MENYOAL PRO KONTRA KEBIJAKAN MENDIKBUD TENTANG FULL DAY SCHOOL

beritatagar.id tanggal 9 Agustus 2016 menyebutkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy akan meninjau ulang wacana sekolah full-day dan beliau menganjurkan masyarakat tetap mengkritisi kebijakan – kebijakan beliau ke depan. Berita tersebut menekankan bahwa Pak Menteri legowo terhadap kritik.

Tentu kritik akan sangat picik bila dikeluarkan berdasar pada concern akan pengalaman anak masing – masing; pun hanya berangkat dari pengalaman diri sendiri di waktu lampau yang juga melalui masa kanak – kanak di sekolah fullday. Apalagi kritik yang sekedar berbekal dari pengalaman individual pernah kuliah di UMM atau pernah mengajar di UMM.

Kritik terhadap kontroversi wacana FDS harus dilakukan dengan pemetaan keadaan terkini dan menilik realita sesungguhnya dari ranah pendidikan di Indonesia. Maka kritik yang disampaikan tidak akan jatuh dalam perspektif subyektif, dan logis berpikir tidak dipaksakan dalam kerangka berpikir yang sempit.
Karena sesungguhnya wacana FDS sangat sulit diterapkan di daerah – daerah seperti perkampungan nelayan, pertambangan dan juga wilayah – wilayah tertinggal lainnya. Tentu kita tidak menginginkan, kebijakan ini kemudian hanya berlaku di sekolah atau daerah tertentu saja bukan? Karena hal ini akan merujuk pada permasalahan baru berikutnya, yaitu ketimpangan pendidikan.
Harus digarisbawahi bahwa Indonesia sangat luas dengan segala jenis kemajemukannya. Di daerah Mampang Prapatan juga Tebet, Jakarta Selatan; yang notabene jelas bukan daerah terpencil, beberapa bangunan SD dan MI digunakan bergantian pagi dan sore. Di beberapa daerah di Sumatera, murid – murid SD masih harus berjalan 7-8km jauhnya, juga menyeberang sungai hanya untuk bisa bersekolah setiap harinya. Beberapa hal tersebut dapat menjadi sedikit referensi dari permasalahan – permasalahan pendidikan di daerah yang lebih tertinggal lainnya, yang tentu tidak lepas dari aspek sosiologis juga geografis.
Di sisi lain dari segi ekonomi, menyoal biaya FDS yang tentu tidak sedikit. FDS akan sangat membutuhkan keluarga – keluarga yang mampu dan siap dari segi finansial untuk menunjang biaya operasionalnya.
Kecuali bapak menteri sudah menyiapkan solusinya, yaitu subsidi tetap. Itupun tentu tidak akan menutup masalah – masalah lain, seperti SDM serta sarana prasarana; dan bahwa akan ada hal – hal yang tidak lantas bisa tuntas diakomodir oleh sekolah. Perlu juga digarisbawahi bahwa kekuatan karakter dan kesuksesan seseorang tidak ditentukan dari lamanya Ia berada di sekolah.
Masih banyak permasalahan di dunia pendidikan Indonesia yang perlu menjadi sorotan dan dibenahi kebijakan – kebijakannya. Misal menghapus tugas rumah, sistem ranking dan bila memungkinkan hapuslah ujian akhir nasional.
Maka, kami tunggu kebijakan terbaik bapak untuk situasi pendidikan Indonesia saat ini, pak. Saya salut untuk legowo bapak atas berbagai kritik beberapa hari ini.
Semoga istiqomah.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s