Antara Aktivitas Rutin Media dan Kebijakan Redaksional dalam Pengawalan Perkembangan Berita Televisi

Kajian – kajian tentang ruang berita tidak dapat berdiri sendiri karena bagaimanapun ada kebijakan redaksional dalam aktivitas rutin media (media routine) yang menjadi bingkai dari setiap keputusan, kendali dan keluaran produk aktivitas pembuatan berita. Beberapa kajian penelitian dan perdebatan mengemuka terkait dengan aktivitas rutin media tersebut.

Becker & Tudor melakukan observasi pada ruang berita 2 stasiun televisi dan sebuah surat kabar pada 2008, stasiun televisi dipilih karena tingkat perbandingan antara ukuran ruang berita dan jumlah siaran berita yang diproduksi per minggu sebanding dengan sumber daya manusia dan produksi; sedangkan surat kabar merepresentasikan koran harian tunggal untuk wilayah metropolitan. Becker & Tudor juga melakukan wawancara informal dengan manajer ruang berita dan para jurnalis. Sedangkan untuk pengamatan berita surat kabar dengan cara melakukan analisa berita.[1]

Hasil kajian Becker dan Tudor menemukan bahwa meskipun ruang berita televisi tidak memiliki struktur spesialisasi yang jelas seperti surat kabar namun ruang berita televisi tetap memiliki kekhususan. Misalnya, desk tentang cuaca, olahraga, berita konsumen, dan kesehatan. Desk ini bertanggung jawab untuk menghasilkan ide cerita dan konten berita di ranah khusus tersebut. Pengamatan menunjukkan ruang berita televisi memang tidak perlu struktur serumit surat kabar.

Ruang berita televisi membutuhkan cerita yang lebih sedikit daripada surat kabar dan televisi dapat melakukan generalisasi pada ide cerita dari pengamatan khusus reporter, dari situs – situs, siaran pers, dan dari daftar kegiatan masyarakat yang mudah tersedia bagi televisi. Studi yang dilakukan Becker & Tudor menunjukkan bahwa ketika organisasi berita televisi membutuhkan kekhasan dari sebuah konten secara teratur, ruang berita televisi menciptakan sebuah sistem untuk menghasilkan hal tersebut; misalnya dengan menunjuk individu tertentu yang bertugas menciptakan jenis konten.

Dari hasil studi Becker & Tudor di salah satu stasiun televisi dipelajari, spesialisasi ini disebut reporter. Reporter bertugas menghasilkan ide-ide cerita dan kemudian melaporkan dan menghasilkan cerita tentang topik-topik seperti berita konsumen dan masalah kesehatan. Sekalipun reporter olahraga atau bahkan penyiar cuaca tidak dapat disebut wartawan komersil, namun tetap berfungsi dengan cara yang sama.[2]

Dalam sebuah studi tentang tiga saluran utama televisi di Amerika lainnya, yang memfokuskan pada cara pengumpulan berita terstruktur; Edward Jay Epstein membahas mengenai organisasi berita dan proses pengambilan keputusan dalam ruang berita yang berdinamika. Epstein menemukan bahwa hanya ada sedikit perbedaan mengenai bagaimana proses organisasi-organisasi berita dalam bekerja menghasilkan siaran berita televisi nasional dari saluran televisi satu dengan saluran televisi yang lain.

Epstein berpendapat bahwa proses pengambilan keputusan dari sebuah organisasi berita merupakan hal yang klasik dan terjadi dalam konteks yang sama dari tahun ke tahun. Yang sebenarnya disaksikan oleh pemirsa, misalnya pada sebuah berita sore, tidaklah mencerminkan realitas sesungguhnya. Sebab, menurut Epstein, realitas yang ada di lapangan telah dikemas sedemikian rupa berdasarkan tuntutan – tuntutan dari ruang berita juga divisi produksi sehingga menjadi realitas televisi. Menurut Epstein lebih lanjut, hal tersebut terjadi karena tujuan esensial dari televisi bukanlah untuk menginformasikan pada masyarakat namun untuk menyenangkan pemirsa, hal tersebut dimaksudkan untuk menjaga agar pemirsa tetap setia pada saluran yang ditonton.[3]

Sementara Malcolm Warner tentang hasil studi mengenai berita televisi, menemukan adanya kesamaan antara organisasi struktur televisi dan surat kabar. Menurutnya, peran produser eksekutif di televisi mirip dengan peran editor surat kabar. Bahwa kriteria utama yang dilakukan oleh produser eksekutif dalam melakukan identifikasi seleksi berita dan distribusi ruang untuk keseimbangan nilai – nilai politik misalnya, banyak seperti seleksi berita yang terjadi di surat kabar.[4]

Shoemaker dan Reese dalam mendefinisikan organisasi media sebagai entitas sosial formal. Biasanya faktor ekonomi yang menjadi penggerak utama para pekerja media untuk menghasilkan produk pemberitaan. Dalam sebagian besar kasus yang terjadi, menurut Shoemaker dan Reese, tujuan utama dari media adalah untuk menghasilkan profit untuk perusahaan; terutama dengan menargetkan khalayak yang menarik bagi pengiklan. Tekanan ekonomi dapat memberikan pengaruh pada keputusan – keputusan jurnalistik.

Shoemaker dan Reese mendefinisikan rutinitas berita sebagai :

“Those patterned, routinized, repeated practices and forms that media workers use to do their jobs.”[5]

Rutinitas ini dimaknai Shoemaker dan Reese sebagai rutinitas yang diciptakan dalam rangka mengatasi keterbatasan sumber daya dalam organisasi berita dan sejumlah besar informasi mentah yang dapat dibuat menjadi berita. Bahwa dalam aktivitas produksi berita terdapat permasalahan mengenai sumber – sumber daya dan juga banyaknya informasi mentah yang tersedia. Lebih khusus, rutinitas media ini juga ditentukan oleh teknologi, tenggat waktu, ruang, dan norma-norma. Menurut Shoemaker dan Reese :

“The job of these routines is to deliver, within time and space limitations, the most acceptable product to the consumer in the most efficient manner.”

Hal ini dimaknai bahwa tugas rutin yang diberikan pada para pekerja media berbatas waktu dan juga ruang, dan juga memiliki keterikatan dengan aturan – aturan yang diberikan oleh perusahaan selain kode etika jurnalistik.[6]

Dari beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa menurut para peneliti terdapat faktor lain yang mempengaruhi konten berita dan rutinitas media berdasarkan aktivitas pengumpulan berita dan kepemilikan media. Dari hasil beberapa kajian tersebut, para peneliti mengklaim bahwa terjadi fenomena kesengajaan untuk mendistorsi sebuah berita, namun hasil dari aktivitas media tersebut didefinisikan sebagai berita. Bahwa ada unsur – unsur seperti ideologi perusahaan, ekonomi politik media yang memiliki nilai – nilai berpengaruh terhadap sebuah produksi berita. Perbedaan yang diamati antara media dalam hal teknologi, orientasi ekonomi politik, dan rutinitas pengumpulan berita tidak menjadi masalah banyak pada akhirnya.

Perdebatan – perdebatan yang membahas bahwa berita sesungguhnya merupakan hasil pekerja media dan juga aktivitas pengumpulan berita, namun bukan cerminan realitas yang sesungguhnya; juga menjadi inti kajian beberapa artikel yang ditulis oleh Molotch dan Lester 3 tahun berturut – turut, yakni 1973, 1974, dan 1975.[7]

Menurut tulisan Molotch dan Lester yang diterbitkan pada tahun 1973, media tidak terdiri dari reporter yang obyektif melainkan hanyalah sekumpulan pekerja dari sebuah institusi.[8] Tujuan dari media merujuk pada seleksi peristiwa untuk dimasukkan berita dalam bentuk realitas yang diinginkan oleh pihak – pihak tertentu seperti pemilik media, direktur berita, atau juga produser eksekutif. [9]

Tulisan Molotch dan Lester pada 1974 menemukan fakta bahwa aktivitas pengumpulan berita harus dilihat dari perspektif lain seperti “purposive behavior” yang mana dimaknai sebagai adanya kebutuhan mutual antara aktivitas produksi jurnalis yang dilakukan untuk memenuhi kepentingan profesi dan juga integritas jurnalis sebagai karyawan dari sebuah perusahaan.[10]

Sementara pada tulisan Molotch dan Lester di tahun 1975 berpendapat bahwa ketika berita menyimpang dari nilai – nilai obyektif jurnalistik, maka penjelasan yang biasa diterima adalah jurnalislah yang tidak kompeten, adanya interupsi manajemen redaksi, atau pihak – pihak tertentu yang dinilai memiliki kapasitas menuntut secara ekonomi. Hasil dari berita tersebut akhirnya menjadi “bias information.” Namun Molotch dan Lester menyatakan bahwa mereka tidak membuat asumsi terkait adanya “realitas objektif.” Molotch & Lester lebih melihat berita sebagai produk dari proses pembuatan berita, dimana realitasnya bukan lagi realitas yang sesungguhnya.[11]

Tulisan – tulisan Molotch dan Lester; menyebutkan bahwa memaknai rutinitas berita sangat penting dalam rangka memahami bagaimana sesungguhnya sebuah berita televisi diproduksi. Media harus dimengerti dalam bentuk organisasi formal yang menggunakan rutinitas tertentu dalam menyelesaikan pekerjaan di ruang berita, dalam hal ini memproduksi berita televisi.[12]

Hal ini kemudian berpengaruh pada keputusan – keputusan yang dibuat oleh ruang berita dalam sebuah produksi berita. Pada akhirnya, para jurnalis bekerja dengan bahan baku yang sebagian besar telah diberikan kepada mereka oleh ruang berita untuk mengubah kejadian yang dirasakan sesungguhnya –yang  terjadi di lapangan– demi   kepentingan acara – acara publik yang dipublikasi melalui siaran televisi.[13]

Kajian yang dilakukan oleh Molotch and Lester tentang aktivitas rutin media dalam produksi berita televisi memaknai 3 hal penting. Temuan pertama, memaknai bahwa aktivitas rutin tersebut membantu para jurnalis atau pekerja media dalam menciptakan berita. Kedua, kajian tersebut memfokuskan pada adanya peran kekuatan tertentu yang akhirnya menentukan konten berita. Ketiga, bahwa adanya pemisahan antara konstruksi realitas berita dan apa yang disebut pekerja berita sebagai realitas itu sendiri.

Namun tulisan – tulisan Molotch dan Lester ini dimentahkan oleh kajian yang ditulis oleh beberapa peneliti lainnya, yaitu Eliasoph, Benner dan Ryfe. Menurut Nina Eliasoph dalam Tudor & Becker, aktivitas rutin produksi berita televisi sama halnya dengan yang dilakukan oleh media elektronik lainnya, semisal radio. Bahwa rutinitas – rutinitas tersebut dibuat bukan dalam rangka menentukan konten berita namun hanya untuk membuat kerja para jurnalis lebih terstruktur dan lebih teratur.[14]

Senada dengan Eliasoph, Bennett and Ryfe dalam Becker dan Tudor berpendapat bahwa rutinitas yang dilakukan media hanya sebatas ranah organisasional dan peraturan profesional. Fungsi dari “peraturan” merupakan hal yang penting, sebab hal tersebut mengindikasikan sesuatu hal yang tidak dapat diubah – ubah. Menurut Bennett, peraturan – peraturan tersebut menjelaskan konsistensi dari isi berita.[15]

Dari beberapa pendapat di atas, dalam kaitannya dengan aktivitas rutin media dan kebijakan redaksi pada produksi berita televisi; penulis meyakini bahwa :

  1. Aktivitas rutin yang terdapat dalam produksi berita televisi memang dibuat oleh ruang berita dalam rangka mengatur para pekerja media secara struktur.
  2. Di lain pihak, aktivitas rutin dari media sendiri juga memiliki kekuatan dan kapasitas tertentu dalam melakukan seleksi informasi mentah dari berbagai peristiwa yang pada akhirnya memainkan peranan besar dalam menentukan berita – berita yang akan dipublikasikan dalam bentuk siaran ke khalayak luas.
  3. Kekuatan tersebut memiliki berbagai kepentingan yang terintegrasi dalam kebijakan redaksi dan tercermin pada aturan – aturan di ruang berita mengenai produksi berita televisi.

Kepentingan – kepentingan terkait ekonomi dan politik media yang ditengarai sebagai ideologi perusahaan, juga menentukan seleksi berita dan hasil akhir konten – konten berita yang disiarkan ke publik.

[1] Lee B. Becker and Tudor Vlad, News Organizations and Routines  (2009 : 60)

[2] Lee B. Becker and Tudor Vlad, News Organizations and Routines : 2009 : 67

[3] Edward J, Epstein dalam News from Nowhere: Television and the News (2011 : 321)

[4] Malcolm Warner dalam Decision Making  in American TV (1969 : 171)

[5] Shoemaker & Reese dalam Mediating The Message (1996 : 105)

[6] Shoemaker & Reese dalam Mediating The Message (1996 : 108 – 109)

[7] http://www.rasaneh.org/Images/News/AtachFile/30-9-1390/FILE634600594129473750.pdf diakses pada 9 Maret 2016 pada pukul 09.15 WIB

[8] Molotch & Lester, Accidents, Scandals and Routines: Resources for Insurgent Methodology  (1973 : 258)

[9] Molotch & Lester, Accidents, Scandals and Routines: Resources for Insurgent Methodology  (1973 : 259)

[10]Molotch & Lester, News as purpose behavior: On The Strategic Use of Routine Events, Accidents and Scandals (1974 : 104)

[11]   Molotch & Lester, Accidental The Great Oil Spill As Local Occurrence and National Event.(1975 : 235)

[12]  Molotch, H., & Lester, M dalam News as purpose behavior: On the strategic use of Routine Events, Accidents and Scandals mengidentifikasi beberapa aktivitas rutin media sebagai aktivitas mendarah daging yang berpayung pada ‘norma-norma profesional’ dari ‘jurnalisme baik’, yang dimaknai sebagai kode etik jurnalistik. Molotch & Lester mencontohkan bahwa aktivitas rutin media yang harus meliput kejadian dalam radius dekat namun kemudian perhatian mengalami penurunan dari waktu ke waktu. Degradasi fokus pada inti peristiwa terjadi karena konsentrasi yang harus terbagi pada personil berita di kota-kota besar lain yang juga tengah melakukan peliputan peristiwa jarak jauh. (1974 : 105)

[13]   Molotch & Lester dalam Accidental News: The Great Oil Spill As Local Occurrence And National Event      (1975 : 255)

[14]  Becker & Tudor dalam Handbook of Journalism (2009 : 62)

[15]  Becker & Tudor dalam Handbook of Journalism (2009 : 65)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s