lagi dijadikan sebagai ujung tombak komunikasi dalam menyampaikan dan tersampaikannya suatu informasi.

Walau sebagian besar dari anggota KIM belum memahami konten televisi secara konteks komunikasi, akhirnya protes dari masyarakat tentang konten televisi lokal dapat terinformasikan pada pemerintahan daerah. Meski, menurut salah satu anggota KIM yang pernah ditemui penulis sebelumnya, masih belum terjadi perubahan dalam konten-konten program tayangan televisi lokal, khususnya Batu TV.

KIM disini dapat dikatakan sebagai bentuk reproduksi dari adanya tindakan-tindakan agen secara individual yang kemudian membawa perubahan pada sistem. Meski secara garis besar tidak dapat dikatakan berhasil, karena protes dari masyarakat hanya ditampung dan tidak mendapat aksi yang diharapkan dari pemerintah daerah setempat terkait konten program-program televisi lokal.

LITERATUR

SUMBER BUKU

Burton, Graeme. 2000. Memperbincangkan Televisi. Jalasutra: Yogyakarta

Carey, James. 1993. Mass Media and Democracy. Journal of International Affairs 47:1-21. The Trustees of Colombia University Press: New York

Curran, James. 2011. Media and Democracy. Routledge: New York

Fiske, John. 1997. Television Culture. Rotledge: London

Gauntlet, David. 2002. Media, gender and Identity. Routledge: New York.

Griffin, Emory A. 2003. A First Look At Communication Theory, 5th Edition. McGraw-Hill: New York.

Inglis, Fred. 1990. Media Theory : An Introduction. Basil Blackwell Ltd: Massachusset.

Kuswandi, Wawan, 1996.  Komunikasi Massa Media Televisi: Sebuah Analisis Isi Pesan Media Televisi. Rineka Cipta: Jakarta.

Little John, Stephen W, Foss, Karen. A, 2009 , Encyclopedia of Communication Theory, Sage Publications : Singapore

McQuail, Dennis. 2010. McQuail’s Mass Communication Theory. 6th Ed. Sage Publications: Singapore

Rivers, William L. 2003. Mass Media and Modern Society. Prenada Media: Jakarta.

Straubhaar, Joseph, LaRose, 2002, Media Now: Communications Media in The Information Age, Wadsworth Publisher: USA.

Syahputra, Iswandi 2006, Jurnalistik Infotainment : Kancah Baru Jurnalistik Dalam Industri Televisi, Cet. 1, Pilar Media: Yogyakarta.

Turow, Joseph. 2009. Media Today : An Introduction to Mass Communication. 3rd Edition. Routledge: New York

 

SUMBER NON BUKU :

 

PENELITIAN TERKAIT:

  • Banalitas Informasi Dalam Jurnalisme Infotainment Di Media Televisi Dan Dampaknya Terhadap Penonton Infotainment. 2010. Tri Hastuti Nur Dan Fajar Junaedi. UMY: Yogyakarta

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s