THE IMPACT OF THE INTERNET ON THE EXISTING MEDIA

Internet telah menjadi pengaruh yang luar biasa bagi keberadaan media fisik atau biasa disebut offline media. Demikian dikatakan Colin Sparks dalam tulisannya yang berjudul The Impact Of The Internet On The Existing Media. Bahkan menurut Sparks, media-media fisik tersebut beramai-ramai hadir menyajikan konten informassinya dalam bentuk online. (2004 : 324). Kecenderungan media-media online akan fenomena tersebut kemudian merubah bagaimana sebuah media diproduksi dan didistribusikan. Tulisan Sparks didasarkan pada fakta-fakta bahwa dampak sementara dari media online menjadi panutan yang remarkable bagi media-media yang lain, meski, masih disangsikan akan penyebarannya.

Tulisan ini berangkat dari ide bahwa saat ini semua media telah terkomodifikasi dan terkomersialisasikan, bahkan yang bertahan dengan subsidi dan bagaimana kemudian teknologi menjadi pendukung yang sangat menjanjikan. Fakta yang kemudian ditunjukkan oleh Sparks, berkaitan dengan permasalahan adanya determinasi teknologi, bahwa produk budaya lebih banyak ditemukan dalam media online daripada media offline. Dengan berani pula Sparks menyatakan hal ini akan terus dilakukan oleh media online, baik pada masyarakat mampu maupun masyarakat yang kurang berada (2004 : 324). Menurut Fred Inglis, dampak teknologi sangat bisa dikaitkan dengan dua hal, politik dan ekonomi. Bila berangkat dari standpoint perspektif ekonomi politik media, maka kemudian sangat berkaitan dengan Marxist theory, dimana produksi dan relasi berkaitan erat (1990:19)

Dimana kemudian, ini juga disepakati beberapa tahun berikutnya oleh Mosco (2008:58) yang menyatakan adanya fenomena media online bisa dijelaskan dengan dua kemungkinan bahwa pertama, media online merupakan ekstensi atau perpanjangan dari media-media fisik yang ada. Dengan konten-konten yang sama namun mediumnya berbeda. Kedua, media online membawa perubahan pada cara orang berinteraksi dan berkomunikasi. Bukan dilihat secara psikologi sosial. Dalam artian, ketika kemudian kita menyadari pusat informasi, back then, sangat mudah dikontrol. Karena saat itu, Negara masih menjadi aktor penting. Ketika kemudian kemunculan internet dijadikan sebagai pusat informasi terpercaya, maka alur informasi pun tak bisa diprediksi. Ketika satu pintu ditutup,maka pintu lainnya akan terbuka. Seperti halnya pada fenomena film innocence of moslem. Tak bisa lagi dibatasi siapa yang kemudian meng-upload dan men-download. Hal inilah yang kemudian membawa dampak pada regulasi dan perekonomian media fisik. Ketika terjadi pergeseran dari media tradisional (old media) ke media baru.

Meski pernyataan bahwa akan terjadi collapse pada media fisik itu berlebihan menurut saya, karena bagaimanapun, masing-masing media memiliki pangsa pasar tersendiri. Tak bisa begitu saja akan terjadi kebangkrutan katakanlah hanya karena kemudian bermunculan media internet seperti jamur.

Mengapa? Kebanyakan dari kita menyadari adanya dua dunia, dunia nyata dan dunia media. Sebagian dari kita merasa bahwa dunia nyata merupakan dunia yang terlalu sempit (2005 : 60), kita tak bisa mendapatkan pengalaman dan informasi yang cukup. Dan akhirnya pilihan kita jatuh pada, memasuki media itu sendiri. Untuk beberapa poin, saya sepakat, bahwa, media online merupakan sumber informasi yang sekarang banyak dilirik oleh kaum instan. Instan dalam artian, mereka yang menuntut kondisi serba multitasking. Sparks menggarisbawahi bahwa meski ada beberapa kasus media online collapse namun malah terjadi banyak peningkatan angka statistic kemunculan dari media online yang lainnya ( 2004 : 309). Di sisi lain, Sparks menuturkan, ini merupakan pressure untuk media fisik.

Namun ada dimensi lain, seperti perspektif ekonomis yang juga dikemukakan oleh Sparks yang mungkin hanya beberapa dari sekian persen audience memahaminya. Sparks menandaskan adanya sebuah konsepsi media online merupakan media ber-iklan yang paling bijak. Meski menurut saya, statemen Sparks ini sangat memihak pada kapitalis media online, dalam beberapa hal bisa diamini.

Dalam perspektif ekonomi, terdiri dari berbagai pemain di dalamnya dan sumber daya yang mendanai. Masing-masing pemain membawa dinamisasi tersendiri dalam permainan (2005 : 169). Bagaimana kemudian regulasi ekonomi dalam media pada era informasi sekarang ini, sangatlah mudah dijelaskan alurnya (2002: 45). Pembayan diterima dari konsumen dan iklan menjadi landasan dari perusahaan media tersebut.

Online media dapat dikatakan baru dalam alat berkomunikasi, yang bahkan para periset masih kebingungan untuk melacak jutaan informasi dan aktivitas di media online (2005: 211). Misalnya penggunaan search engines populer seperti Yahoo dan Google, yang kemudian mereferensikan pada penggunanya situs mana yang mereka butuhkan. Google dapat menemukan situs informasi dalam sepersekian detik. Mengapa kemudian situs-situs populer menjadi yang utama dalam temuan google? Bagaimana kemudian bisa dipatahkan lingkaran seperti ini? Katakanlah kita mengatasnamakan konten, ketika kemudian informasi lebih diagung-agungkan ketimbang values of information itu sendiri, maka informasi di internet hanya bersifat menghibur. Ketika ditinjau dari perspektif ekpolmed, marxis memang menganggap kepemilikan media (pemilik internet) menguntungkan pemodal kuat. Mengingat tren peminat informasi kekinian, fenomena ini tentu menguntungkan pemilik internet dan mungkin merugikan

Yang harus digarisbawahi, fenomena media online bisa dijelaskan dalam dua grand theory dalam ekonomi politik media, seperti halnya marxis dan liberal. Ketika liberal mengatakan media itu otonom berbasis pada kecanggihan, maka marxis menjelaskan media tak independen, karena hanya menjadi alat kapitalis. Tulisan Spark bisa dijelaskan dari keduanya, tapi menurut saya teori liberal sangat menjelaskan ketika kemudian media berlomba untuk mendapatkan audiens yang otonom. Dalam hal ini persaingan antara media fisik dan media online, dimana teori liberal mengiyakan audiens punya kans besar untuk melakukan hal tersebut.

REFERENSI

Calabrase, Andrew. Sparks, Colin, 2004, Toward A Political Economy of Culture, Rowman and Littlefield Publisher, Inc, Oxford, UK.

Potter, James. W, 2005, Media Literacy: Third Edition, Sage Publications, Oaks, CA.

Straubhaar, Joseph, LaRose, 2002, Media Now: Communications Media in The Information Age, Wadsworth Publisher, USA.

Fred Inglis, 1990, Media Theory : An Introduction, Basil Blackwell Ltd, Massachusset, USA.

Hesselbein, Frances, 1998, The Community of The Future, The Peter F. Drucker Foundation, New York

Mosco, Vincent, 2008, Current Trends in The Political Economy of Communication, Global Media Journal – Canadian Edition, Vol. 1, Issue 1, pp 45 – 63.

Avlonitis, George. Karayanni, Despina, 2000, The Impact of Internet Use on Business-To-Business Marketing, Elsevier Science, Inc, New York, USA.

LittleJohn, Stephen W, Foss, Karen. A, 2009 , Encyclopedia of Communication Theory, Sage Publications.

Mosco, Vincent, 2009, the Political Economy of Communication, Sage Publications.

DiMaggio, Paul, 2001, Social Implications of the Internet, Annual Reviews.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s