MENYOAL PRO KONTRA KEBIJAKAN MENDIKBUD TENTANG FULL DAY SCHOOL

beritatagar.id tanggal 9 Agustus 2016 menyebutkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy akan meninjau ulang wacana sekolah full-day dan beliau menganjurkan masyarakat tetap mengkritisi kebijakan – kebijakan beliau ke depan. Berita tersebut menekankan bahwa Pak Menteri legowo terhadap kritik.

Tentu kritik akan sangat picik bila dikeluarkan berdasar pada concern akan pengalaman anak masing – masing; pun hanya berangkat dari pengalaman diri sendiri di waktu lampau yang juga melalui masa kanak – kanak di sekolah fullday. Apalagi kritik yang sekedar berbekal dari pengalaman individual pernah kuliah di UMM atau pernah mengajar di UMM.

Kritik terhadap kontroversi wacana FDS harus dilakukan dengan pemetaan keadaan terkini dan menilik realita sesungguhnya dari ranah pendidikan di Indonesia. Maka kritik yang disampaikan tidak akan jatuh dalam perspektif subyektif, dan logis berpikir tidak dipaksakan dalam kerangka berpikir yang sempit.
Karena sesungguhnya wacana FDS sangat sulit diterapkan di daerah – daerah seperti perkampungan nelayan, pertambangan dan juga wilayah – wilayah tertinggal lainnya. Tentu kita tidak menginginkan, kebijakan ini kemudian hanya berlaku di sekolah atau daerah tertentu saja bukan? Karena hal ini akan merujuk pada permasalahan baru berikutnya, yaitu ketimpangan pendidikan.
Harus digarisbawahi bahwa Indonesia sangat luas dengan segala jenis kemajemukannya. Di daerah Mampang Prapatan juga Tebet, Jakarta Selatan; yang notabene jelas bukan daerah terpencil, beberapa bangunan SD dan MI digunakan bergantian pagi dan sore. Di beberapa daerah di Sumatera, murid – murid SD masih harus berjalan 7-8km jauhnya, juga menyeberang sungai hanya untuk bisa bersekolah setiap harinya. Beberapa hal tersebut dapat menjadi sedikit referensi dari permasalahan – permasalahan pendidikan di daerah yang lebih tertinggal lainnya, yang tentu tidak lepas dari aspek sosiologis juga geografis.
Di sisi lain dari segi ekonomi, menyoal biaya FDS yang tentu tidak sedikit. FDS akan sangat membutuhkan keluarga – keluarga yang mampu dan siap dari segi finansial untuk menunjang biaya operasionalnya.
Kecuali bapak menteri sudah menyiapkan solusinya, yaitu subsidi tetap. Itupun tentu tidak akan menutup masalah – masalah lain, seperti SDM serta sarana prasarana; dan bahwa akan ada hal – hal yang tidak lantas bisa tuntas diakomodir oleh sekolah. Perlu juga digarisbawahi bahwa kekuatan karakter dan kesuksesan seseorang tidak ditentukan dari lamanya Ia berada di sekolah.
Masih banyak permasalahan di dunia pendidikan Indonesia yang perlu menjadi sorotan dan dibenahi kebijakan – kebijakannya. Misal menghapus tugas rumah, sistem ranking dan bila memungkinkan hapuslah ujian akhir nasional.
Maka, kami tunggu kebijakan terbaik bapak untuk situasi pendidikan Indonesia saat ini, pak. Saya salut untuk legowo bapak atas berbagai kritik beberapa hari ini.
Semoga istiqomah.

Faktor – faktor Berpengaruh dalam Pengambilan Keputusan di Ruang Berita Televisi Terkait Pengawalan Perkembangan Berita

Menurut McQuail yang dikutip oleh Graeme Burton, berita bukan sekedar fakta, melainkan bentuk khusus pengetahuan yang tidak lepas dari penggabungan informasi, mitos, fabel dan moralitas.[1] Berita televisi dengan menitikberatkan pada gambar dapat menimbulkan spekulasi mengenai perihal penyebab sebuah kejadian, menawarkan interpretasi alternatif terhadap suatu peristiwa. Berita televisi membeberkan konsekuensi yang mungkin, menjabarkan isu ataupun permasalahan dengan caranya sendiri dan tidak netral.[2]

Berita televisi menetapkan agenda dengan memilih laporan berita. Agenda ini bekerja pada bingkai waktu yang pendek dalam hal pemilihan berita dengan cerita khusus. Item – item berita yang tidak disiarkan dianggap tidak memiliki  kepentingan publik yang sama.

Konsep tersebut berhimpitan dengan kelayakan berita dan gagasan perihal konvensi. Cerita yang bersifat tragedi, kejadian berskala besar, diberi nilai lebih di atas cerita yang lainnya. Maka dengan televisi memilih kejadian tertentu dengan membentuk perspektif tertentu, dapat dikatakan bahwa agenda televisi mengisyaratkan prioritas. Paparan ini merujuk pada sebuah proses berita dimana manajemen ruang berita memegang peranan penting dalam mengawal peliputan berita.

Berita televisi memiliki kelebihan pada kekuatan gambar tentang fenomena berkembang yang tengah berpolemik, yang ditambah dengan gagasan yang diekspresikan oleh koresponden juga pembawa berita. Gambar bersifat polisemik, sehingga pada tingkatan tertentu bersifat ambigu, mengikat makna, memformulasi isu, dan mengakumulasi informasi. Hal ini memberikan makna siginifikan mengenai tanda dan kode, keterangan pada gambar, efek suara (natural sound), serta keseluruhan narasi.

Sehingga rutinitas produksi berita seharusnya mendapatkan pengawalan ketat di setiap perkembangan pemberitaan, sejak tahap pengumpulan data dan informasi, pelaporan berita, proses seleksi dan konstruksi, hingga tahap terakhir disampaikan kepada pemirsa.

Graeme Burton mengupas lebih lanjut tentang bagaimana berita televisi bisa menjadi sesuatu yang yang lebih relevan dan bernilai bagi orang banyak. Menurut Burton, seleksi dan konstruksi yang ditampilkan melalui produksi berita televisi bersifat niscaya sekaligus pervasif sepanjang keseluruhan proses pembuatan berita.  Mengingat jumlah materi berita yang tersedia dan batasan alokasi waktu; pervasif lantaran keputusan – keputusan terkait dengan apa yang diliput dan bagaimana mempengaruhi setiap tahap pembuatan berita; pencarian berita (news gathering), evaluasi terhadap draft berita (copytasting), editing berita, kosntruksi program berita, dan presentasi berita.

Dalam hal ini, berita penuh dengan keputusan  penjaga gawang tentang informasi apa yang diloloskan kepada siapa dan mengapa. Pengambil keputusan yang paling akhir menentukan adalah editor berita. Keputusan dibuat seputar pengiriman tim untuk meliput berita, berkenaan dengan rutinitas penggarapan, juga dengan apa yang menjadi agenda sebuah program.[3]

Beberapa pelaku divisi news gathering stasiun televisi swasta di Indonesia yang tergabung dalam Ikatan Jurnalistik Televisi Indonesia (IJTI), menuturkan dalam Jurnalisme Televisi Indonesia: Tinjauan Luar Dalam; terkait perkembangan peliputan berita yang tidak berdiri sendiri karena berhubungan pengambilan keputusan menyangkut banyak aspek dalam – minimal sebuah divisi News Gathering – dan juga kepentingan ideologi perusahaan.

Titin Rosmasari, mantan pemimpin redaksi Trans 7 yang kini menjabat sebagai pemimpin redaksi CNN Indonesia, menyebutkan bahwa dalam mengawal peliputan dan perkembangan berita yang diutamakan adalah idealisme media, yakni fungsi edukasi, fungsi kontrol sosial dan penyampaian informasi pada masyarakat, serta dipegang teguhnya prinsip – prinsip jurnalisme.

Namun terkait keterbatasan slot, maka kebijakan menjadi fleksibel. Dalam artian ada kebutuhan – kebutuhan nasional yang perlu diangkat dan mempangaruhi naik tayang tidaknya berita – berita yang lain. Fleksibel ini juga terkait dengan program – program tertentu yang memiliki komitmen dengan iklan. Titin juga menekankan bahwa sehubungan dengan fungsi pers yang harus mencerdaskan masyarakat, maka hal tersebut mempengaruhi aturan – aturan dalam menjalankan dan mengawal tugas – tugas kewartawanan.[4]

Sementara Rizal Mustary, ketua bidang penelitian dan pengembangan IJTI menyampaikan refleksi pandangan tentang kegiatan jurnalistik televisi di Indonesia. Menurut Rizal, beberapa stasiun televisi di Indonesia dikuasai oleh tokoh besar berbagai partai politik. Rizal menyepakati tesis Robert McChesney yang menemukan bahwa media massa global dikontrol oleh korporasi dan oleh karenanya mengaburkan kebebasan pers.

Rizal telah melakukan penelitian terkait tesis McChesney pada 2009 dan membuktikan bahwa dua stasiun televisi terbukti digunakan para pemiliknya untuk kepentingan politik sehingga mempengaruhi proses peliputan, seleksi atau filter dan presentasi berita yang terjadi di ruang berita hingga ke ranah audiensi.[5]

Beberapa kajian tentang ruang berita melahirkan teori – teori yang dapat digunakan untuk menganalisa tentang polemik dalam ruang berita itu sendiri. Teori ruang berita difungsikan untuk mengurai kebijakan – kebijakan di ruang redaksi dan disebut juga sebagai teori produksi berita. Salah satu kajian ruang berita digagas oleh Boyer dan Hanner yang melihat jurnalisme sebagai lensa untuk lebih memahami realitas sosial yang terjadi di masyarakat, dimana keterlibatan media di dalamnya hingga meliputi ranah mediasi sosial, dan pada produksi – produksi budaya.[6]

2 teori tentang mekanisme dalam ruang berita menurut Mark Schulman:

  1. Menggambarkan hubungan wartawan yang satu dengan yang lain di dalam satu sistem. Setiap bagian memiliki tugas dan fungsi masing – masing berdasarkan pembagian kerja. Wartawan bekerja melalui proses gatekeeping. Reporter di lapangan mendapatkan berita, redaktur akan menyunting, sementara redaksi pelaksana berita mana yang bisa dipilih, berita mana yang layak disajikan, sebagai berita utama. Hubungan digambarkan sebagai pembagian tugas, dimana setiap orang memiliki fungsi dan tugas masing – masing. Berita pada dasarnya merupakan hasil akhir dari proses yang panjang. Dimana kreativitas wartawan juga strategi dengan unit lainnya seperti iklan dan pemasaran. Dalam pekerjaan masing – masing tidak mencampuri, namun demikian hubungan terjadi dengan pertimbangan professional.
  2. Teori yang kedua mengungkapkan bahwa hubungan antara satu wartawan dengan yang lainny didasarkan pada proses kontrol, bukan proses gatekeeping. Wartawan dan kaum professional media dilihat dalam satu sistem kelas. Pekerjaan jurnalistik dipandang sebagai bagian dari praktek kelas. Jurnalis adalah kelas tersendiri. Hubungan dengan redaktur, pemilik modal, unit pemasaran dan sejenisnya merupakan hubungan antar kelas yang berbeda.

Menurut Mark Schulman, karakteristik dalam mekanisme ruang berita :

  1. Pekerjaan diatur dalam bentuk kontrol dan sensor diri. Bentuk sensor ini diwujudkan dalam sanksi dan imbalan. Pihak elit media menerapkan imbalan bagi jurnalis yang patuh dan sanksi bagi jurnalis tidak patuh.
  2. Proses dan kerja berita didasarkan pada landasan ideologis. Nilai yang dimiliki wartawan menentukan bagaimana berita ditulis dan diliput, dimana hal ini lebih dominan dibandingkan etika professional.
  3. Prinsip profesionalisme dan aturan kerja redaksi seperti tenggat waktu dan pembagian tugas liputan merupakan bagian dari control, bentuk pendisiplinan para wartawan. Kebebasan wartawan dibatasi dengan berbagai kontrol dan konsep yang membuat wartawan hanya merupakan perangkat kecil dari sistem besar yang menindas.
  4. Bagian dalam ruang berita dilihat sebagai kelompok yang saling bertarung untuk mengajukan klaim kebenara masing – masing.

Sementara menurut Stuart Hall dalam Ishadi, mekanisme kontrol dan ideologi yang berperan serta dalam menentukan peristiwa adalah:

  1. Nilai berita

Ideologi berperan dalam memilah berita yang memiliki nilai berita dengan yang tidak memiliki nilai berita.

  1. Kategorisasi berita

Setelah sebuah peristiwa didefinisikan sebagai berita, kemudian adalah cara berita tersebut diperlakukan, dikategorikan sebagai hard news atau soft news.

  1. Obyektivitas

Hal ini terkait dengan prosedur dan standar kerja karyawan, dalam hal ini wartawan. Produksi berita pada dasarnya, adalah proses mengolah peristiwa menjadi informasi yang disebarkan kepada khalayak.[7]

[1] Menurut Graeme Burton dalam Membincangkan Televisi : Sebuah Pengantar pada Studi Televisi, televisi tidak pernah netral mengingat kebenaran – kebenaran yang dikonstruksi ulang melalui kemasan sebuah peristiwa dalam pemberitaan. (2007 : 198)

[2]  Graeme Burton dalam Memperbincangkan Televisi : Sebuah Pengantar pada Studi Televisi 2007: 199

[3] Graeme Burton dalam Memperbicangkan Televisi 2007 : 208

[4]  Titin Rosmasari dalam Jurnalis Televisi, antara Fungsi Sosial dengan Kebijakan Manajemen (2012 : 118)

[5]  Rizal Mustary dalam Jurnalis Televisi, di antara Publik dan Pemilik Modal (2012 : 129)

[6]  Boyer, Dominic, and Ulf Hannerz  dalam Introduction: Worlds Of Journalism menuturkan lebih jauh bahwa dalam teori produksi berita merupakan pertarungan kekuatan yang tak akan pernah bisa diputuskan, yang melibatkan interaksi dan negosiasi melalui banyak pintu, yang mana membutuhkan struktur ruang redaksi yang kuat dan juga agen lapangan yang berkompeten. Praktek produksi yang sesungguhnya melibatkan operasionalisasi peralatan, metode, dan data terkait. (2007: 5-17)

[7] Stuart Hall dalam Media dan Kekuasaan oleh Ishadi (2014: 20)

Pengawalan Perkembangan Berita Sebagai Implementasi Mekanisme Gatekeeping dalam Pemberitaan Televisi

Media merupakan institusi yang terdiri dari pemilik modal, pengelola media dan juga wartawan professional. Hubungan ketiganya ditentukan oleh faktor pemilik modal, aturan pemerintah dan industri media penyiaran. Keterkaitan ini memungkinkan terjadinya kepentingan – kepentingan, termasuk di dalamnya media televisi. Kepentingan – kepentingan ini terlibat dalam berbagai keputusan ringan dan besar, seperti misalnya apakah sebuah informasi dapat dimasukkan dalam paket berita ataukah sebuah paket berita layak tayang atau tidak; seperti yang terjadi dalam pengawalan perkembangan sebuah berita.

Pengawalan perkembangan berita merupakan aktivitas pendampingan dan monitoring yang dilakukan oleh ruang berita kepada tim peliputan di lapangan sejak dimulainya proses news gathering, seleksi informasi, konstruksi berita, news editing hingga cetak tayang.

Gatekeeping merupakan topik penting dalam perencanaan komunikasi dan hampir semua komunikasi mengandung unsur gatekeeping, termasuk media itu sendiri. Penyaringan dan pemilihan informasi oleh gatekeeper ini dipengaruhi oleh jaringan saling mempengaruhi yang rumit, kecenderungan pribadi, misal seorang editor, mempengaruhi perannya sebagi gatekeeper dalam sebuah media pemberitaan.[1]

Jurnalis atau pekerja berita di setiap harinya dibombardir dengan informasi yang beragam dan datang dari sumber yang berbeda pula; internet, koran, saluran televisi, radio, majalah dan juga informan – informan berita mereka. Sudah menjadi tugas dari jurnalis dan aktivitas produksi berita untuk melakukan seleksi informasi dan sangat tidak mungkin untuk membentuk kepingan kecil informasi untuk menjadi berita tanpa menyertakan aktivitas gatekeeping. Aktivitas gatekeeping meliputi proses seleksi informasi, penulisan, penyuntingan, penempatan, penjadwalan, pengulangan atau paling tidak memanipulasi informasi untu menjadi sebuah berita.[2]

Seleksi dan konstruksi yang ditampilkan melalui produksi televisi bersifat niscaya sekaligus pervasif sepanjang keseluruhan proses pembuatan berita. Niscaya berkaitan dengan dengan jumlah materi berita yang tersedia dan batasan alokasi atau slot waktu, pervasif karena keputusan – keputusan terkait dengan apa yang diliput dan bagaimana mempengaruhi setiap tahap pembuatan berita, pencarian berita (news gathering), evaluasi berita (copytasting), editing berita, konstruksi program berita dan terakhir presentasi  berita.[3]

Sehingga dalam hal ini maka gatekeeper sebagai penjaga gawang yang paling menentukan perihal informasi apa yang diloloskan untuk publik. Sebelumnya, sumber – sumber berita itu sendiri dapat juga dikatakan menelikung. Terdapat beberapa definisi dan temuan penelitian yang menarik mengenai gatekeeping yang akan peneliti sajikan berikut ini.

Istilah gatekeeper pada awalnya diperkenalkan Kurt Lewin, yang didefinisikan sebagai orang atau pihak yang memutuskan hal – hal yang bisa diteruskan dan apa yang tidak. Sementara itu gatekeeping menurut Sneider dipakai untuk melihat bagaimana para editor mencampur berita dari kategori berbeda. Selain itu Sneider berdasarkan hasil penelitiannya menyimpulkan bahwa subyektivitas dilibatkan dalam proses pemilihan campuran.[4]

Proses gatekeeping memastikan hanya materi – materi yang mendukung pasar yang didistribusikan, sedangkan informasi yang cenderung merugikan pasar akan ditahan. Proses ini sangat potensial untuk melestarikan kekuatan dari ideologi serta kepentingan politik tertentu. Proses gatekeeping dilakukan pada fase editorial, oleh editor senior dan dilakukan di semua jenjang penyusunan program televisi.

Teori gatekeeping juga menyangkut bentuk bahasa dengan jeda lambat dan struktur naratif yang kompleks dinilai berbahaya oleh media. Dimana jeda narasi atau struktur naratif yang lambat memungkinkan khalayak menyerap materi pemberitaan, merefleksikan dan mempertanyakan apa yang mereka tonton.[5]

Ada beberapa pandangan penelitian yang mengulas mengenai aktivitas gatekeeping dan faktor – faktor yang ditengarai menjadi pertimbangan dalam penerapanya. Penelitian yang dilakukan oleh David Manning White merujuk pada keputusan seorang editor terkait hal – hal apa saja yang yang akan dipublikasikan, didasari oleh subyektivitas daan nilai – nilai dari editor.

Menurut White lebih lanjut, untuk melihat kriteria yang digunakan editor dalam proses pengambilan keputusan, dan menciptakan cara analisis sistematis terkait proses seleksi berita oleh gatekeeper. Editor adalah unit analisis dan sedapat mungkin melibatkan editor – editor lain untuk melihat perbedaan dan persamaan dalam menyeleksi berita sekaligus alasan – alasan di balik pemberitaan.

Ada dua macam studi yang bisa dilakukan terkait seleksi berita, yaitu:

  1. Studi longitudinal, jangka waktu penelitian relatif panjang dan lama sehingga akan terlihat konsistensi dalam argument pemilihan berita.
  2. Studi subsequent, jangka waktu penelitian relatif singkat, sehingga alasan pemililhan berita terlihat hanya berdasar subyektivitas.

Studi longitudinal lebih dapat melihat bahwa editor yang sama menggunakan kriteria yang sama dalam melihat dan memilih berita. Level analisis dapat dilakukan secara individual, berdasarkan rutinitas, organisasional, dan ekstra media.

Media konseptual yang dipergunakan dalam proses gatekeeping di media menurut White adalah sebagai berikut:

N – N1,2,3,4 -> Gates -> N2,3 – M

(Bagan 1.2 Konsep Gatekeeping dalam Media Menurut David Manning White)

Keterangan :

N         : Sumber Berita

N1 –  4 : Berita

N2, 3   : Berita terpilih

N1, 4   : Berita Ditolak

M         : Khalayak

White menyatakan bahwa peran gatekeeper sangat subyektif tergantung pengalaman, perilaku dan harapan – harapan seorang pelaku gatekeeping. Model ini menjelaskan fungsi gatekeeper secara umum pada media massa, dimana kegiatan pengawasan berfokus pada struktur organisasi dari ruang berita dan peristiwa yang akan diberitakan.[6]

Gatekeeper juga terdapat dalam sistem politik, merupakan institusi atau organisasi yang menguasai akses untuk posisi – posisi penguasa dan mengatur serta mengawasi aliran informasi di media dan pengaruh politik. Gatekeeper dalam media menunjukkan bahwa pengambilan keputusan dipengaruhi oleh :

  1. Prinsip nilai berita
  2. Kebiasaan organisasi
  3. Struktur organisasi
  4. Pengatahuan umum akan suatu hal.

Menurut Pamela J. Shoemaker, paling tidak dapat digunakan 3 teori untuk memeriksa bagaimana seorang gatekeeper menjalani proses kepenjagaan gawang, yakni teori berpikir, teori pengambilan keputusan dan teori tentang karakteristik individu gatekeeper. Teori berpikir yang digunakan Pamela merupakan teori mekanisme berpikir milik J.G. Snodgrass, G. Levy-Berger dan M. Hayden yakni assosiasionisme, gestalisme dan proses informasi.

Sementara untuk menjelaskan bagaimana seorang gatekeeper mengevaluasi dan menginterpretasi pesan, Shoemaker menggunakan teori D.E. Hewes dan M.L. Graham yang menyatakan bahwa ketika seseorang mencoba untuk memperbaiki atau menurunkan prasangka terhadap sebuah pesan dengan membawa pengetahuan sebelumnya untuk menafsirkan pesan nyata disebut proses kognitif. Sedangkan untuk teori pengambilan keputusan, Shoemaker menggunakan teori milik P. Wright dan F. Barbour yang merujuk pada 4 langkah pengambilan keputusan, yaitu; proses pengenalan masalah, pendefinisian alternatif penyelesaian, peninjauan informasi yang relevan, dan penerapan keputusan.[7]

Shoemaker sendiri menyatakan bahwa tulisannya tentang teori gatekeeping pada tahun 1996 dilakukan tanpa penelitian terkait aktivitas gatekeeping. Tulisan tersebut sejatinya merupakan rekomendasi dari pembimbing disertasinya Steven H. Chafee, ketika Shoemaker menyelesaikan program doktoralnya. Sehingga kemudian versi revisi diterbitkan pada 2001 dengan menambahkan hasil riset pada suratkabar.

Dalam proses gatekeeping tidak semua hal dipilih. Beberapa di antaranya melalui saluran yang terkadang masih dibagi lagi menjadi beberapa bagian, yang mana hanya dapat dilewati melalui pintu – pintu. Tekanan kekuatan dapat menghantarkan sekaligus menghambat gerakan dari informasi melalui pintu, dengan kekuatan bervariasi dan bekerja pada salah satu atau kedua sisi pintu gerbang.[8]

Kekuatan negatif atau yang terbilang lemah dapat menghambat informasi – informasi dari dan melalui saluran, dan penting untuk diperhatikan bahwa kekuatan – kekuatan yang menekan informasi, datangnya dari sebelum dan sesudah pintu – pintu gatekeeping. Elemen terakhir yang tampak pada gambar ilustrasi merupakan luaran (output) dari proses gatekeeping, bukan hanya hasil dari proses seleksi namun juga menunjukkan bahwa terdapat berbagai pengaruh – pengaruh ketika informasi melalui saluran, bagian – bagian dan juga pintu – pintu.

Yang perlu diketahui adalah bahwa terdapat elemen penting yang tersembunyi pada ilustrasi tersebut, yang mana gatekeepers memegang kendali apakah sebuah informasi akan dapat melalui semua saluran dan menjadi keluaran sebagaimana informasi asli. Gatekeepers atau penjaga gawang dapat termanifestasikan pada berbagai format, contohnya manusia, kode etik profesional, kebijakan perusahaan, dan juga algoritma komputer. Semua penjaga gawang selalu bertujuan membuat keputusan, namun memiliki derajat otoritas yang berbeda.[9]

Versi gatekeeping Shoemaker pada 1996 menyertakan model gatekeeping yang melibatkan individu gatekeeping yang bekerja pada sebuah institusi, pengaruh proses gatekeeping secara internal dan eksternal, hingga umpan balik. Dalam model tersebut menyajikan karakteristik gatekeeper dalam sebuah struktur organisasi, proses internal dan eksternal yang mempermainkan peranan penting dalam aktivitas gatekeeping itu sendiri. Model tersebut, seperti model komunikasi massa lainnya, menyertakan pengaruh dari individu terhadap institusi dan institusi ke cakupan yang lebih luas lagi, yaitu masyarakat.[10]

 

Sementara itu, konsep Media Mapping oleh Pamela Shoemaker menyertakan beberapa level dalam media yaitu:

  1. Level Individu – professional jurnalis

Menyangkut latar belakang pendidikan, perkembangan professional dan ketrampilan dalam menyampaikan berita, perilaku, pemahaman nilai dan kepercayaan, orientasi sosial dalam pekerjaannya.

  1. Level Media Routines – Terkait perspektif organisasi media

Mencakup proses penentuan berita. Rutinitas dalam ruang berita berhubungan langsung dengan proses penentuan berita yakni, gatekeeping dalam media. Rutinitas merupakan prosedur tetap yang berlaku dalam sebuah rubrik berita.

  1. Level organisasi

Menyangkut struktur organisasi media, proses pengambilan keputusan dan kebijakan yang diberlakukan.

  1. Level ekstra media

Berkaitan dengan sumber berita, lembaga lain di luar media, dan sumber penghasilan media. Sumber berita yang merupakan isi media mempunyai kepentingan tertentu yang melalui aktivitas kehumasan maupun kelompok – kelompok penekan dapat mempengaruhi proses konstruksi realitas dalam media. Penghasilan media berupa iklan, pelanggan, khalayak melalui system rating mampu mempengaruhi proses di dalam ruang berita. Lembaga di luar media dapat berupa institusi bisnis, pemerintah, atau teknologi maupun ekonomi.

  1. Level ideologis.

Kerangka yang dijadikan bahan referensi oleh individu dalam melihat realitas dan juga dalam bereaksi terhadap realitas tersebut. Kekuatan khalayak secara umum dalam bentuk ideologi tersebut berperan dalam menentukan agenda media.

Menurut Shoemaker, hal yang menarik untuk diamati lebih lanjut adalah cara berita – berita tersebut dibentuk, penentuan rentang waktu dan penayangannya. Faktor – faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan dalam mapping media menurut Shoemaker di antaranya adalah :

  1. Opinion leader di antara pelaku media.
  2. Reference group dalam ruang berita.
  3. Konsensus dari staf editorial.
  4. Budget yang direkomendasi oleh berita.
  5. Rentang waktu (timeline).[12]

Pengawalan perkembangan berita dalam penelitian ini merupakan prosedur pendampingan dan monitoring yang dilakukan oleh ruang berita terhadap berjalannya proses produksi berita yang termasuk dalam prosedur standar operasi yang dimiliki oleh setiap divisi berita di stasiun – stasiun televisi. Dalam pengawalan perkembangan berita, terdapat pintu – pintu yang harus dilalui oleh berbagai informasi selama pengumpulan berita untuk disetujui menjadi paket berita seutuhnya.

Berdasarkan berbagai penjelasan sebelumnya, maka mekanisme gatekeeping menjadi inti dalam pengawalan perkembangan berita dimana prosedurnya melibatkan aktivitas – aktivitas gatekeeping yang difungsikan untuk memilih dan memilah, mengurangi, meniadakan serta memutuskan informasi – informasi apa saja yang disetujui untuk disertakan dalam sebuah paket berita hingga berita tersebut naik tayang dan tersampaikan ke pemirs

[1] https://We.utk.edu/~xzhou1/gatetheory.htm#new diakses pada 18 Oktober 2015 pada pukul 09.25 WIB

[2] Pamela Shoemaker & Stephen Reese dalam Journalits as Gatekeepers : (2009 : 73)

[3] Graeme Burton dalam Memperbincangkan Televisi : 2007: 209

[4] https://www.findarticles.com/p/articles/mi_qa3677/5_200301/ai_n9224286

[5] https://www.mnsi.net/2pwatkins/appedix_1htm

[6] https://www.tcw.utwente.nl/theorieenoverzich/theory diakses pada 18 Oktober 2015 pada pukul 08.28 WIB

[7] Pamela Shoemaker dalam Ana Nadhya Abrar,  Gatekeeper: Sebuah Upaya Mengidentifikasi Konsep Komunikasi (2012 : 341 – 342)

[8] Pamela Shoemaker & Stephen Reese dalam Journalits as Gatekeepers : (2009 : 74)

[9] Pamela Shoemaker & Stephen Reese dalam Journalits as Gatekeepers : (2009 : 75)

[10] http://www.reelaccurate.com/about/gatekeeping.pdf diakses pada 11 Maret 2016 pukul 02.34 WIB

[11] http://www.Unc.edu/courses/zoofall/jomc245_001/tecle_critique_html diakses pada 20 Oktober 2015 pada pukul 13.45 WIB

Breaking News Televisi dan Produksi Berita di Televisi

Seorang Jurnalis Amerika, Charles Anderson, memberikan definisi yang sangat terkenal mengenai berita. Anderson menyatakan bahwa,

When a dog bites a man that is not news, but when a man bites a dog that is news.[1]

Sementara Bernard Roscho menyebut berita sebagai :

News is more easily pursued than defined, a characteristic it shares with such other enthralling abstractions as love and truth.

Hal ini dapat diartikan bahwa berita menurut Roscho adalah sesuatu abstrak yang sulit untuk didefinisikan namun mudah untuk dipahami.[2]

Jackie Harrison berargumentasi bahwa memaknai berita merupakan hal yang sudah terjadi secara turun temurun namun masih belum ditemukan makna yang solid. Menurut Harrison lebih lanjut, berita tidak dapat dimaknai secara fungsi statistik, elemen dan terstruktur, karena berita selalu berubah dan maknanya haruslah fleksibel. Harrison mengaitkan berita dengan realitas, fakta, kebenaran yang terikat pada prinsip – prinsip etik. Karakter berita kemudian didefinisikan Harrison sebagai elemen yang harus akurat, benar, jujur dan netral.[3]

Sementara Thomas E. Patterson dalam Nosheen Hussain menyebutkan bahwa terdapat situasi bias dalam jurnalisme dan situasi bias ini dikategorikan menjadi beberapa hal yaitu,

“What is news, what is bad, what is dramatic, what is most readily available, and what can be readily understood.”

Menurut Patterson situasi bias dalam jurnalisme tercerminkan dalam kebingungan pendefinisian mengenai apa itu berita, peristiwa yang digolongkan buruk, informasi yang tersedia, dan hal – hal apa saja yang mudah untuk dipahami.[4]

Berita dapat digolongkan menjadi beberapa jenis. Menurut Josep R. Dominick dalam The Dynamic of Mass Mediahard news biasanya difokuskan pada isu – isu penting seperti kriminal, permasalahan internasional, situasi hukum, politik dan ekonomi. Sedangkan soft news berisi informasi – informasi yang lebih ringan seperti hiburan, film, hobi dan olahraga. Hard news mempengaruhi pemirsa secara maksimal sedangkan berita ringan menarik banyak pemirsa.[5]

Menurut Andrew Miller dalam News Alert, breaking news dapat dikategorikan sebagai hard news. Karakter breaking news merupakan berita yang tidak direncanakan, disiarkan secara tiba – tiba dan mengejutkan semua pihak, sebab tidak dapat diprediksi sebelumnya. Sehingga industri media harus mengubah pemaknaan Breaking News dari waktu kewaktu dan maknanya kian luas saat ini. Beberapa definisi tradisional tercermin pada mayoritas stasiun televisi di Amerika yang menempatkan isu terorisme sebagai konten Breaking News yang paling utama untuk disiarkan, terlebih pasca peristiwa 9/11.

Miller mengungkapkan bahwa saat ini televisi telah melakukan definisi ulang mengenai Breaking News. Jenis – jenis berita Breaking News ada yang direncanakan ada pula yang masih terkonsep tanpa perencanaan sama sekali, tidak murni digolongkan hard news ataupun soft news, melintasi batasan nilai berita, berdasar pada konten – konten terkini dan visual yang disiarkan secara langsung. Sehingga karakter breaking news menjadi konsep pelaporan segera, informasi terkini dan diharapkan tak terduga, dan berbasis pasar terkait dengan kepentingan rating program tersebut.[6]

Kajian tersebut menunjukkan bahwa cerita – cerita Breaking News tidak selalu diharuskan memberikan efek kejut ataupun penting – namun hanya dibutuhkan adanya informasi terkini. Maka kemudian, segala cerita dapat dikategorikan sebagai Breaking News pada waktu apapun, ketika informasi yang terbaru disertakan.

Sebuah kajian mengenai Breaking News dan efek media massa menunjukkan bahwa media massa menjadi salah satu faktor terbesar yang menciptakan ketakutan dan horor di kalangan pemirsa, khususnya terkait berita – berita lokal dan kejadian terkini. Tuggle dalam Nosheen Hussain, menyebutkan breaking news sebagai lubang hitam yang menyerap informasi apapun dengan kecepatan tinggi. Tuggle menganalogikan masa – masa ketika televisi tidak memiliki konsep breaking news sebagai masa kelam yang tak memiliki acuan. Bahwa menurutnya, konsep Breaking News tidaklah direncanakan namun produksi jenis berita ini dimulai ketika melakukan peliputan dan penyiaran berita. Hal ini dapat dimaknai bahwa Tuggle ingin menyatakan konsep breaking news terjadi insidental dan tanpa ada ide atau gagasan yang dibentuk sebelumnya.[7]

Nosheen Hussain, Syed Azfar Ali, dan Samreen Razi dalam temuan penelitian mereka menyatakan banyak karakter dari Breaking News. Menurut Hussain, Ali dan Razi, breaking news tercermin dalam informasi – informasi yang tidak biasa, yang di dalamnya terdapat bentuk – bentuk jurnalisme investigatif, informasi yang terus diperbarui, dan tidak ada saluran televisi lain yang pernah menayangkan sebelumnya dengan angle berita yang sama. Maka kemudian sifatnya disebut sebagai berita eksklusif.

Breaking news juga bersifat segera, hal ini memenuhi unsur tidak biasa yang telah disebutkan sebelumnya. Berita – berita yang ditayangkan dalam breaking news tidak lagi mempedulikan elemen baik dan buruk, namun haruslah memberikan efek kejut yang tidak dapat diprediksi oleh pemirsa. Breaking news juga disebut oleh Hussain, Ali dan Razi sebagai intisari berbagai peristiwa besar dalam rentang waktu siaran yang cenderung singkat, maka disebutkan konten beritanya haruslah bersifat sensasional.[8]

            Dari beberapa pendapat mengenai definisi dan karakter Breaking News televisi yang terus berkembang, maka garis produksi breaking news juga bermacam – macam. Beberapa stasiun televisi mengikuti garis produksi berita pada umumnya, namun untuk memenuhi kebutuhan “berita segera” maka beberapa televisi yang lain disebut menghilangkan beberapa tahapan perencanaan. Bukan berarti tanpa perencanaan, namun bagian – bagian umum yang melibatkan lebih banyak sumber daya pada prosedur perencanaan dimampatkan.

Menyoal produksi berita televisi, terdapat beberapa pendapat yang dapat dijadikan sebagai tinjauan. Tom Van Hout and Geert Jacobs menyebut produksi berita sebagai pertarungan kekuatan – kekuatan tanpa keputusan. Dalam hal ini merujuk pada kepentingan – kepentingan dari para pemegang saham atau pengelola media.[9]

John Thompson memberikan pernyataan yang kurang lebih sama, yaitu :

The media [are] the key arena in which [the] struggle over symbolic power is played out. As the principal medium through which political leaders relate to ordinary citizens, the media become the primary means by which political leaders accumulate symbolic capital in the broader political field. Through the constant management of visibility and the careful presentation of self, political leaders use the media to build up a store of symbolic capital in the eyes of the electorate: and this in turn, by providing them with a popular basis of support, gives them leverage in the political subfield.”[10]

Van Hout & Jacobs menggambarkan produksi berita sebagai proses interaksi dan negosiasi. Jenis interaksi yang yang dimaksudkan adalah di satu sisi adanya perjuangan dan konflik sementara di sisi lain terdapat kerjasama dan kemitraan. Gans dalam Van Hout dan Jacobs menyebutkan bahwa dalam proses produksi berita pada dasarnya terdiri dari dua proses: pertama, menentukan ketersediaan informasi dan menghubungkan jurnalis dengan sumber informasi. Kedua, untuk menentukan kesesuaian berita, yang mengikat jurnalis pada pemirsa; yang mana kedua proses tersebut harus dilakukan dengan kekuasaan.[11]

Mendefinisikan produksi berita merupakan hal yang kompleks. Beberapa ahli berpendapat bahwa produksi berita dimulai pada tahapan editing atau penyuntingan pada saat yang sama jurnalis melihat dan mendengar sesuatu yang memiliki nilai berita.

John Wilson menyatakan bahwa produksi berita adalah segala sesuatu yang diproduksi oleh jurnalisme profesional semisal wartawan, produser, staf teknis dan staf manajerial yang bekerja dengan cara rutin sehari-hari dalam sebuah organisasi berita.[12] Sementara Jackie Harrison berpendapat dengan berkembangnya fitur – fitur interaktif, dan meningkatnya optimalisasi dari struktur ruang berita, dan transformasi yang kuat dari pekerja jurnalistik, bagian terpenting dari jurnalisme justru berada di luar organisasi berita.[13]

Mengacu pada proses produksi berita, Domingo menyatakan prosesnya melibatkan 5 tahapan, yaitu :

  1. Akses

Seorang wartawan mungkin memutuskan untuk mengerjakan sebuah cerita jika memang dipandang layak diberitakan. Kisaran topik yang memiliki nilai berita cukuplah luas, termasuk sejarah budaya dan gaya hidup, juga tipikal hard news yang disaksikan langsung oleh kontributor. Namun hal ini tidak dapat dilaksanakan tanpa adanya kemudahan dan ruang yang diberikan pada jurnalis dalam hal mendapatkan informasi.

  1. Seleksi dan gatekeeping

Ruang berita merupakan satu-satunya yang bertanggung jawab untuk memilih cerita apa yang akan dipublikasikan. Sehingga tidak mungkin sebuah berita diproduksi tanpa melalui tahapan seleksi dan penyaringan.

  1. Pemrosesan dan penyuntingan

Informasi yang telah melalui proses seleksi dan gatekeeping kemudian berada di tahap selanjutnya, pemrosesan dan penyuntingan. Pada berita televisi, pemrosesan dimulai ketika reporter menulis naskah untuk konten berita dan juru kamera melakukan editing gambar, sekaligus seleksi untuk footage yang digunakan dan yang dibuang. Pemrosesan ini terlebih dahulu harus mendapat persetujuan dari supervisor yang duduk di lingkaran manajerial, di beberapa stasiun televisi disebut sub divisi “the row”.

  1. Pendistribusian

Pelaporan berita kepada pemirsa, untuk berita televisi terkonsep dalam bentuk siaran langsung ataupun tunda dan beberapa terformat dalam program yang bersifat penelusuran investigatif dan dokumenter. Beberapa stasiun televisi telah mewadahi interaksi langsung dengan pemirsa melalui beberapa program dan juga melalui situs berita resmi mereka.

  1. Interpretasi

Menurut Domingo, hasil akhir dari sebuah produksi berita, berita harus merupakan laporan yang memuat fakta yang perlu diberi penjelasan mengenai sebab akibatnya, latar belakangnya, akibatnya, situasinya, dan hubungannya dengan yang lainnya.[14]

 

Sementara Thomas Hanitzsch and Abit Hoxha merekomendasikan 3 tahapan model sirkular untuk menjelaskan sebuah proses produksi berita. 3 tahapan tersebut adalah, peng-idean cerita, narasi cerita, dan presentasi cerita.[15]

Peng-idean cerita merupakan proses inti dari bagaimana ruang berita memfasilitasi ide – ide untuk sebuah berita. Bantz, McCorkle & Baade dalam Hanitzch & Hoxha menyebutkan ada beberapa cara mewujudkan sebuah pengidean cerita dalam berita. Jurnalis dapat proaktif dalam memberikan ide cerita melalui penelitian atau observasi pada kasus dan peristiwa tertentu. Dalam hal ini, dorongan untuk penelitian berasal dari jurnalis sendiri, sebagian besar karena adanya rasa ingin tahu tentang sesuatu fenomena.

Cara yang lain adalah ketika jurnalis menghadiri sebuah konferensi pers dan mengubahnya menjadi berita tersendiri. Dalam hal ini, jurnalis menindaklanjuti laporan mereka sebelumnya. Cara pengidean cerita yang lain adalah ketika event – event digelar di ranah lokal maupun nasional, dimana jurnalis diundang untuk melakukan peliputan.

Narasi berita mengacu pada proses pengembangan cerita serta konteks dari sebuah berita. Dalam hal ini, cerita narasi harus memperhitungkan fungsi jurnalisme – yaitu, bahwa setiap berita memiliki cerita sendiri. Ada tiga aspek penting dari narasi cerita dalam produksi berita: inti narasi, perspektif berita, dan framing berita, dimana  terdapat kerangka interpretatif dari ruang berita mengenai fakta dari sebuah peristiwa.

Sementara Lee Becker menyatakan terdapat perbedaan antara unsur “penting” dan “menarik” dalam perspektif jurnalis ketika memutuskan untuk melakukan framing pada sebuah berita. Menurut Becker, jurnalis harus membuat keputusan tentang desain dan keaslian narasi dan kemudian menggunakan teknik narasi untuk menjadikannya sebuah berita. Maka dengan melihat inti narasi pusat, perspektif cerita dan bingkai sebuah berita, dapat dilakkan eksplorasi lebih mengenai pola, struktur dan peran wartawan dalam produksi berita konflik.[16]

Tahapan ketiga menurut Thomas Hanitzsch & Abit Hoxha adalah presentasi berita. Dalam sebuah proses produksi berita ketika inti berita telah diidentifikasi, maka pembuat berita membangun cakupan mereka dengan cara yang konsisten dalam sebuah kerangka interpretatif. Pada pelaporan berita, jurnalis harus konsisten dalam membuat referensi – dari mereka sendiri, atau dari rekan-rekan media yang lain – dengan demikian dapat menghubungkan berita mereka dengan potongan berita lainnya. Hal ini dimaksudkan agar pelaporan berita dapat dipahami oleh pemirsa terlepas dari kompleksnya peliputan sebuah berita. Maka sangat penting untuk merelevansikan sebuah kejadian di dunia nyata dengan kerangka interpretatif.[17]

Terkait dengan produksi berita Voakes mengidentifikasi 7 pengaruh sosial selama prosesnya : individu, kelompok kecil, organisasi, kompetisi, jabatan, media ekstra, and hukum.[18] Sedangkan Preston menyebutkan 5 level pengaruh dalam produksi berita, yaitu : faktor individu dan tekanan organisasi, aktivitas rutin media dan norma – norma, faktor politik dan ekonomi media, serta kekuatan budaya dan ideologi.[19]

Mengenai mekanisme produksi berita televisi, Herbert Zettl mengatakan bahwa televisi memiliki jajaran tersendiri yang dikhususkan untuk memproduksi berita televisi.  Hampir di semua stasiun televisi memproduksi paling tidak satu berita pada umumnya; bahkan untuk stasiun yang mengkhususkan diri sebagai stasiun berita, berita menjadi aktivtas produksi terbesar. Hal ini terjadi karena divisi pemberitaan diharuskan merespon secara cepat untuk berbagai bentuk tugas produksi berita, yang mungkin terjadi secara mendadak untuk kasus berita sela, yang mana hanya tersedia sedikiti waktu untuk mempersiapkan tim dan kebutuhan teknis.

Oleh karenanya, divisi pemberitaan memiliki personel khusus yang menangani produksi berita. Tim ini didedikasikan secara eksklusif untuk kebutuhan produksi berita, dokumenter, dan peritstiwa khusus yang menuntut fokus lebih mendalam.

Tabel 1.1 News Production Personnel menurut Herbert Zettl

PERSONEL FUNGSI
News Director Bertanggungjawab pada semua bentuk operasional, dan bertanggungjawab khusus pada keseluruhan siaran berita.
News Producer Bertanggungjawab langsung pada seleksi dan penempatan berita dalam siaran untuk keseimbangan program.
Assignment Editor Memberikan penugasan pada reporter dan videografer untuk tugas peliputan. Di beberapa stasiun televisi disebut dengan koordinator peliputan.
Reporter Mengumpulkan informasi, dan terkadang melaporkan di depan kamera dari lokasi peristiwa terjadi.
Video Journalist Reporter yang mengambil gambar dan mengedit secara mandiri footage yang didapatkan selama pengambilan gambar. Di beberapa stasiun televisi disebut juga sebagai photo journalist/ cameraman.
Videographer Operator kamera. Jika reporter tidak ada, maka videografer bertugas memutuskan peristiwa apa yang akan diliput. Di beberapa televisi disebut news photographer & shooters.
Writer Bertugas menulis naskah untuk presenter berita. Naskah berdasarkan hasil liputan reporter dan footage yang tersedia. Beberapa stasiun televisi menyebutnya copy writer.
Video Editor Mengedit video berdasarkan catatan reporter, penulis naskah, dan instruksi tertentu yang diminta oleh produser.
Anchor Pembawa acara berita, biasanya melakukan presentasi berita dalam sebuah set studio.
Weathercaster Melaporkan perkembangan cuaca terkini.
Traffic Reporter Melaporkan kondisi lalu lintas lokal.
Sportscaster Mempresentasikan berita – berita olah raga sekaligus memberikan komentar atau tinjauan tentang berita terkait.

 

Menurut Zettl, perkembangan beberapa tahun terakhir di sejumlah stasiun televisi seperti CNN, mulai menggunakan posisi Assignment Editor (AE); yang mana memiliki deskripsi kerja untuk memberikan penugasan pada reporter, juru kamera atau juga Video Journalist (VJ) untuk melakukan peliputan berita. Selain memberikan penugasan, AE juga bertugas untuk memantau perkembangan terkini dari tim peliputan di lapangan dengan melakukan komunikasi sebelum peliputan dimulai, selama liputan berlangsung hingga berita selesai disiarkan.

Sedangkan fenomena VJ telah menjadi tren di beberapa stasiun televisi terkemuka, dalam perkembangan sebuah divisi pemberitaan. Video Journalist adalah perseorangan yang tugasnya merupakan kombinasi dari reporter, juru kamera, penulis dan juga editor. Posisi ini secara institusional menurut Zettl lebih dimaksudkan untuk tujuan ekonomis dari perusahaan, bukan untuk keluasan dan kedalaman berita.[20]

Channel News 4 mendefinisikan sebuah produksi berita sebagai proses pemahaman mengenai identifikasi sumber, pembuatan naskah, perekaman gambar, proses editing, pelaporan hingga siaran berita.[21]

Pada setiap produksi berita terdapat organisasi pelaksana produksi. Dalam produksi berita televisi, tim pelaksana produksi berita umumnya terdiri dari : direktur pemberitaan, produser berita, koordinator liputan (pada beberapa stasiun televisi disebut Assignment Editor), juru kamera, reporter, produser lapangan, editor, dan penyiar berita.[22]

Dalam setiap tahapan produksi berita televisi tidak dapat dilepaskan dari standar operating procedure (SOP). Segala bentuk produksi berita di televisi harus berada dalam payung SOP tersebut. Untuk mayoritas televisi di Indonesia telah dibuat semacam SOP untuk pembuatan berita. SOP ini difungsikan untuk menjaga kualitas berita yang dihasilkan oleh divisi berita. Namun untuk SOP di televisi Indonesia, relatif belum lama tersusun, bahkan mungkin juga belum diterapkan secara sempurna. SOP dibuat dengan beberapa tujuan :

  1. Untuk menyeragamkan kebijakan dan prosedur pembuatan berita.
  2. Untuk mengoptimalkan penggunaan sumber daya dan peralatan.
  3. Untuk menghasilkan dan menayangkan berita yang berkualitas.
  4. Untuk mendorong munculnya ide/gagasan berita setiap personel.
  5. Untuk mendorong pematangan perencanaan yang dilakukan setiap hari.[23]

Fred Wibowo menyatakan SOP dalam produksi berita televisi adalah:

  1. Pra produksi (perencanaan dan persiapan). Tahapan ini meliputi:
    1. Penemuan ide

Tahap ini dimulai ketika seorang produser menemukan ide atau gagasan, membuat riset dan menuliskan naskah atau meminta penulis naskah mengembangkan gagasan menjadi naskah setelah riset.

  1. Perencanaan (Planning)

Tahap ini meliputi penetapan jangka waktu kerja (time schedule), penyempurnaan naskah, lokasi dan juga kru. Selain estimasi biaya dan rencana alokalsi merupakan bagian dari perencanaan. Di beberapa

  1. Persiapan

Tahap ini meliputi pemberesesan semua masalah administrasi, seperti perijinan dan surat menyurat terkait produksi berita.

  1. Produksi

Pelaksanaan pengambilan gambar oleh juru kamera dan pencarian informasi terkait konten berita oleh reporter. Pada beberapa stasiun televisi yang mengklaim sebagai stasiun televisi berita, proses pengumpulan berita (news coverage) melibatkan produser lapangan (field producer) yang mana bertugas untuk melakukan lobi dengan narasumber berita. Untuk beberapa kasus tertentu, ketika reporter atau koresponden berhalangan, maka produser lapangan dituntut untuk dapat mengambil alih peran dari koresponden tersebut.

  1. Pasca Produksi

Tahapan pasca produksi disebut juga tahapan penyelesaian dan penayangan. Pasca produksi memiliki beberapa langkah, yaitu:

  1. Editing offline dengan teknik analog

Setelah proses produksi selesai, penulis naskah berita membuat logging yaitu mencatat kembali semua hasil shooting berdasarkan catatan shooting dan gambar. Di dalam logging time code (nomor kode yang berupa digit frame, detik, menit dan jam dimunculkan dalam gambar) dan hasil pengambilan setiap shoot dicatat. Kemudian berdasarkan catatan tersebut, editor akan membuat editing kasar yang disebut editing offline sesuai gagasan dalam naskah dan treatment.[24]

Materi hasil shooting kemudian dipilih dan disambung sedemikian rupa. Setelahnya dibuat naskah editing. Gambar dan nomor kode waktu tertulis jelas sehingga memudahkan proses penyuntingan. Hasil dari proses ini kemudian akan digunakan dalam proses editing online.

  1. Editing online dengan teknik analog

Berdasarkan naskah editing, editing mengedit hasil shooting asli. Sambungan – sambungan setiap shoot dan scene dibuat tepat berdasarkan catatan time – code dalam naskah editing. Demikian pula sound asli dimasukkan dengan level seimbang dan sempurna.

  1. Mixing

Narasi dan ilustrasi yang sudah direkam dimasukkan dalam hasil editing online sesua ketentuan naskah editing. Mixing meurpakan proses menyeimbangkan antara, efek, suara asli, suara narasi dan musik (bila diperlukan) sehingga tidak saling tumpang tindih. Setelahnya dilakukan preview.

  1. Editing offline dengan teknik digital

Proses penyusunan urutan adegan dan dipersatukan dengan shot – shoot yang sudah disambung yang biasa disebut dengan rendering.

  1. Editing online dengan teknik digital

Proses penyempurnaan editing dengan menyatukan hasil proses rendering dengan ilustrasi musik.[25]

Namun seiring perkembangan teknologi baik di dalam ruang berita maupun teknologi yang digunakan oleh tim di lapangan, tahapan editing offline online analog tidak lagi digunakan karena mayoritas teknologi editing terkini menggunakan konsep digital yang portable. Bahkan beberapa stasiun televisi membebankan tahapan editing pada juru kamera untuk kebutuhan berita yang ditayangkan dengan segera. Sementara editor ditugaskan pada program khusus berdurasi panjang, 30 menit atau lebih.

Proses pasca produksi yang disebutkan sumber lain adalah sebagai berikut :

  1. Dubbing & Scrip-Writing

Dubbing merupakan yang aktivitas perekaman suara untuk kebutuhan audio visual berita, dilakukan oleh reporter (disebut koresponden di beberapa stasiun televisi) setelah konten naskah disetujui oleh assignment editor (beberapa stasiun televisi menyebutnya koordinator peliputan), sementara penyetujuan paket berita dilakukan oleh produser eksekutif berita. Pada beberapa stasiun televisi lain, penyetujuan naskah yang dibuat oleh reporter dilakukan oleh sub divisi “The Row” sementara penyetujuan paket berita ditayangkan atau tidak ada di tangan director of coverage (DOC).

  1. Editing Offline

Proses pemilihan footage (stok gambar yang diambil selama peliputan) dengan melakukan pencatatan timecode, dapat dilakukan oleh reporter atau kameraman, biasa disebut dengan editing kasar. Hasil editing offline yang dinamakan b-roll kemudian diupload pada server internal, dimaksudkan sebagai stok bank data bila dibutuhkan untuk peliputan berita dan program yang lain. Sementara hasil editing kasar yang disebut dengan rough-cut diproses ke tahapan editing online.

  1. Editing Online

Editing online dimaksudkan untuk memberikan keseimbangan visual seperti pewarnaan, efek dan grafis.

  1. Mixing

Proses penyuntingan suara, mengurangi noise dari audio untuk menonjokan hasil wawancara, termasuk juga memberikan efek musik latar dan lain sebagainya.

  1. Exporting

Merupakan proses menjadikan susunan footage video hasil editing menjadi 1 output file video dari berbagai macam format, semisal .mxf atau .avi menjadi format mp4, mov, avi, dan lain sebagainya. Setelah paket diupload ke server internal, selanjutnya akan ditinjau oleh director of coverage ataupun produser eksekutif berita untuk diputuskan naik tayang atau sebaliknya.[26]

Menurut Morrisan, terdapat beberapa bentuk penyajian berita di televisi yang telah melalui 3 tahapan produksi berita, yang terformat dalam bentuk sebagai berikut:

  1. Reader.

Ini adalah format berita TV yang paling sederhana, hanya berupa lead in yang dibaca presenter. Berita ini sama sekali tidak memiliki gambar ataupun grafik. Hal ini dapat terjadi karena naskah berita dibuat begitu dekat dengan saat deadline, dan tidak sempat dipadukan dengan gambar. Bisa juga, karena perkembangan peristiwa baru sampai ke tangan redaksi, ketika siaran berita sedang berlangsung. Maka perkembangan terbaru ini pun disisipkan di tengah program siaran. Beritanya dapat berhubungan atau tidak berhubungan dengan berita yang sedang ditayangkan. Reader biasanya sangat singkat. Durasi maksimalnya 30 detik.

  1. Voice Over (VO)

VO adalah format berita TV yang lead in dan tubuh beritanya dibacakan oleh presenter seluruhnya. Ketika presenter membaca tubuh berita, gambar pun disisipkan sesuai dengan konteks isi narasi.

  1. Voice Over – Sound on Tape (VO-SOT)

VO-SOT adalah format berita TV yang memadukan VO dan SOT. Lead-in dan isi tubuh berita dibacakan presenter. Lalu di akhir berita dimunculkan soundbite dari narasumber sebagai pelengkap dari berita yang telah dibacakan sebelumnya. Format VO-SOT dipilih jika gambar yang ada kurang menarik atau kurang dramatis, namun ada pernyataan narasumber yang perlu ditonjolkan untuk melengkapi narasi pada akhir berita. Total durasi diharapkan tak lebih dari 60 detik, di mana sekitar 40 detik untuk VO dan 20 detik untuk soundbite.

  1. Package (PKG)

Package merupakan format berita TV yang hanya lead in-nya yang dibacakan oleh presenter, tetapi isi berita merupakan paket terpisah, yang ditayangkan begitu presenter selesai membaca lead in. Paket berita sudah dikemas jadi satu kesatuan yang utuh dan serasi antara gambar, narasi, soundbite, dan bahkan grafis. Lazimnya tubuh berita ditutup dengan narasi. Format ini dipilih jika data yang diperoleh sudah lengkap, juga gambarnya dianggap cukup menarik dan dramatis. Kalau dirasa penting, reporter dapat muncul dalam paket berita tersebut (di beberapa stasiun televisi disebut dengan reporter stand up) pada awal atau akhir berita. Durasi maksimal total sekitar 2 menit 30 detik.

  1. Live on Cam

Formar berita TV yang disiarkan langsung dari lapangan atau lokasi peliputan. Sebelum reporter di lapangan menyampaikan laporan, presenter lebih dulu membacakan lead in dan kemudian presenter berita akan beralih ke reporter di lapangan untuk menyampaikan hasil liputannya secara lengkap. Laporan ini juga bisa disisipi gambar yang relevan. Karena siaran langsung memerlukan biaya telekomunikasi yang mahal, tidak semua berita perlu disiarkan secara langsung. Format ini dipilih jika nilai beritanya amat penting, luar biasa, dan peristiwanya masih berlangsung. Jika peristiwanya sudah berlangsung, perlu ada bukti-bukti yang ditunjukkan langsung kepada pemirsa. Durasinya disesuaikan dengan kebutuhan.

  1. Breaking News

Merupakan berita penting yang harus disiarkan, bila mungkin bersamaan dengan terjadinya peristiwa tersebut. Breaking News disebut Morisan sebagai berita tidak terjadwal karena dapat terjadi kapanpun. Durasi Breaking News mulai dari 2 menit hingga tak terbatas.

  1. Laporan Khusus

Berita dengan format paket, lengkap dengan narasi, soundbite dan sejumlah narasumber yang memberikan pendapat dan analisis. Laporan khusus ini menurut Morisan biasanya disajikan dalam program tersendiri di luar program berita karena memiliki durasi panjang, biasanya 30 menit atau lebih.[27]

Sementara sumber lain menyebutkan bahwa format berita tersaji dalam bentuk:

  1. Naturan Sound (Natsound)

Merupakan suara lingkungan yang terekam dalam gambar dan sifatnya bisa dihilangkan. Tetapi, biasanya untuk kepentingan berita tertentu, natsound tetap dipertahankan, untuk membangun suasana dari peristiwa yang diberitakan. Sebelum menulis naskah berita, reporter harus melihat dulu gambar yang sudah diperoleh, karena tetap saja narasi yang ditulis harus cocok dengan visual yang ditayangkan. VO durasinya sangat singkat (20-30 detik).

  1. Voice Over – Grafik.

VO-Grafik adalah format berita televisi yang lead in dan tubuh beritanya dibacakan oleh presenter seluruhnya. Namun, ketika presenter membaca tubuh berita, tidak ada gambar yang menyertainya kecuali hanya grafik atau tulisan. Hal ini mungkin terpaksa dilakukan karena peristiwa yang diliput sedang berlangsung dan redaksi belum menerima kiriman gambar peliputan yang bisa ditayangkan.

  1. Sound on Tape (SOT).

Format berita televisi yang hanya berisi lead in dan soundbite dari narasumber. Presenter hanya membacakan lead in berita, kemudian disusul oleh pernyataan narasumber (soundbite). Format berita ini dipilih jika pernyataan narasumber dianggap lebih penting ditonjolkan daripada disusun dalam bentuk narasi. Pernyataan yang dipilih untuk SOT sebaiknya yang amat penting atau dramatis, bukan yang datar-datar saja. Format SOT ini bisa bersifat sebagai pelengkap dari berita yang baru saja ditayangkan sebelumnya, atau bisa juga berdiri sendiri. Durasi SOT disesuaikan dengan kebutuhan, tapi biasanya maksimal satu menit.


  1. Live on Tape (LOT)

Merupakan format berita televisi yang direkam secara langsung di tempat kejadian, namun siarannya ditunda (delay). Jadi, reporter merekam dan menyusun laporannya di tempat peliputan, dan penyiarannya baru dilakukan kemudian.

  1. Live by Phone

Jenis berita ini adalah berita yang disiarkan secara langsung dari tempat peristiwa dengan menggunakan telepon ke studio. Lead in berita dibacakan presenter, dan kemudian ia menghubungi reporter yang ada di lapangan untuk menyampaikan laporannya. Wajah reporter dan peta lokasi peristiwa biasanya dimunculkan dalam bentuk grafis. Jika tersedia, bisa juga disisipkan gambar peristiwa sebelumnya.

  1. Phone Record

Jenis berita ini direkam secara langsung dari lokasi reporter meliput, tetapi penyiarannya dilakukan secara tunda (delay). Format ini sebetulnya hampir sama dengan Live by Phone, hanya teknis penyiarannya secara tunda. Format ini jarang digunakan, dan biasanya hanya digunakan jika diperkirakan akan ada gangguan teknis saat berita dilaporkan secara langsung.

  1. Visual News

Konsep penanyangan berita ini hanya fokus pada penayangan gambar-gambar yang menarik dan dramatis. Presenter cukup membacakan lead in, dan kemudian visual ditayangkan tanpa tambahan narasi apa pun, seperti apa adanya. Format ini bisa dipilih jika gambarnya menarik, memiliki natural sound yang dramatis (misalnya: suara jeritan orang ketika terjadi bencana alam atau kerusuhan, dan sebagainya). Contoh berita yang layak menggunakan format ini: menit-menit pertama terjadinya bencana penembakan masal Charlie Hebdo di Paris.

  1. Vox Pop

Vox pop (dari bahasa Latin, vox populi) berarti “suara rakyat.” Vox pop tidak termasuk dalam format berita, namun biasa digunakan untuk melengkapi format berita yang ada. Vox pop merupakan komentar atau opini dari masyarakat mengenai isu tertentu yang tengah menjadi fokus media dan pemerintah saat itu.[28]

[1] Menurut Anderson dalam Galtung, J., & Ruge, M. H. dalam  The Structure Of Foreign News (1965 : 68) suatu kejadian haruslah bernilai kejadian luar biasa untuk dapat dipublikasikan dan didefinisikan sebagai berita. Definisi yang lain disebutkan oleh Galtung dan Ruge menyatakan bahwa berita adalah segala hal yang tidak diharapkan atau tidak terjadi secara biasa dan bukan sesuatu yang bersifat rutin.

[2] Bernard Roscho dalam  News Making (1975 : 160)

[3] http://www.savap.org.pk/journals/ARInt./Vol.5(4)/2014(5.4-31).pdf diakses 8 Maret 2016 pukul 03.25 WIB

[4] Nosheen Hussain & Syed Azfar Ali &, Samreen Razi dalam Understanding Breaking News from Viewer’s Perspective: A Phenomenological Approach  (2014 : 297)

[5] Joseph R. Dominick dalam The Dynamic of Mass Communication  (2010 : 310)

[6] http://www.newslab.org/research/newsalert.htm#search diakses pada 2 Maret 2016 pada pukul 13.20 WIB

[7] Nosheen Hussain & Syed Azfar Ali &, Samreen Razi dalam Understanding Breaking News from Viewer’s Perspective: A Phenomenological Approach  (2014 : 298)

[8] Nosheen Hussain & Syed Azfar Ali &, Samreen Razi dalam Understanding Breaking News from Viewer’s Perspective: A Phenomenological Approach  (2014 : 301)

[9] Tom Van Hout and Geert Jacobs dalam News Production Theory and Practice: Fieldwork Notes on Power, Interaction and Agency (2008 : 61 – 62)

[10] Menurut Thompson media merupakan wadah bagi perebutan kekuasan secara simbolik, dimana media diposisikan sebagai mediator antara pemimpin politik dan masyarakat. Sehingga media menjadi sarana utama bagi modal – modal simbolik bidang politik yang digunakan tokoh politik untuk membangun hubungan kimiawi dengan para pemilih yang akan menyumbang suara saat pemilihan. Media sejatinya dipenuhi dengan nilai – nilai politik populer yang menjadi dasar menghimpun dukungan politik.

John B. Thompson dalam Political Scandal: Power And Visibility In The Media Age (2000: 105-6)

[11] Tom Van Hout and Geert Jacobs dalam News Production Theory and Practice: Fieldwork

     Notes on Power, Interaction and Agency (2008 : 64)

[12]  John Wilson dalam Understanding Journalism: A Guide To Issues (1996: 29)

[13]  Jackie Harrison, J. dalam News  (2006: 99)

[14]  David Domingo dalam Participatory Journalism Practices In The Media And Beyond: An International   Comparative Study Of Initiatives In Online Newspapers. (2008 : 326-342)

[15] Thomas Hanitzsch & Abit Hoxha  dalam News Production: Theory and Conceptual Framework (2014 : 3 – 5)

[16]  Lee Becker dalam News Organizations and Routines (2004 : 7 – 9)

[17]  Thomas Hanitzsch & Abit Hoxha dalam News Production: Theory and Conceptual Framework (2014 : 6 – 7)

[18]  Paul Voakes dalam Social Influences on Journalists’ Decision Making in Ethical Situations (1997: 21)

[19]  Preston, Paschal, and Monika Metykova dalam From News to House Rules: Organisational Contexts.” In Making the News: Journalism and News Cultures in Europe (2009 : 7)

[20] Herbert Zettl dalam Television Production Handbook (2012 : 10 – 11)

[21] http://www.channel4.com/news/ diakses pada 15 Maret 2016 pukul 21.30 WIB

[22] Nurhasanah dalam  Analisa Produksi Siaran Berita Televisi (2011 : 17)

[23] http://heiiapriliaa.blogspot.co.id/2015/03/proses-pembuatan-berita-sampai-disiarkan.html diakses pada 13 Maret 2016 pada pukul 09.28 WIB

[24] Treatment merupakan langkah pelaksanaan perwujudan gagasan menjadi sebuah program

[25] Fred Wibowo dalam Teknik Produksi Program Televisi (2007 : 39)

[26] http://www.channel4.com/learning/breakingthenews/schools/channel4newsroom/newstechnology.html diakses pada 15 Maret 2016 pukul 20.13 WIB

[27] Morisan dalam Jurnalistik Televisi Mutakhir (2008 : 33 – 40)

[28] https://gjb3111fahri.wordpress.com/ diakses pada 19 Maret 2016 pada pukul 12.32 WIB

Antara Aktivitas Rutin Media dan Kebijakan Redaksional dalam Pengawalan Perkembangan Berita Televisi

Kajian – kajian tentang ruang berita tidak dapat berdiri sendiri karena bagaimanapun ada kebijakan redaksional dalam aktivitas rutin media (media routine) yang menjadi bingkai dari setiap keputusan, kendali dan keluaran produk aktivitas pembuatan berita. Beberapa kajian penelitian dan perdebatan mengemuka terkait dengan aktivitas rutin media tersebut.

Becker & Tudor melakukan observasi pada ruang berita 2 stasiun televisi dan sebuah surat kabar pada 2008, stasiun televisi dipilih karena tingkat perbandingan antara ukuran ruang berita dan jumlah siaran berita yang diproduksi per minggu sebanding dengan sumber daya manusia dan produksi; sedangkan surat kabar merepresentasikan koran harian tunggal untuk wilayah metropolitan. Becker & Tudor juga melakukan wawancara informal dengan manajer ruang berita dan para jurnalis. Sedangkan untuk pengamatan berita surat kabar dengan cara melakukan analisa berita.[1]

Hasil kajian Becker dan Tudor menemukan bahwa meskipun ruang berita televisi tidak memiliki struktur spesialisasi yang jelas seperti surat kabar namun ruang berita televisi tetap memiliki kekhususan. Misalnya, desk tentang cuaca, olahraga, berita konsumen, dan kesehatan. Desk ini bertanggung jawab untuk menghasilkan ide cerita dan konten berita di ranah khusus tersebut. Pengamatan menunjukkan ruang berita televisi memang tidak perlu struktur serumit surat kabar.

Ruang berita televisi membutuhkan cerita yang lebih sedikit daripada surat kabar dan televisi dapat melakukan generalisasi pada ide cerita dari pengamatan khusus reporter, dari situs – situs, siaran pers, dan dari daftar kegiatan masyarakat yang mudah tersedia bagi televisi. Studi yang dilakukan Becker & Tudor menunjukkan bahwa ketika organisasi berita televisi membutuhkan kekhasan dari sebuah konten secara teratur, ruang berita televisi menciptakan sebuah sistem untuk menghasilkan hal tersebut; misalnya dengan menunjuk individu tertentu yang bertugas menciptakan jenis konten.

Dari hasil studi Becker & Tudor di salah satu stasiun televisi dipelajari, spesialisasi ini disebut reporter. Reporter bertugas menghasilkan ide-ide cerita dan kemudian melaporkan dan menghasilkan cerita tentang topik-topik seperti berita konsumen dan masalah kesehatan. Sekalipun reporter olahraga atau bahkan penyiar cuaca tidak dapat disebut wartawan komersil, namun tetap berfungsi dengan cara yang sama.[2]

Dalam sebuah studi tentang tiga saluran utama televisi di Amerika lainnya, yang memfokuskan pada cara pengumpulan berita terstruktur; Edward Jay Epstein membahas mengenai organisasi berita dan proses pengambilan keputusan dalam ruang berita yang berdinamika. Epstein menemukan bahwa hanya ada sedikit perbedaan mengenai bagaimana proses organisasi-organisasi berita dalam bekerja menghasilkan siaran berita televisi nasional dari saluran televisi satu dengan saluran televisi yang lain.

Epstein berpendapat bahwa proses pengambilan keputusan dari sebuah organisasi berita merupakan hal yang klasik dan terjadi dalam konteks yang sama dari tahun ke tahun. Yang sebenarnya disaksikan oleh pemirsa, misalnya pada sebuah berita sore, tidaklah mencerminkan realitas sesungguhnya. Sebab, menurut Epstein, realitas yang ada di lapangan telah dikemas sedemikian rupa berdasarkan tuntutan – tuntutan dari ruang berita juga divisi produksi sehingga menjadi realitas televisi. Menurut Epstein lebih lanjut, hal tersebut terjadi karena tujuan esensial dari televisi bukanlah untuk menginformasikan pada masyarakat namun untuk menyenangkan pemirsa, hal tersebut dimaksudkan untuk menjaga agar pemirsa tetap setia pada saluran yang ditonton.[3]

Sementara Malcolm Warner tentang hasil studi mengenai berita televisi, menemukan adanya kesamaan antara organisasi struktur televisi dan surat kabar. Menurutnya, peran produser eksekutif di televisi mirip dengan peran editor surat kabar. Bahwa kriteria utama yang dilakukan oleh produser eksekutif dalam melakukan identifikasi seleksi berita dan distribusi ruang untuk keseimbangan nilai – nilai politik misalnya, banyak seperti seleksi berita yang terjadi di surat kabar.[4]

Shoemaker dan Reese dalam mendefinisikan organisasi media sebagai entitas sosial formal. Biasanya faktor ekonomi yang menjadi penggerak utama para pekerja media untuk menghasilkan produk pemberitaan. Dalam sebagian besar kasus yang terjadi, menurut Shoemaker dan Reese, tujuan utama dari media adalah untuk menghasilkan profit untuk perusahaan; terutama dengan menargetkan khalayak yang menarik bagi pengiklan. Tekanan ekonomi dapat memberikan pengaruh pada keputusan – keputusan jurnalistik.

Shoemaker dan Reese mendefinisikan rutinitas berita sebagai :

“Those patterned, routinized, repeated practices and forms that media workers use to do their jobs.”[5]

Rutinitas ini dimaknai Shoemaker dan Reese sebagai rutinitas yang diciptakan dalam rangka mengatasi keterbatasan sumber daya dalam organisasi berita dan sejumlah besar informasi mentah yang dapat dibuat menjadi berita. Bahwa dalam aktivitas produksi berita terdapat permasalahan mengenai sumber – sumber daya dan juga banyaknya informasi mentah yang tersedia. Lebih khusus, rutinitas media ini juga ditentukan oleh teknologi, tenggat waktu, ruang, dan norma-norma. Menurut Shoemaker dan Reese :

“The job of these routines is to deliver, within time and space limitations, the most acceptable product to the consumer in the most efficient manner.”

Hal ini dimaknai bahwa tugas rutin yang diberikan pada para pekerja media berbatas waktu dan juga ruang, dan juga memiliki keterikatan dengan aturan – aturan yang diberikan oleh perusahaan selain kode etika jurnalistik.[6]

Dari beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa menurut para peneliti terdapat faktor lain yang mempengaruhi konten berita dan rutinitas media berdasarkan aktivitas pengumpulan berita dan kepemilikan media. Dari hasil beberapa kajian tersebut, para peneliti mengklaim bahwa terjadi fenomena kesengajaan untuk mendistorsi sebuah berita, namun hasil dari aktivitas media tersebut didefinisikan sebagai berita. Bahwa ada unsur – unsur seperti ideologi perusahaan, ekonomi politik media yang memiliki nilai – nilai berpengaruh terhadap sebuah produksi berita. Perbedaan yang diamati antara media dalam hal teknologi, orientasi ekonomi politik, dan rutinitas pengumpulan berita tidak menjadi masalah banyak pada akhirnya.

Perdebatan – perdebatan yang membahas bahwa berita sesungguhnya merupakan hasil pekerja media dan juga aktivitas pengumpulan berita, namun bukan cerminan realitas yang sesungguhnya; juga menjadi inti kajian beberapa artikel yang ditulis oleh Molotch dan Lester 3 tahun berturut – turut, yakni 1973, 1974, dan 1975.[7]

Menurut tulisan Molotch dan Lester yang diterbitkan pada tahun 1973, media tidak terdiri dari reporter yang obyektif melainkan hanyalah sekumpulan pekerja dari sebuah institusi.[8] Tujuan dari media merujuk pada seleksi peristiwa untuk dimasukkan berita dalam bentuk realitas yang diinginkan oleh pihak – pihak tertentu seperti pemilik media, direktur berita, atau juga produser eksekutif. [9]

Tulisan Molotch dan Lester pada 1974 menemukan fakta bahwa aktivitas pengumpulan berita harus dilihat dari perspektif lain seperti “purposive behavior” yang mana dimaknai sebagai adanya kebutuhan mutual antara aktivitas produksi jurnalis yang dilakukan untuk memenuhi kepentingan profesi dan juga integritas jurnalis sebagai karyawan dari sebuah perusahaan.[10]

Sementara pada tulisan Molotch dan Lester di tahun 1975 berpendapat bahwa ketika berita menyimpang dari nilai – nilai obyektif jurnalistik, maka penjelasan yang biasa diterima adalah jurnalislah yang tidak kompeten, adanya interupsi manajemen redaksi, atau pihak – pihak tertentu yang dinilai memiliki kapasitas menuntut secara ekonomi. Hasil dari berita tersebut akhirnya menjadi “bias information.” Namun Molotch dan Lester menyatakan bahwa mereka tidak membuat asumsi terkait adanya “realitas objektif.” Molotch & Lester lebih melihat berita sebagai produk dari proses pembuatan berita, dimana realitasnya bukan lagi realitas yang sesungguhnya.[11]

Tulisan – tulisan Molotch dan Lester; menyebutkan bahwa memaknai rutinitas berita sangat penting dalam rangka memahami bagaimana sesungguhnya sebuah berita televisi diproduksi. Media harus dimengerti dalam bentuk organisasi formal yang menggunakan rutinitas tertentu dalam menyelesaikan pekerjaan di ruang berita, dalam hal ini memproduksi berita televisi.[12]

Hal ini kemudian berpengaruh pada keputusan – keputusan yang dibuat oleh ruang berita dalam sebuah produksi berita. Pada akhirnya, para jurnalis bekerja dengan bahan baku yang sebagian besar telah diberikan kepada mereka oleh ruang berita untuk mengubah kejadian yang dirasakan sesungguhnya –yang  terjadi di lapangan– demi   kepentingan acara – acara publik yang dipublikasi melalui siaran televisi.[13]

Kajian yang dilakukan oleh Molotch and Lester tentang aktivitas rutin media dalam produksi berita televisi memaknai 3 hal penting. Temuan pertama, memaknai bahwa aktivitas rutin tersebut membantu para jurnalis atau pekerja media dalam menciptakan berita. Kedua, kajian tersebut memfokuskan pada adanya peran kekuatan tertentu yang akhirnya menentukan konten berita. Ketiga, bahwa adanya pemisahan antara konstruksi realitas berita dan apa yang disebut pekerja berita sebagai realitas itu sendiri.

Namun tulisan – tulisan Molotch dan Lester ini dimentahkan oleh kajian yang ditulis oleh beberapa peneliti lainnya, yaitu Eliasoph, Benner dan Ryfe. Menurut Nina Eliasoph dalam Tudor & Becker, aktivitas rutin produksi berita televisi sama halnya dengan yang dilakukan oleh media elektronik lainnya, semisal radio. Bahwa rutinitas – rutinitas tersebut dibuat bukan dalam rangka menentukan konten berita namun hanya untuk membuat kerja para jurnalis lebih terstruktur dan lebih teratur.[14]

Senada dengan Eliasoph, Bennett and Ryfe dalam Becker dan Tudor berpendapat bahwa rutinitas yang dilakukan media hanya sebatas ranah organisasional dan peraturan profesional. Fungsi dari “peraturan” merupakan hal yang penting, sebab hal tersebut mengindikasikan sesuatu hal yang tidak dapat diubah – ubah. Menurut Bennett, peraturan – peraturan tersebut menjelaskan konsistensi dari isi berita.[15]

Dari beberapa pendapat di atas, dalam kaitannya dengan aktivitas rutin media dan kebijakan redaksi pada produksi berita televisi; penulis meyakini bahwa :

  1. Aktivitas rutin yang terdapat dalam produksi berita televisi memang dibuat oleh ruang berita dalam rangka mengatur para pekerja media secara struktur.
  2. Di lain pihak, aktivitas rutin dari media sendiri juga memiliki kekuatan dan kapasitas tertentu dalam melakukan seleksi informasi mentah dari berbagai peristiwa yang pada akhirnya memainkan peranan besar dalam menentukan berita – berita yang akan dipublikasikan dalam bentuk siaran ke khalayak luas.
  3. Kekuatan tersebut memiliki berbagai kepentingan yang terintegrasi dalam kebijakan redaksi dan tercermin pada aturan – aturan di ruang berita mengenai produksi berita televisi.

Kepentingan – kepentingan terkait ekonomi dan politik media yang ditengarai sebagai ideologi perusahaan, juga menentukan seleksi berita dan hasil akhir konten – konten berita yang disiarkan ke publik.

[1] Lee B. Becker and Tudor Vlad, News Organizations and Routines  (2009 : 60)

[2] Lee B. Becker and Tudor Vlad, News Organizations and Routines : 2009 : 67

[3] Edward J, Epstein dalam News from Nowhere: Television and the News (2011 : 321)

[4] Malcolm Warner dalam Decision Making  in American TV (1969 : 171)

[5] Shoemaker & Reese dalam Mediating The Message (1996 : 105)

[6] Shoemaker & Reese dalam Mediating The Message (1996 : 108 – 109)

[7] http://www.rasaneh.org/Images/News/AtachFile/30-9-1390/FILE634600594129473750.pdf diakses pada 9 Maret 2016 pada pukul 09.15 WIB

[8] Molotch & Lester, Accidents, Scandals and Routines: Resources for Insurgent Methodology  (1973 : 258)

[9] Molotch & Lester, Accidents, Scandals and Routines: Resources for Insurgent Methodology  (1973 : 259)

[10]Molotch & Lester, News as purpose behavior: On The Strategic Use of Routine Events, Accidents and Scandals (1974 : 104)

[11]   Molotch & Lester, Accidental The Great Oil Spill As Local Occurrence and National Event.(1975 : 235)

[12]  Molotch, H., & Lester, M dalam News as purpose behavior: On the strategic use of Routine Events, Accidents and Scandals mengidentifikasi beberapa aktivitas rutin media sebagai aktivitas mendarah daging yang berpayung pada ‘norma-norma profesional’ dari ‘jurnalisme baik’, yang dimaknai sebagai kode etik jurnalistik. Molotch & Lester mencontohkan bahwa aktivitas rutin media yang harus meliput kejadian dalam radius dekat namun kemudian perhatian mengalami penurunan dari waktu ke waktu. Degradasi fokus pada inti peristiwa terjadi karena konsentrasi yang harus terbagi pada personil berita di kota-kota besar lain yang juga tengah melakukan peliputan peristiwa jarak jauh. (1974 : 105)

[13]   Molotch & Lester dalam Accidental News: The Great Oil Spill As Local Occurrence And National Event      (1975 : 255)

[14]  Becker & Tudor dalam Handbook of Journalism (2009 : 62)

[15]  Becker & Tudor dalam Handbook of Journalism (2009 : 65)

SAYA TAK BERDOA UNTUK PARIS!

Kemarin, beberapa saat setelah teror Paris, seperti kebanyakan orang, saya mengunggah gambar “Pray for Paris”. Seolah saya turut bersedih. Seolah saya turut berdoa. Padahal tidak!

Pagi ini saya memutuskan untuk menghapus gambar-gambar itu dari beberapa akun media sosial yang saya punya. Saya tidak berdoa untuk Paris. Tak. Dan mengapa saya harus melakukannya? Mengapa saya harus mengutuk sebuah kejadian di mana seekor anjing yang dilatih untuk menyerang orang lain menggigit teman dari tuannya sendiri?

Saya bosan dengan semua sentimen Islamofobik yang memojokkan Islam. Saya muak dengan semua permaianan politik tingkat tinggi yang dirancang sedemikian rupa untuk mencitrakan Islam sebagai agama teror. Saya jengah dengan semua pemberitaan yang menggiring kesadaran publik pada keyakinan bahwa Islam adalah biang kerok di balik semua petaka yang menimpa dunia.

Sementara kita sering mengabaikan betapa Amerika Serikatlah yang punya andil besar untuk membentuk dan mempersenjatai ISIS. Dan apakah ISIS adalah representasi Islam dan kaum Muslim? Tentu bukan!

Kita lupa bahwa negara-negara Barat juga punya andil penting dalam berbagai peperangan yang terjadi di belahan bumi lainnya. Siapa yang tak terlibat dalam genosida paling terstruktur di Palestina? Dan berapa banyak negara Barat yang tak turut mengirimkan pasukan bersenjata untuk menghancurkan Irak dan Afghanistan? Sedikit sekali!

Betapa naif jika kita hanya mengutuk ISIS sementara melupakan kejahatan perang yang dilakukan Amerika Serikat dan negara-ngara Barat lainnya di aneka belahan dunia? Jika memang mereka tak suka kejahatan terhadap kemanusiaan, jika mereka mengutuk semua aksi pembunuhan terhadap warga sipil yang tak bersalah, tak usah melihat apa agama si pelaku teror. Tak usah tebang pilih! Kutuk dan bencilah semuanya: Semua yang menbunuh, semua yang melakukan kejahatan kemanusiaan, adalah musuh kita semua!

Hentikan semua produksi senjata. Tarik semua pasukan dari daerah perang. Sungguh-sungguhlah dalam menciptakan perdamaian dunia–yang bukan cuma retorika. Berhentilah merasa menjadi pejuang kemanusiaan padahal di saat yang sama melakukan pembunuhan lainnya atas nama kemanusiaan.

Mengapa begitu mudah membuat aksi solidaritas untuk mendukung negara tertentu, sementara begitu sulit menyatakan dukungan untuk negara-negara Muslim yang jutaan warganya menjadi korban setiap tahunnya? Mengapa takut dan enggan untuk membela orang Islam? Mengapa harus selalu sama dengan sikap Amerika dan negara-negara sekutunya? Mengapa media begitu tak adil sekaligus hipokrit?

Saya tak berdoa untuk Paris. Meski saya bersedih atas kematian dan korban yang jatuh dalam tragedi 13 November lalu di sana. Saya mendoakan mereka sebagai sesama manusia. Saya berdoa untuk kemanusiaan kita, juga untuk kenaifan dan kebodohan kita melihat situasi yang sedang terjadi. Semoga kita semua sadar bahwa ini bukan tentang Paris saja. Saya berdoa untuk semua tragedi kemanusiaan di belahan dunia manapun. Saya mengutuk semua yang melakukan teror dan kejahatan terhadap kemanusiaan, apapun agamanya.

… Dan, ya, terorisme tak punya agama!

FAHD PAHDEPIE

http://www.fahdpahdepie.com/post/133246720767/saya-tak-berdoa-untuk-paris-kemarin-beberapa

JAKARTA; KOTA TAK RAMAH PEJALAN KAKI

Jakarta tidak pernah menjadi kata dan kota yang asing bagi saya. Saya pernah membesarkan gelembung – gelembung mimpi di Jakarta; pernah juga kehilangannya. Pernah berkomitmen pada mimpi baru lalu memutuskan menyerah dan meninggalkan ibukota.

Lama tak bersua, hitungan beberapa tahun kemudian; karena perjalanan hidup saya memutuskan untuk kembali bertarung di antara tingginya gedung – gedung pencakar langit, lalu lintas yang macet dan udara yang bisa dikatakan pengap dan lembab.

Seperti halnya saya, Jakarta pun sudah jauh berubah dari terakhir saya menginjakkan kaki disana. Beberapa kali, untuk kepentingan pelesir ataupun bersilaturahmi dengan kerabat dan keluarga dekat. Jakarta kian cantik, meski ada beberapa “ruam” di “permukaan kulitnya”.

Bak seorang gadis cantik berwajah putih mulus ala gadis – gadis di drama korea, namun ternyata ujung rambutnya bercabang, memiliki gatal di ruas – ruas jari kaki, bagian bawah mata menghitam karena kurang tidur; menghabiskan semalam suntuk berpikir tentang jumlah baju baru yang kurang, alat make up yang kadaluwarsa, atau tempat untuk bersosialita di keesokan hari.

Begitu halnya dengan Jakarta. Semakin banyak mall; yang fungsi keberadaannya tentu saja, sangat ideal bagi beberapa kalangan dengan level kemampuan ekonomi yang kompeten. Saya katakan kompeten, karena bagi beberapa lapisan masyarakat tertentu, menjadi bagian dalam kehidupan sebuah mall, mereka hanya mampu menjadi pemanis. Bila diibaratkan sebuah cupcake, beberapa kelompok masyarakat tersebut hanya cocok sebagai topping-ya saja.

Kemajuan – kemajuan yang lain, bisa saja terefleksikan pada macet di titik – titik tertentu karena proyek pembangunan sarana MRT, kuantitas roda empat yang semakin menumpuk dari tahun ke tahun, pengendara mobil atau motor yang dengan egois melintas di jalur busway karena enggan bermacet ria dengan penghuni ruas – ruas macet Jakarta di setiap harinya.

Tentu saya tak hendak membicarakan brand apa saja yang memenuhi sebagian besar mall di Jakarta atau mengapa Jakarta tetaplah Jakarta’ terkenal karena banjir atau macetnya. Karena perlu diketahui, sempat saya tinggal di beberapa kota yang saya kagumi keheningannya, seperti kota Malang dan juga Yogyakarta. Ternyata keduanya pun tak lepas dari fenomena macet dan hiruk pikuk klakson dari pengendara jalanan. Memang tak seheboh Jakarta, tapi bila ditarik garis kesibukan sejarah  kota masing – masing, maka cukup seimbang untuk dapat dikatakan bila kehidupan di kota – kota menakjubkan tersebut tak lagi bisa dikatakan memiliki ritme hidup yang tenang.

Maka saya akan berpersepsi tentang Jakarta dari sudut cerita yang lain. Semisal, kecintaan saya pada kopi dan saya mengejar momen – momen tertentu untuk bisa menikmatinya dengan suasana seidealis mungkin. Idealis di sini saya maksudkan, pada timing yang tepat, orang – orang yang hebat, ide pembicaraan yang tak akan pernah membosankan; kemudian saya bisa memberikan justifikasi bahwa timing is everything.

Kecintaan lain saya adalah pada kuliner. Saya menikmati menit ke menit dimana saya mengumpulkan data tentang tempat wisata kuliner yang saya hanya bisa jumpai di ibukota. Saya sangat fokus pada riset kecil saya, termasuk waktu berkunjung dengan kemungkinan jumlah pengunjung yang minimalis. Sehingga, saya benar – benar bisa meraih klimaks dalam menikmati tempat, suasana sekaligus makanannya.

Untuk dapat mencapai klimaks ideal versi saya, saya tak enggan berjalan kaki. Saya sangat menikmati momen berjalan kaki sendirian, saya mengumpamakannya berpetualang. Seolah saya sedang berjalan kaki dari ranu pane menuju ranu kumbolo, surga dunia di kaki gunung semeru. Saya pasang satu earset di telinga untuk mendengarkan musik kesukaan, sembari membayangkan saya tengah ada di sebuah adegan film. Satu saja. Karena memasang dua earset di tengah padat lalu lintas menurut saya tak beretika, kecuali tentu saja anda sudah nyaman dan aman di dalam busway atau krl, misalnya. Tak beretika karena anda tak akan bisa mendengar klakson dari pengendara roda dua atau roda empat atau tanda – tanda kehidupan di jalan raya pada umumnya. Saya juga tak akan bermain dengan gadget saya, bersosial media ketika tengah berjalan kaki. Prinsip saya tetap, pada etika. Pejalan kaki saja tak etis ber-ponsel ria, apalagi pengendara. Karena sudah pasti akan membahayakan keberlangsungan hidup orang banyak. Begitu hemat saya.

Tapi khayalan saya tak berkelamaan. Segera saya menyadari, trotoar di Jakarta sangat tidak ramah bagi pejalan kaki. Banyak galian, hiruk pikuk PKL, motor yang berkendara keluar jalur. Nyaris beberapa kali, saya yang sudah maksimal menepi masih saja diserempet oleh pengendara yang entah kenapa, saya rasa hidupnya selalu terburu – buru. Mungkin mereka memiliki kehidupan dinamis yang tak se-konstan saya, barangkali. Tak ramah dari segi lain adalah, bahkan trotoarnya tak bisa disebut sebagai trotoar murni, penutup saluran air mampet mungkin lebih tepatnya. Ekstrak noise lain yang sangat mengganggu adalah bunyi klakson tanpa henti dari pengendara. Kadang saya berpikir, apa perlu klakson dibunyikan bila lampu masih merah, karena jelas itu tanda untuk berhenti. Sebaliknya bila lampu sudah hijau, kenapa klakson masih saja dibunyikan; bukankah bila sudah giliran jalan maka akan berjalan dengan sendirinya? Ah, mungkin saya yang terlalu banyak berpikir, batin saya setiap saat.

Saya tak hendak membandingkan trotoar Jakarta dengan Singapura misalnya. Selain karena saya belum pernah kesana, dan hanya mumpuni data dari cerita rekan atau blog – blog “siluman” di dunia maya, saya rasa juga tak adil membandingkan Jakarta dengan Singapura, ataupun Thailand, atau bahkan Amerika. Ah, saya teringat cerita sahabat baik saya sepulang dari negeri Paman Sam tersebut. Dengan rajin Ia membandingkan kondisi lalu lintas juga kendaraan umum di negeri Paman Sam tersebut dengan Indonesia, khususnya Jakarta. Saya ingat, reaksi pertama dan terakhir saya, tergelak. Karena sangat tak lazim dan tak adil perbandingannya. Seperti membandingkan media mainstream dengan kategori indie, nah, apakah sebanding? Menurut saya, kemacetan Jakarta bisa diadu di level yang sama dengan macet di New Delhi atau beberapa kota di Kamboja.

Nah, demi mencapai klimaks berwisata kuliner atau memiliki pencapaian ideal dari timing is everything for coffe time, meski sebal setengah mati, saya tetap mencoba mencari penikmatan lain dari berjalan kaki. Saya tembus berbagai sisi trotoar Jakarta, mulai dari beberapa kawasan di timur, barat, selatan hingga utara, termasuk pinggiran – pinggiran kota Jakarta, wilayah – wilayah sub-urban. Tumpukan sampah dan genangan air kotor adalah salah satu faktor saya beropini bahwa Jakarta sangat tidak ramah pada pejalan kaki. Kadang saya berkhayal, bisa otomatis melayang di ketinggian satu meter bila menjumpai sampah. Tentu saja saya geli dengan khayalan tingkat tinggi saya karena bila itu terjadi maka mungkin saya akan melayang setinggi satu meter untuk radius kilometer yang jauh. Maka saya bukan lagi pejalan kaki, tapi pejalan udara.

Berbicara tentang ketidakramahan ibukota pada pejalan kaki maka tidak bisa dilepaskan dari sejarah dan juga tata kota Jakarta. “Otoritas” saya hanya sejauh ranah opini, karena saya tentu saja tidak memiliki kapasitas dan kompetensi yang ideal untuk berbicara perihal tersebut. Tapi untuk menyajikan hasil terkait mini riset kecil saya yang sumbernya bukan “ghoib” tentu diperbolehkan kan?

Dalam situs www.discerning.petra.ac.id disampaikan bahwa Jakarta dulunya sangat rapi. Kotanya membentuk grid kotak-kotak yang sangat mirip dengan penataan kota–kota di Belanda. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya perempatan, yang difungsikan untuk mempermudah pengawasan. Pada masa awal pemerintahan Kolonial Belanda, banyak bangunan yang menghadap ke sungai hal ini dimaksudkan untuk mempermudah akses sirkulasi bagi penduduk. Penataan kota Jakarta semakin hari semakin maju, namun juga semakin menyimpang dari grid yang dibentuk pada jaman Kolonial Belanda.

Ketika Indonesia pertama kali merdeka, timbul euforia atas kemerdekaan tersebut. Bung Karno mencetuskan ide pembangunan monumen – monumen untuk membuat Indonesia dipandang oleh bangsa lain. Monas dan Stadion Utama Gelora Bung Karno merupakan contoh dari pembangunan era pemerintahan Bung Karno; selain juga terdapat  pertumbuhan infrastruktur lain, seperti jalan dan jembatan yang turut menghiasi wajah kota Jakarta.

Masih menurut situs yang sama, salah arsitektural kemudian muncul sejak dikeluarkannya Peraturan Presiden Nomor 10 tahun 1952 mengenai larangan orang asing untuk berusaha di bidang perdagangan eceran di tingkat kabupaten ke bawah (di luar ibu kota daerah). Para imigran asing tersebut wajib mengalihkan usaha mereka kepada warga negara Indonesia. Peraturan ini kontroversial dan menimbulkan kerusuhan ras dan etnis, salah satunya adalah Kerusuhan Cibadak, juga memicu urbanisasi masyarakat imigran asing, khususnya ke kota Jakarta.

Urbanisasi tersebut akhirnya memicu pembangunan  ruko (rumah toko) di Jakarta. Ruko sendiri adalah rumah-rumah yang biasanya ditinggali dan digunakan juga untuk berdagang. Perekonomian Jakarta semakin bergejolak, seiring dengan keinginan pemerintah, yang pada saat itu fokus untuk membangun infrastruktur negara pasca kemerdekaan. Ruko – ruko berkembang di jalan – jalan besar, mengikuti grid yang telah ada sebelumnya. Namun tak dapat dihindari pula permukiman yang mulai subur akibat urbanisasi. Continue reading “JAKARTA; KOTA TAK RAMAH PEJALAN KAKI”