Breaking News Televisi dan Produksi Berita di Televisi

Seorang Jurnalis Amerika, Charles Anderson, memberikan definisi yang sangat terkenal mengenai berita. Anderson menyatakan bahwa,

When a dog bites a man that is not news, but when a man bites a dog that is news.[1]

Sementara Bernard Roscho menyebut berita sebagai :

News is more easily pursued than defined, a characteristic it shares with such other enthralling abstractions as love and truth.

Hal ini dapat diartikan bahwa berita menurut Roscho adalah sesuatu abstrak yang sulit untuk didefinisikan namun mudah untuk dipahami.[2]

Jackie Harrison berargumentasi bahwa memaknai berita merupakan hal yang sudah terjadi secara turun temurun namun masih belum ditemukan makna yang solid. Menurut Harrison lebih lanjut, berita tidak dapat dimaknai secara fungsi statistik, elemen dan terstruktur, karena berita selalu berubah dan maknanya haruslah fleksibel. Harrison mengaitkan berita dengan realitas, fakta, kebenaran yang terikat pada prinsip – prinsip etik. Karakter berita kemudian didefinisikan Harrison sebagai elemen yang harus akurat, benar, jujur dan netral.[3]

Sementara Thomas E. Patterson dalam Nosheen Hussain menyebutkan bahwa terdapat situasi bias dalam jurnalisme dan situasi bias ini dikategorikan menjadi beberapa hal yaitu,

“What is news, what is bad, what is dramatic, what is most readily available, and what can be readily understood.”

Menurut Patterson situasi bias dalam jurnalisme tercerminkan dalam kebingungan pendefinisian mengenai apa itu berita, peristiwa yang digolongkan buruk, informasi yang tersedia, dan hal – hal apa saja yang mudah untuk dipahami.[4]

Berita dapat digolongkan menjadi beberapa jenis. Menurut Josep R. Dominick dalam The Dynamic of Mass Mediahard news biasanya difokuskan pada isu – isu penting seperti kriminal, permasalahan internasional, situasi hukum, politik dan ekonomi. Sedangkan soft news berisi informasi – informasi yang lebih ringan seperti hiburan, film, hobi dan olahraga. Hard news mempengaruhi pemirsa secara maksimal sedangkan berita ringan menarik banyak pemirsa.[5]

Menurut Andrew Miller dalam News Alert, breaking news dapat dikategorikan sebagai hard news. Karakter breaking news merupakan berita yang tidak direncanakan, disiarkan secara tiba – tiba dan mengejutkan semua pihak, sebab tidak dapat diprediksi sebelumnya. Sehingga industri media harus mengubah pemaknaan Breaking News dari waktu kewaktu dan maknanya kian luas saat ini. Beberapa definisi tradisional tercermin pada mayoritas stasiun televisi di Amerika yang menempatkan isu terorisme sebagai konten Breaking News yang paling utama untuk disiarkan, terlebih pasca peristiwa 9/11.

Miller mengungkapkan bahwa saat ini televisi telah melakukan definisi ulang mengenai Breaking News. Jenis – jenis berita Breaking News ada yang direncanakan ada pula yang masih terkonsep tanpa perencanaan sama sekali, tidak murni digolongkan hard news ataupun soft news, melintasi batasan nilai berita, berdasar pada konten – konten terkini dan visual yang disiarkan secara langsung. Sehingga karakter breaking news menjadi konsep pelaporan segera, informasi terkini dan diharapkan tak terduga, dan berbasis pasar terkait dengan kepentingan rating program tersebut.[6]

Kajian tersebut menunjukkan bahwa cerita – cerita Breaking News tidak selalu diharuskan memberikan efek kejut ataupun penting – namun hanya dibutuhkan adanya informasi terkini. Maka kemudian, segala cerita dapat dikategorikan sebagai Breaking News pada waktu apapun, ketika informasi yang terbaru disertakan.

Sebuah kajian mengenai Breaking News dan efek media massa menunjukkan bahwa media massa menjadi salah satu faktor terbesar yang menciptakan ketakutan dan horor di kalangan pemirsa, khususnya terkait berita – berita lokal dan kejadian terkini. Tuggle dalam Nosheen Hussain, menyebutkan breaking news sebagai lubang hitam yang menyerap informasi apapun dengan kecepatan tinggi. Tuggle menganalogikan masa – masa ketika televisi tidak memiliki konsep breaking news sebagai masa kelam yang tak memiliki acuan. Bahwa menurutnya, konsep Breaking News tidaklah direncanakan namun produksi jenis berita ini dimulai ketika melakukan peliputan dan penyiaran berita. Hal ini dapat dimaknai bahwa Tuggle ingin menyatakan konsep breaking news terjadi insidental dan tanpa ada ide atau gagasan yang dibentuk sebelumnya.[7]

Nosheen Hussain, Syed Azfar Ali, dan Samreen Razi dalam temuan penelitian mereka menyatakan banyak karakter dari Breaking News. Menurut Hussain, Ali dan Razi, breaking news tercermin dalam informasi – informasi yang tidak biasa, yang di dalamnya terdapat bentuk – bentuk jurnalisme investigatif, informasi yang terus diperbarui, dan tidak ada saluran televisi lain yang pernah menayangkan sebelumnya dengan angle berita yang sama. Maka kemudian sifatnya disebut sebagai berita eksklusif.

Breaking news juga bersifat segera, hal ini memenuhi unsur tidak biasa yang telah disebutkan sebelumnya. Berita – berita yang ditayangkan dalam breaking news tidak lagi mempedulikan elemen baik dan buruk, namun haruslah memberikan efek kejut yang tidak dapat diprediksi oleh pemirsa. Breaking news juga disebut oleh Hussain, Ali dan Razi sebagai intisari berbagai peristiwa besar dalam rentang waktu siaran yang cenderung singkat, maka disebutkan konten beritanya haruslah bersifat sensasional.[8]

            Dari beberapa pendapat mengenai definisi dan karakter Breaking News televisi yang terus berkembang, maka garis produksi breaking news juga bermacam – macam. Beberapa stasiun televisi mengikuti garis produksi berita pada umumnya, namun untuk memenuhi kebutuhan “berita segera” maka beberapa televisi yang lain disebut menghilangkan beberapa tahapan perencanaan. Bukan berarti tanpa perencanaan, namun bagian – bagian umum yang melibatkan lebih banyak sumber daya pada prosedur perencanaan dimampatkan.

Menyoal produksi berita televisi, terdapat beberapa pendapat yang dapat dijadikan sebagai tinjauan. Tom Van Hout and Geert Jacobs menyebut produksi berita sebagai pertarungan kekuatan – kekuatan tanpa keputusan. Dalam hal ini merujuk pada kepentingan – kepentingan dari para pemegang saham atau pengelola media.[9]

John Thompson memberikan pernyataan yang kurang lebih sama, yaitu :

The media [are] the key arena in which [the] struggle over symbolic power is played out. As the principal medium through which political leaders relate to ordinary citizens, the media become the primary means by which political leaders accumulate symbolic capital in the broader political field. Through the constant management of visibility and the careful presentation of self, political leaders use the media to build up a store of symbolic capital in the eyes of the electorate: and this in turn, by providing them with a popular basis of support, gives them leverage in the political subfield.”[10]

Van Hout & Jacobs menggambarkan produksi berita sebagai proses interaksi dan negosiasi. Jenis interaksi yang yang dimaksudkan adalah di satu sisi adanya perjuangan dan konflik sementara di sisi lain terdapat kerjasama dan kemitraan. Gans dalam Van Hout dan Jacobs menyebutkan bahwa dalam proses produksi berita pada dasarnya terdiri dari dua proses: pertama, menentukan ketersediaan informasi dan menghubungkan jurnalis dengan sumber informasi. Kedua, untuk menentukan kesesuaian berita, yang mengikat jurnalis pada pemirsa; yang mana kedua proses tersebut harus dilakukan dengan kekuasaan.[11]

Mendefinisikan produksi berita merupakan hal yang kompleks. Beberapa ahli berpendapat bahwa produksi berita dimulai pada tahapan editing atau penyuntingan pada saat yang sama jurnalis melihat dan mendengar sesuatu yang memiliki nilai berita.

John Wilson menyatakan bahwa produksi berita adalah segala sesuatu yang diproduksi oleh jurnalisme profesional semisal wartawan, produser, staf teknis dan staf manajerial yang bekerja dengan cara rutin sehari-hari dalam sebuah organisasi berita.[12] Sementara Jackie Harrison berpendapat dengan berkembangnya fitur – fitur interaktif, dan meningkatnya optimalisasi dari struktur ruang berita, dan transformasi yang kuat dari pekerja jurnalistik, bagian terpenting dari jurnalisme justru berada di luar organisasi berita.[13]

Mengacu pada proses produksi berita, Domingo menyatakan prosesnya melibatkan 5 tahapan, yaitu :

  1. Akses

Seorang wartawan mungkin memutuskan untuk mengerjakan sebuah cerita jika memang dipandang layak diberitakan. Kisaran topik yang memiliki nilai berita cukuplah luas, termasuk sejarah budaya dan gaya hidup, juga tipikal hard news yang disaksikan langsung oleh kontributor. Namun hal ini tidak dapat dilaksanakan tanpa adanya kemudahan dan ruang yang diberikan pada jurnalis dalam hal mendapatkan informasi.

  1. Seleksi dan gatekeeping

Ruang berita merupakan satu-satunya yang bertanggung jawab untuk memilih cerita apa yang akan dipublikasikan. Sehingga tidak mungkin sebuah berita diproduksi tanpa melalui tahapan seleksi dan penyaringan.

  1. Pemrosesan dan penyuntingan

Informasi yang telah melalui proses seleksi dan gatekeeping kemudian berada di tahap selanjutnya, pemrosesan dan penyuntingan. Pada berita televisi, pemrosesan dimulai ketika reporter menulis naskah untuk konten berita dan juru kamera melakukan editing gambar, sekaligus seleksi untuk footage yang digunakan dan yang dibuang. Pemrosesan ini terlebih dahulu harus mendapat persetujuan dari supervisor yang duduk di lingkaran manajerial, di beberapa stasiun televisi disebut sub divisi “the row”.

  1. Pendistribusian

Pelaporan berita kepada pemirsa, untuk berita televisi terkonsep dalam bentuk siaran langsung ataupun tunda dan beberapa terformat dalam program yang bersifat penelusuran investigatif dan dokumenter. Beberapa stasiun televisi telah mewadahi interaksi langsung dengan pemirsa melalui beberapa program dan juga melalui situs berita resmi mereka.

  1. Interpretasi

Menurut Domingo, hasil akhir dari sebuah produksi berita, berita harus merupakan laporan yang memuat fakta yang perlu diberi penjelasan mengenai sebab akibatnya, latar belakangnya, akibatnya, situasinya, dan hubungannya dengan yang lainnya.[14]

 

Sementara Thomas Hanitzsch and Abit Hoxha merekomendasikan 3 tahapan model sirkular untuk menjelaskan sebuah proses produksi berita. 3 tahapan tersebut adalah, peng-idean cerita, narasi cerita, dan presentasi cerita.[15]

Peng-idean cerita merupakan proses inti dari bagaimana ruang berita memfasilitasi ide – ide untuk sebuah berita. Bantz, McCorkle & Baade dalam Hanitzch & Hoxha menyebutkan ada beberapa cara mewujudkan sebuah pengidean cerita dalam berita. Jurnalis dapat proaktif dalam memberikan ide cerita melalui penelitian atau observasi pada kasus dan peristiwa tertentu. Dalam hal ini, dorongan untuk penelitian berasal dari jurnalis sendiri, sebagian besar karena adanya rasa ingin tahu tentang sesuatu fenomena.

Cara yang lain adalah ketika jurnalis menghadiri sebuah konferensi pers dan mengubahnya menjadi berita tersendiri. Dalam hal ini, jurnalis menindaklanjuti laporan mereka sebelumnya. Cara pengidean cerita yang lain adalah ketika event – event digelar di ranah lokal maupun nasional, dimana jurnalis diundang untuk melakukan peliputan.

Narasi berita mengacu pada proses pengembangan cerita serta konteks dari sebuah berita. Dalam hal ini, cerita narasi harus memperhitungkan fungsi jurnalisme – yaitu, bahwa setiap berita memiliki cerita sendiri. Ada tiga aspek penting dari narasi cerita dalam produksi berita: inti narasi, perspektif berita, dan framing berita, dimana  terdapat kerangka interpretatif dari ruang berita mengenai fakta dari sebuah peristiwa.

Sementara Lee Becker menyatakan terdapat perbedaan antara unsur “penting” dan “menarik” dalam perspektif jurnalis ketika memutuskan untuk melakukan framing pada sebuah berita. Menurut Becker, jurnalis harus membuat keputusan tentang desain dan keaslian narasi dan kemudian menggunakan teknik narasi untuk menjadikannya sebuah berita. Maka dengan melihat inti narasi pusat, perspektif cerita dan bingkai sebuah berita, dapat dilakkan eksplorasi lebih mengenai pola, struktur dan peran wartawan dalam produksi berita konflik.[16]

Tahapan ketiga menurut Thomas Hanitzsch & Abit Hoxha adalah presentasi berita. Dalam sebuah proses produksi berita ketika inti berita telah diidentifikasi, maka pembuat berita membangun cakupan mereka dengan cara yang konsisten dalam sebuah kerangka interpretatif. Pada pelaporan berita, jurnalis harus konsisten dalam membuat referensi – dari mereka sendiri, atau dari rekan-rekan media yang lain – dengan demikian dapat menghubungkan berita mereka dengan potongan berita lainnya. Hal ini dimaksudkan agar pelaporan berita dapat dipahami oleh pemirsa terlepas dari kompleksnya peliputan sebuah berita. Maka sangat penting untuk merelevansikan sebuah kejadian di dunia nyata dengan kerangka interpretatif.[17]

Terkait dengan produksi berita Voakes mengidentifikasi 7 pengaruh sosial selama prosesnya : individu, kelompok kecil, organisasi, kompetisi, jabatan, media ekstra, and hukum.[18] Sedangkan Preston menyebutkan 5 level pengaruh dalam produksi berita, yaitu : faktor individu dan tekanan organisasi, aktivitas rutin media dan norma – norma, faktor politik dan ekonomi media, serta kekuatan budaya dan ideologi.[19]

Mengenai mekanisme produksi berita televisi, Herbert Zettl mengatakan bahwa televisi memiliki jajaran tersendiri yang dikhususkan untuk memproduksi berita televisi.  Hampir di semua stasiun televisi memproduksi paling tidak satu berita pada umumnya; bahkan untuk stasiun yang mengkhususkan diri sebagai stasiun berita, berita menjadi aktivtas produksi terbesar. Hal ini terjadi karena divisi pemberitaan diharuskan merespon secara cepat untuk berbagai bentuk tugas produksi berita, yang mungkin terjadi secara mendadak untuk kasus berita sela, yang mana hanya tersedia sedikiti waktu untuk mempersiapkan tim dan kebutuhan teknis.

Oleh karenanya, divisi pemberitaan memiliki personel khusus yang menangani produksi berita. Tim ini didedikasikan secara eksklusif untuk kebutuhan produksi berita, dokumenter, dan peritstiwa khusus yang menuntut fokus lebih mendalam.

Tabel 1.1 News Production Personnel menurut Herbert Zettl

PERSONEL FUNGSI
News Director Bertanggungjawab pada semua bentuk operasional, dan bertanggungjawab khusus pada keseluruhan siaran berita.
News Producer Bertanggungjawab langsung pada seleksi dan penempatan berita dalam siaran untuk keseimbangan program.
Assignment Editor Memberikan penugasan pada reporter dan videografer untuk tugas peliputan. Di beberapa stasiun televisi disebut dengan koordinator peliputan.
Reporter Mengumpulkan informasi, dan terkadang melaporkan di depan kamera dari lokasi peristiwa terjadi.
Video Journalist Reporter yang mengambil gambar dan mengedit secara mandiri footage yang didapatkan selama pengambilan gambar. Di beberapa stasiun televisi disebut juga sebagai photo journalist/ cameraman.
Videographer Operator kamera. Jika reporter tidak ada, maka videografer bertugas memutuskan peristiwa apa yang akan diliput. Di beberapa televisi disebut news photographer & shooters.
Writer Bertugas menulis naskah untuk presenter berita. Naskah berdasarkan hasil liputan reporter dan footage yang tersedia. Beberapa stasiun televisi menyebutnya copy writer.
Video Editor Mengedit video berdasarkan catatan reporter, penulis naskah, dan instruksi tertentu yang diminta oleh produser.
Anchor Pembawa acara berita, biasanya melakukan presentasi berita dalam sebuah set studio.
Weathercaster Melaporkan perkembangan cuaca terkini.
Traffic Reporter Melaporkan kondisi lalu lintas lokal.
Sportscaster Mempresentasikan berita – berita olah raga sekaligus memberikan komentar atau tinjauan tentang berita terkait.

 

Menurut Zettl, perkembangan beberapa tahun terakhir di sejumlah stasiun televisi seperti CNN, mulai menggunakan posisi Assignment Editor (AE); yang mana memiliki deskripsi kerja untuk memberikan penugasan pada reporter, juru kamera atau juga Video Journalist (VJ) untuk melakukan peliputan berita. Selain memberikan penugasan, AE juga bertugas untuk memantau perkembangan terkini dari tim peliputan di lapangan dengan melakukan komunikasi sebelum peliputan dimulai, selama liputan berlangsung hingga berita selesai disiarkan.

Sedangkan fenomena VJ telah menjadi tren di beberapa stasiun televisi terkemuka, dalam perkembangan sebuah divisi pemberitaan. Video Journalist adalah perseorangan yang tugasnya merupakan kombinasi dari reporter, juru kamera, penulis dan juga editor. Posisi ini secara institusional menurut Zettl lebih dimaksudkan untuk tujuan ekonomis dari perusahaan, bukan untuk keluasan dan kedalaman berita.[20]

Channel News 4 mendefinisikan sebuah produksi berita sebagai proses pemahaman mengenai identifikasi sumber, pembuatan naskah, perekaman gambar, proses editing, pelaporan hingga siaran berita.[21]

Pada setiap produksi berita terdapat organisasi pelaksana produksi. Dalam produksi berita televisi, tim pelaksana produksi berita umumnya terdiri dari : direktur pemberitaan, produser berita, koordinator liputan (pada beberapa stasiun televisi disebut Assignment Editor), juru kamera, reporter, produser lapangan, editor, dan penyiar berita.[22]

Dalam setiap tahapan produksi berita televisi tidak dapat dilepaskan dari standar operating procedure (SOP). Segala bentuk produksi berita di televisi harus berada dalam payung SOP tersebut. Untuk mayoritas televisi di Indonesia telah dibuat semacam SOP untuk pembuatan berita. SOP ini difungsikan untuk menjaga kualitas berita yang dihasilkan oleh divisi berita. Namun untuk SOP di televisi Indonesia, relatif belum lama tersusun, bahkan mungkin juga belum diterapkan secara sempurna. SOP dibuat dengan beberapa tujuan :

  1. Untuk menyeragamkan kebijakan dan prosedur pembuatan berita.
  2. Untuk mengoptimalkan penggunaan sumber daya dan peralatan.
  3. Untuk menghasilkan dan menayangkan berita yang berkualitas.
  4. Untuk mendorong munculnya ide/gagasan berita setiap personel.
  5. Untuk mendorong pematangan perencanaan yang dilakukan setiap hari.[23]

Fred Wibowo menyatakan SOP dalam produksi berita televisi adalah:

  1. Pra produksi (perencanaan dan persiapan). Tahapan ini meliputi:
    1. Penemuan ide

Tahap ini dimulai ketika seorang produser menemukan ide atau gagasan, membuat riset dan menuliskan naskah atau meminta penulis naskah mengembangkan gagasan menjadi naskah setelah riset.

  1. Perencanaan (Planning)

Tahap ini meliputi penetapan jangka waktu kerja (time schedule), penyempurnaan naskah, lokasi dan juga kru. Selain estimasi biaya dan rencana alokalsi merupakan bagian dari perencanaan. Di beberapa

  1. Persiapan

Tahap ini meliputi pemberesesan semua masalah administrasi, seperti perijinan dan surat menyurat terkait produksi berita.

  1. Produksi

Pelaksanaan pengambilan gambar oleh juru kamera dan pencarian informasi terkait konten berita oleh reporter. Pada beberapa stasiun televisi yang mengklaim sebagai stasiun televisi berita, proses pengumpulan berita (news coverage) melibatkan produser lapangan (field producer) yang mana bertugas untuk melakukan lobi dengan narasumber berita. Untuk beberapa kasus tertentu, ketika reporter atau koresponden berhalangan, maka produser lapangan dituntut untuk dapat mengambil alih peran dari koresponden tersebut.

  1. Pasca Produksi

Tahapan pasca produksi disebut juga tahapan penyelesaian dan penayangan. Pasca produksi memiliki beberapa langkah, yaitu:

  1. Editing offline dengan teknik analog

Setelah proses produksi selesai, penulis naskah berita membuat logging yaitu mencatat kembali semua hasil shooting berdasarkan catatan shooting dan gambar. Di dalam logging time code (nomor kode yang berupa digit frame, detik, menit dan jam dimunculkan dalam gambar) dan hasil pengambilan setiap shoot dicatat. Kemudian berdasarkan catatan tersebut, editor akan membuat editing kasar yang disebut editing offline sesuai gagasan dalam naskah dan treatment.[24]

Materi hasil shooting kemudian dipilih dan disambung sedemikian rupa. Setelahnya dibuat naskah editing. Gambar dan nomor kode waktu tertulis jelas sehingga memudahkan proses penyuntingan. Hasil dari proses ini kemudian akan digunakan dalam proses editing online.

  1. Editing online dengan teknik analog

Berdasarkan naskah editing, editing mengedit hasil shooting asli. Sambungan – sambungan setiap shoot dan scene dibuat tepat berdasarkan catatan time – code dalam naskah editing. Demikian pula sound asli dimasukkan dengan level seimbang dan sempurna.

  1. Mixing

Narasi dan ilustrasi yang sudah direkam dimasukkan dalam hasil editing online sesua ketentuan naskah editing. Mixing meurpakan proses menyeimbangkan antara, efek, suara asli, suara narasi dan musik (bila diperlukan) sehingga tidak saling tumpang tindih. Setelahnya dilakukan preview.

  1. Editing offline dengan teknik digital

Proses penyusunan urutan adegan dan dipersatukan dengan shot – shoot yang sudah disambung yang biasa disebut dengan rendering.

  1. Editing online dengan teknik digital

Proses penyempurnaan editing dengan menyatukan hasil proses rendering dengan ilustrasi musik.[25]

Namun seiring perkembangan teknologi baik di dalam ruang berita maupun teknologi yang digunakan oleh tim di lapangan, tahapan editing offline online analog tidak lagi digunakan karena mayoritas teknologi editing terkini menggunakan konsep digital yang portable. Bahkan beberapa stasiun televisi membebankan tahapan editing pada juru kamera untuk kebutuhan berita yang ditayangkan dengan segera. Sementara editor ditugaskan pada program khusus berdurasi panjang, 30 menit atau lebih.

Proses pasca produksi yang disebutkan sumber lain adalah sebagai berikut :

  1. Dubbing & Scrip-Writing

Dubbing merupakan yang aktivitas perekaman suara untuk kebutuhan audio visual berita, dilakukan oleh reporter (disebut koresponden di beberapa stasiun televisi) setelah konten naskah disetujui oleh assignment editor (beberapa stasiun televisi menyebutnya koordinator peliputan), sementara penyetujuan paket berita dilakukan oleh produser eksekutif berita. Pada beberapa stasiun televisi lain, penyetujuan naskah yang dibuat oleh reporter dilakukan oleh sub divisi “The Row” sementara penyetujuan paket berita ditayangkan atau tidak ada di tangan director of coverage (DOC).

  1. Editing Offline

Proses pemilihan footage (stok gambar yang diambil selama peliputan) dengan melakukan pencatatan timecode, dapat dilakukan oleh reporter atau kameraman, biasa disebut dengan editing kasar. Hasil editing offline yang dinamakan b-roll kemudian diupload pada server internal, dimaksudkan sebagai stok bank data bila dibutuhkan untuk peliputan berita dan program yang lain. Sementara hasil editing kasar yang disebut dengan rough-cut diproses ke tahapan editing online.

  1. Editing Online

Editing online dimaksudkan untuk memberikan keseimbangan visual seperti pewarnaan, efek dan grafis.

  1. Mixing

Proses penyuntingan suara, mengurangi noise dari audio untuk menonjokan hasil wawancara, termasuk juga memberikan efek musik latar dan lain sebagainya.

  1. Exporting

Merupakan proses menjadikan susunan footage video hasil editing menjadi 1 output file video dari berbagai macam format, semisal .mxf atau .avi menjadi format mp4, mov, avi, dan lain sebagainya. Setelah paket diupload ke server internal, selanjutnya akan ditinjau oleh director of coverage ataupun produser eksekutif berita untuk diputuskan naik tayang atau sebaliknya.[26]

Menurut Morrisan, terdapat beberapa bentuk penyajian berita di televisi yang telah melalui 3 tahapan produksi berita, yang terformat dalam bentuk sebagai berikut:

  1. Reader.

Ini adalah format berita TV yang paling sederhana, hanya berupa lead in yang dibaca presenter. Berita ini sama sekali tidak memiliki gambar ataupun grafik. Hal ini dapat terjadi karena naskah berita dibuat begitu dekat dengan saat deadline, dan tidak sempat dipadukan dengan gambar. Bisa juga, karena perkembangan peristiwa baru sampai ke tangan redaksi, ketika siaran berita sedang berlangsung. Maka perkembangan terbaru ini pun disisipkan di tengah program siaran. Beritanya dapat berhubungan atau tidak berhubungan dengan berita yang sedang ditayangkan. Reader biasanya sangat singkat. Durasi maksimalnya 30 detik.

  1. Voice Over (VO)

VO adalah format berita TV yang lead in dan tubuh beritanya dibacakan oleh presenter seluruhnya. Ketika presenter membaca tubuh berita, gambar pun disisipkan sesuai dengan konteks isi narasi.

  1. Voice Over – Sound on Tape (VO-SOT)

VO-SOT adalah format berita TV yang memadukan VO dan SOT. Lead-in dan isi tubuh berita dibacakan presenter. Lalu di akhir berita dimunculkan soundbite dari narasumber sebagai pelengkap dari berita yang telah dibacakan sebelumnya. Format VO-SOT dipilih jika gambar yang ada kurang menarik atau kurang dramatis, namun ada pernyataan narasumber yang perlu ditonjolkan untuk melengkapi narasi pada akhir berita. Total durasi diharapkan tak lebih dari 60 detik, di mana sekitar 40 detik untuk VO dan 20 detik untuk soundbite.

  1. Package (PKG)

Package merupakan format berita TV yang hanya lead in-nya yang dibacakan oleh presenter, tetapi isi berita merupakan paket terpisah, yang ditayangkan begitu presenter selesai membaca lead in. Paket berita sudah dikemas jadi satu kesatuan yang utuh dan serasi antara gambar, narasi, soundbite, dan bahkan grafis. Lazimnya tubuh berita ditutup dengan narasi. Format ini dipilih jika data yang diperoleh sudah lengkap, juga gambarnya dianggap cukup menarik dan dramatis. Kalau dirasa penting, reporter dapat muncul dalam paket berita tersebut (di beberapa stasiun televisi disebut dengan reporter stand up) pada awal atau akhir berita. Durasi maksimal total sekitar 2 menit 30 detik.

  1. Live on Cam

Formar berita TV yang disiarkan langsung dari lapangan atau lokasi peliputan. Sebelum reporter di lapangan menyampaikan laporan, presenter lebih dulu membacakan lead in dan kemudian presenter berita akan beralih ke reporter di lapangan untuk menyampaikan hasil liputannya secara lengkap. Laporan ini juga bisa disisipi gambar yang relevan. Karena siaran langsung memerlukan biaya telekomunikasi yang mahal, tidak semua berita perlu disiarkan secara langsung. Format ini dipilih jika nilai beritanya amat penting, luar biasa, dan peristiwanya masih berlangsung. Jika peristiwanya sudah berlangsung, perlu ada bukti-bukti yang ditunjukkan langsung kepada pemirsa. Durasinya disesuaikan dengan kebutuhan.

  1. Breaking News

Merupakan berita penting yang harus disiarkan, bila mungkin bersamaan dengan terjadinya peristiwa tersebut. Breaking News disebut Morisan sebagai berita tidak terjadwal karena dapat terjadi kapanpun. Durasi Breaking News mulai dari 2 menit hingga tak terbatas.

  1. Laporan Khusus

Berita dengan format paket, lengkap dengan narasi, soundbite dan sejumlah narasumber yang memberikan pendapat dan analisis. Laporan khusus ini menurut Morisan biasanya disajikan dalam program tersendiri di luar program berita karena memiliki durasi panjang, biasanya 30 menit atau lebih.[27]

Sementara sumber lain menyebutkan bahwa format berita tersaji dalam bentuk:

  1. Naturan Sound (Natsound)

Merupakan suara lingkungan yang terekam dalam gambar dan sifatnya bisa dihilangkan. Tetapi, biasanya untuk kepentingan berita tertentu, natsound tetap dipertahankan, untuk membangun suasana dari peristiwa yang diberitakan. Sebelum menulis naskah berita, reporter harus melihat dulu gambar yang sudah diperoleh, karena tetap saja narasi yang ditulis harus cocok dengan visual yang ditayangkan. VO durasinya sangat singkat (20-30 detik).

  1. Voice Over – Grafik.

VO-Grafik adalah format berita televisi yang lead in dan tubuh beritanya dibacakan oleh presenter seluruhnya. Namun, ketika presenter membaca tubuh berita, tidak ada gambar yang menyertainya kecuali hanya grafik atau tulisan. Hal ini mungkin terpaksa dilakukan karena peristiwa yang diliput sedang berlangsung dan redaksi belum menerima kiriman gambar peliputan yang bisa ditayangkan.

  1. Sound on Tape (SOT).

Format berita televisi yang hanya berisi lead in dan soundbite dari narasumber. Presenter hanya membacakan lead in berita, kemudian disusul oleh pernyataan narasumber (soundbite). Format berita ini dipilih jika pernyataan narasumber dianggap lebih penting ditonjolkan daripada disusun dalam bentuk narasi. Pernyataan yang dipilih untuk SOT sebaiknya yang amat penting atau dramatis, bukan yang datar-datar saja. Format SOT ini bisa bersifat sebagai pelengkap dari berita yang baru saja ditayangkan sebelumnya, atau bisa juga berdiri sendiri. Durasi SOT disesuaikan dengan kebutuhan, tapi biasanya maksimal satu menit.


  1. Live on Tape (LOT)

Merupakan format berita televisi yang direkam secara langsung di tempat kejadian, namun siarannya ditunda (delay). Jadi, reporter merekam dan menyusun laporannya di tempat peliputan, dan penyiarannya baru dilakukan kemudian.

  1. Live by Phone

Jenis berita ini adalah berita yang disiarkan secara langsung dari tempat peristiwa dengan menggunakan telepon ke studio. Lead in berita dibacakan presenter, dan kemudian ia menghubungi reporter yang ada di lapangan untuk menyampaikan laporannya. Wajah reporter dan peta lokasi peristiwa biasanya dimunculkan dalam bentuk grafis. Jika tersedia, bisa juga disisipkan gambar peristiwa sebelumnya.

  1. Phone Record

Jenis berita ini direkam secara langsung dari lokasi reporter meliput, tetapi penyiarannya dilakukan secara tunda (delay). Format ini sebetulnya hampir sama dengan Live by Phone, hanya teknis penyiarannya secara tunda. Format ini jarang digunakan, dan biasanya hanya digunakan jika diperkirakan akan ada gangguan teknis saat berita dilaporkan secara langsung.

  1. Visual News

Konsep penanyangan berita ini hanya fokus pada penayangan gambar-gambar yang menarik dan dramatis. Presenter cukup membacakan lead in, dan kemudian visual ditayangkan tanpa tambahan narasi apa pun, seperti apa adanya. Format ini bisa dipilih jika gambarnya menarik, memiliki natural sound yang dramatis (misalnya: suara jeritan orang ketika terjadi bencana alam atau kerusuhan, dan sebagainya). Contoh berita yang layak menggunakan format ini: menit-menit pertama terjadinya bencana penembakan masal Charlie Hebdo di Paris.

  1. Vox Pop

Vox pop (dari bahasa Latin, vox populi) berarti “suara rakyat.” Vox pop tidak termasuk dalam format berita, namun biasa digunakan untuk melengkapi format berita yang ada. Vox pop merupakan komentar atau opini dari masyarakat mengenai isu tertentu yang tengah menjadi fokus media dan pemerintah saat itu.[28]

[1] Menurut Anderson dalam Galtung, J., & Ruge, M. H. dalam  The Structure Of Foreign News (1965 : 68) suatu kejadian haruslah bernilai kejadian luar biasa untuk dapat dipublikasikan dan didefinisikan sebagai berita. Definisi yang lain disebutkan oleh Galtung dan Ruge menyatakan bahwa berita adalah segala hal yang tidak diharapkan atau tidak terjadi secara biasa dan bukan sesuatu yang bersifat rutin.

[2] Bernard Roscho dalam  News Making (1975 : 160)

[3] http://www.savap.org.pk/journals/ARInt./Vol.5(4)/2014(5.4-31).pdf diakses 8 Maret 2016 pukul 03.25 WIB

[4] Nosheen Hussain & Syed Azfar Ali &, Samreen Razi dalam Understanding Breaking News from Viewer’s Perspective: A Phenomenological Approach  (2014 : 297)

[5] Joseph R. Dominick dalam The Dynamic of Mass Communication  (2010 : 310)

[6] http://www.newslab.org/research/newsalert.htm#search diakses pada 2 Maret 2016 pada pukul 13.20 WIB

[7] Nosheen Hussain & Syed Azfar Ali &, Samreen Razi dalam Understanding Breaking News from Viewer’s Perspective: A Phenomenological Approach  (2014 : 298)

[8] Nosheen Hussain & Syed Azfar Ali &, Samreen Razi dalam Understanding Breaking News from Viewer’s Perspective: A Phenomenological Approach  (2014 : 301)

[9] Tom Van Hout and Geert Jacobs dalam News Production Theory and Practice: Fieldwork Notes on Power, Interaction and Agency (2008 : 61 – 62)

[10] Menurut Thompson media merupakan wadah bagi perebutan kekuasan secara simbolik, dimana media diposisikan sebagai mediator antara pemimpin politik dan masyarakat. Sehingga media menjadi sarana utama bagi modal – modal simbolik bidang politik yang digunakan tokoh politik untuk membangun hubungan kimiawi dengan para pemilih yang akan menyumbang suara saat pemilihan. Media sejatinya dipenuhi dengan nilai – nilai politik populer yang menjadi dasar menghimpun dukungan politik.

John B. Thompson dalam Political Scandal: Power And Visibility In The Media Age (2000: 105-6)

[11] Tom Van Hout and Geert Jacobs dalam News Production Theory and Practice: Fieldwork

     Notes on Power, Interaction and Agency (2008 : 64)

[12]  John Wilson dalam Understanding Journalism: A Guide To Issues (1996: 29)

[13]  Jackie Harrison, J. dalam News  (2006: 99)

[14]  David Domingo dalam Participatory Journalism Practices In The Media And Beyond: An International   Comparative Study Of Initiatives In Online Newspapers. (2008 : 326-342)

[15] Thomas Hanitzsch & Abit Hoxha  dalam News Production: Theory and Conceptual Framework (2014 : 3 – 5)

[16]  Lee Becker dalam News Organizations and Routines (2004 : 7 – 9)

[17]  Thomas Hanitzsch & Abit Hoxha dalam News Production: Theory and Conceptual Framework (2014 : 6 – 7)

[18]  Paul Voakes dalam Social Influences on Journalists’ Decision Making in Ethical Situations (1997: 21)

[19]  Preston, Paschal, and Monika Metykova dalam From News to House Rules: Organisational Contexts.” In Making the News: Journalism and News Cultures in Europe (2009 : 7)

[20] Herbert Zettl dalam Television Production Handbook (2012 : 10 – 11)

[21] http://www.channel4.com/news/ diakses pada 15 Maret 2016 pukul 21.30 WIB

[22] Nurhasanah dalam  Analisa Produksi Siaran Berita Televisi (2011 : 17)

[23] http://heiiapriliaa.blogspot.co.id/2015/03/proses-pembuatan-berita-sampai-disiarkan.html diakses pada 13 Maret 2016 pada pukul 09.28 WIB

[24] Treatment merupakan langkah pelaksanaan perwujudan gagasan menjadi sebuah program

[25] Fred Wibowo dalam Teknik Produksi Program Televisi (2007 : 39)

[26] http://www.channel4.com/learning/breakingthenews/schools/channel4newsroom/newstechnology.html diakses pada 15 Maret 2016 pukul 20.13 WIB

[27] Morisan dalam Jurnalistik Televisi Mutakhir (2008 : 33 – 40)

[28] https://gjb3111fahri.wordpress.com/ diakses pada 19 Maret 2016 pada pukul 12.32 WIB

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s