Sejarah Film Dokumenter Dan Implikasinya Pada Perkembangan Film Serta Festival Dokumenter Di Indonesia

Secara tradisional, konsepsi media ditujukan pada satu hingga banyak komunikasi yang terakomodir melalu channel elektronik ataupun mekanik, yang menunda feedback dari audience, dan mencapai semua anggota khalayak massa pada waktu yang bersamaan.

Konsepsi tersebut biasanya tertuju pada jenis media selayaknya cetak, radio, televisi, dan film yang dulunya akrab kita sebut dengan media namun saat ini disebut dengan ‘old media’. Bertahun-tahun kemudian, media yang lebih baru seperti televisi kabel dan TV satelit ditambahkan pada kategori tersebut.

Pada perkembangannya kemudian, media digital baru, dalam hal ini, internet, perlu untuk dimasukkan dan melengkapi konsepsi sebuah media massa. Kondisinya adalah kemudian media baru ini mengaburkan perbedaan antara channel yang digunakan dan antara mana yang bersifat massa dan bersifat antarpersonal.

Jadi kemudian, bagaimanakah kita sampai pada sebuah terminology yang dapat menjelaskan secara gamblang konsepsi media massa? Maka kita memerlukan paying terminology baru untuk mengkonstruksi sebuah definisi baru. Media komunikasi merupakan media yang termediasi antara elektronik (radio, TV) atau channel mekanik (Koran, majalah). Definisi ini termasuk new media dan juga old media, baik elektronik maupun cetak, dan komunikasi media massa maupun media antarpersonal.

Meski telah terjadi konvergensi media, namun media lama atau biasa disebut dengan old media masih memiliki penikmat dan pangsa pasar tersendiri, baik Koran, radio, film maupun televisi.  Media film misalnya, merupakan media yang tak tergerus oleh masa meski saat ini internet merupakan pilihan media yang paling digemari. Justru dengan keberadaan internet memudahkan adanya promosi dan lebih mendekatkan media-media lain pada masyarakat untuk dikonsumsi meski kemudian menggunakan internet sebagai salurannya.

Perkembangan film di Indonesia sendiri pasca film Ada Apa Dengan Cinta makin mengalami titik terangnya. Semakin banyak film dengan idealism kritis namun banyak juga yang hanya memiliki konten menghibur, diproduksi oleh para sineas di Indonesia Namun bagaimanakah dengan film dokumenter?

Seperti diketahui film documenter bukan merupakan mainstream populer yang sering dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia pada umumnya. Metro TV menggiatkan kembali nafas film dokumenter, yang dalam sejarahnya merupakan jenis film pertama di dunia pasca kategori film bisu, melalui kompetisi Eagle Awards 2009 yang masih digelar hingga saat ini.

Keunikan yang dimiliki film dokumenter adalah tuntutan untuk memberikan sudut pandang yang unik terhadap sebuah fakta peristiwa dan menyampaikannya dengan kreatif. Film dokumenter yang baik harus mampu meyakinkan penontonnya agar setuju atau setidaknya berpikir terhadap sebuah fakta yang ditampilkan. Metro TV melalui program Eagle Awards memberikan sebuah media bagi anak-anak muda yang kreatif untuk kritis terhadap sebuah fakta peristiwa, terhadap sebuah masalah yang sedang terjadi di dalam masyarakat luas agar menjadi sebuah inspirasi perubahan.

Sinergisitas antara Eagle Awards dan anak-anak muda menghasilkan cerita inspiratif dari berbagai sudut pandang yang unik dan tegas. Melalui Eagle Awards anak-anak muda diajak untuk peduli dan kritis terhadap keadaan disekitar mereka dan menjadikan mereka para sutradara documenter Indonesia. Dan melalui pemikiran anak-anak muda, Eagle Awards mencoba mengajak masyarakat untuk melihat berbagai potensi bangsa Indonesia yang ada dibalik banyaknya permasalahan yang sedang dihadapi

Festival lain yang diadakan untuk para sineas dokumenter adalah FFD (Festival Film Dokumenter), yang telah diadakan sejak 2002 di Yogyakarta. Festival Film Dokumenter (FFD) Yogyakarta adalah festival film pertama di Indonesia dan di Asia Tenggara, yang khusus menangani film dokumenter. FFD dilaksanakan secara rutin setiap tahun di bulan Desember berturut-turut semenjak tahun 2002.

Festival Film Dokumenter (FFD) 2012 merupakan penyelenggaraan yang ke-11, masih tetap dengan visi untuk terus memberi ruang bagi aktivitas penciptaan, apresiasi dan sosialisasi, juga pendidikan di bidang film dokumenter dalam arti yang seluas-luasnya. Berangkat dari semangat berkarya, dibimbing dengan nilai-nilai gotong royong, dipandu oleh harapan untuk terwujudnya kehidupan seni, budaya dan kreativitas yang lebih baik, FFD 2012 dilaksanakan dengan program: Kompetisi Film Dokumenter Indonesia, Perspektif, Spektrum, School Docs, SEA Doc (Dokumenter Asia Tenggara),Master Class, Diskusi serta program-program pendukung lainnya.

Sejarah Film

            Dari sekian jenis media massa yang ada, film merupakan salah satu media yang  memberikan kontribusi besar dalam memberikan pengaruh terhadap bagaimana kita menjalani hidup. Sejarah film adalah lebih dari sekadar objek film saja. Kita dapat mengetahui bagaimana film dibuat dan diterima masayarakat. Kita akan memiliki kemampuan untuk membedakan tingkatan pilihan yang ada bagi pembuat atau penikmat film. Dengan mempelajari kebudayaan dan implikasi sosial dari eksistensi film, maka kita akan mampu melacak jejak isu-isu yang berimplikasi pada kehidupan masyarakat sesuai zamannya.

Karena film lama dalam pembuatannya sangat jauh berbeda dengan situasi dan kondisi yang kita alami sekarang. Maka sejarah film lebih mengacu pada masalah narasi besar tentang fakta yang terjadi pada jaman dahulu ditambah dengan bukti-bukti yang tersisa. Sejarah film menerangkan tentang perbedaan perspektif bagaimana film tersebut dibuat, dan perbedaan daya tarik dan tujuan dari film itu sendiri.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, film dapat diartikan dalam dua pengertian. Yang pertama, film merupakan sebuah selaput tipis berbahan seluloid yang digunakan untuk menyimpan gambar negatif dari sebuah objek. Yang kedua, film diartikan sebagai lakon atau gambar hidup. Dalam konteks khusus, film diartikan sebagai lakon hidup atau gambar gerak yang biasanya juga disimpan dalam media seluloid tipis dalam bentuk gambar negatif. Meskipun kini film bukan hanya dapat disimpan dalam media selaput seluloid saja. Film dapat juga disimpan dan diputar kembali dalam media digital.

Tahun-tahun awal pada produksi film ditandai dengan eksperimen pada konten dan bentuk, inovasi teknologi dan tantangan utamanya adalah pergerakan gambar pada film. Pada abad ke 19 terlihat perkembangan yang pesat dari bentuk visual sebagai budaya populer. Industri banyak memproduksi lentera bergerak/ diorama, buku kumpulan fotofoto, dan ilustrasi fiktif. Pada masa itu pula berkembang jenis hiburan yang dapat dinikmati secara visual. Sirkus, “freak shows”, taman hiburan, dan pagelaran musik seringkali berkeliling dari kota ke kota sebagai tontonan yang terbilang murah. Produksi dan biaya perjalanan yang tinggi tidak seimbang secara ekonomis.

Menurut Chris Newbold dalam Media Book (2002:101) film terlebih dulu disebut dengan terminology ‘moving image’. Istilah ‘moving image’ digunakan untuk memaknai segala sesuatu yang secara mekanik, teknologi dan elektronik dalam memproduksi gambar secara aktif dan ditonton oleh khalayak dan termediasikan melalui film, televise, video maupun layar komputer. Menurut Chris, film terdiri dari beberapa elemen penting, yakni kamera dan pergerakannya, editing, lighting, sound, serta special effects (2002:110).

Untuk kepentingan ‘moving images’ dibuat sebuah mainan bergerak semacam diorama yang memproyeksikan bayangan sebuah gambar. Lalu berkembanglah alat-alat lain yang menjadi prinsip dasar sebuah bioskop kelak. Antara lain:

  • Pada 1832 Fisikawan Belgia Joseph Plateau dan profesor geometri Austria Simon Stampfer menemukan Phenakistoscope. Lalu setelah itu ditemukan juga Zoetrope.
  • 1833. Prinsip yang sama dari kedua mainan ini yang nantinya digunakan pada film.
  • Kemampuan fotografi yang bisa mencetak gambar pada bidang datar juga diperlukan dalam perkembangan sejarah film. Foto tersebut dicetak pada lempeng kaca oleh Claude Niépce di tahun 1826. Lalu diproyeksikan per lempeng untuk setiap gerakan. Proses ini memakan waktu beberapa menit setiap frame-nya.
  • Henry Fox Talbot memperkenalkan negatif terbuat dari kertas (2003:16).
  • Selanjutnya George Eastman di tahun 1888, menemukan stil kamera yang mampu
  • menghasilkan foto diatas rol kertas halus dan sensitif/sensitized. Kamera ini dinamai Kodak, fotografi sederhana hingga orang awam pun mampu menggunakan kamera ini.
  • Tahun berikutnya Eastman menemukan rol film seluloid yang transparan untuk stil

kamera. – Pada tahap akhirnya dikembangkan pula mesin proyeksi intermiten yang

mengkoordinasikan pergerakan rol selulosa dan mengatur cahaya.

  • Tahun 1988 Thomas Edison dan asistennya, William Kennedy menemukan kamera pertama yang berfungsi menangkap gambar, ‘the kinetograph’. Edison juga menemukan proyektor kinetoskop pada 1892. Lumiere bersaudara dari Prancis yang kemudian menemukan gagasan untuk memproyeksikan gambar film pada layar (2002:193).
  • Edison mengembangkan Phonograf buatannya untuk dapat mendengarkan rekaman suara berbarengan dengan putaran rol selulosa. Mendengarkan phonograf ini menggunakan alat bantu earphone.
  • Pada tahun 1890-an berdasarkan kondisi teknis bioskop resmi ada.

Pada abad ke 19 terlihat perkembangan yang pesat dari bentuk visual sebagai budaya populer. Industri banyak memproduksi lentera bergerak/ diorama, buku kumpulan fotofoto, dan ilustrasi fiktif. Pada masa itu pula berkembang jenis hiburan yang dapat dinikmati secara visual. Sirkus, “freak shows”, taman hiburan, dan pagelaran musik seringkali berkeliling dari kota ke kota sebagai tontonan yang terbilang murah. Produksi dan biaya perjalanan yang tinggi tidak seimbang secara ekonomis.

Bioskop muncul sebagai suatu alternatif hiburan yang mudah, dengan cara yang lebih sederhana dalam menyajikan hiburan diantara masyarakat luas. Bioskop awalnya ditemukan. pada tahun 1890-an. Muncul pada masa revolusi industri sama halnya seperti masa kemunculan telepon, phonograph, dan automobil. Bioskop menjadi piranti teknologi yang menjadi basis industri yang lebih besar lagi (2003:7)

Sejarah Film Dokumenter

Film dokumenter tidak seperti halnya film fiksi, merupakan sebuah rekaman peristiwa yang diambil dari kejadian yang nyata atau sungguh-sungguh terjadi. Definisi “dokumenter” sendiri selalu berubah sejalan dengan perkembangan film dokumenter dari masa ke masa. Sejak era film bisu, film dokumenter berkembang dari bentuk yang sederhana menjadi semakin kompleks dengan jenis dan fungsi yang semakin bervariasi. Inovasi teknologi kamera dan suara memiliki peran penting bagi perkembangan film dokumenter. Sejak awalnya film dokumenter hanya mengacu pada produksi yang menggunakan format film (seluloid) namun selanjutnya berkembang hingga kini menggunakan format video (digital).

Sejak awal ditemukannya sinema, para pembuat film di Amerika dan Perancis telah mencoba mendokumentasikan apa saja yang ada di sekeliling mereka dengan alat hasil temuan mereka. Seperti Lumiere Bersaudara, mereka merekam peristiwa sehari-hari yang terjadi di sekitar mereka, seperti para buruh yang meninggalkan pabrik, kereta api yang masuk stasiun, buruh bangunan yang bekerja, dan lain sebagainya. Bentuknya masih sangat sederhana (hanya satu shot) dan durasinya pun hanya beberapa detik saja. Film-film ini lebih sering diistilahkan “actuality films”. Beberapa dekade kemudian sejalan dengan penyempurnaan teknologi kamera berkembang menjadi film dokumentasi perjalanan atau ekspedisi, sepertiSouth (1919) yang mengisahkan kegagalan sebuah ekspedisi ke Antartika.

Tonggak awal munculnya film dokumenter secara resmi yang banyak diakui oleh sejarawan adalah film Nanook of the North (1922) karya Robert Flaherty. Filmnya menggambarkan kehidupan seorang Eskimo bernama Nanook di wilayah Kutub Utara. Flaherty menghabiskan waktu hingga enam belas bulan lamanya untuk merekam aktifitas keseharian Nanook beserta istri dan putranya, seperti berburu, makan, tidur, dan sebagainya. Sukses komersil Nanook membawa Flaherty melakukan ekspedisi ke wilayah Samoa untuk memproduksi film dokumenter sejenis berjudul Moana (1926). Walau tidak sesukses Nanook namun melalui film inilah pertama kalinya dikenal istilah “documentary”, melalui ulasan John Grierson di surat kabar New York Sun. Oleh karena peran pentingnya bagi awal perkembangan film dokumenter, para sejarawan sering kali menobatkan Flaherty sebagai “Bapak Film Dokumenter”.

Sukses Nanook juga menginspirasi sineas-produser Merian C. Cooper dan Ernest B. Schoedsack untuk memproduksi film dokumenter penting, Grass: A Nation’s Battle for Life (1925) yang menggambarkan sekelompok suku lokal yang tengah bermigrasi di wilayah Persia. Kemudian berlanjut dengan Chang: A Drama of the Wilderness (1927) sebuah film dokumenter perjalanan yang mengambil lokasi di pedalaman hutan Siam (Thailand). Eksotisme film-film tersebut kelak sangat mempengaruhi produksi film (fiksi) fenomenal produksi Cooper, yaitu King Kong (1933). Di Eropa, beberapa sineas dokumenter berpengaruh juga bermunculan. Di Uni Soviet, Dziga Vertov memunculkan teori “kino eye”. Ia berpendapat bahwa kamera dengan semua tekniknya memiliki nilai lebih dibandingkan mata manusia. Ia mempraktekkan teorinya melalui serangkaian seri cuplikan berita pendek,Kino Pravda (1922), serta The Man with Movie Camera (1929) yang menggambarkan kehidupan keseharian kota-kota besar di Soviet. Sineas-sineas Eropa lainnya yang berpengaruh adalah Walter Ruttman dengan filmnya, Berlin – Symphony of a Big City (1927) lalu Alberto Cavalcanti dengan filmnya Rien Que les Heures.

Film dokumenter berkembang semakin kompleks di era 30-an. Munculnya teknologi suara juga semakin memantapkan bentuk film dokumenter dengan teknik narasi dan iringan ilustrasi musik. Pemerintah, institusi, serta perusahaan besar mulai mendukung produksi film-film dokumenter untuk kepentingan yang beragam. Salah satu film yang paling berpengaruh adalah Triump of the Will(1934) karya sineas wanita Leni Riefenstahl, yang digunakan sebagai alat propaganda Nazi. Untuk kepentingan yang sama, Riefenstahl juga memproduksi film dokumenter penting lainnya, yakni Olympia (1936) yang berisi dokumentasi even Olimpiade di Berlin. Melalui teknik editing dan kamera yang brilyan, atlit-atlit Jerman sebagai simbol bangsa Aria diperlihatkan lebih superior ketimbang atlit-atlit negara lain.

Di Amerika, era depresi besar memicu pemerintah mendukung para sineas dokumenter untuk memberikan informasi seputar latar-belakang penyebab depresi. Salah satu sineas yang menonjol adalah Pare Lorentz. Ia mengawali dengan The Plow that Broke the Plains (1936), dan sukses film ini membuat Lorentz kembali dipercaya memproduksi film dokumenter berpengaruh lainnya, The River (1937). Kesuksesan film-film tersebut membuat pemerintah Amerika serta berbagai institusi makin serius mendukung proyek film-film dokumenter. Dukungan ini kelak semakin intensif pada dekade mendatang setelah perang dunia berkecamuk.

Perang Dunia Kedua mengubah status film dokumenter ke tingkat yang lebih tinggi. Pemerintah Amerika bahkan meminta bantuan industri film Hollywood untuk memproduksi film-film (propaganda) yang mendukung perang. Film-film dokumenter menjadi semakin populer di masyarakat. Sebelum televisi muncul, publik dapat menyaksikan kejadian dan peristiwa di medan perang melalui film dokumenter serta cuplikan berita pendek yang diputar secara reguler di teater-teater. Beberapa sineas papan atas Hollywood, seperti Frank Capra, John Ford, William Wyler, dan John Huston diminta oleh pihak militer untuk memproduksi film-film dokumenter Perang. Capra misalnya, memproduksi tujuh seri film dokumenter panjang bertajuk, Why We Fight (1942-1945) yang dianggap sebagai seri film dokumenter propaganda terbaik yang pernah ada. Capra bahkan bekerja sama dengan studio Disney untuk membuat beberapa sekuen animasinya. Sementara John Ford melalui The Battle of Midway (1942) dan William Wyler melalui Memphis Belle (1944) keduanya juga sukses meraih piala Oscar untuk film dokumenter terbaik.

Pada era setelah pasca Perang Dunia Kedua, perkembangan film dokumenter mengalami perubahan yang cukup signifikan. Film dokumenter makin jarang diputar di teater-teater dan pihak studio pun mulai menghentikan produksinya. Semakin populernya televisi menjadikan pasar baru bagi film dokumenter. Para sineas dokumenter senior, seperti Flaherty, Vertov, serta Grierson sudah tidak lagi produktif seperti pada masanya dulu. Sineas-sineas baru mulai bermunculan dan didukung oleh kondisi dunia yang kini aman dan damai makin memudahkan film-film mereka dikenal dunia internasional. Satu tendensi yang terlihat adalah film-film dokumenter makin personal dan dengan teknologi kamera yang semakin canggih membantu mereka melakukan berbagai inovasi teknik. Tema dokumenter pun makin meluas dan lebih khusus, seperti observasi sosial, ekspedisi dan eksplorasi, liputan even penting, etnografi, seni dan budaya, dan lain sebagainya.

Implikasi Sejarah Film Dokumenter Pada Perkembangan Film Dan Festival Dokumenter Di Indonesia

Janet Horberd dalam Media Cultures menjelaskan tentang makna festival film. Menurt Horberd yang mengutip O’Hagan, jikan ada satu cerita yang dapat merepresentasikan kompleksitas sebuah kepentingan, tekanan dan kontradiksi dalam festival film pada abad ini, adalah Berlin Festival Film yang diadakan pada tahun 2000. Di tahun tersebut, merupakan festival ke 50 dan reunifikasi Jerman tahun ke 10, berlin Film Festival direlokasi dari Zoo Palast ke Potsdamerplats yang dikelilingi oleh venue-venue hamburger Amerika dan bangunan-bangunan yang hampir menyerupai bantal meledak.

Tempat diselenggarakannya festival, menurut pemberitaan setempat, merupakan bangunan setengah jadi dan ditutupi papan iklan produk L’Oreal.  Kebingungan tentang siapa atau apa yang bertanggung jawab pada festival tersebut, atau signifikasi ganda dari produk make-up yang menutupi seluruh tampat festival, mengemuka pada jajaran juri, Gong Li.

Festival film merupakan campuran dari berbagai kepentingan iklan, pengetahuan khusus tentang film dan juga produk-produk wisata. (2002:60). Sehingga hampir dapat dipastikan bahwa festival film, secara kultur dapat disebut sebagai target pasar yang optimal. Dalam batas-batas dari festival, setidaknya empat wacana beroperasi di lapangan. Pertama, wacana pembuat film independen dan produsen beredar di katalog, siaran pers, wawancara, dan teks-teks lainnya.

Pertama, wacana pembuat film independen dan produsen beredar di katalog, siaran pers, wawancara, dan teks-teks lainnya. Laporan menarik, konsep dan asumsi tak berformula dari avantgarde tersebut, tidak melawan satu dengan ‘lainnya’, tapi berbagai nilai-nilai budaya borjuis, nasionalisme dan komersialisasi. Kedua, wacana representasi media, khususnya pers, memberikan komentar tentang peristiwa, pada kontroversi, kacamata dan ‘baru’. Ini adalah teks-teks lokal, nasional dan internasional pers dan majalah publikasi.

Ketiga, wacana bisnis pembelian, harga dan hak cipta, yang ada dalam teks transaksi hukum dan kontrak, secara verbal diskusi, melaporkan sebagian dalam pers perdagangan. Jejak wacana komersial juga muncul dalam logo membuktikan sponsorship. Keempat, wacana pariwisata dan industri jasa, rilis pers lokal, brosur, Iklan pada dan panduan buku-buku yang memberikan antarteks antara acara filmis dan lokasi. Semua ini merupakan apa yang kita alami, baik dalam jarak atau di kejauhan, sebagai acara media dari festival film, dan apa yang saya akan memanggil diskursif (2002:61).

Bagaimana dengan festival film di Indonesia? Sejarah film dokumenter di Indonesia memang tidak sejelas film-film fiksi yang lebih populer. Namun dalam satu dekade terakhir, film dokumenter di Indonesia mulai berkembang pesat. Tema-tema yang diangkat oleh film-film dokumenter itu pun semakin beragam, yaitu antara lain tema sosial-politik, seni, perjalanan, petualangan, dan komunitas. Perlahan-lahan film dokumenter mulai diputar di televisi. Pada tahun 1996, film dokumenter “Anak Seribu Pulau” yang diciptakan Mira Lesmana dan Riri Riza menjadi film dokumenter pertama yang tampil di layar televisi.

Tahun 2002 menjadi sejarah baru bagi dunia perfilman dokumenter Indonesia. Ketika itu film dokumenter berjudul “Student Movement in Indonesia” menjadi film dokumenter pertama yang ditampilkan di bioskop Indonesia. Film karya Tino Sawunggalu itu menceritakan peristiwa Mei 1998 secara nyata. Sejak saat itu, dunia perfilman dokumenter Indonesia berkembang secara dinamis. Komunitas-komunitas penggiat film dokumenter mulai tumbuh di seluruh wilayah Indonesia.

Film dokumenter Indonesia menapaki langkah baru ketika Eagle Awards Documentary Competition (EADC) pertama kali diselenggarakan pada tahun 2005. Eagle Awards Documentary Competition menjadi tantangan baru bagi para pemuda untuk “merekam Indonesia” melalui film dokumenter. EADC setiap tahunnya memiliki tema yang berbeda-beda setiap tahunnya namun tetap mengangkat lima pilar utama Indonesia, yaitu pendidikan, lingkungan hidup, kesehatan, kesejahteraan, dan kemanusiaan. Film-film yang diciptakan dari Eagle Awards Documentary Competition itu selalu menarik perhatian karena merekam kenyataan yang terjadi di Indonesia. Misalnya, film “Garamku Tak Asin Lagi” yang tahun 2011 lalu menjadi Film Rekomendasi Juri Terbaik EADC 2011. Selain EADC, festival film documenter lainnya adalah FFD yang diselenggarakan di Yogyakarta sejak 2002.

Pokok persoalannya adalah bagaimana sejarah-sejarah dunia akan film dan festival begitu mengimplikasi pada perkembangan film di Indonesia, baik di kalangan sineas atau film-maker dan penikmat produk film. Sejak bangkit dari keterpurukannya, film di Indonesia merangkak pelan tapi pasti hingga di titik hingar-bingarnya saat ini. Di bioskop-bioskop tanah air saat ini film lokal kembali bersaing dengan karya-karya film Hollywood. Implikasi ini juga menghinggapi ranah produksi documenter yang dapat dikatakan non-mainstream. Generasi muda saat ini yang memiliki kecenderungan kenyang dengan produksi-produksi mainstream, dan lebih tertarik untuk mengangkat apa yang ada di sekitar mereka, termasuk fenomena-fenomena di tanah air.

Maraknya festival-festival film documenter yang kembali menggeliat di awal 2000-an membuktikan bahwa betapa sejarah memberikan trigger yang besar untuk sebuah karya. Peserta festival film documenter baik untuk EADC maupun FFD mayoritas adalah pelajar dan mahasiswa. Topic yang mereka angkat pun beragam. Mulai dari sosial hingga politik. Contohnya adalah 11 besar dari Festival Film Dokumenter 2012 yang baru saja usai digelar di Yogyakarta Desember lalu.

Beberapa karya yang penuh dengan ide tentang Indonesia. Mulai dari perbedaan perlakuan pada siswa beda agama di suatu sekolah di Yogyakarta, gerakan politik Ahok, perihal kematian-kematian di Jakarta, fenomena penumpang kereta listrik di Jakarta hingga kehidupan para penambang belerang di gunung Ijen menghiasi FFD 2012 lalu. Semoga torehan karya dokumenter tak hanya berhenti di level ini dan dapat berbicara lebih banyak lagi di kancah dunia internasional.

SUMBER BUKU :

Griffin, Emory A. 2003. A First Look At Communication Theory, 5th Edition. McGraw-Hill: New York.

Harbord, Janet. 2002. Film Cultures. Sage Publications: London.

Little John, Stephen W, Foss, Karen. A, 2009 , Encyclopedia of Communication Theory, Sage Publications : Singapore

Mast, Gerald. Cohen, Marshall. Braudy, Leo. 1992. Film Theory and Critism : Introduction Reading. 4th Edition. Oxford University Press: New York

McQuail, Dennis. 2010. McQuail’s Mass Communication Theory. 6th Ed. Sage Publications: Singapore

Newbold, Chris. Boyd-Barret, Oliver. Van Den Bulck, Hilde. 2002. The Media Book. Oxford University Press: New York.

Parkinson, David. 1995. History of Film. Thames & Hudson, Ltd : UK

Rivers, William L. 2003. Mass Media and Modern Society. Prenada Media: Jakarta.

Straubhaar, Joseph, LaRose, 2002, Media Now: Communications Media in The Information Age, Wadsworth Publisher: USA.

Thompson, Kristin. Bordwell, David. 2003. Film History: An Introduction. McGraw-Hill Higher Education: New York.

Turow, Joseph. 2009. Media Today : An Introduction to Mass Communication. 3rd Edition. Routledge: New York

Wahlberg, Malin. 2008. Documentary Time : Film and Phenomenology. Minnesota Press: Minneapolis.

 

SUMBER NON BUKU :

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s