Faktor – faktor Berpengaruh dalam Pengambilan Keputusan di Ruang Berita Televisi Terkait Pengawalan Perkembangan Berita

Menurut McQuail yang dikutip oleh Graeme Burton, berita bukan sekedar fakta, melainkan bentuk khusus pengetahuan yang tidak lepas dari penggabungan informasi, mitos, fabel dan moralitas.[1] Berita televisi dengan menitikberatkan pada gambar dapat menimbulkan spekulasi mengenai perihal penyebab sebuah kejadian, menawarkan interpretasi alternatif terhadap suatu peristiwa. Berita televisi membeberkan konsekuensi yang mungkin, menjabarkan isu ataupun permasalahan dengan caranya sendiri dan tidak netral.[2]

Berita televisi menetapkan agenda dengan memilih laporan berita. Agenda ini bekerja pada bingkai waktu yang pendek dalam hal pemilihan berita dengan cerita khusus. Item – item berita yang tidak disiarkan dianggap tidak memiliki  kepentingan publik yang sama.

Konsep tersebut berhimpitan dengan kelayakan berita dan gagasan perihal konvensi. Cerita yang bersifat tragedi, kejadian berskala besar, diberi nilai lebih di atas cerita yang lainnya. Maka dengan televisi memilih kejadian tertentu dengan membentuk perspektif tertentu, dapat dikatakan bahwa agenda televisi mengisyaratkan prioritas. Paparan ini merujuk pada sebuah proses berita dimana manajemen ruang berita memegang peranan penting dalam mengawal peliputan berita.

Berita televisi memiliki kelebihan pada kekuatan gambar tentang fenomena berkembang yang tengah berpolemik, yang ditambah dengan gagasan yang diekspresikan oleh koresponden juga pembawa berita. Gambar bersifat polisemik, sehingga pada tingkatan tertentu bersifat ambigu, mengikat makna, memformulasi isu, dan mengakumulasi informasi. Hal ini memberikan makna siginifikan mengenai tanda dan kode, keterangan pada gambar, efek suara (natural sound), serta keseluruhan narasi.

Sehingga rutinitas produksi berita seharusnya mendapatkan pengawalan ketat di setiap perkembangan pemberitaan, sejak tahap pengumpulan data dan informasi, pelaporan berita, proses seleksi dan konstruksi, hingga tahap terakhir disampaikan kepada pemirsa.

Graeme Burton mengupas lebih lanjut tentang bagaimana berita televisi bisa menjadi sesuatu yang yang lebih relevan dan bernilai bagi orang banyak. Menurut Burton, seleksi dan konstruksi yang ditampilkan melalui produksi berita televisi bersifat niscaya sekaligus pervasif sepanjang keseluruhan proses pembuatan berita.  Mengingat jumlah materi berita yang tersedia dan batasan alokasi waktu; pervasif lantaran keputusan – keputusan terkait dengan apa yang diliput dan bagaimana mempengaruhi setiap tahap pembuatan berita; pencarian berita (news gathering), evaluasi terhadap draft berita (copytasting), editing berita, kosntruksi program berita, dan presentasi berita.

Dalam hal ini, berita penuh dengan keputusan  penjaga gawang tentang informasi apa yang diloloskan kepada siapa dan mengapa. Pengambil keputusan yang paling akhir menentukan adalah editor berita. Keputusan dibuat seputar pengiriman tim untuk meliput berita, berkenaan dengan rutinitas penggarapan, juga dengan apa yang menjadi agenda sebuah program.[3]

Beberapa pelaku divisi news gathering stasiun televisi swasta di Indonesia yang tergabung dalam Ikatan Jurnalistik Televisi Indonesia (IJTI), menuturkan dalam Jurnalisme Televisi Indonesia: Tinjauan Luar Dalam; terkait perkembangan peliputan berita yang tidak berdiri sendiri karena berhubungan pengambilan keputusan menyangkut banyak aspek dalam – minimal sebuah divisi News Gathering – dan juga kepentingan ideologi perusahaan.

Titin Rosmasari, mantan pemimpin redaksi Trans 7 yang kini menjabat sebagai pemimpin redaksi CNN Indonesia, menyebutkan bahwa dalam mengawal peliputan dan perkembangan berita yang diutamakan adalah idealisme media, yakni fungsi edukasi, fungsi kontrol sosial dan penyampaian informasi pada masyarakat, serta dipegang teguhnya prinsip – prinsip jurnalisme.

Namun terkait keterbatasan slot, maka kebijakan menjadi fleksibel. Dalam artian ada kebutuhan – kebutuhan nasional yang perlu diangkat dan mempangaruhi naik tayang tidaknya berita – berita yang lain. Fleksibel ini juga terkait dengan program – program tertentu yang memiliki komitmen dengan iklan. Titin juga menekankan bahwa sehubungan dengan fungsi pers yang harus mencerdaskan masyarakat, maka hal tersebut mempengaruhi aturan – aturan dalam menjalankan dan mengawal tugas – tugas kewartawanan.[4]

Sementara Rizal Mustary, ketua bidang penelitian dan pengembangan IJTI menyampaikan refleksi pandangan tentang kegiatan jurnalistik televisi di Indonesia. Menurut Rizal, beberapa stasiun televisi di Indonesia dikuasai oleh tokoh besar berbagai partai politik. Rizal menyepakati tesis Robert McChesney yang menemukan bahwa media massa global dikontrol oleh korporasi dan oleh karenanya mengaburkan kebebasan pers.

Rizal telah melakukan penelitian terkait tesis McChesney pada 2009 dan membuktikan bahwa dua stasiun televisi terbukti digunakan para pemiliknya untuk kepentingan politik sehingga mempengaruhi proses peliputan, seleksi atau filter dan presentasi berita yang terjadi di ruang berita hingga ke ranah audiensi.[5]

Beberapa kajian tentang ruang berita melahirkan teori – teori yang dapat digunakan untuk menganalisa tentang polemik dalam ruang berita itu sendiri. Teori ruang berita difungsikan untuk mengurai kebijakan – kebijakan di ruang redaksi dan disebut juga sebagai teori produksi berita. Salah satu kajian ruang berita digagas oleh Boyer dan Hanner yang melihat jurnalisme sebagai lensa untuk lebih memahami realitas sosial yang terjadi di masyarakat, dimana keterlibatan media di dalamnya hingga meliputi ranah mediasi sosial, dan pada produksi – produksi budaya.[6]

2 teori tentang mekanisme dalam ruang berita menurut Mark Schulman:

  1. Menggambarkan hubungan wartawan yang satu dengan yang lain di dalam satu sistem. Setiap bagian memiliki tugas dan fungsi masing – masing berdasarkan pembagian kerja. Wartawan bekerja melalui proses gatekeeping. Reporter di lapangan mendapatkan berita, redaktur akan menyunting, sementara redaksi pelaksana berita mana yang bisa dipilih, berita mana yang layak disajikan, sebagai berita utama. Hubungan digambarkan sebagai pembagian tugas, dimana setiap orang memiliki fungsi dan tugas masing – masing. Berita pada dasarnya merupakan hasil akhir dari proses yang panjang. Dimana kreativitas wartawan juga strategi dengan unit lainnya seperti iklan dan pemasaran. Dalam pekerjaan masing – masing tidak mencampuri, namun demikian hubungan terjadi dengan pertimbangan professional.
  2. Teori yang kedua mengungkapkan bahwa hubungan antara satu wartawan dengan yang lainny didasarkan pada proses kontrol, bukan proses gatekeeping. Wartawan dan kaum professional media dilihat dalam satu sistem kelas. Pekerjaan jurnalistik dipandang sebagai bagian dari praktek kelas. Jurnalis adalah kelas tersendiri. Hubungan dengan redaktur, pemilik modal, unit pemasaran dan sejenisnya merupakan hubungan antar kelas yang berbeda.

Menurut Mark Schulman, karakteristik dalam mekanisme ruang berita :

  1. Pekerjaan diatur dalam bentuk kontrol dan sensor diri. Bentuk sensor ini diwujudkan dalam sanksi dan imbalan. Pihak elit media menerapkan imbalan bagi jurnalis yang patuh dan sanksi bagi jurnalis tidak patuh.
  2. Proses dan kerja berita didasarkan pada landasan ideologis. Nilai yang dimiliki wartawan menentukan bagaimana berita ditulis dan diliput, dimana hal ini lebih dominan dibandingkan etika professional.
  3. Prinsip profesionalisme dan aturan kerja redaksi seperti tenggat waktu dan pembagian tugas liputan merupakan bagian dari control, bentuk pendisiplinan para wartawan. Kebebasan wartawan dibatasi dengan berbagai kontrol dan konsep yang membuat wartawan hanya merupakan perangkat kecil dari sistem besar yang menindas.
  4. Bagian dalam ruang berita dilihat sebagai kelompok yang saling bertarung untuk mengajukan klaim kebenara masing – masing.

Sementara menurut Stuart Hall dalam Ishadi, mekanisme kontrol dan ideologi yang berperan serta dalam menentukan peristiwa adalah:

  1. Nilai berita

Ideologi berperan dalam memilah berita yang memiliki nilai berita dengan yang tidak memiliki nilai berita.

  1. Kategorisasi berita

Setelah sebuah peristiwa didefinisikan sebagai berita, kemudian adalah cara berita tersebut diperlakukan, dikategorikan sebagai hard news atau soft news.

  1. Obyektivitas

Hal ini terkait dengan prosedur dan standar kerja karyawan, dalam hal ini wartawan. Produksi berita pada dasarnya, adalah proses mengolah peristiwa menjadi informasi yang disebarkan kepada khalayak.[7]

[1] Menurut Graeme Burton dalam Membincangkan Televisi : Sebuah Pengantar pada Studi Televisi, televisi tidak pernah netral mengingat kebenaran – kebenaran yang dikonstruksi ulang melalui kemasan sebuah peristiwa dalam pemberitaan. (2007 : 198)

[2]  Graeme Burton dalam Memperbincangkan Televisi : Sebuah Pengantar pada Studi Televisi 2007: 199

[3] Graeme Burton dalam Memperbicangkan Televisi 2007 : 208

[4]  Titin Rosmasari dalam Jurnalis Televisi, antara Fungsi Sosial dengan Kebijakan Manajemen (2012 : 118)

[5]  Rizal Mustary dalam Jurnalis Televisi, di antara Publik dan Pemilik Modal (2012 : 129)

[6]  Boyer, Dominic, and Ulf Hannerz  dalam Introduction: Worlds Of Journalism menuturkan lebih jauh bahwa dalam teori produksi berita merupakan pertarungan kekuatan yang tak akan pernah bisa diputuskan, yang melibatkan interaksi dan negosiasi melalui banyak pintu, yang mana membutuhkan struktur ruang redaksi yang kuat dan juga agen lapangan yang berkompeten. Praktek produksi yang sesungguhnya melibatkan operasionalisasi peralatan, metode, dan data terkait. (2007: 5-17)

[7] Stuart Hall dalam Media dan Kekuasaan oleh Ishadi (2014: 20)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s