JAKARTA; KOTA TAK RAMAH PEJALAN KAKI

Jakarta tidak pernah menjadi kata dan kota yang asing bagi saya. Saya pernah membesarkan gelembung – gelembung mimpi di Jakarta; pernah juga kehilangannya. Pernah berkomitmen pada mimpi baru lalu memutuskan menyerah dan meninggalkan ibukota.

Lama tak bersua, hitungan beberapa tahun kemudian; karena perjalanan hidup saya memutuskan untuk kembali bertarung di antara tingginya gedung – gedung pencakar langit, lalu lintas yang macet dan udara yang bisa dikatakan pengap dan lembab.

Seperti halnya saya, Jakarta pun sudah jauh berubah dari terakhir saya menginjakkan kaki disana. Beberapa kali, untuk kepentingan pelesir ataupun bersilaturahmi dengan kerabat dan keluarga dekat. Jakarta kian cantik, meski ada beberapa “ruam” di “permukaan kulitnya”.

Bak seorang gadis cantik berwajah putih mulus ala gadis – gadis di drama korea, namun ternyata ujung rambutnya bercabang, memiliki gatal di ruas – ruas jari kaki, bagian bawah mata menghitam karena kurang tidur; menghabiskan semalam suntuk berpikir tentang jumlah baju baru yang kurang, alat make up yang kadaluwarsa, atau tempat untuk bersosialita di keesokan hari.

Begitu halnya dengan Jakarta. Semakin banyak mall; yang fungsi keberadaannya tentu saja, sangat ideal bagi beberapa kalangan dengan level kemampuan ekonomi yang kompeten. Saya katakan kompeten, karena bagi beberapa lapisan masyarakat tertentu, menjadi bagian dalam kehidupan sebuah mall, mereka hanya mampu menjadi pemanis. Bila diibaratkan sebuah cupcake, beberapa kelompok masyarakat tersebut hanya cocok sebagai topping-ya saja.

Kemajuan – kemajuan yang lain, bisa saja terefleksikan pada macet di titik – titik tertentu karena proyek pembangunan sarana MRT, kuantitas roda empat yang semakin menumpuk dari tahun ke tahun, pengendara mobil atau motor yang dengan egois melintas di jalur busway karena enggan bermacet ria dengan penghuni ruas – ruas macet Jakarta di setiap harinya.

Tentu saya tak hendak membicarakan brand apa saja yang memenuhi sebagian besar mall di Jakarta atau mengapa Jakarta tetaplah Jakarta’ terkenal karena banjir atau macetnya. Karena perlu diketahui, sempat saya tinggal di beberapa kota yang saya kagumi keheningannya, seperti kota Malang dan juga Yogyakarta. Ternyata keduanya pun tak lepas dari fenomena macet dan hiruk pikuk klakson dari pengendara jalanan. Memang tak seheboh Jakarta, tapi bila ditarik garis kesibukan sejarah  kota masing – masing, maka cukup seimbang untuk dapat dikatakan bila kehidupan di kota – kota menakjubkan tersebut tak lagi bisa dikatakan memiliki ritme hidup yang tenang.

Maka saya akan berpersepsi tentang Jakarta dari sudut cerita yang lain. Semisal, kecintaan saya pada kopi dan saya mengejar momen – momen tertentu untuk bisa menikmatinya dengan suasana seidealis mungkin. Idealis di sini saya maksudkan, pada timing yang tepat, orang – orang yang hebat, ide pembicaraan yang tak akan pernah membosankan; kemudian saya bisa memberikan justifikasi bahwa timing is everything.

Kecintaan lain saya adalah pada kuliner. Saya menikmati menit ke menit dimana saya mengumpulkan data tentang tempat wisata kuliner yang saya hanya bisa jumpai di ibukota. Saya sangat fokus pada riset kecil saya, termasuk waktu berkunjung dengan kemungkinan jumlah pengunjung yang minimalis. Sehingga, saya benar – benar bisa meraih klimaks dalam menikmati tempat, suasana sekaligus makanannya.

Untuk dapat mencapai klimaks ideal versi saya, saya tak enggan berjalan kaki. Saya sangat menikmati momen berjalan kaki sendirian, saya mengumpamakannya berpetualang. Seolah saya sedang berjalan kaki dari ranu pane menuju ranu kumbolo, surga dunia di kaki gunung semeru. Saya pasang satu earset di telinga untuk mendengarkan musik kesukaan, sembari membayangkan saya tengah ada di sebuah adegan film. Satu saja. Karena memasang dua earset di tengah padat lalu lintas menurut saya tak beretika, kecuali tentu saja anda sudah nyaman dan aman di dalam busway atau krl, misalnya. Tak beretika karena anda tak akan bisa mendengar klakson dari pengendara roda dua atau roda empat atau tanda – tanda kehidupan di jalan raya pada umumnya. Saya juga tak akan bermain dengan gadget saya, bersosial media ketika tengah berjalan kaki. Prinsip saya tetap, pada etika. Pejalan kaki saja tak etis ber-ponsel ria, apalagi pengendara. Karena sudah pasti akan membahayakan keberlangsungan hidup orang banyak. Begitu hemat saya.

Tapi khayalan saya tak berkelamaan. Segera saya menyadari, trotoar di Jakarta sangat tidak ramah bagi pejalan kaki. Banyak galian, hiruk pikuk PKL, motor yang berkendara keluar jalur. Nyaris beberapa kali, saya yang sudah maksimal menepi masih saja diserempet oleh pengendara yang entah kenapa, saya rasa hidupnya selalu terburu – buru. Mungkin mereka memiliki kehidupan dinamis yang tak se-konstan saya, barangkali. Tak ramah dari segi lain adalah, bahkan trotoarnya tak bisa disebut sebagai trotoar murni, penutup saluran air mampet mungkin lebih tepatnya. Ekstrak noise lain yang sangat mengganggu adalah bunyi klakson tanpa henti dari pengendara. Kadang saya berpikir, apa perlu klakson dibunyikan bila lampu masih merah, karena jelas itu tanda untuk berhenti. Sebaliknya bila lampu sudah hijau, kenapa klakson masih saja dibunyikan; bukankah bila sudah giliran jalan maka akan berjalan dengan sendirinya? Ah, mungkin saya yang terlalu banyak berpikir, batin saya setiap saat.

Saya tak hendak membandingkan trotoar Jakarta dengan Singapura misalnya. Selain karena saya belum pernah kesana, dan hanya mumpuni data dari cerita rekan atau blog – blog “siluman” di dunia maya, saya rasa juga tak adil membandingkan Jakarta dengan Singapura, ataupun Thailand, atau bahkan Amerika. Ah, saya teringat cerita sahabat baik saya sepulang dari negeri Paman Sam tersebut. Dengan rajin Ia membandingkan kondisi lalu lintas juga kendaraan umum di negeri Paman Sam tersebut dengan Indonesia, khususnya Jakarta. Saya ingat, reaksi pertama dan terakhir saya, tergelak. Karena sangat tak lazim dan tak adil perbandingannya. Seperti membandingkan media mainstream dengan kategori indie, nah, apakah sebanding? Menurut saya, kemacetan Jakarta bisa diadu di level yang sama dengan macet di New Delhi atau beberapa kota di Kamboja.

Nah, demi mencapai klimaks berwisata kuliner atau memiliki pencapaian ideal dari timing is everything for coffe time, meski sebal setengah mati, saya tetap mencoba mencari penikmatan lain dari berjalan kaki. Saya tembus berbagai sisi trotoar Jakarta, mulai dari beberapa kawasan di timur, barat, selatan hingga utara, termasuk pinggiran – pinggiran kota Jakarta, wilayah – wilayah sub-urban. Tumpukan sampah dan genangan air kotor adalah salah satu faktor saya beropini bahwa Jakarta sangat tidak ramah pada pejalan kaki. Kadang saya berkhayal, bisa otomatis melayang di ketinggian satu meter bila menjumpai sampah. Tentu saja saya geli dengan khayalan tingkat tinggi saya karena bila itu terjadi maka mungkin saya akan melayang setinggi satu meter untuk radius kilometer yang jauh. Maka saya bukan lagi pejalan kaki, tapi pejalan udara.

Berbicara tentang ketidakramahan ibukota pada pejalan kaki maka tidak bisa dilepaskan dari sejarah dan juga tata kota Jakarta. “Otoritas” saya hanya sejauh ranah opini, karena saya tentu saja tidak memiliki kapasitas dan kompetensi yang ideal untuk berbicara perihal tersebut. Tapi untuk menyajikan hasil terkait mini riset kecil saya yang sumbernya bukan “ghoib” tentu diperbolehkan kan?

Dalam situs www.discerning.petra.ac.id disampaikan bahwa Jakarta dulunya sangat rapi. Kotanya membentuk grid kotak-kotak yang sangat mirip dengan penataan kota–kota di Belanda. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya perempatan, yang difungsikan untuk mempermudah pengawasan. Pada masa awal pemerintahan Kolonial Belanda, banyak bangunan yang menghadap ke sungai hal ini dimaksudkan untuk mempermudah akses sirkulasi bagi penduduk. Penataan kota Jakarta semakin hari semakin maju, namun juga semakin menyimpang dari grid yang dibentuk pada jaman Kolonial Belanda.

Ketika Indonesia pertama kali merdeka, timbul euforia atas kemerdekaan tersebut. Bung Karno mencetuskan ide pembangunan monumen – monumen untuk membuat Indonesia dipandang oleh bangsa lain. Monas dan Stadion Utama Gelora Bung Karno merupakan contoh dari pembangunan era pemerintahan Bung Karno; selain juga terdapat  pertumbuhan infrastruktur lain, seperti jalan dan jembatan yang turut menghiasi wajah kota Jakarta.

Masih menurut situs yang sama, salah arsitektural kemudian muncul sejak dikeluarkannya Peraturan Presiden Nomor 10 tahun 1952 mengenai larangan orang asing untuk berusaha di bidang perdagangan eceran di tingkat kabupaten ke bawah (di luar ibu kota daerah). Para imigran asing tersebut wajib mengalihkan usaha mereka kepada warga negara Indonesia. Peraturan ini kontroversial dan menimbulkan kerusuhan ras dan etnis, salah satunya adalah Kerusuhan Cibadak, juga memicu urbanisasi masyarakat imigran asing, khususnya ke kota Jakarta.

Urbanisasi tersebut akhirnya memicu pembangunan  ruko (rumah toko) di Jakarta. Ruko sendiri adalah rumah-rumah yang biasanya ditinggali dan digunakan juga untuk berdagang. Perekonomian Jakarta semakin bergejolak, seiring dengan keinginan pemerintah, yang pada saat itu fokus untuk membangun infrastruktur negara pasca kemerdekaan. Ruko – ruko berkembang di jalan – jalan besar, mengikuti grid yang telah ada sebelumnya. Namun tak dapat dihindari pula permukiman yang mulai subur akibat urbanisasi.

Bila ditarik kembali garisnya ke masa sekarang, pembangunan arsitektural masa itu, berimbas cukup kuat pada konsep dan implementasi kemajuan – kemajuan masa kini. Sehingga, tak pelak timbul sejumlah masalah tertentu dari sekian banyak problematika Jakarta, khususnya terkait tulisan saya tentang pejalan kaki.

Saya seorang pemimpi dan memiliki mimpi tinggi bahwa suatu saat dapat menikmati ibukota dengan nyaman, berjalan kaki dengan santai atau dengan ritme yang cepat sembari menyesap kopi dari cangkir plastik tanpa khawatir diserempet atau berdialog ringan dengan rekan jalan saya tanpa terdistraksi oleh noise dari klakson pengendara jalan raya. Terlepas dari itu, saya tetaplah mencintai ibukota sebagai bagian masalalu saya, masa sekarang, dan semoga masa depan. Bukankah katanya, mencintai itu berarti menerima segala kekurangan dan kelebihannya? Namun bolehkah cinta saya berdasar pada azas ekonomi seperti misalnya berlandaskan teori pertukaran sosial, sembari berharap; Jakarta mencintai saya seperti halnya saya mencintai Jakarta. Sehingga suatu hari nanti impian saya diwujudkan dan saya kembali menulis tentang ramahnya ibukota, mungkin dengan judul; cinta yang tak bertepuk sebelah tangan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s