Pengawalan Perkembangan Berita Sebagai Implementasi Mekanisme Gatekeeping dalam Pemberitaan Televisi

Media merupakan institusi yang terdiri dari pemilik modal, pengelola media dan juga wartawan professional. Hubungan ketiganya ditentukan oleh faktor pemilik modal, aturan pemerintah dan industri media penyiaran. Keterkaitan ini memungkinkan terjadinya kepentingan – kepentingan, termasuk di dalamnya media televisi. Kepentingan – kepentingan ini terlibat dalam berbagai keputusan ringan dan besar, seperti misalnya apakah sebuah informasi dapat dimasukkan dalam paket berita ataukah sebuah paket berita layak tayang atau tidak; seperti yang terjadi dalam pengawalan perkembangan sebuah berita.

Pengawalan perkembangan berita merupakan aktivitas pendampingan dan monitoring yang dilakukan oleh ruang berita kepada tim peliputan di lapangan sejak dimulainya proses news gathering, seleksi informasi, konstruksi berita, news editing hingga cetak tayang.

Gatekeeping merupakan topik penting dalam perencanaan komunikasi dan hampir semua komunikasi mengandung unsur gatekeeping, termasuk media itu sendiri. Penyaringan dan pemilihan informasi oleh gatekeeper ini dipengaruhi oleh jaringan saling mempengaruhi yang rumit, kecenderungan pribadi, misal seorang editor, mempengaruhi perannya sebagi gatekeeper dalam sebuah media pemberitaan.[1]

Jurnalis atau pekerja berita di setiap harinya dibombardir dengan informasi yang beragam dan datang dari sumber yang berbeda pula; internet, koran, saluran televisi, radio, majalah dan juga informan – informan berita mereka. Sudah menjadi tugas dari jurnalis dan aktivitas produksi berita untuk melakukan seleksi informasi dan sangat tidak mungkin untuk membentuk kepingan kecil informasi untuk menjadi berita tanpa menyertakan aktivitas gatekeeping. Aktivitas gatekeeping meliputi proses seleksi informasi, penulisan, penyuntingan, penempatan, penjadwalan, pengulangan atau paling tidak memanipulasi informasi untu menjadi sebuah berita.[2]

Seleksi dan konstruksi yang ditampilkan melalui produksi televisi bersifat niscaya sekaligus pervasif sepanjang keseluruhan proses pembuatan berita. Niscaya berkaitan dengan dengan jumlah materi berita yang tersedia dan batasan alokasi atau slot waktu, pervasif karena keputusan – keputusan terkait dengan apa yang diliput dan bagaimana mempengaruhi setiap tahap pembuatan berita, pencarian berita (news gathering), evaluasi berita (copytasting), editing berita, konstruksi program berita dan terakhir presentasi  berita.[3]

Sehingga dalam hal ini maka gatekeeper sebagai penjaga gawang yang paling menentukan perihal informasi apa yang diloloskan untuk publik. Sebelumnya, sumber – sumber berita itu sendiri dapat juga dikatakan menelikung. Terdapat beberapa definisi dan temuan penelitian yang menarik mengenai gatekeeping yang akan peneliti sajikan berikut ini.

Istilah gatekeeper pada awalnya diperkenalkan Kurt Lewin, yang didefinisikan sebagai orang atau pihak yang memutuskan hal – hal yang bisa diteruskan dan apa yang tidak. Sementara itu gatekeeping menurut Sneider dipakai untuk melihat bagaimana para editor mencampur berita dari kategori berbeda. Selain itu Sneider berdasarkan hasil penelitiannya menyimpulkan bahwa subyektivitas dilibatkan dalam proses pemilihan campuran.[4]

Proses gatekeeping memastikan hanya materi – materi yang mendukung pasar yang didistribusikan, sedangkan informasi yang cenderung merugikan pasar akan ditahan. Proses ini sangat potensial untuk melestarikan kekuatan dari ideologi serta kepentingan politik tertentu. Proses gatekeeping dilakukan pada fase editorial, oleh editor senior dan dilakukan di semua jenjang penyusunan program televisi.

Teori gatekeeping juga menyangkut bentuk bahasa dengan jeda lambat dan struktur naratif yang kompleks dinilai berbahaya oleh media. Dimana jeda narasi atau struktur naratif yang lambat memungkinkan khalayak menyerap materi pemberitaan, merefleksikan dan mempertanyakan apa yang mereka tonton.[5]

Ada beberapa pandangan penelitian yang mengulas mengenai aktivitas gatekeeping dan faktor – faktor yang ditengarai menjadi pertimbangan dalam penerapanya. Penelitian yang dilakukan oleh David Manning White merujuk pada keputusan seorang editor terkait hal – hal apa saja yang yang akan dipublikasikan, didasari oleh subyektivitas daan nilai – nilai dari editor.

Menurut White lebih lanjut, untuk melihat kriteria yang digunakan editor dalam proses pengambilan keputusan, dan menciptakan cara analisis sistematis terkait proses seleksi berita oleh gatekeeper. Editor adalah unit analisis dan sedapat mungkin melibatkan editor – editor lain untuk melihat perbedaan dan persamaan dalam menyeleksi berita sekaligus alasan – alasan di balik pemberitaan.

Ada dua macam studi yang bisa dilakukan terkait seleksi berita, yaitu:

  1. Studi longitudinal, jangka waktu penelitian relatif panjang dan lama sehingga akan terlihat konsistensi dalam argument pemilihan berita.
  2. Studi subsequent, jangka waktu penelitian relatif singkat, sehingga alasan pemililhan berita terlihat hanya berdasar subyektivitas.

Studi longitudinal lebih dapat melihat bahwa editor yang sama menggunakan kriteria yang sama dalam melihat dan memilih berita. Level analisis dapat dilakukan secara individual, berdasarkan rutinitas, organisasional, dan ekstra media.

Media konseptual yang dipergunakan dalam proses gatekeeping di media menurut White adalah sebagai berikut:

N – N1,2,3,4 -> Gates -> N2,3 – M

(Bagan 1.2 Konsep Gatekeeping dalam Media Menurut David Manning White)

Keterangan :

N         : Sumber Berita

N1 –  4 : Berita

N2, 3   : Berita terpilih

N1, 4   : Berita Ditolak

M         : Khalayak

White menyatakan bahwa peran gatekeeper sangat subyektif tergantung pengalaman, perilaku dan harapan – harapan seorang pelaku gatekeeping. Model ini menjelaskan fungsi gatekeeper secara umum pada media massa, dimana kegiatan pengawasan berfokus pada struktur organisasi dari ruang berita dan peristiwa yang akan diberitakan.[6]

Gatekeeper juga terdapat dalam sistem politik, merupakan institusi atau organisasi yang menguasai akses untuk posisi – posisi penguasa dan mengatur serta mengawasi aliran informasi di media dan pengaruh politik. Gatekeeper dalam media menunjukkan bahwa pengambilan keputusan dipengaruhi oleh :

  1. Prinsip nilai berita
  2. Kebiasaan organisasi
  3. Struktur organisasi
  4. Pengatahuan umum akan suatu hal.

Menurut Pamela J. Shoemaker, paling tidak dapat digunakan 3 teori untuk memeriksa bagaimana seorang gatekeeper menjalani proses kepenjagaan gawang, yakni teori berpikir, teori pengambilan keputusan dan teori tentang karakteristik individu gatekeeper. Teori berpikir yang digunakan Pamela merupakan teori mekanisme berpikir milik J.G. Snodgrass, G. Levy-Berger dan M. Hayden yakni assosiasionisme, gestalisme dan proses informasi.

Sementara untuk menjelaskan bagaimana seorang gatekeeper mengevaluasi dan menginterpretasi pesan, Shoemaker menggunakan teori D.E. Hewes dan M.L. Graham yang menyatakan bahwa ketika seseorang mencoba untuk memperbaiki atau menurunkan prasangka terhadap sebuah pesan dengan membawa pengetahuan sebelumnya untuk menafsirkan pesan nyata disebut proses kognitif. Sedangkan untuk teori pengambilan keputusan, Shoemaker menggunakan teori milik P. Wright dan F. Barbour yang merujuk pada 4 langkah pengambilan keputusan, yaitu; proses pengenalan masalah, pendefinisian alternatif penyelesaian, peninjauan informasi yang relevan, dan penerapan keputusan.[7]

Shoemaker sendiri menyatakan bahwa tulisannya tentang teori gatekeeping pada tahun 1996 dilakukan tanpa penelitian terkait aktivitas gatekeeping. Tulisan tersebut sejatinya merupakan rekomendasi dari pembimbing disertasinya Steven H. Chafee, ketika Shoemaker menyelesaikan program doktoralnya. Sehingga kemudian versi revisi diterbitkan pada 2001 dengan menambahkan hasil riset pada suratkabar.

Dalam proses gatekeeping tidak semua hal dipilih. Beberapa di antaranya melalui saluran yang terkadang masih dibagi lagi menjadi beberapa bagian, yang mana hanya dapat dilewati melalui pintu – pintu. Tekanan kekuatan dapat menghantarkan sekaligus menghambat gerakan dari informasi melalui pintu, dengan kekuatan bervariasi dan bekerja pada salah satu atau kedua sisi pintu gerbang.[8]

Kekuatan negatif atau yang terbilang lemah dapat menghambat informasi – informasi dari dan melalui saluran, dan penting untuk diperhatikan bahwa kekuatan – kekuatan yang menekan informasi, datangnya dari sebelum dan sesudah pintu – pintu gatekeeping. Elemen terakhir yang tampak pada gambar ilustrasi merupakan luaran (output) dari proses gatekeeping, bukan hanya hasil dari proses seleksi namun juga menunjukkan bahwa terdapat berbagai pengaruh – pengaruh ketika informasi melalui saluran, bagian – bagian dan juga pintu – pintu.

Yang perlu diketahui adalah bahwa terdapat elemen penting yang tersembunyi pada ilustrasi tersebut, yang mana gatekeepers memegang kendali apakah sebuah informasi akan dapat melalui semua saluran dan menjadi keluaran sebagaimana informasi asli. Gatekeepers atau penjaga gawang dapat termanifestasikan pada berbagai format, contohnya manusia, kode etik profesional, kebijakan perusahaan, dan juga algoritma komputer. Semua penjaga gawang selalu bertujuan membuat keputusan, namun memiliki derajat otoritas yang berbeda.[9]

Versi gatekeeping Shoemaker pada 1996 menyertakan model gatekeeping yang melibatkan individu gatekeeping yang bekerja pada sebuah institusi, pengaruh proses gatekeeping secara internal dan eksternal, hingga umpan balik. Dalam model tersebut menyajikan karakteristik gatekeeper dalam sebuah struktur organisasi, proses internal dan eksternal yang mempermainkan peranan penting dalam aktivitas gatekeeping itu sendiri. Model tersebut, seperti model komunikasi massa lainnya, menyertakan pengaruh dari individu terhadap institusi dan institusi ke cakupan yang lebih luas lagi, yaitu masyarakat.[10]

 

Sementara itu, konsep Media Mapping oleh Pamela Shoemaker menyertakan beberapa level dalam media yaitu:

  1. Level Individu – professional jurnalis

Menyangkut latar belakang pendidikan, perkembangan professional dan ketrampilan dalam menyampaikan berita, perilaku, pemahaman nilai dan kepercayaan, orientasi sosial dalam pekerjaannya.

  1. Level Media Routines – Terkait perspektif organisasi media

Mencakup proses penentuan berita. Rutinitas dalam ruang berita berhubungan langsung dengan proses penentuan berita yakni, gatekeeping dalam media. Rutinitas merupakan prosedur tetap yang berlaku dalam sebuah rubrik berita.

  1. Level organisasi

Menyangkut struktur organisasi media, proses pengambilan keputusan dan kebijakan yang diberlakukan.

  1. Level ekstra media

Berkaitan dengan sumber berita, lembaga lain di luar media, dan sumber penghasilan media. Sumber berita yang merupakan isi media mempunyai kepentingan tertentu yang melalui aktivitas kehumasan maupun kelompok – kelompok penekan dapat mempengaruhi proses konstruksi realitas dalam media. Penghasilan media berupa iklan, pelanggan, khalayak melalui system rating mampu mempengaruhi proses di dalam ruang berita. Lembaga di luar media dapat berupa institusi bisnis, pemerintah, atau teknologi maupun ekonomi.

  1. Level ideologis.

Kerangka yang dijadikan bahan referensi oleh individu dalam melihat realitas dan juga dalam bereaksi terhadap realitas tersebut. Kekuatan khalayak secara umum dalam bentuk ideologi tersebut berperan dalam menentukan agenda media.

Menurut Shoemaker, hal yang menarik untuk diamati lebih lanjut adalah cara berita – berita tersebut dibentuk, penentuan rentang waktu dan penayangannya. Faktor – faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan dalam mapping media menurut Shoemaker di antaranya adalah :

  1. Opinion leader di antara pelaku media.
  2. Reference group dalam ruang berita.
  3. Konsensus dari staf editorial.
  4. Budget yang direkomendasi oleh berita.
  5. Rentang waktu (timeline).[12]

Pengawalan perkembangan berita dalam penelitian ini merupakan prosedur pendampingan dan monitoring yang dilakukan oleh ruang berita terhadap berjalannya proses produksi berita yang termasuk dalam prosedur standar operasi yang dimiliki oleh setiap divisi berita di stasiun – stasiun televisi. Dalam pengawalan perkembangan berita, terdapat pintu – pintu yang harus dilalui oleh berbagai informasi selama pengumpulan berita untuk disetujui menjadi paket berita seutuhnya.

Berdasarkan berbagai penjelasan sebelumnya, maka mekanisme gatekeeping menjadi inti dalam pengawalan perkembangan berita dimana prosedurnya melibatkan aktivitas – aktivitas gatekeeping yang difungsikan untuk memilih dan memilah, mengurangi, meniadakan serta memutuskan informasi – informasi apa saja yang disetujui untuk disertakan dalam sebuah paket berita hingga berita tersebut naik tayang dan tersampaikan ke pemirs

[1] https://We.utk.edu/~xzhou1/gatetheory.htm#new diakses pada 18 Oktober 2015 pada pukul 09.25 WIB

[2] Pamela Shoemaker & Stephen Reese dalam Journalits as Gatekeepers : (2009 : 73)

[3] Graeme Burton dalam Memperbincangkan Televisi : 2007: 209

[4] https://www.findarticles.com/p/articles/mi_qa3677/5_200301/ai_n9224286

[5] https://www.mnsi.net/2pwatkins/appedix_1htm

[6] https://www.tcw.utwente.nl/theorieenoverzich/theory diakses pada 18 Oktober 2015 pada pukul 08.28 WIB

[7] Pamela Shoemaker dalam Ana Nadhya Abrar,  Gatekeeper: Sebuah Upaya Mengidentifikasi Konsep Komunikasi (2012 : 341 – 342)

[8] Pamela Shoemaker & Stephen Reese dalam Journalits as Gatekeepers : (2009 : 74)

[9] Pamela Shoemaker & Stephen Reese dalam Journalits as Gatekeepers : (2009 : 75)

[10] http://www.reelaccurate.com/about/gatekeeping.pdf diakses pada 11 Maret 2016 pukul 02.34 WIB

[11] http://www.Unc.edu/courses/zoofall/jomc245_001/tecle_critique_html diakses pada 20 Oktober 2015 pada pukul 13.45 WIB

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s