MENYOAL PRO KONTRA KEBIJAKAN MENDIKBUD TENTANG FULL DAY SCHOOL

beritatagar.id tanggal 9 Agustus 2016 menyebutkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy akan meninjau ulang wacana sekolah full-day dan beliau menganjurkan masyarakat tetap mengkritisi kebijakan – kebijakan beliau ke depan. Berita tersebut menekankan bahwa Pak Menteri legowo terhadap kritik.

Tentu kritik akan sangat picik bila dikeluarkan berdasar pada concern akan pengalaman anak masing – masing; pun hanya berangkat dari pengalaman diri sendiri di waktu lampau yang juga melalui masa kanak – kanak di sekolah fullday. Apalagi kritik yang sekedar berbekal dari pengalaman individual pernah kuliah di UMM atau pernah mengajar di UMM.

Kritik terhadap kontroversi wacana FDS harus dilakukan dengan pemetaan keadaan terkini dan menilik realita sesungguhnya dari ranah pendidikan di Indonesia. Maka kritik yang disampaikan tidak akan jatuh dalam perspektif subyektif, dan logis berpikir tidak dipaksakan dalam kerangka berpikir yang sempit.
Karena sesungguhnya wacana FDS sangat sulit diterapkan di daerah – daerah seperti perkampungan nelayan, pertambangan dan juga wilayah – wilayah tertinggal lainnya. Tentu kita tidak menginginkan, kebijakan ini kemudian hanya berlaku di sekolah atau daerah tertentu saja bukan? Karena hal ini akan merujuk pada permasalahan baru berikutnya, yaitu ketimpangan pendidikan.
Harus digarisbawahi bahwa Indonesia sangat luas dengan segala jenis kemajemukannya. Di daerah Mampang Prapatan juga Tebet, Jakarta Selatan; yang notabene jelas bukan daerah terpencil, beberapa bangunan SD dan MI digunakan bergantian pagi dan sore. Di beberapa daerah di Sumatera, murid – murid SD masih harus berjalan 7-8km jauhnya, juga menyeberang sungai hanya untuk bisa bersekolah setiap harinya. Beberapa hal tersebut dapat menjadi sedikit referensi dari permasalahan – permasalahan pendidikan di daerah yang lebih tertinggal lainnya, yang tentu tidak lepas dari aspek sosiologis juga geografis.
Di sisi lain dari segi ekonomi, menyoal biaya FDS yang tentu tidak sedikit. FDS akan sangat membutuhkan keluarga – keluarga yang mampu dan siap dari segi finansial untuk menunjang biaya operasionalnya.
Kecuali bapak menteri sudah menyiapkan solusinya, yaitu subsidi tetap. Itupun tentu tidak akan menutup masalah – masalah lain, seperti SDM serta sarana prasarana; dan bahwa akan ada hal – hal yang tidak lantas bisa tuntas diakomodir oleh sekolah. Perlu juga digarisbawahi bahwa kekuatan karakter dan kesuksesan seseorang tidak ditentukan dari lamanya Ia berada di sekolah.
Masih banyak permasalahan di dunia pendidikan Indonesia yang perlu menjadi sorotan dan dibenahi kebijakan – kebijakannya. Misal menghapus tugas rumah, sistem ranking dan bila memungkinkan hapuslah ujian akhir nasional.
Maka, kami tunggu kebijakan terbaik bapak untuk situasi pendidikan Indonesia saat ini, pak. Saya salut untuk legowo bapak atas berbagai kritik beberapa hari ini.
Semoga istiqomah.

Faktor – faktor Berpengaruh dalam Pengambilan Keputusan di Ruang Berita Televisi Terkait Pengawalan Perkembangan Berita

Menurut McQuail yang dikutip oleh Graeme Burton, berita bukan sekedar fakta, melainkan bentuk khusus pengetahuan yang tidak lepas dari penggabungan informasi, mitos, fabel dan moralitas.[1] Berita televisi dengan menitikberatkan pada gambar dapat menimbulkan spekulasi mengenai perihal penyebab sebuah kejadian, menawarkan interpretasi alternatif terhadap suatu peristiwa. Berita televisi membeberkan konsekuensi yang mungkin, menjabarkan isu ataupun permasalahan dengan caranya sendiri dan tidak netral.[2]

Berita televisi menetapkan agenda dengan memilih laporan berita. Agenda ini bekerja pada bingkai waktu yang pendek dalam hal pemilihan berita dengan cerita khusus. Item – item berita yang tidak disiarkan dianggap tidak memiliki  kepentingan publik yang sama.

Konsep tersebut berhimpitan dengan kelayakan berita dan gagasan perihal konvensi. Cerita yang bersifat tragedi, kejadian berskala besar, diberi nilai lebih di atas cerita yang lainnya. Maka dengan televisi memilih kejadian tertentu dengan membentuk perspektif tertentu, dapat dikatakan bahwa agenda televisi mengisyaratkan prioritas. Paparan ini merujuk pada sebuah proses berita dimana manajemen ruang berita memegang peranan penting dalam mengawal peliputan berita.

Berita televisi memiliki kelebihan pada kekuatan gambar tentang fenomena berkembang yang tengah berpolemik, yang ditambah dengan gagasan yang diekspresikan oleh koresponden juga pembawa berita. Gambar bersifat polisemik, sehingga pada tingkatan tertentu bersifat ambigu, mengikat makna, memformulasi isu, dan mengakumulasi informasi. Hal ini memberikan makna siginifikan mengenai tanda dan kode, keterangan pada gambar, efek suara (natural sound), serta keseluruhan narasi.

Sehingga rutinitas produksi berita seharusnya mendapatkan pengawalan ketat di setiap perkembangan pemberitaan, sejak tahap pengumpulan data dan informasi, pelaporan berita, proses seleksi dan konstruksi, hingga tahap terakhir disampaikan kepada pemirsa.

Graeme Burton mengupas lebih lanjut tentang bagaimana berita televisi bisa menjadi sesuatu yang yang lebih relevan dan bernilai bagi orang banyak. Menurut Burton, seleksi dan konstruksi yang ditampilkan melalui produksi berita televisi bersifat niscaya sekaligus pervasif sepanjang keseluruhan proses pembuatan berita.  Mengingat jumlah materi berita yang tersedia dan batasan alokasi waktu; pervasif lantaran keputusan – keputusan terkait dengan apa yang diliput dan bagaimana mempengaruhi setiap tahap pembuatan berita; pencarian berita (news gathering), evaluasi terhadap draft berita (copytasting), editing berita, kosntruksi program berita, dan presentasi berita.

Dalam hal ini, berita penuh dengan keputusan  penjaga gawang tentang informasi apa yang diloloskan kepada siapa dan mengapa. Pengambil keputusan yang paling akhir menentukan adalah editor berita. Keputusan dibuat seputar pengiriman tim untuk meliput berita, berkenaan dengan rutinitas penggarapan, juga dengan apa yang menjadi agenda sebuah program.[3]

Beberapa pelaku divisi news gathering stasiun televisi swasta di Indonesia yang tergabung dalam Ikatan Jurnalistik Televisi Indonesia (IJTI), menuturkan dalam Jurnalisme Televisi Indonesia: Tinjauan Luar Dalam; terkait perkembangan peliputan berita yang tidak berdiri sendiri karena berhubungan pengambilan keputusan menyangkut banyak aspek dalam – minimal sebuah divisi News Gathering – dan juga kepentingan ideologi perusahaan.

Titin Rosmasari, mantan pemimpin redaksi Trans 7 yang kini menjabat sebagai pemimpin redaksi CNN Indonesia, menyebutkan bahwa dalam mengawal peliputan dan perkembangan berita yang diutamakan adalah idealisme media, yakni fungsi edukasi, fungsi kontrol sosial dan penyampaian informasi pada masyarakat, serta dipegang teguhnya prinsip – prinsip jurnalisme.

Namun terkait keterbatasan slot, maka kebijakan menjadi fleksibel. Dalam artian ada kebutuhan – kebutuhan nasional yang perlu diangkat dan mempangaruhi naik tayang tidaknya berita – berita yang lain. Fleksibel ini juga terkait dengan program – program tertentu yang memiliki komitmen dengan iklan. Titin juga menekankan bahwa sehubungan dengan fungsi pers yang harus mencerdaskan masyarakat, maka hal tersebut mempengaruhi aturan – aturan dalam menjalankan dan mengawal tugas – tugas kewartawanan.[4]

Sementara Rizal Mustary, ketua bidang penelitian dan pengembangan IJTI menyampaikan refleksi pandangan tentang kegiatan jurnalistik televisi di Indonesia. Menurut Rizal, beberapa stasiun televisi di Indonesia dikuasai oleh tokoh besar berbagai partai politik. Rizal menyepakati tesis Robert McChesney yang menemukan bahwa media massa global dikontrol oleh korporasi dan oleh karenanya mengaburkan kebebasan pers.

Rizal telah melakukan penelitian terkait tesis McChesney pada 2009 dan membuktikan bahwa dua stasiun televisi terbukti digunakan para pemiliknya untuk kepentingan politik sehingga mempengaruhi proses peliputan, seleksi atau filter dan presentasi berita yang terjadi di ruang berita hingga ke ranah audiensi.[5]

Beberapa kajian tentang ruang berita melahirkan teori – teori yang dapat digunakan untuk menganalisa tentang polemik dalam ruang berita itu sendiri. Teori ruang berita difungsikan untuk mengurai kebijakan – kebijakan di ruang redaksi dan disebut juga sebagai teori produksi berita. Salah satu kajian ruang berita digagas oleh Boyer dan Hanner yang melihat jurnalisme sebagai lensa untuk lebih memahami realitas sosial yang terjadi di masyarakat, dimana keterlibatan media di dalamnya hingga meliputi ranah mediasi sosial, dan pada produksi – produksi budaya.[6]

2 teori tentang mekanisme dalam ruang berita menurut Mark Schulman:

  1. Menggambarkan hubungan wartawan yang satu dengan yang lain di dalam satu sistem. Setiap bagian memiliki tugas dan fungsi masing – masing berdasarkan pembagian kerja. Wartawan bekerja melalui proses gatekeeping. Reporter di lapangan mendapatkan berita, redaktur akan menyunting, sementara redaksi pelaksana berita mana yang bisa dipilih, berita mana yang layak disajikan, sebagai berita utama. Hubungan digambarkan sebagai pembagian tugas, dimana setiap orang memiliki fungsi dan tugas masing – masing. Berita pada dasarnya merupakan hasil akhir dari proses yang panjang. Dimana kreativitas wartawan juga strategi dengan unit lainnya seperti iklan dan pemasaran. Dalam pekerjaan masing – masing tidak mencampuri, namun demikian hubungan terjadi dengan pertimbangan professional.
  2. Teori yang kedua mengungkapkan bahwa hubungan antara satu wartawan dengan yang lainny didasarkan pada proses kontrol, bukan proses gatekeeping. Wartawan dan kaum professional media dilihat dalam satu sistem kelas. Pekerjaan jurnalistik dipandang sebagai bagian dari praktek kelas. Jurnalis adalah kelas tersendiri. Hubungan dengan redaktur, pemilik modal, unit pemasaran dan sejenisnya merupakan hubungan antar kelas yang berbeda.

Menurut Mark Schulman, karakteristik dalam mekanisme ruang berita :

  1. Pekerjaan diatur dalam bentuk kontrol dan sensor diri. Bentuk sensor ini diwujudkan dalam sanksi dan imbalan. Pihak elit media menerapkan imbalan bagi jurnalis yang patuh dan sanksi bagi jurnalis tidak patuh.
  2. Proses dan kerja berita didasarkan pada landasan ideologis. Nilai yang dimiliki wartawan menentukan bagaimana berita ditulis dan diliput, dimana hal ini lebih dominan dibandingkan etika professional.
  3. Prinsip profesionalisme dan aturan kerja redaksi seperti tenggat waktu dan pembagian tugas liputan merupakan bagian dari control, bentuk pendisiplinan para wartawan. Kebebasan wartawan dibatasi dengan berbagai kontrol dan konsep yang membuat wartawan hanya merupakan perangkat kecil dari sistem besar yang menindas.
  4. Bagian dalam ruang berita dilihat sebagai kelompok yang saling bertarung untuk mengajukan klaim kebenara masing – masing.

Sementara menurut Stuart Hall dalam Ishadi, mekanisme kontrol dan ideologi yang berperan serta dalam menentukan peristiwa adalah:

  1. Nilai berita

Ideologi berperan dalam memilah berita yang memiliki nilai berita dengan yang tidak memiliki nilai berita.

  1. Kategorisasi berita

Setelah sebuah peristiwa didefinisikan sebagai berita, kemudian adalah cara berita tersebut diperlakukan, dikategorikan sebagai hard news atau soft news.

  1. Obyektivitas

Hal ini terkait dengan prosedur dan standar kerja karyawan, dalam hal ini wartawan. Produksi berita pada dasarnya, adalah proses mengolah peristiwa menjadi informasi yang disebarkan kepada khalayak.[7]

[1] Menurut Graeme Burton dalam Membincangkan Televisi : Sebuah Pengantar pada Studi Televisi, televisi tidak pernah netral mengingat kebenaran – kebenaran yang dikonstruksi ulang melalui kemasan sebuah peristiwa dalam pemberitaan. (2007 : 198)

[2]  Graeme Burton dalam Memperbincangkan Televisi : Sebuah Pengantar pada Studi Televisi 2007: 199

[3] Graeme Burton dalam Memperbicangkan Televisi 2007 : 208

[4]  Titin Rosmasari dalam Jurnalis Televisi, antara Fungsi Sosial dengan Kebijakan Manajemen (2012 : 118)

[5]  Rizal Mustary dalam Jurnalis Televisi, di antara Publik dan Pemilik Modal (2012 : 129)

[6]  Boyer, Dominic, and Ulf Hannerz  dalam Introduction: Worlds Of Journalism menuturkan lebih jauh bahwa dalam teori produksi berita merupakan pertarungan kekuatan yang tak akan pernah bisa diputuskan, yang melibatkan interaksi dan negosiasi melalui banyak pintu, yang mana membutuhkan struktur ruang redaksi yang kuat dan juga agen lapangan yang berkompeten. Praktek produksi yang sesungguhnya melibatkan operasionalisasi peralatan, metode, dan data terkait. (2007: 5-17)

[7] Stuart Hall dalam Media dan Kekuasaan oleh Ishadi (2014: 20)

Pengawalan Perkembangan Berita Sebagai Implementasi Mekanisme Gatekeeping dalam Pemberitaan Televisi

Media merupakan institusi yang terdiri dari pemilik modal, pengelola media dan juga wartawan professional. Hubungan ketiganya ditentukan oleh faktor pemilik modal, aturan pemerintah dan industri media penyiaran. Keterkaitan ini memungkinkan terjadinya kepentingan – kepentingan, termasuk di dalamnya media televisi. Kepentingan – kepentingan ini terlibat dalam berbagai keputusan ringan dan besar, seperti misalnya apakah sebuah informasi dapat dimasukkan dalam paket berita ataukah sebuah paket berita layak tayang atau tidak; seperti yang terjadi dalam pengawalan perkembangan sebuah berita.

Pengawalan perkembangan berita merupakan aktivitas pendampingan dan monitoring yang dilakukan oleh ruang berita kepada tim peliputan di lapangan sejak dimulainya proses news gathering, seleksi informasi, konstruksi berita, news editing hingga cetak tayang.

Gatekeeping merupakan topik penting dalam perencanaan komunikasi dan hampir semua komunikasi mengandung unsur gatekeeping, termasuk media itu sendiri. Penyaringan dan pemilihan informasi oleh gatekeeper ini dipengaruhi oleh jaringan saling mempengaruhi yang rumit, kecenderungan pribadi, misal seorang editor, mempengaruhi perannya sebagi gatekeeper dalam sebuah media pemberitaan.[1]

Jurnalis atau pekerja berita di setiap harinya dibombardir dengan informasi yang beragam dan datang dari sumber yang berbeda pula; internet, koran, saluran televisi, radio, majalah dan juga informan – informan berita mereka. Sudah menjadi tugas dari jurnalis dan aktivitas produksi berita untuk melakukan seleksi informasi dan sangat tidak mungkin untuk membentuk kepingan kecil informasi untuk menjadi berita tanpa menyertakan aktivitas gatekeeping. Aktivitas gatekeeping meliputi proses seleksi informasi, penulisan, penyuntingan, penempatan, penjadwalan, pengulangan atau paling tidak memanipulasi informasi untu menjadi sebuah berita.[2]

Seleksi dan konstruksi yang ditampilkan melalui produksi televisi bersifat niscaya sekaligus pervasif sepanjang keseluruhan proses pembuatan berita. Niscaya berkaitan dengan dengan jumlah materi berita yang tersedia dan batasan alokasi atau slot waktu, pervasif karena keputusan – keputusan terkait dengan apa yang diliput dan bagaimana mempengaruhi setiap tahap pembuatan berita, pencarian berita (news gathering), evaluasi berita (copytasting), editing berita, konstruksi program berita dan terakhir presentasi  berita.[3]

Sehingga dalam hal ini maka gatekeeper sebagai penjaga gawang yang paling menentukan perihal informasi apa yang diloloskan untuk publik. Sebelumnya, sumber – sumber berita itu sendiri dapat juga dikatakan menelikung. Terdapat beberapa definisi dan temuan penelitian yang menarik mengenai gatekeeping yang akan peneliti sajikan berikut ini.

Istilah gatekeeper pada awalnya diperkenalkan Kurt Lewin, yang didefinisikan sebagai orang atau pihak yang memutuskan hal – hal yang bisa diteruskan dan apa yang tidak. Sementara itu gatekeeping menurut Sneider dipakai untuk melihat bagaimana para editor mencampur berita dari kategori berbeda. Selain itu Sneider berdasarkan hasil penelitiannya menyimpulkan bahwa subyektivitas dilibatkan dalam proses pemilihan campuran.[4]

Proses gatekeeping memastikan hanya materi – materi yang mendukung pasar yang didistribusikan, sedangkan informasi yang cenderung merugikan pasar akan ditahan. Proses ini sangat potensial untuk melestarikan kekuatan dari ideologi serta kepentingan politik tertentu. Proses gatekeeping dilakukan pada fase editorial, oleh editor senior dan dilakukan di semua jenjang penyusunan program televisi.

Teori gatekeeping juga menyangkut bentuk bahasa dengan jeda lambat dan struktur naratif yang kompleks dinilai berbahaya oleh media. Dimana jeda narasi atau struktur naratif yang lambat memungkinkan khalayak menyerap materi pemberitaan, merefleksikan dan mempertanyakan apa yang mereka tonton.[5]

Ada beberapa pandangan penelitian yang mengulas mengenai aktivitas gatekeeping dan faktor – faktor yang ditengarai menjadi pertimbangan dalam penerapanya. Penelitian yang dilakukan oleh David Manning White merujuk pada keputusan seorang editor terkait hal – hal apa saja yang yang akan dipublikasikan, didasari oleh subyektivitas daan nilai – nilai dari editor.

Menurut White lebih lanjut, untuk melihat kriteria yang digunakan editor dalam proses pengambilan keputusan, dan menciptakan cara analisis sistematis terkait proses seleksi berita oleh gatekeeper. Editor adalah unit analisis dan sedapat mungkin melibatkan editor – editor lain untuk melihat perbedaan dan persamaan dalam menyeleksi berita sekaligus alasan – alasan di balik pemberitaan.

Ada dua macam studi yang bisa dilakukan terkait seleksi berita, yaitu:

  1. Studi longitudinal, jangka waktu penelitian relatif panjang dan lama sehingga akan terlihat konsistensi dalam argument pemilihan berita.
  2. Studi subsequent, jangka waktu penelitian relatif singkat, sehingga alasan pemililhan berita terlihat hanya berdasar subyektivitas.

Studi longitudinal lebih dapat melihat bahwa editor yang sama menggunakan kriteria yang sama dalam melihat dan memilih berita. Level analisis dapat dilakukan secara individual, berdasarkan rutinitas, organisasional, dan ekstra media.

Media konseptual yang dipergunakan dalam proses gatekeeping di media menurut White adalah sebagai berikut:

N – N1,2,3,4 -> Gates -> N2,3 – M

(Bagan 1.2 Konsep Gatekeeping dalam Media Menurut David Manning White)

Keterangan :

N         : Sumber Berita

N1 –  4 : Berita

N2, 3   : Berita terpilih

N1, 4   : Berita Ditolak

M         : Khalayak

White menyatakan bahwa peran gatekeeper sangat subyektif tergantung pengalaman, perilaku dan harapan – harapan seorang pelaku gatekeeping. Model ini menjelaskan fungsi gatekeeper secara umum pada media massa, dimana kegiatan pengawasan berfokus pada struktur organisasi dari ruang berita dan peristiwa yang akan diberitakan.[6]

Gatekeeper juga terdapat dalam sistem politik, merupakan institusi atau organisasi yang menguasai akses untuk posisi – posisi penguasa dan mengatur serta mengawasi aliran informasi di media dan pengaruh politik. Gatekeeper dalam media menunjukkan bahwa pengambilan keputusan dipengaruhi oleh :

  1. Prinsip nilai berita
  2. Kebiasaan organisasi
  3. Struktur organisasi
  4. Pengatahuan umum akan suatu hal.

Menurut Pamela J. Shoemaker, paling tidak dapat digunakan 3 teori untuk memeriksa bagaimana seorang gatekeeper menjalani proses kepenjagaan gawang, yakni teori berpikir, teori pengambilan keputusan dan teori tentang karakteristik individu gatekeeper. Teori berpikir yang digunakan Pamela merupakan teori mekanisme berpikir milik J.G. Snodgrass, G. Levy-Berger dan M. Hayden yakni assosiasionisme, gestalisme dan proses informasi.

Sementara untuk menjelaskan bagaimana seorang gatekeeper mengevaluasi dan menginterpretasi pesan, Shoemaker menggunakan teori D.E. Hewes dan M.L. Graham yang menyatakan bahwa ketika seseorang mencoba untuk memperbaiki atau menurunkan prasangka terhadap sebuah pesan dengan membawa pengetahuan sebelumnya untuk menafsirkan pesan nyata disebut proses kognitif. Sedangkan untuk teori pengambilan keputusan, Shoemaker menggunakan teori milik P. Wright dan F. Barbour yang merujuk pada 4 langkah pengambilan keputusan, yaitu; proses pengenalan masalah, pendefinisian alternatif penyelesaian, peninjauan informasi yang relevan, dan penerapan keputusan.[7]

Shoemaker sendiri menyatakan bahwa tulisannya tentang teori gatekeeping pada tahun 1996 dilakukan tanpa penelitian terkait aktivitas gatekeeping. Tulisan tersebut sejatinya merupakan rekomendasi dari pembimbing disertasinya Steven H. Chafee, ketika Shoemaker menyelesaikan program doktoralnya. Sehingga kemudian versi revisi diterbitkan pada 2001 dengan menambahkan hasil riset pada suratkabar.

Dalam proses gatekeeping tidak semua hal dipilih. Beberapa di antaranya melalui saluran yang terkadang masih dibagi lagi menjadi beberapa bagian, yang mana hanya dapat dilewati melalui pintu – pintu. Tekanan kekuatan dapat menghantarkan sekaligus menghambat gerakan dari informasi melalui pintu, dengan kekuatan bervariasi dan bekerja pada salah satu atau kedua sisi pintu gerbang.[8]

Kekuatan negatif atau yang terbilang lemah dapat menghambat informasi – informasi dari dan melalui saluran, dan penting untuk diperhatikan bahwa kekuatan – kekuatan yang menekan informasi, datangnya dari sebelum dan sesudah pintu – pintu gatekeeping. Elemen terakhir yang tampak pada gambar ilustrasi merupakan luaran (output) dari proses gatekeeping, bukan hanya hasil dari proses seleksi namun juga menunjukkan bahwa terdapat berbagai pengaruh – pengaruh ketika informasi melalui saluran, bagian – bagian dan juga pintu – pintu.

Yang perlu diketahui adalah bahwa terdapat elemen penting yang tersembunyi pada ilustrasi tersebut, yang mana gatekeepers memegang kendali apakah sebuah informasi akan dapat melalui semua saluran dan menjadi keluaran sebagaimana informasi asli. Gatekeepers atau penjaga gawang dapat termanifestasikan pada berbagai format, contohnya manusia, kode etik profesional, kebijakan perusahaan, dan juga algoritma komputer. Semua penjaga gawang selalu bertujuan membuat keputusan, namun memiliki derajat otoritas yang berbeda.[9]

Versi gatekeeping Shoemaker pada 1996 menyertakan model gatekeeping yang melibatkan individu gatekeeping yang bekerja pada sebuah institusi, pengaruh proses gatekeeping secara internal dan eksternal, hingga umpan balik. Dalam model tersebut menyajikan karakteristik gatekeeper dalam sebuah struktur organisasi, proses internal dan eksternal yang mempermainkan peranan penting dalam aktivitas gatekeeping itu sendiri. Model tersebut, seperti model komunikasi massa lainnya, menyertakan pengaruh dari individu terhadap institusi dan institusi ke cakupan yang lebih luas lagi, yaitu masyarakat.[10]

 

Sementara itu, konsep Media Mapping oleh Pamela Shoemaker menyertakan beberapa level dalam media yaitu:

  1. Level Individu – professional jurnalis

Menyangkut latar belakang pendidikan, perkembangan professional dan ketrampilan dalam menyampaikan berita, perilaku, pemahaman nilai dan kepercayaan, orientasi sosial dalam pekerjaannya.

  1. Level Media Routines – Terkait perspektif organisasi media

Mencakup proses penentuan berita. Rutinitas dalam ruang berita berhubungan langsung dengan proses penentuan berita yakni, gatekeeping dalam media. Rutinitas merupakan prosedur tetap yang berlaku dalam sebuah rubrik berita.

  1. Level organisasi

Menyangkut struktur organisasi media, proses pengambilan keputusan dan kebijakan yang diberlakukan.

  1. Level ekstra media

Berkaitan dengan sumber berita, lembaga lain di luar media, dan sumber penghasilan media. Sumber berita yang merupakan isi media mempunyai kepentingan tertentu yang melalui aktivitas kehumasan maupun kelompok – kelompok penekan dapat mempengaruhi proses konstruksi realitas dalam media. Penghasilan media berupa iklan, pelanggan, khalayak melalui system rating mampu mempengaruhi proses di dalam ruang berita. Lembaga di luar media dapat berupa institusi bisnis, pemerintah, atau teknologi maupun ekonomi.

  1. Level ideologis.

Kerangka yang dijadikan bahan referensi oleh individu dalam melihat realitas dan juga dalam bereaksi terhadap realitas tersebut. Kekuatan khalayak secara umum dalam bentuk ideologi tersebut berperan dalam menentukan agenda media.

Menurut Shoemaker, hal yang menarik untuk diamati lebih lanjut adalah cara berita – berita tersebut dibentuk, penentuan rentang waktu dan penayangannya. Faktor – faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan dalam mapping media menurut Shoemaker di antaranya adalah :

  1. Opinion leader di antara pelaku media.
  2. Reference group dalam ruang berita.
  3. Konsensus dari staf editorial.
  4. Budget yang direkomendasi oleh berita.
  5. Rentang waktu (timeline).[12]

Pengawalan perkembangan berita dalam penelitian ini merupakan prosedur pendampingan dan monitoring yang dilakukan oleh ruang berita terhadap berjalannya proses produksi berita yang termasuk dalam prosedur standar operasi yang dimiliki oleh setiap divisi berita di stasiun – stasiun televisi. Dalam pengawalan perkembangan berita, terdapat pintu – pintu yang harus dilalui oleh berbagai informasi selama pengumpulan berita untuk disetujui menjadi paket berita seutuhnya.

Berdasarkan berbagai penjelasan sebelumnya, maka mekanisme gatekeeping menjadi inti dalam pengawalan perkembangan berita dimana prosedurnya melibatkan aktivitas – aktivitas gatekeeping yang difungsikan untuk memilih dan memilah, mengurangi, meniadakan serta memutuskan informasi – informasi apa saja yang disetujui untuk disertakan dalam sebuah paket berita hingga berita tersebut naik tayang dan tersampaikan ke pemirs

[1] https://We.utk.edu/~xzhou1/gatetheory.htm#new diakses pada 18 Oktober 2015 pada pukul 09.25 WIB

[2] Pamela Shoemaker & Stephen Reese dalam Journalits as Gatekeepers : (2009 : 73)

[3] Graeme Burton dalam Memperbincangkan Televisi : 2007: 209

[4] https://www.findarticles.com/p/articles/mi_qa3677/5_200301/ai_n9224286

[5] https://www.mnsi.net/2pwatkins/appedix_1htm

[6] https://www.tcw.utwente.nl/theorieenoverzich/theory diakses pada 18 Oktober 2015 pada pukul 08.28 WIB

[7] Pamela Shoemaker dalam Ana Nadhya Abrar,  Gatekeeper: Sebuah Upaya Mengidentifikasi Konsep Komunikasi (2012 : 341 – 342)

[8] Pamela Shoemaker & Stephen Reese dalam Journalits as Gatekeepers : (2009 : 74)

[9] Pamela Shoemaker & Stephen Reese dalam Journalits as Gatekeepers : (2009 : 75)

[10] http://www.reelaccurate.com/about/gatekeeping.pdf diakses pada 11 Maret 2016 pukul 02.34 WIB

[11] http://www.Unc.edu/courses/zoofall/jomc245_001/tecle_critique_html diakses pada 20 Oktober 2015 pada pukul 13.45 WIB

Antara Aktivitas Rutin Media dan Kebijakan Redaksional dalam Pengawalan Perkembangan Berita Televisi

Kajian – kajian tentang ruang berita tidak dapat berdiri sendiri karena bagaimanapun ada kebijakan redaksional dalam aktivitas rutin media (media routine) yang menjadi bingkai dari setiap keputusan, kendali dan keluaran produk aktivitas pembuatan berita. Beberapa kajian penelitian dan perdebatan mengemuka terkait dengan aktivitas rutin media tersebut.

Becker & Tudor melakukan observasi pada ruang berita 2 stasiun televisi dan sebuah surat kabar pada 2008, stasiun televisi dipilih karena tingkat perbandingan antara ukuran ruang berita dan jumlah siaran berita yang diproduksi per minggu sebanding dengan sumber daya manusia dan produksi; sedangkan surat kabar merepresentasikan koran harian tunggal untuk wilayah metropolitan. Becker & Tudor juga melakukan wawancara informal dengan manajer ruang berita dan para jurnalis. Sedangkan untuk pengamatan berita surat kabar dengan cara melakukan analisa berita.[1]

Hasil kajian Becker dan Tudor menemukan bahwa meskipun ruang berita televisi tidak memiliki struktur spesialisasi yang jelas seperti surat kabar namun ruang berita televisi tetap memiliki kekhususan. Misalnya, desk tentang cuaca, olahraga, berita konsumen, dan kesehatan. Desk ini bertanggung jawab untuk menghasilkan ide cerita dan konten berita di ranah khusus tersebut. Pengamatan menunjukkan ruang berita televisi memang tidak perlu struktur serumit surat kabar.

Ruang berita televisi membutuhkan cerita yang lebih sedikit daripada surat kabar dan televisi dapat melakukan generalisasi pada ide cerita dari pengamatan khusus reporter, dari situs – situs, siaran pers, dan dari daftar kegiatan masyarakat yang mudah tersedia bagi televisi. Studi yang dilakukan Becker & Tudor menunjukkan bahwa ketika organisasi berita televisi membutuhkan kekhasan dari sebuah konten secara teratur, ruang berita televisi menciptakan sebuah sistem untuk menghasilkan hal tersebut; misalnya dengan menunjuk individu tertentu yang bertugas menciptakan jenis konten.

Dari hasil studi Becker & Tudor di salah satu stasiun televisi dipelajari, spesialisasi ini disebut reporter. Reporter bertugas menghasilkan ide-ide cerita dan kemudian melaporkan dan menghasilkan cerita tentang topik-topik seperti berita konsumen dan masalah kesehatan. Sekalipun reporter olahraga atau bahkan penyiar cuaca tidak dapat disebut wartawan komersil, namun tetap berfungsi dengan cara yang sama.[2]

Dalam sebuah studi tentang tiga saluran utama televisi di Amerika lainnya, yang memfokuskan pada cara pengumpulan berita terstruktur; Edward Jay Epstein membahas mengenai organisasi berita dan proses pengambilan keputusan dalam ruang berita yang berdinamika. Epstein menemukan bahwa hanya ada sedikit perbedaan mengenai bagaimana proses organisasi-organisasi berita dalam bekerja menghasilkan siaran berita televisi nasional dari saluran televisi satu dengan saluran televisi yang lain.

Epstein berpendapat bahwa proses pengambilan keputusan dari sebuah organisasi berita merupakan hal yang klasik dan terjadi dalam konteks yang sama dari tahun ke tahun. Yang sebenarnya disaksikan oleh pemirsa, misalnya pada sebuah berita sore, tidaklah mencerminkan realitas sesungguhnya. Sebab, menurut Epstein, realitas yang ada di lapangan telah dikemas sedemikian rupa berdasarkan tuntutan – tuntutan dari ruang berita juga divisi produksi sehingga menjadi realitas televisi. Menurut Epstein lebih lanjut, hal tersebut terjadi karena tujuan esensial dari televisi bukanlah untuk menginformasikan pada masyarakat namun untuk menyenangkan pemirsa, hal tersebut dimaksudkan untuk menjaga agar pemirsa tetap setia pada saluran yang ditonton.[3]

Sementara Malcolm Warner tentang hasil studi mengenai berita televisi, menemukan adanya kesamaan antara organisasi struktur televisi dan surat kabar. Menurutnya, peran produser eksekutif di televisi mirip dengan peran editor surat kabar. Bahwa kriteria utama yang dilakukan oleh produser eksekutif dalam melakukan identifikasi seleksi berita dan distribusi ruang untuk keseimbangan nilai – nilai politik misalnya, banyak seperti seleksi berita yang terjadi di surat kabar.[4]

Shoemaker dan Reese dalam mendefinisikan organisasi media sebagai entitas sosial formal. Biasanya faktor ekonomi yang menjadi penggerak utama para pekerja media untuk menghasilkan produk pemberitaan. Dalam sebagian besar kasus yang terjadi, menurut Shoemaker dan Reese, tujuan utama dari media adalah untuk menghasilkan profit untuk perusahaan; terutama dengan menargetkan khalayak yang menarik bagi pengiklan. Tekanan ekonomi dapat memberikan pengaruh pada keputusan – keputusan jurnalistik.

Shoemaker dan Reese mendefinisikan rutinitas berita sebagai :

“Those patterned, routinized, repeated practices and forms that media workers use to do their jobs.”[5]

Rutinitas ini dimaknai Shoemaker dan Reese sebagai rutinitas yang diciptakan dalam rangka mengatasi keterbatasan sumber daya dalam organisasi berita dan sejumlah besar informasi mentah yang dapat dibuat menjadi berita. Bahwa dalam aktivitas produksi berita terdapat permasalahan mengenai sumber – sumber daya dan juga banyaknya informasi mentah yang tersedia. Lebih khusus, rutinitas media ini juga ditentukan oleh teknologi, tenggat waktu, ruang, dan norma-norma. Menurut Shoemaker dan Reese :

“The job of these routines is to deliver, within time and space limitations, the most acceptable product to the consumer in the most efficient manner.”

Hal ini dimaknai bahwa tugas rutin yang diberikan pada para pekerja media berbatas waktu dan juga ruang, dan juga memiliki keterikatan dengan aturan – aturan yang diberikan oleh perusahaan selain kode etika jurnalistik.[6]

Dari beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa menurut para peneliti terdapat faktor lain yang mempengaruhi konten berita dan rutinitas media berdasarkan aktivitas pengumpulan berita dan kepemilikan media. Dari hasil beberapa kajian tersebut, para peneliti mengklaim bahwa terjadi fenomena kesengajaan untuk mendistorsi sebuah berita, namun hasil dari aktivitas media tersebut didefinisikan sebagai berita. Bahwa ada unsur – unsur seperti ideologi perusahaan, ekonomi politik media yang memiliki nilai – nilai berpengaruh terhadap sebuah produksi berita. Perbedaan yang diamati antara media dalam hal teknologi, orientasi ekonomi politik, dan rutinitas pengumpulan berita tidak menjadi masalah banyak pada akhirnya.

Perdebatan – perdebatan yang membahas bahwa berita sesungguhnya merupakan hasil pekerja media dan juga aktivitas pengumpulan berita, namun bukan cerminan realitas yang sesungguhnya; juga menjadi inti kajian beberapa artikel yang ditulis oleh Molotch dan Lester 3 tahun berturut – turut, yakni 1973, 1974, dan 1975.[7]

Menurut tulisan Molotch dan Lester yang diterbitkan pada tahun 1973, media tidak terdiri dari reporter yang obyektif melainkan hanyalah sekumpulan pekerja dari sebuah institusi.[8] Tujuan dari media merujuk pada seleksi peristiwa untuk dimasukkan berita dalam bentuk realitas yang diinginkan oleh pihak – pihak tertentu seperti pemilik media, direktur berita, atau juga produser eksekutif. [9]

Tulisan Molotch dan Lester pada 1974 menemukan fakta bahwa aktivitas pengumpulan berita harus dilihat dari perspektif lain seperti “purposive behavior” yang mana dimaknai sebagai adanya kebutuhan mutual antara aktivitas produksi jurnalis yang dilakukan untuk memenuhi kepentingan profesi dan juga integritas jurnalis sebagai karyawan dari sebuah perusahaan.[10]

Sementara pada tulisan Molotch dan Lester di tahun 1975 berpendapat bahwa ketika berita menyimpang dari nilai – nilai obyektif jurnalistik, maka penjelasan yang biasa diterima adalah jurnalislah yang tidak kompeten, adanya interupsi manajemen redaksi, atau pihak – pihak tertentu yang dinilai memiliki kapasitas menuntut secara ekonomi. Hasil dari berita tersebut akhirnya menjadi “bias information.” Namun Molotch dan Lester menyatakan bahwa mereka tidak membuat asumsi terkait adanya “realitas objektif.” Molotch & Lester lebih melihat berita sebagai produk dari proses pembuatan berita, dimana realitasnya bukan lagi realitas yang sesungguhnya.[11]

Tulisan – tulisan Molotch dan Lester; menyebutkan bahwa memaknai rutinitas berita sangat penting dalam rangka memahami bagaimana sesungguhnya sebuah berita televisi diproduksi. Media harus dimengerti dalam bentuk organisasi formal yang menggunakan rutinitas tertentu dalam menyelesaikan pekerjaan di ruang berita, dalam hal ini memproduksi berita televisi.[12]

Hal ini kemudian berpengaruh pada keputusan – keputusan yang dibuat oleh ruang berita dalam sebuah produksi berita. Pada akhirnya, para jurnalis bekerja dengan bahan baku yang sebagian besar telah diberikan kepada mereka oleh ruang berita untuk mengubah kejadian yang dirasakan sesungguhnya –yang  terjadi di lapangan– demi   kepentingan acara – acara publik yang dipublikasi melalui siaran televisi.[13]

Kajian yang dilakukan oleh Molotch and Lester tentang aktivitas rutin media dalam produksi berita televisi memaknai 3 hal penting. Temuan pertama, memaknai bahwa aktivitas rutin tersebut membantu para jurnalis atau pekerja media dalam menciptakan berita. Kedua, kajian tersebut memfokuskan pada adanya peran kekuatan tertentu yang akhirnya menentukan konten berita. Ketiga, bahwa adanya pemisahan antara konstruksi realitas berita dan apa yang disebut pekerja berita sebagai realitas itu sendiri.

Namun tulisan – tulisan Molotch dan Lester ini dimentahkan oleh kajian yang ditulis oleh beberapa peneliti lainnya, yaitu Eliasoph, Benner dan Ryfe. Menurut Nina Eliasoph dalam Tudor & Becker, aktivitas rutin produksi berita televisi sama halnya dengan yang dilakukan oleh media elektronik lainnya, semisal radio. Bahwa rutinitas – rutinitas tersebut dibuat bukan dalam rangka menentukan konten berita namun hanya untuk membuat kerja para jurnalis lebih terstruktur dan lebih teratur.[14]

Senada dengan Eliasoph, Bennett and Ryfe dalam Becker dan Tudor berpendapat bahwa rutinitas yang dilakukan media hanya sebatas ranah organisasional dan peraturan profesional. Fungsi dari “peraturan” merupakan hal yang penting, sebab hal tersebut mengindikasikan sesuatu hal yang tidak dapat diubah – ubah. Menurut Bennett, peraturan – peraturan tersebut menjelaskan konsistensi dari isi berita.[15]

Dari beberapa pendapat di atas, dalam kaitannya dengan aktivitas rutin media dan kebijakan redaksi pada produksi berita televisi; penulis meyakini bahwa :

  1. Aktivitas rutin yang terdapat dalam produksi berita televisi memang dibuat oleh ruang berita dalam rangka mengatur para pekerja media secara struktur.
  2. Di lain pihak, aktivitas rutin dari media sendiri juga memiliki kekuatan dan kapasitas tertentu dalam melakukan seleksi informasi mentah dari berbagai peristiwa yang pada akhirnya memainkan peranan besar dalam menentukan berita – berita yang akan dipublikasikan dalam bentuk siaran ke khalayak luas.
  3. Kekuatan tersebut memiliki berbagai kepentingan yang terintegrasi dalam kebijakan redaksi dan tercermin pada aturan – aturan di ruang berita mengenai produksi berita televisi.

Kepentingan – kepentingan terkait ekonomi dan politik media yang ditengarai sebagai ideologi perusahaan, juga menentukan seleksi berita dan hasil akhir konten – konten berita yang disiarkan ke publik.

[1] Lee B. Becker and Tudor Vlad, News Organizations and Routines  (2009 : 60)

[2] Lee B. Becker and Tudor Vlad, News Organizations and Routines : 2009 : 67

[3] Edward J, Epstein dalam News from Nowhere: Television and the News (2011 : 321)

[4] Malcolm Warner dalam Decision Making  in American TV (1969 : 171)

[5] Shoemaker & Reese dalam Mediating The Message (1996 : 105)

[6] Shoemaker & Reese dalam Mediating The Message (1996 : 108 – 109)

[7] http://www.rasaneh.org/Images/News/AtachFile/30-9-1390/FILE634600594129473750.pdf diakses pada 9 Maret 2016 pada pukul 09.15 WIB

[8] Molotch & Lester, Accidents, Scandals and Routines: Resources for Insurgent Methodology  (1973 : 258)

[9] Molotch & Lester, Accidents, Scandals and Routines: Resources for Insurgent Methodology  (1973 : 259)

[10]Molotch & Lester, News as purpose behavior: On The Strategic Use of Routine Events, Accidents and Scandals (1974 : 104)

[11]   Molotch & Lester, Accidental The Great Oil Spill As Local Occurrence and National Event.(1975 : 235)

[12]  Molotch, H., & Lester, M dalam News as purpose behavior: On the strategic use of Routine Events, Accidents and Scandals mengidentifikasi beberapa aktivitas rutin media sebagai aktivitas mendarah daging yang berpayung pada ‘norma-norma profesional’ dari ‘jurnalisme baik’, yang dimaknai sebagai kode etik jurnalistik. Molotch & Lester mencontohkan bahwa aktivitas rutin media yang harus meliput kejadian dalam radius dekat namun kemudian perhatian mengalami penurunan dari waktu ke waktu. Degradasi fokus pada inti peristiwa terjadi karena konsentrasi yang harus terbagi pada personil berita di kota-kota besar lain yang juga tengah melakukan peliputan peristiwa jarak jauh. (1974 : 105)

[13]   Molotch & Lester dalam Accidental News: The Great Oil Spill As Local Occurrence And National Event      (1975 : 255)

[14]  Becker & Tudor dalam Handbook of Journalism (2009 : 62)

[15]  Becker & Tudor dalam Handbook of Journalism (2009 : 65)

JAKARTA; KOTA TAK RAMAH PEJALAN KAKI

Jakarta tidak pernah menjadi kata dan kota yang asing bagi saya. Saya pernah membesarkan gelembung – gelembung mimpi di Jakarta; pernah juga kehilangannya. Pernah berkomitmen pada mimpi baru lalu memutuskan menyerah dan meninggalkan ibukota.

Lama tak bersua, hitungan beberapa tahun kemudian; karena perjalanan hidup saya memutuskan untuk kembali bertarung di antara tingginya gedung – gedung pencakar langit, lalu lintas yang macet dan udara yang bisa dikatakan pengap dan lembab.

Seperti halnya saya, Jakarta pun sudah jauh berubah dari terakhir saya menginjakkan kaki disana. Beberapa kali, untuk kepentingan pelesir ataupun bersilaturahmi dengan kerabat dan keluarga dekat. Jakarta kian cantik, meski ada beberapa “ruam” di “permukaan kulitnya”.

Bak seorang gadis cantik berwajah putih mulus ala gadis – gadis di drama korea, namun ternyata ujung rambutnya bercabang, memiliki gatal di ruas – ruas jari kaki, bagian bawah mata menghitam karena kurang tidur; menghabiskan semalam suntuk berpikir tentang jumlah baju baru yang kurang, alat make up yang kadaluwarsa, atau tempat untuk bersosialita di keesokan hari.

Begitu halnya dengan Jakarta. Semakin banyak mall; yang fungsi keberadaannya tentu saja, sangat ideal bagi beberapa kalangan dengan level kemampuan ekonomi yang kompeten. Saya katakan kompeten, karena bagi beberapa lapisan masyarakat tertentu, menjadi bagian dalam kehidupan sebuah mall, mereka hanya mampu menjadi pemanis. Bila diibaratkan sebuah cupcake, beberapa kelompok masyarakat tersebut hanya cocok sebagai topping-ya saja.

Kemajuan – kemajuan yang lain, bisa saja terefleksikan pada macet di titik – titik tertentu karena proyek pembangunan sarana MRT, kuantitas roda empat yang semakin menumpuk dari tahun ke tahun, pengendara mobil atau motor yang dengan egois melintas di jalur busway karena enggan bermacet ria dengan penghuni ruas – ruas macet Jakarta di setiap harinya.

Tentu saya tak hendak membicarakan brand apa saja yang memenuhi sebagian besar mall di Jakarta atau mengapa Jakarta tetaplah Jakarta’ terkenal karena banjir atau macetnya. Karena perlu diketahui, sempat saya tinggal di beberapa kota yang saya kagumi keheningannya, seperti kota Malang dan juga Yogyakarta. Ternyata keduanya pun tak lepas dari fenomena macet dan hiruk pikuk klakson dari pengendara jalanan. Memang tak seheboh Jakarta, tapi bila ditarik garis kesibukan sejarah  kota masing – masing, maka cukup seimbang untuk dapat dikatakan bila kehidupan di kota – kota menakjubkan tersebut tak lagi bisa dikatakan memiliki ritme hidup yang tenang.

Maka saya akan berpersepsi tentang Jakarta dari sudut cerita yang lain. Semisal, kecintaan saya pada kopi dan saya mengejar momen – momen tertentu untuk bisa menikmatinya dengan suasana seidealis mungkin. Idealis di sini saya maksudkan, pada timing yang tepat, orang – orang yang hebat, ide pembicaraan yang tak akan pernah membosankan; kemudian saya bisa memberikan justifikasi bahwa timing is everything.

Kecintaan lain saya adalah pada kuliner. Saya menikmati menit ke menit dimana saya mengumpulkan data tentang tempat wisata kuliner yang saya hanya bisa jumpai di ibukota. Saya sangat fokus pada riset kecil saya, termasuk waktu berkunjung dengan kemungkinan jumlah pengunjung yang minimalis. Sehingga, saya benar – benar bisa meraih klimaks dalam menikmati tempat, suasana sekaligus makanannya.

Untuk dapat mencapai klimaks ideal versi saya, saya tak enggan berjalan kaki. Saya sangat menikmati momen berjalan kaki sendirian, saya mengumpamakannya berpetualang. Seolah saya sedang berjalan kaki dari ranu pane menuju ranu kumbolo, surga dunia di kaki gunung semeru. Saya pasang satu earset di telinga untuk mendengarkan musik kesukaan, sembari membayangkan saya tengah ada di sebuah adegan film. Satu saja. Karena memasang dua earset di tengah padat lalu lintas menurut saya tak beretika, kecuali tentu saja anda sudah nyaman dan aman di dalam busway atau krl, misalnya. Tak beretika karena anda tak akan bisa mendengar klakson dari pengendara roda dua atau roda empat atau tanda – tanda kehidupan di jalan raya pada umumnya. Saya juga tak akan bermain dengan gadget saya, bersosial media ketika tengah berjalan kaki. Prinsip saya tetap, pada etika. Pejalan kaki saja tak etis ber-ponsel ria, apalagi pengendara. Karena sudah pasti akan membahayakan keberlangsungan hidup orang banyak. Begitu hemat saya.

Tapi khayalan saya tak berkelamaan. Segera saya menyadari, trotoar di Jakarta sangat tidak ramah bagi pejalan kaki. Banyak galian, hiruk pikuk PKL, motor yang berkendara keluar jalur. Nyaris beberapa kali, saya yang sudah maksimal menepi masih saja diserempet oleh pengendara yang entah kenapa, saya rasa hidupnya selalu terburu – buru. Mungkin mereka memiliki kehidupan dinamis yang tak se-konstan saya, barangkali. Tak ramah dari segi lain adalah, bahkan trotoarnya tak bisa disebut sebagai trotoar murni, penutup saluran air mampet mungkin lebih tepatnya. Ekstrak noise lain yang sangat mengganggu adalah bunyi klakson tanpa henti dari pengendara. Kadang saya berpikir, apa perlu klakson dibunyikan bila lampu masih merah, karena jelas itu tanda untuk berhenti. Sebaliknya bila lampu sudah hijau, kenapa klakson masih saja dibunyikan; bukankah bila sudah giliran jalan maka akan berjalan dengan sendirinya? Ah, mungkin saya yang terlalu banyak berpikir, batin saya setiap saat.

Saya tak hendak membandingkan trotoar Jakarta dengan Singapura misalnya. Selain karena saya belum pernah kesana, dan hanya mumpuni data dari cerita rekan atau blog – blog “siluman” di dunia maya, saya rasa juga tak adil membandingkan Jakarta dengan Singapura, ataupun Thailand, atau bahkan Amerika. Ah, saya teringat cerita sahabat baik saya sepulang dari negeri Paman Sam tersebut. Dengan rajin Ia membandingkan kondisi lalu lintas juga kendaraan umum di negeri Paman Sam tersebut dengan Indonesia, khususnya Jakarta. Saya ingat, reaksi pertama dan terakhir saya, tergelak. Karena sangat tak lazim dan tak adil perbandingannya. Seperti membandingkan media mainstream dengan kategori indie, nah, apakah sebanding? Menurut saya, kemacetan Jakarta bisa diadu di level yang sama dengan macet di New Delhi atau beberapa kota di Kamboja.

Nah, demi mencapai klimaks berwisata kuliner atau memiliki pencapaian ideal dari timing is everything for coffe time, meski sebal setengah mati, saya tetap mencoba mencari penikmatan lain dari berjalan kaki. Saya tembus berbagai sisi trotoar Jakarta, mulai dari beberapa kawasan di timur, barat, selatan hingga utara, termasuk pinggiran – pinggiran kota Jakarta, wilayah – wilayah sub-urban. Tumpukan sampah dan genangan air kotor adalah salah satu faktor saya beropini bahwa Jakarta sangat tidak ramah pada pejalan kaki. Kadang saya berkhayal, bisa otomatis melayang di ketinggian satu meter bila menjumpai sampah. Tentu saja saya geli dengan khayalan tingkat tinggi saya karena bila itu terjadi maka mungkin saya akan melayang setinggi satu meter untuk radius kilometer yang jauh. Maka saya bukan lagi pejalan kaki, tapi pejalan udara.

Berbicara tentang ketidakramahan ibukota pada pejalan kaki maka tidak bisa dilepaskan dari sejarah dan juga tata kota Jakarta. “Otoritas” saya hanya sejauh ranah opini, karena saya tentu saja tidak memiliki kapasitas dan kompetensi yang ideal untuk berbicara perihal tersebut. Tapi untuk menyajikan hasil terkait mini riset kecil saya yang sumbernya bukan “ghoib” tentu diperbolehkan kan?

Dalam situs www.discerning.petra.ac.id disampaikan bahwa Jakarta dulunya sangat rapi. Kotanya membentuk grid kotak-kotak yang sangat mirip dengan penataan kota–kota di Belanda. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya perempatan, yang difungsikan untuk mempermudah pengawasan. Pada masa awal pemerintahan Kolonial Belanda, banyak bangunan yang menghadap ke sungai hal ini dimaksudkan untuk mempermudah akses sirkulasi bagi penduduk. Penataan kota Jakarta semakin hari semakin maju, namun juga semakin menyimpang dari grid yang dibentuk pada jaman Kolonial Belanda.

Ketika Indonesia pertama kali merdeka, timbul euforia atas kemerdekaan tersebut. Bung Karno mencetuskan ide pembangunan monumen – monumen untuk membuat Indonesia dipandang oleh bangsa lain. Monas dan Stadion Utama Gelora Bung Karno merupakan contoh dari pembangunan era pemerintahan Bung Karno; selain juga terdapat  pertumbuhan infrastruktur lain, seperti jalan dan jembatan yang turut menghiasi wajah kota Jakarta.

Masih menurut situs yang sama, salah arsitektural kemudian muncul sejak dikeluarkannya Peraturan Presiden Nomor 10 tahun 1952 mengenai larangan orang asing untuk berusaha di bidang perdagangan eceran di tingkat kabupaten ke bawah (di luar ibu kota daerah). Para imigran asing tersebut wajib mengalihkan usaha mereka kepada warga negara Indonesia. Peraturan ini kontroversial dan menimbulkan kerusuhan ras dan etnis, salah satunya adalah Kerusuhan Cibadak, juga memicu urbanisasi masyarakat imigran asing, khususnya ke kota Jakarta.

Urbanisasi tersebut akhirnya memicu pembangunan  ruko (rumah toko) di Jakarta. Ruko sendiri adalah rumah-rumah yang biasanya ditinggali dan digunakan juga untuk berdagang. Perekonomian Jakarta semakin bergejolak, seiring dengan keinginan pemerintah, yang pada saat itu fokus untuk membangun infrastruktur negara pasca kemerdekaan. Ruko – ruko berkembang di jalan – jalan besar, mengikuti grid yang telah ada sebelumnya. Namun tak dapat dihindari pula permukiman yang mulai subur akibat urbanisasi. Continue reading “JAKARTA; KOTA TAK RAMAH PEJALAN KAKI”