Breaking News Televisi dan Produksi Berita di Televisi

Seorang Jurnalis Amerika, Charles Anderson, memberikan definisi yang sangat terkenal mengenai berita. Anderson menyatakan bahwa,

When a dog bites a man that is not news, but when a man bites a dog that is news.[1]

Sementara Bernard Roscho menyebut berita sebagai :

News is more easily pursued than defined, a characteristic it shares with such other enthralling abstractions as love and truth.

Hal ini dapat diartikan bahwa berita menurut Roscho adalah sesuatu abstrak yang sulit untuk didefinisikan namun mudah untuk dipahami.[2]

Jackie Harrison berargumentasi bahwa memaknai berita merupakan hal yang sudah terjadi secara turun temurun namun masih belum ditemukan makna yang solid. Menurut Harrison lebih lanjut, berita tidak dapat dimaknai secara fungsi statistik, elemen dan terstruktur, karena berita selalu berubah dan maknanya haruslah fleksibel. Harrison mengaitkan berita dengan realitas, fakta, kebenaran yang terikat pada prinsip – prinsip etik. Karakter berita kemudian didefinisikan Harrison sebagai elemen yang harus akurat, benar, jujur dan netral.[3]

Sementara Thomas E. Patterson dalam Nosheen Hussain menyebutkan bahwa terdapat situasi bias dalam jurnalisme dan situasi bias ini dikategorikan menjadi beberapa hal yaitu,

“What is news, what is bad, what is dramatic, what is most readily available, and what can be readily understood.”

Menurut Patterson situasi bias dalam jurnalisme tercerminkan dalam kebingungan pendefinisian mengenai apa itu berita, peristiwa yang digolongkan buruk, informasi yang tersedia, dan hal – hal apa saja yang mudah untuk dipahami.[4]

Berita dapat digolongkan menjadi beberapa jenis. Menurut Josep R. Dominick dalam The Dynamic of Mass Mediahard news biasanya difokuskan pada isu – isu penting seperti kriminal, permasalahan internasional, situasi hukum, politik dan ekonomi. Sedangkan soft news berisi informasi – informasi yang lebih ringan seperti hiburan, film, hobi dan olahraga. Hard news mempengaruhi pemirsa secara maksimal sedangkan berita ringan menarik banyak pemirsa.[5]

Menurut Andrew Miller dalam News Alert, breaking news dapat dikategorikan sebagai hard news. Karakter breaking news merupakan berita yang tidak direncanakan, disiarkan secara tiba – tiba dan mengejutkan semua pihak, sebab tidak dapat diprediksi sebelumnya. Sehingga industri media harus mengubah pemaknaan Breaking News dari waktu kewaktu dan maknanya kian luas saat ini. Beberapa definisi tradisional tercermin pada mayoritas stasiun televisi di Amerika yang menempatkan isu terorisme sebagai konten Breaking News yang paling utama untuk disiarkan, terlebih pasca peristiwa 9/11.

Miller mengungkapkan bahwa saat ini televisi telah melakukan definisi ulang mengenai Breaking News. Jenis – jenis berita Breaking News ada yang direncanakan ada pula yang masih terkonsep tanpa perencanaan sama sekali, tidak murni digolongkan hard news ataupun soft news, melintasi batasan nilai berita, berdasar pada konten – konten terkini dan visual yang disiarkan secara langsung. Sehingga karakter breaking news menjadi konsep pelaporan segera, informasi terkini dan diharapkan tak terduga, dan berbasis pasar terkait dengan kepentingan rating program tersebut.[6]

Kajian tersebut menunjukkan bahwa cerita – cerita Breaking News tidak selalu diharuskan memberikan efek kejut ataupun penting – namun hanya dibutuhkan adanya informasi terkini. Maka kemudian, segala cerita dapat dikategorikan sebagai Breaking News pada waktu apapun, ketika informasi yang terbaru disertakan.

Sebuah kajian mengenai Breaking News dan efek media massa menunjukkan bahwa media massa menjadi salah satu faktor terbesar yang menciptakan ketakutan dan horor di kalangan pemirsa, khususnya terkait berita – berita lokal dan kejadian terkini. Tuggle dalam Nosheen Hussain, menyebutkan breaking news sebagai lubang hitam yang menyerap informasi apapun dengan kecepatan tinggi. Tuggle menganalogikan masa – masa ketika televisi tidak memiliki konsep breaking news sebagai masa kelam yang tak memiliki acuan. Bahwa menurutnya, konsep Breaking News tidaklah direncanakan namun produksi jenis berita ini dimulai ketika melakukan peliputan dan penyiaran berita. Hal ini dapat dimaknai bahwa Tuggle ingin menyatakan konsep breaking news terjadi insidental dan tanpa ada ide atau gagasan yang dibentuk sebelumnya.[7]

Nosheen Hussain, Syed Azfar Ali, dan Samreen Razi dalam temuan penelitian mereka menyatakan banyak karakter dari Breaking News. Menurut Hussain, Ali dan Razi, breaking news tercermin dalam informasi – informasi yang tidak biasa, yang di dalamnya terdapat bentuk – bentuk jurnalisme investigatif, informasi yang terus diperbarui, dan tidak ada saluran televisi lain yang pernah menayangkan sebelumnya dengan angle berita yang sama. Maka kemudian sifatnya disebut sebagai berita eksklusif.

Breaking news juga bersifat segera, hal ini memenuhi unsur tidak biasa yang telah disebutkan sebelumnya. Berita – berita yang ditayangkan dalam breaking news tidak lagi mempedulikan elemen baik dan buruk, namun haruslah memberikan efek kejut yang tidak dapat diprediksi oleh pemirsa. Breaking news juga disebut oleh Hussain, Ali dan Razi sebagai intisari berbagai peristiwa besar dalam rentang waktu siaran yang cenderung singkat, maka disebutkan konten beritanya haruslah bersifat sensasional.[8]

            Dari beberapa pendapat mengenai definisi dan karakter Breaking News televisi yang terus berkembang, maka garis produksi breaking news juga bermacam – macam. Beberapa stasiun televisi mengikuti garis produksi berita pada umumnya, namun untuk memenuhi kebutuhan “berita segera” maka beberapa televisi yang lain disebut menghilangkan beberapa tahapan perencanaan. Bukan berarti tanpa perencanaan, namun bagian – bagian umum yang melibatkan lebih banyak sumber daya pada prosedur perencanaan dimampatkan.

Menyoal produksi berita televisi, terdapat beberapa pendapat yang dapat dijadikan sebagai tinjauan. Tom Van Hout and Geert Jacobs menyebut produksi berita sebagai pertarungan kekuatan – kekuatan tanpa keputusan. Dalam hal ini merujuk pada kepentingan – kepentingan dari para pemegang saham atau pengelola media.[9]

John Thompson memberikan pernyataan yang kurang lebih sama, yaitu :

The media [are] the key arena in which [the] struggle over symbolic power is played out. As the principal medium through which political leaders relate to ordinary citizens, the media become the primary means by which political leaders accumulate symbolic capital in the broader political field. Through the constant management of visibility and the careful presentation of self, political leaders use the media to build up a store of symbolic capital in the eyes of the electorate: and this in turn, by providing them with a popular basis of support, gives them leverage in the political subfield.”[10]

Van Hout & Jacobs menggambarkan produksi berita sebagai proses interaksi dan negosiasi. Jenis interaksi yang yang dimaksudkan adalah di satu sisi adanya perjuangan dan konflik sementara di sisi lain terdapat kerjasama dan kemitraan. Gans dalam Van Hout dan Jacobs menyebutkan bahwa dalam proses produksi berita pada dasarnya terdiri dari dua proses: pertama, menentukan ketersediaan informasi dan menghubungkan jurnalis dengan sumber informasi. Kedua, untuk menentukan kesesuaian berita, yang mengikat jurnalis pada pemirsa; yang mana kedua proses tersebut harus dilakukan dengan kekuasaan.[11]

Mendefinisikan produksi berita merupakan hal yang kompleks. Beberapa ahli berpendapat bahwa produksi berita dimulai pada tahapan editing atau penyuntingan pada saat yang sama jurnalis melihat dan mendengar sesuatu yang memiliki nilai berita.

John Wilson menyatakan bahwa produksi berita adalah segala sesuatu yang diproduksi oleh jurnalisme profesional semisal wartawan, produser, staf teknis dan staf manajerial yang bekerja dengan cara rutin sehari-hari dalam sebuah organisasi berita.[12] Sementara Jackie Harrison berpendapat dengan berkembangnya fitur – fitur interaktif, dan meningkatnya optimalisasi dari struktur ruang berita, dan transformasi yang kuat dari pekerja jurnalistik, bagian terpenting dari jurnalisme justru berada di luar organisasi berita.[13]

Mengacu pada proses produksi berita, Domingo menyatakan prosesnya melibatkan 5 tahapan, yaitu :

  1. Akses

Seorang wartawan mungkin memutuskan untuk mengerjakan sebuah cerita jika memang dipandang layak diberitakan. Kisaran topik yang memiliki nilai berita cukuplah luas, termasuk sejarah budaya dan gaya hidup, juga tipikal hard news yang disaksikan langsung oleh kontributor. Namun hal ini tidak dapat dilaksanakan tanpa adanya kemudahan dan ruang yang diberikan pada jurnalis dalam hal mendapatkan informasi.

  1. Seleksi dan gatekeeping

Ruang berita merupakan satu-satunya yang bertanggung jawab untuk memilih cerita apa yang akan dipublikasikan. Sehingga tidak mungkin sebuah berita diproduksi tanpa melalui tahapan seleksi dan penyaringan.

  1. Pemrosesan dan penyuntingan

Informasi yang telah melalui proses seleksi dan gatekeeping kemudian berada di tahap selanjutnya, pemrosesan dan penyuntingan. Pada berita televisi, pemrosesan dimulai ketika reporter menulis naskah untuk konten berita dan juru kamera melakukan editing gambar, sekaligus seleksi untuk footage yang digunakan dan yang dibuang. Pemrosesan ini terlebih dahulu harus mendapat persetujuan dari supervisor yang duduk di lingkaran manajerial, di beberapa stasiun televisi disebut sub divisi “the row”.

  1. Pendistribusian

Pelaporan berita kepada pemirsa, untuk berita televisi terkonsep dalam bentuk siaran langsung ataupun tunda dan beberapa terformat dalam program yang bersifat penelusuran investigatif dan dokumenter. Beberapa stasiun televisi telah mewadahi interaksi langsung dengan pemirsa melalui beberapa program dan juga melalui situs berita resmi mereka.

  1. Interpretasi

Menurut Domingo, hasil akhir dari sebuah produksi berita, berita harus merupakan laporan yang memuat fakta yang perlu diberi penjelasan mengenai sebab akibatnya, latar belakangnya, akibatnya, situasinya, dan hubungannya dengan yang lainnya.[14]

 

Sementara Thomas Hanitzsch and Abit Hoxha merekomendasikan 3 tahapan model sirkular untuk menjelaskan sebuah proses produksi berita. 3 tahapan tersebut adalah, peng-idean cerita, narasi cerita, dan presentasi cerita.[15]

Peng-idean cerita merupakan proses inti dari bagaimana ruang berita memfasilitasi ide – ide untuk sebuah berita. Bantz, McCorkle & Baade dalam Hanitzch & Hoxha menyebutkan ada beberapa cara mewujudkan sebuah pengidean cerita dalam berita. Jurnalis dapat proaktif dalam memberikan ide cerita melalui penelitian atau observasi pada kasus dan peristiwa tertentu. Dalam hal ini, dorongan untuk penelitian berasal dari jurnalis sendiri, sebagian besar karena adanya rasa ingin tahu tentang sesuatu fenomena.

Cara yang lain adalah ketika jurnalis menghadiri sebuah konferensi pers dan mengubahnya menjadi berita tersendiri. Dalam hal ini, jurnalis menindaklanjuti laporan mereka sebelumnya. Cara pengidean cerita yang lain adalah ketika event – event digelar di ranah lokal maupun nasional, dimana jurnalis diundang untuk melakukan peliputan.

Narasi berita mengacu pada proses pengembangan cerita serta konteks dari sebuah berita. Dalam hal ini, cerita narasi harus memperhitungkan fungsi jurnalisme – yaitu, bahwa setiap berita memiliki cerita sendiri. Ada tiga aspek penting dari narasi cerita dalam produksi berita: inti narasi, perspektif berita, dan framing berita, dimana  terdapat kerangka interpretatif dari ruang berita mengenai fakta dari sebuah peristiwa.

Sementara Lee Becker menyatakan terdapat perbedaan antara unsur “penting” dan “menarik” dalam perspektif jurnalis ketika memutuskan untuk melakukan framing pada sebuah berita. Menurut Becker, jurnalis harus membuat keputusan tentang desain dan keaslian narasi dan kemudian menggunakan teknik narasi untuk menjadikannya sebuah berita. Maka dengan melihat inti narasi pusat, perspektif cerita dan bingkai sebuah berita, dapat dilakkan eksplorasi lebih mengenai pola, struktur dan peran wartawan dalam produksi berita konflik.[16]

Tahapan ketiga menurut Thomas Hanitzsch & Abit Hoxha adalah presentasi berita. Dalam sebuah proses produksi berita ketika inti berita telah diidentifikasi, maka pembuat berita membangun cakupan mereka dengan cara yang konsisten dalam sebuah kerangka interpretatif. Pada pelaporan berita, jurnalis harus konsisten dalam membuat referensi – dari mereka sendiri, atau dari rekan-rekan media yang lain – dengan demikian dapat menghubungkan berita mereka dengan potongan berita lainnya. Hal ini dimaksudkan agar pelaporan berita dapat dipahami oleh pemirsa terlepas dari kompleksnya peliputan sebuah berita. Maka sangat penting untuk merelevansikan sebuah kejadian di dunia nyata dengan kerangka interpretatif.[17]

Terkait dengan produksi berita Voakes mengidentifikasi 7 pengaruh sosial selama prosesnya : individu, kelompok kecil, organisasi, kompetisi, jabatan, media ekstra, and hukum.[18] Sedangkan Preston menyebutkan 5 level pengaruh dalam produksi berita, yaitu : faktor individu dan tekanan organisasi, aktivitas rutin media dan norma – norma, faktor politik dan ekonomi media, serta kekuatan budaya dan ideologi.[19]

Mengenai mekanisme produksi berita televisi, Herbert Zettl mengatakan bahwa televisi memiliki jajaran tersendiri yang dikhususkan untuk memproduksi berita televisi.  Hampir di semua stasiun televisi memproduksi paling tidak satu berita pada umumnya; bahkan untuk stasiun yang mengkhususkan diri sebagai stasiun berita, berita menjadi aktivtas produksi terbesar. Hal ini terjadi karena divisi pemberitaan diharuskan merespon secara cepat untuk berbagai bentuk tugas produksi berita, yang mungkin terjadi secara mendadak untuk kasus berita sela, yang mana hanya tersedia sedikiti waktu untuk mempersiapkan tim dan kebutuhan teknis.

Oleh karenanya, divisi pemberitaan memiliki personel khusus yang menangani produksi berita. Tim ini didedikasikan secara eksklusif untuk kebutuhan produksi berita, dokumenter, dan peritstiwa khusus yang menuntut fokus lebih mendalam.

Tabel 1.1 News Production Personnel menurut Herbert Zettl

PERSONEL FUNGSI
News Director Bertanggungjawab pada semua bentuk operasional, dan bertanggungjawab khusus pada keseluruhan siaran berita.
News Producer Bertanggungjawab langsung pada seleksi dan penempatan berita dalam siaran untuk keseimbangan program.
Assignment Editor Memberikan penugasan pada reporter dan videografer untuk tugas peliputan. Di beberapa stasiun televisi disebut dengan koordinator peliputan.
Reporter Mengumpulkan informasi, dan terkadang melaporkan di depan kamera dari lokasi peristiwa terjadi.
Video Journalist Reporter yang mengambil gambar dan mengedit secara mandiri footage yang didapatkan selama pengambilan gambar. Di beberapa stasiun televisi disebut juga sebagai photo journalist/ cameraman.
Videographer Operator kamera. Jika reporter tidak ada, maka videografer bertugas memutuskan peristiwa apa yang akan diliput. Di beberapa televisi disebut news photographer & shooters.
Writer Bertugas menulis naskah untuk presenter berita. Naskah berdasarkan hasil liputan reporter dan footage yang tersedia. Beberapa stasiun televisi menyebutnya copy writer.
Video Editor Mengedit video berdasarkan catatan reporter, penulis naskah, dan instruksi tertentu yang diminta oleh produser.
Anchor Pembawa acara berita, biasanya melakukan presentasi berita dalam sebuah set studio.
Weathercaster Melaporkan perkembangan cuaca terkini.
Traffic Reporter Melaporkan kondisi lalu lintas lokal.
Sportscaster Mempresentasikan berita – berita olah raga sekaligus memberikan komentar atau tinjauan tentang berita terkait.

 

Menurut Zettl, perkembangan beberapa tahun terakhir di sejumlah stasiun televisi seperti CNN, mulai menggunakan posisi Assignment Editor (AE); yang mana memiliki deskripsi kerja untuk memberikan penugasan pada reporter, juru kamera atau juga Video Journalist (VJ) untuk melakukan peliputan berita. Selain memberikan penugasan, AE juga bertugas untuk memantau perkembangan terkini dari tim peliputan di lapangan dengan melakukan komunikasi sebelum peliputan dimulai, selama liputan berlangsung hingga berita selesai disiarkan.

Sedangkan fenomena VJ telah menjadi tren di beberapa stasiun televisi terkemuka, dalam perkembangan sebuah divisi pemberitaan. Video Journalist adalah perseorangan yang tugasnya merupakan kombinasi dari reporter, juru kamera, penulis dan juga editor. Posisi ini secara institusional menurut Zettl lebih dimaksudkan untuk tujuan ekonomis dari perusahaan, bukan untuk keluasan dan kedalaman berita.[20]

Channel News 4 mendefinisikan sebuah produksi berita sebagai proses pemahaman mengenai identifikasi sumber, pembuatan naskah, perekaman gambar, proses editing, pelaporan hingga siaran berita.[21]

Pada setiap produksi berita terdapat organisasi pelaksana produksi. Dalam produksi berita televisi, tim pelaksana produksi berita umumnya terdiri dari : direktur pemberitaan, produser berita, koordinator liputan (pada beberapa stasiun televisi disebut Assignment Editor), juru kamera, reporter, produser lapangan, editor, dan penyiar berita.[22]

Dalam setiap tahapan produksi berita televisi tidak dapat dilepaskan dari standar operating procedure (SOP). Segala bentuk produksi berita di televisi harus berada dalam payung SOP tersebut. Untuk mayoritas televisi di Indonesia telah dibuat semacam SOP untuk pembuatan berita. SOP ini difungsikan untuk menjaga kualitas berita yang dihasilkan oleh divisi berita. Namun untuk SOP di televisi Indonesia, relatif belum lama tersusun, bahkan mungkin juga belum diterapkan secara sempurna. SOP dibuat dengan beberapa tujuan :

  1. Untuk menyeragamkan kebijakan dan prosedur pembuatan berita.
  2. Untuk mengoptimalkan penggunaan sumber daya dan peralatan.
  3. Untuk menghasilkan dan menayangkan berita yang berkualitas.
  4. Untuk mendorong munculnya ide/gagasan berita setiap personel.
  5. Untuk mendorong pematangan perencanaan yang dilakukan setiap hari.[23]

Fred Wibowo menyatakan SOP dalam produksi berita televisi adalah:

  1. Pra produksi (perencanaan dan persiapan). Tahapan ini meliputi:
    1. Penemuan ide

Tahap ini dimulai ketika seorang produser menemukan ide atau gagasan, membuat riset dan menuliskan naskah atau meminta penulis naskah mengembangkan gagasan menjadi naskah setelah riset.

  1. Perencanaan (Planning)

Tahap ini meliputi penetapan jangka waktu kerja (time schedule), penyempurnaan naskah, lokasi dan juga kru. Selain estimasi biaya dan rencana alokalsi merupakan bagian dari perencanaan. Di beberapa

  1. Persiapan

Tahap ini meliputi pemberesesan semua masalah administrasi, seperti perijinan dan surat menyurat terkait produksi berita.

  1. Produksi

Pelaksanaan pengambilan gambar oleh juru kamera dan pencarian informasi terkait konten berita oleh reporter. Pada beberapa stasiun televisi yang mengklaim sebagai stasiun televisi berita, proses pengumpulan berita (news coverage) melibatkan produser lapangan (field producer) yang mana bertugas untuk melakukan lobi dengan narasumber berita. Untuk beberapa kasus tertentu, ketika reporter atau koresponden berhalangan, maka produser lapangan dituntut untuk dapat mengambil alih peran dari koresponden tersebut.

  1. Pasca Produksi

Tahapan pasca produksi disebut juga tahapan penyelesaian dan penayangan. Pasca produksi memiliki beberapa langkah, yaitu:

  1. Editing offline dengan teknik analog

Setelah proses produksi selesai, penulis naskah berita membuat logging yaitu mencatat kembali semua hasil shooting berdasarkan catatan shooting dan gambar. Di dalam logging time code (nomor kode yang berupa digit frame, detik, menit dan jam dimunculkan dalam gambar) dan hasil pengambilan setiap shoot dicatat. Kemudian berdasarkan catatan tersebut, editor akan membuat editing kasar yang disebut editing offline sesuai gagasan dalam naskah dan treatment.[24]

Materi hasil shooting kemudian dipilih dan disambung sedemikian rupa. Setelahnya dibuat naskah editing. Gambar dan nomor kode waktu tertulis jelas sehingga memudahkan proses penyuntingan. Hasil dari proses ini kemudian akan digunakan dalam proses editing online.

  1. Editing online dengan teknik analog

Berdasarkan naskah editing, editing mengedit hasil shooting asli. Sambungan – sambungan setiap shoot dan scene dibuat tepat berdasarkan catatan time – code dalam naskah editing. Demikian pula sound asli dimasukkan dengan level seimbang dan sempurna.

  1. Mixing

Narasi dan ilustrasi yang sudah direkam dimasukkan dalam hasil editing online sesua ketentuan naskah editing. Mixing meurpakan proses menyeimbangkan antara, efek, suara asli, suara narasi dan musik (bila diperlukan) sehingga tidak saling tumpang tindih. Setelahnya dilakukan preview.

  1. Editing offline dengan teknik digital

Proses penyusunan urutan adegan dan dipersatukan dengan shot – shoot yang sudah disambung yang biasa disebut dengan rendering.

  1. Editing online dengan teknik digital

Proses penyempurnaan editing dengan menyatukan hasil proses rendering dengan ilustrasi musik.[25]

Namun seiring perkembangan teknologi baik di dalam ruang berita maupun teknologi yang digunakan oleh tim di lapangan, tahapan editing offline online analog tidak lagi digunakan karena mayoritas teknologi editing terkini menggunakan konsep digital yang portable. Bahkan beberapa stasiun televisi membebankan tahapan editing pada juru kamera untuk kebutuhan berita yang ditayangkan dengan segera. Sementara editor ditugaskan pada program khusus berdurasi panjang, 30 menit atau lebih.

Proses pasca produksi yang disebutkan sumber lain adalah sebagai berikut :

  1. Dubbing & Scrip-Writing

Dubbing merupakan yang aktivitas perekaman suara untuk kebutuhan audio visual berita, dilakukan oleh reporter (disebut koresponden di beberapa stasiun televisi) setelah konten naskah disetujui oleh assignment editor (beberapa stasiun televisi menyebutnya koordinator peliputan), sementara penyetujuan paket berita dilakukan oleh produser eksekutif berita. Pada beberapa stasiun televisi lain, penyetujuan naskah yang dibuat oleh reporter dilakukan oleh sub divisi “The Row” sementara penyetujuan paket berita ditayangkan atau tidak ada di tangan director of coverage (DOC).

  1. Editing Offline

Proses pemilihan footage (stok gambar yang diambil selama peliputan) dengan melakukan pencatatan timecode, dapat dilakukan oleh reporter atau kameraman, biasa disebut dengan editing kasar. Hasil editing offline yang dinamakan b-roll kemudian diupload pada server internal, dimaksudkan sebagai stok bank data bila dibutuhkan untuk peliputan berita dan program yang lain. Sementara hasil editing kasar yang disebut dengan rough-cut diproses ke tahapan editing online.

  1. Editing Online

Editing online dimaksudkan untuk memberikan keseimbangan visual seperti pewarnaan, efek dan grafis.

  1. Mixing

Proses penyuntingan suara, mengurangi noise dari audio untuk menonjokan hasil wawancara, termasuk juga memberikan efek musik latar dan lain sebagainya.

  1. Exporting

Merupakan proses menjadikan susunan footage video hasil editing menjadi 1 output file video dari berbagai macam format, semisal .mxf atau .avi menjadi format mp4, mov, avi, dan lain sebagainya. Setelah paket diupload ke server internal, selanjutnya akan ditinjau oleh director of coverage ataupun produser eksekutif berita untuk diputuskan naik tayang atau sebaliknya.[26]

Menurut Morrisan, terdapat beberapa bentuk penyajian berita di televisi yang telah melalui 3 tahapan produksi berita, yang terformat dalam bentuk sebagai berikut:

  1. Reader.

Ini adalah format berita TV yang paling sederhana, hanya berupa lead in yang dibaca presenter. Berita ini sama sekali tidak memiliki gambar ataupun grafik. Hal ini dapat terjadi karena naskah berita dibuat begitu dekat dengan saat deadline, dan tidak sempat dipadukan dengan gambar. Bisa juga, karena perkembangan peristiwa baru sampai ke tangan redaksi, ketika siaran berita sedang berlangsung. Maka perkembangan terbaru ini pun disisipkan di tengah program siaran. Beritanya dapat berhubungan atau tidak berhubungan dengan berita yang sedang ditayangkan. Reader biasanya sangat singkat. Durasi maksimalnya 30 detik.

  1. Voice Over (VO)

VO adalah format berita TV yang lead in dan tubuh beritanya dibacakan oleh presenter seluruhnya. Ketika presenter membaca tubuh berita, gambar pun disisipkan sesuai dengan konteks isi narasi.

  1. Voice Over – Sound on Tape (VO-SOT)

VO-SOT adalah format berita TV yang memadukan VO dan SOT. Lead-in dan isi tubuh berita dibacakan presenter. Lalu di akhir berita dimunculkan soundbite dari narasumber sebagai pelengkap dari berita yang telah dibacakan sebelumnya. Format VO-SOT dipilih jika gambar yang ada kurang menarik atau kurang dramatis, namun ada pernyataan narasumber yang perlu ditonjolkan untuk melengkapi narasi pada akhir berita. Total durasi diharapkan tak lebih dari 60 detik, di mana sekitar 40 detik untuk VO dan 20 detik untuk soundbite.

  1. Package (PKG)

Package merupakan format berita TV yang hanya lead in-nya yang dibacakan oleh presenter, tetapi isi berita merupakan paket terpisah, yang ditayangkan begitu presenter selesai membaca lead in. Paket berita sudah dikemas jadi satu kesatuan yang utuh dan serasi antara gambar, narasi, soundbite, dan bahkan grafis. Lazimnya tubuh berita ditutup dengan narasi. Format ini dipilih jika data yang diperoleh sudah lengkap, juga gambarnya dianggap cukup menarik dan dramatis. Kalau dirasa penting, reporter dapat muncul dalam paket berita tersebut (di beberapa stasiun televisi disebut dengan reporter stand up) pada awal atau akhir berita. Durasi maksimal total sekitar 2 menit 30 detik.

  1. Live on Cam

Formar berita TV yang disiarkan langsung dari lapangan atau lokasi peliputan. Sebelum reporter di lapangan menyampaikan laporan, presenter lebih dulu membacakan lead in dan kemudian presenter berita akan beralih ke reporter di lapangan untuk menyampaikan hasil liputannya secara lengkap. Laporan ini juga bisa disisipi gambar yang relevan. Karena siaran langsung memerlukan biaya telekomunikasi yang mahal, tidak semua berita perlu disiarkan secara langsung. Format ini dipilih jika nilai beritanya amat penting, luar biasa, dan peristiwanya masih berlangsung. Jika peristiwanya sudah berlangsung, perlu ada bukti-bukti yang ditunjukkan langsung kepada pemirsa. Durasinya disesuaikan dengan kebutuhan.

  1. Breaking News

Merupakan berita penting yang harus disiarkan, bila mungkin bersamaan dengan terjadinya peristiwa tersebut. Breaking News disebut Morisan sebagai berita tidak terjadwal karena dapat terjadi kapanpun. Durasi Breaking News mulai dari 2 menit hingga tak terbatas.

  1. Laporan Khusus

Berita dengan format paket, lengkap dengan narasi, soundbite dan sejumlah narasumber yang memberikan pendapat dan analisis. Laporan khusus ini menurut Morisan biasanya disajikan dalam program tersendiri di luar program berita karena memiliki durasi panjang, biasanya 30 menit atau lebih.[27]

Sementara sumber lain menyebutkan bahwa format berita tersaji dalam bentuk:

  1. Naturan Sound (Natsound)

Merupakan suara lingkungan yang terekam dalam gambar dan sifatnya bisa dihilangkan. Tetapi, biasanya untuk kepentingan berita tertentu, natsound tetap dipertahankan, untuk membangun suasana dari peristiwa yang diberitakan. Sebelum menulis naskah berita, reporter harus melihat dulu gambar yang sudah diperoleh, karena tetap saja narasi yang ditulis harus cocok dengan visual yang ditayangkan. VO durasinya sangat singkat (20-30 detik).

  1. Voice Over – Grafik.

VO-Grafik adalah format berita televisi yang lead in dan tubuh beritanya dibacakan oleh presenter seluruhnya. Namun, ketika presenter membaca tubuh berita, tidak ada gambar yang menyertainya kecuali hanya grafik atau tulisan. Hal ini mungkin terpaksa dilakukan karena peristiwa yang diliput sedang berlangsung dan redaksi belum menerima kiriman gambar peliputan yang bisa ditayangkan.

  1. Sound on Tape (SOT).

Format berita televisi yang hanya berisi lead in dan soundbite dari narasumber. Presenter hanya membacakan lead in berita, kemudian disusul oleh pernyataan narasumber (soundbite). Format berita ini dipilih jika pernyataan narasumber dianggap lebih penting ditonjolkan daripada disusun dalam bentuk narasi. Pernyataan yang dipilih untuk SOT sebaiknya yang amat penting atau dramatis, bukan yang datar-datar saja. Format SOT ini bisa bersifat sebagai pelengkap dari berita yang baru saja ditayangkan sebelumnya, atau bisa juga berdiri sendiri. Durasi SOT disesuaikan dengan kebutuhan, tapi biasanya maksimal satu menit.


  1. Live on Tape (LOT)

Merupakan format berita televisi yang direkam secara langsung di tempat kejadian, namun siarannya ditunda (delay). Jadi, reporter merekam dan menyusun laporannya di tempat peliputan, dan penyiarannya baru dilakukan kemudian.

  1. Live by Phone

Jenis berita ini adalah berita yang disiarkan secara langsung dari tempat peristiwa dengan menggunakan telepon ke studio. Lead in berita dibacakan presenter, dan kemudian ia menghubungi reporter yang ada di lapangan untuk menyampaikan laporannya. Wajah reporter dan peta lokasi peristiwa biasanya dimunculkan dalam bentuk grafis. Jika tersedia, bisa juga disisipkan gambar peristiwa sebelumnya.

  1. Phone Record

Jenis berita ini direkam secara langsung dari lokasi reporter meliput, tetapi penyiarannya dilakukan secara tunda (delay). Format ini sebetulnya hampir sama dengan Live by Phone, hanya teknis penyiarannya secara tunda. Format ini jarang digunakan, dan biasanya hanya digunakan jika diperkirakan akan ada gangguan teknis saat berita dilaporkan secara langsung.

  1. Visual News

Konsep penanyangan berita ini hanya fokus pada penayangan gambar-gambar yang menarik dan dramatis. Presenter cukup membacakan lead in, dan kemudian visual ditayangkan tanpa tambahan narasi apa pun, seperti apa adanya. Format ini bisa dipilih jika gambarnya menarik, memiliki natural sound yang dramatis (misalnya: suara jeritan orang ketika terjadi bencana alam atau kerusuhan, dan sebagainya). Contoh berita yang layak menggunakan format ini: menit-menit pertama terjadinya bencana penembakan masal Charlie Hebdo di Paris.

  1. Vox Pop

Vox pop (dari bahasa Latin, vox populi) berarti “suara rakyat.” Vox pop tidak termasuk dalam format berita, namun biasa digunakan untuk melengkapi format berita yang ada. Vox pop merupakan komentar atau opini dari masyarakat mengenai isu tertentu yang tengah menjadi fokus media dan pemerintah saat itu.[28]

[1] Menurut Anderson dalam Galtung, J., & Ruge, M. H. dalam  The Structure Of Foreign News (1965 : 68) suatu kejadian haruslah bernilai kejadian luar biasa untuk dapat dipublikasikan dan didefinisikan sebagai berita. Definisi yang lain disebutkan oleh Galtung dan Ruge menyatakan bahwa berita adalah segala hal yang tidak diharapkan atau tidak terjadi secara biasa dan bukan sesuatu yang bersifat rutin.

[2] Bernard Roscho dalam  News Making (1975 : 160)

[3] http://www.savap.org.pk/journals/ARInt./Vol.5(4)/2014(5.4-31).pdf diakses 8 Maret 2016 pukul 03.25 WIB

[4] Nosheen Hussain & Syed Azfar Ali &, Samreen Razi dalam Understanding Breaking News from Viewer’s Perspective: A Phenomenological Approach  (2014 : 297)

[5] Joseph R. Dominick dalam The Dynamic of Mass Communication  (2010 : 310)

[6] http://www.newslab.org/research/newsalert.htm#search diakses pada 2 Maret 2016 pada pukul 13.20 WIB

[7] Nosheen Hussain & Syed Azfar Ali &, Samreen Razi dalam Understanding Breaking News from Viewer’s Perspective: A Phenomenological Approach  (2014 : 298)

[8] Nosheen Hussain & Syed Azfar Ali &, Samreen Razi dalam Understanding Breaking News from Viewer’s Perspective: A Phenomenological Approach  (2014 : 301)

[9] Tom Van Hout and Geert Jacobs dalam News Production Theory and Practice: Fieldwork Notes on Power, Interaction and Agency (2008 : 61 – 62)

[10] Menurut Thompson media merupakan wadah bagi perebutan kekuasan secara simbolik, dimana media diposisikan sebagai mediator antara pemimpin politik dan masyarakat. Sehingga media menjadi sarana utama bagi modal – modal simbolik bidang politik yang digunakan tokoh politik untuk membangun hubungan kimiawi dengan para pemilih yang akan menyumbang suara saat pemilihan. Media sejatinya dipenuhi dengan nilai – nilai politik populer yang menjadi dasar menghimpun dukungan politik.

John B. Thompson dalam Political Scandal: Power And Visibility In The Media Age (2000: 105-6)

[11] Tom Van Hout and Geert Jacobs dalam News Production Theory and Practice: Fieldwork

     Notes on Power, Interaction and Agency (2008 : 64)

[12]  John Wilson dalam Understanding Journalism: A Guide To Issues (1996: 29)

[13]  Jackie Harrison, J. dalam News  (2006: 99)

[14]  David Domingo dalam Participatory Journalism Practices In The Media And Beyond: An International   Comparative Study Of Initiatives In Online Newspapers. (2008 : 326-342)

[15] Thomas Hanitzsch & Abit Hoxha  dalam News Production: Theory and Conceptual Framework (2014 : 3 – 5)

[16]  Lee Becker dalam News Organizations and Routines (2004 : 7 – 9)

[17]  Thomas Hanitzsch & Abit Hoxha dalam News Production: Theory and Conceptual Framework (2014 : 6 – 7)

[18]  Paul Voakes dalam Social Influences on Journalists’ Decision Making in Ethical Situations (1997: 21)

[19]  Preston, Paschal, and Monika Metykova dalam From News to House Rules: Organisational Contexts.” In Making the News: Journalism and News Cultures in Europe (2009 : 7)

[20] Herbert Zettl dalam Television Production Handbook (2012 : 10 – 11)

[21] http://www.channel4.com/news/ diakses pada 15 Maret 2016 pukul 21.30 WIB

[22] Nurhasanah dalam  Analisa Produksi Siaran Berita Televisi (2011 : 17)

[23] http://heiiapriliaa.blogspot.co.id/2015/03/proses-pembuatan-berita-sampai-disiarkan.html diakses pada 13 Maret 2016 pada pukul 09.28 WIB

[24] Treatment merupakan langkah pelaksanaan perwujudan gagasan menjadi sebuah program

[25] Fred Wibowo dalam Teknik Produksi Program Televisi (2007 : 39)

[26] http://www.channel4.com/learning/breakingthenews/schools/channel4newsroom/newstechnology.html diakses pada 15 Maret 2016 pukul 20.13 WIB

[27] Morisan dalam Jurnalistik Televisi Mutakhir (2008 : 33 – 40)

[28] https://gjb3111fahri.wordpress.com/ diakses pada 19 Maret 2016 pada pukul 12.32 WIB

Antara Aktivitas Rutin Media dan Kebijakan Redaksional dalam Pengawalan Perkembangan Berita Televisi

Kajian – kajian tentang ruang berita tidak dapat berdiri sendiri karena bagaimanapun ada kebijakan redaksional dalam aktivitas rutin media (media routine) yang menjadi bingkai dari setiap keputusan, kendali dan keluaran produk aktivitas pembuatan berita. Beberapa kajian penelitian dan perdebatan mengemuka terkait dengan aktivitas rutin media tersebut.

Becker & Tudor melakukan observasi pada ruang berita 2 stasiun televisi dan sebuah surat kabar pada 2008, stasiun televisi dipilih karena tingkat perbandingan antara ukuran ruang berita dan jumlah siaran berita yang diproduksi per minggu sebanding dengan sumber daya manusia dan produksi; sedangkan surat kabar merepresentasikan koran harian tunggal untuk wilayah metropolitan. Becker & Tudor juga melakukan wawancara informal dengan manajer ruang berita dan para jurnalis. Sedangkan untuk pengamatan berita surat kabar dengan cara melakukan analisa berita.[1]

Hasil kajian Becker dan Tudor menemukan bahwa meskipun ruang berita televisi tidak memiliki struktur spesialisasi yang jelas seperti surat kabar namun ruang berita televisi tetap memiliki kekhususan. Misalnya, desk tentang cuaca, olahraga, berita konsumen, dan kesehatan. Desk ini bertanggung jawab untuk menghasilkan ide cerita dan konten berita di ranah khusus tersebut. Pengamatan menunjukkan ruang berita televisi memang tidak perlu struktur serumit surat kabar.

Ruang berita televisi membutuhkan cerita yang lebih sedikit daripada surat kabar dan televisi dapat melakukan generalisasi pada ide cerita dari pengamatan khusus reporter, dari situs – situs, siaran pers, dan dari daftar kegiatan masyarakat yang mudah tersedia bagi televisi. Studi yang dilakukan Becker & Tudor menunjukkan bahwa ketika organisasi berita televisi membutuhkan kekhasan dari sebuah konten secara teratur, ruang berita televisi menciptakan sebuah sistem untuk menghasilkan hal tersebut; misalnya dengan menunjuk individu tertentu yang bertugas menciptakan jenis konten.

Dari hasil studi Becker & Tudor di salah satu stasiun televisi dipelajari, spesialisasi ini disebut reporter. Reporter bertugas menghasilkan ide-ide cerita dan kemudian melaporkan dan menghasilkan cerita tentang topik-topik seperti berita konsumen dan masalah kesehatan. Sekalipun reporter olahraga atau bahkan penyiar cuaca tidak dapat disebut wartawan komersil, namun tetap berfungsi dengan cara yang sama.[2]

Dalam sebuah studi tentang tiga saluran utama televisi di Amerika lainnya, yang memfokuskan pada cara pengumpulan berita terstruktur; Edward Jay Epstein membahas mengenai organisasi berita dan proses pengambilan keputusan dalam ruang berita yang berdinamika. Epstein menemukan bahwa hanya ada sedikit perbedaan mengenai bagaimana proses organisasi-organisasi berita dalam bekerja menghasilkan siaran berita televisi nasional dari saluran televisi satu dengan saluran televisi yang lain.

Epstein berpendapat bahwa proses pengambilan keputusan dari sebuah organisasi berita merupakan hal yang klasik dan terjadi dalam konteks yang sama dari tahun ke tahun. Yang sebenarnya disaksikan oleh pemirsa, misalnya pada sebuah berita sore, tidaklah mencerminkan realitas sesungguhnya. Sebab, menurut Epstein, realitas yang ada di lapangan telah dikemas sedemikian rupa berdasarkan tuntutan – tuntutan dari ruang berita juga divisi produksi sehingga menjadi realitas televisi. Menurut Epstein lebih lanjut, hal tersebut terjadi karena tujuan esensial dari televisi bukanlah untuk menginformasikan pada masyarakat namun untuk menyenangkan pemirsa, hal tersebut dimaksudkan untuk menjaga agar pemirsa tetap setia pada saluran yang ditonton.[3]

Sementara Malcolm Warner tentang hasil studi mengenai berita televisi, menemukan adanya kesamaan antara organisasi struktur televisi dan surat kabar. Menurutnya, peran produser eksekutif di televisi mirip dengan peran editor surat kabar. Bahwa kriteria utama yang dilakukan oleh produser eksekutif dalam melakukan identifikasi seleksi berita dan distribusi ruang untuk keseimbangan nilai – nilai politik misalnya, banyak seperti seleksi berita yang terjadi di surat kabar.[4]

Shoemaker dan Reese dalam mendefinisikan organisasi media sebagai entitas sosial formal. Biasanya faktor ekonomi yang menjadi penggerak utama para pekerja media untuk menghasilkan produk pemberitaan. Dalam sebagian besar kasus yang terjadi, menurut Shoemaker dan Reese, tujuan utama dari media adalah untuk menghasilkan profit untuk perusahaan; terutama dengan menargetkan khalayak yang menarik bagi pengiklan. Tekanan ekonomi dapat memberikan pengaruh pada keputusan – keputusan jurnalistik.

Shoemaker dan Reese mendefinisikan rutinitas berita sebagai :

“Those patterned, routinized, repeated practices and forms that media workers use to do their jobs.”[5]

Rutinitas ini dimaknai Shoemaker dan Reese sebagai rutinitas yang diciptakan dalam rangka mengatasi keterbatasan sumber daya dalam organisasi berita dan sejumlah besar informasi mentah yang dapat dibuat menjadi berita. Bahwa dalam aktivitas produksi berita terdapat permasalahan mengenai sumber – sumber daya dan juga banyaknya informasi mentah yang tersedia. Lebih khusus, rutinitas media ini juga ditentukan oleh teknologi, tenggat waktu, ruang, dan norma-norma. Menurut Shoemaker dan Reese :

“The job of these routines is to deliver, within time and space limitations, the most acceptable product to the consumer in the most efficient manner.”

Hal ini dimaknai bahwa tugas rutin yang diberikan pada para pekerja media berbatas waktu dan juga ruang, dan juga memiliki keterikatan dengan aturan – aturan yang diberikan oleh perusahaan selain kode etika jurnalistik.[6]

Dari beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa menurut para peneliti terdapat faktor lain yang mempengaruhi konten berita dan rutinitas media berdasarkan aktivitas pengumpulan berita dan kepemilikan media. Dari hasil beberapa kajian tersebut, para peneliti mengklaim bahwa terjadi fenomena kesengajaan untuk mendistorsi sebuah berita, namun hasil dari aktivitas media tersebut didefinisikan sebagai berita. Bahwa ada unsur – unsur seperti ideologi perusahaan, ekonomi politik media yang memiliki nilai – nilai berpengaruh terhadap sebuah produksi berita. Perbedaan yang diamati antara media dalam hal teknologi, orientasi ekonomi politik, dan rutinitas pengumpulan berita tidak menjadi masalah banyak pada akhirnya.

Perdebatan – perdebatan yang membahas bahwa berita sesungguhnya merupakan hasil pekerja media dan juga aktivitas pengumpulan berita, namun bukan cerminan realitas yang sesungguhnya; juga menjadi inti kajian beberapa artikel yang ditulis oleh Molotch dan Lester 3 tahun berturut – turut, yakni 1973, 1974, dan 1975.[7]

Menurut tulisan Molotch dan Lester yang diterbitkan pada tahun 1973, media tidak terdiri dari reporter yang obyektif melainkan hanyalah sekumpulan pekerja dari sebuah institusi.[8] Tujuan dari media merujuk pada seleksi peristiwa untuk dimasukkan berita dalam bentuk realitas yang diinginkan oleh pihak – pihak tertentu seperti pemilik media, direktur berita, atau juga produser eksekutif. [9]

Tulisan Molotch dan Lester pada 1974 menemukan fakta bahwa aktivitas pengumpulan berita harus dilihat dari perspektif lain seperti “purposive behavior” yang mana dimaknai sebagai adanya kebutuhan mutual antara aktivitas produksi jurnalis yang dilakukan untuk memenuhi kepentingan profesi dan juga integritas jurnalis sebagai karyawan dari sebuah perusahaan.[10]

Sementara pada tulisan Molotch dan Lester di tahun 1975 berpendapat bahwa ketika berita menyimpang dari nilai – nilai obyektif jurnalistik, maka penjelasan yang biasa diterima adalah jurnalislah yang tidak kompeten, adanya interupsi manajemen redaksi, atau pihak – pihak tertentu yang dinilai memiliki kapasitas menuntut secara ekonomi. Hasil dari berita tersebut akhirnya menjadi “bias information.” Namun Molotch dan Lester menyatakan bahwa mereka tidak membuat asumsi terkait adanya “realitas objektif.” Molotch & Lester lebih melihat berita sebagai produk dari proses pembuatan berita, dimana realitasnya bukan lagi realitas yang sesungguhnya.[11]

Tulisan – tulisan Molotch dan Lester; menyebutkan bahwa memaknai rutinitas berita sangat penting dalam rangka memahami bagaimana sesungguhnya sebuah berita televisi diproduksi. Media harus dimengerti dalam bentuk organisasi formal yang menggunakan rutinitas tertentu dalam menyelesaikan pekerjaan di ruang berita, dalam hal ini memproduksi berita televisi.[12]

Hal ini kemudian berpengaruh pada keputusan – keputusan yang dibuat oleh ruang berita dalam sebuah produksi berita. Pada akhirnya, para jurnalis bekerja dengan bahan baku yang sebagian besar telah diberikan kepada mereka oleh ruang berita untuk mengubah kejadian yang dirasakan sesungguhnya –yang  terjadi di lapangan– demi   kepentingan acara – acara publik yang dipublikasi melalui siaran televisi.[13]

Kajian yang dilakukan oleh Molotch and Lester tentang aktivitas rutin media dalam produksi berita televisi memaknai 3 hal penting. Temuan pertama, memaknai bahwa aktivitas rutin tersebut membantu para jurnalis atau pekerja media dalam menciptakan berita. Kedua, kajian tersebut memfokuskan pada adanya peran kekuatan tertentu yang akhirnya menentukan konten berita. Ketiga, bahwa adanya pemisahan antara konstruksi realitas berita dan apa yang disebut pekerja berita sebagai realitas itu sendiri.

Namun tulisan – tulisan Molotch dan Lester ini dimentahkan oleh kajian yang ditulis oleh beberapa peneliti lainnya, yaitu Eliasoph, Benner dan Ryfe. Menurut Nina Eliasoph dalam Tudor & Becker, aktivitas rutin produksi berita televisi sama halnya dengan yang dilakukan oleh media elektronik lainnya, semisal radio. Bahwa rutinitas – rutinitas tersebut dibuat bukan dalam rangka menentukan konten berita namun hanya untuk membuat kerja para jurnalis lebih terstruktur dan lebih teratur.[14]

Senada dengan Eliasoph, Bennett and Ryfe dalam Becker dan Tudor berpendapat bahwa rutinitas yang dilakukan media hanya sebatas ranah organisasional dan peraturan profesional. Fungsi dari “peraturan” merupakan hal yang penting, sebab hal tersebut mengindikasikan sesuatu hal yang tidak dapat diubah – ubah. Menurut Bennett, peraturan – peraturan tersebut menjelaskan konsistensi dari isi berita.[15]

Dari beberapa pendapat di atas, dalam kaitannya dengan aktivitas rutin media dan kebijakan redaksi pada produksi berita televisi; penulis meyakini bahwa :

  1. Aktivitas rutin yang terdapat dalam produksi berita televisi memang dibuat oleh ruang berita dalam rangka mengatur para pekerja media secara struktur.
  2. Di lain pihak, aktivitas rutin dari media sendiri juga memiliki kekuatan dan kapasitas tertentu dalam melakukan seleksi informasi mentah dari berbagai peristiwa yang pada akhirnya memainkan peranan besar dalam menentukan berita – berita yang akan dipublikasikan dalam bentuk siaran ke khalayak luas.
  3. Kekuatan tersebut memiliki berbagai kepentingan yang terintegrasi dalam kebijakan redaksi dan tercermin pada aturan – aturan di ruang berita mengenai produksi berita televisi.

Kepentingan – kepentingan terkait ekonomi dan politik media yang ditengarai sebagai ideologi perusahaan, juga menentukan seleksi berita dan hasil akhir konten – konten berita yang disiarkan ke publik.

[1] Lee B. Becker and Tudor Vlad, News Organizations and Routines  (2009 : 60)

[2] Lee B. Becker and Tudor Vlad, News Organizations and Routines : 2009 : 67

[3] Edward J, Epstein dalam News from Nowhere: Television and the News (2011 : 321)

[4] Malcolm Warner dalam Decision Making  in American TV (1969 : 171)

[5] Shoemaker & Reese dalam Mediating The Message (1996 : 105)

[6] Shoemaker & Reese dalam Mediating The Message (1996 : 108 – 109)

[7] http://www.rasaneh.org/Images/News/AtachFile/30-9-1390/FILE634600594129473750.pdf diakses pada 9 Maret 2016 pada pukul 09.15 WIB

[8] Molotch & Lester, Accidents, Scandals and Routines: Resources for Insurgent Methodology  (1973 : 258)

[9] Molotch & Lester, Accidents, Scandals and Routines: Resources for Insurgent Methodology  (1973 : 259)

[10]Molotch & Lester, News as purpose behavior: On The Strategic Use of Routine Events, Accidents and Scandals (1974 : 104)

[11]   Molotch & Lester, Accidental The Great Oil Spill As Local Occurrence and National Event.(1975 : 235)

[12]  Molotch, H., & Lester, M dalam News as purpose behavior: On the strategic use of Routine Events, Accidents and Scandals mengidentifikasi beberapa aktivitas rutin media sebagai aktivitas mendarah daging yang berpayung pada ‘norma-norma profesional’ dari ‘jurnalisme baik’, yang dimaknai sebagai kode etik jurnalistik. Molotch & Lester mencontohkan bahwa aktivitas rutin media yang harus meliput kejadian dalam radius dekat namun kemudian perhatian mengalami penurunan dari waktu ke waktu. Degradasi fokus pada inti peristiwa terjadi karena konsentrasi yang harus terbagi pada personil berita di kota-kota besar lain yang juga tengah melakukan peliputan peristiwa jarak jauh. (1974 : 105)

[13]   Molotch & Lester dalam Accidental News: The Great Oil Spill As Local Occurrence And National Event      (1975 : 255)

[14]  Becker & Tudor dalam Handbook of Journalism (2009 : 62)

[15]  Becker & Tudor dalam Handbook of Journalism (2009 : 65)

Globalisasi Informasi di Televisi dan Reproduksi Informasi: Kelompok Informasi Masyarakat di Kota Batu Sebagai Bentuk Reproduksi Dalam Sistem Komunikasi Pedesaan

Dalam sebuah tulisannya John Dewey, seorang filsuf Amerika, pernah menyatakan bahwa komunikasi adalah hal yang paling menakjubkan. Dalam pandangannya, masyarakat manusia bertahan karena adanya komunikasi dan terus mengalami perkembangan karena komunikasi juga. Dengan komunikasi, manusia melakukan berbagai penyesuaian diri yang diperlukan dan memenuhi berbagai kebutuhan dan tuntutan yang ada sehingga masyarakat manusia tidak tercerai-berai. Melalui komunikasi pula manusia mempertahankan institusi-institusi sosialnya berikut segenap nilai dan norma perilaku. Bukan sekedar dari hari ke hari. Tapi dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Di setiap masyarakat, mulai dari yang paling primitive  hingga terkompleks, sistem komunikasi menjalankan 4 fungsi. Harold Laswell menjelaskan di antaranya. Seperti penjagaan lingkungan, pengaitan berbagai komponen agar dapat saling menyesuaikan diri dengan lingkungan serta pengalihan warisan sosial. Wilbur Schram menggunakan istilah yang lebih sederhana, sistem komunikasi sebagai penjaga, forum dan guru, kemudian ditambahkan pula fungsi keempat, hiburan.

Setiap masyarakat memiliki sejumlah penjaga yang menyajikan indormasi dan penafsiran atas berbagai peristiwa. Penjaga ini juga memantau kondisi lingkungan dan mendeteksi berbagai ancaman dan masalah, juga berbagai peluang dan dukungan, serta memberitahukan atau menginformasiakn pada masyarakat afar dapat menyesuaikan diri.

Di masyarakat konservatif, penjaga ini adalah sesepuh, yang membimbing dan mengarahkan generasi muda, mesti banyak di antaranya mengeluh bahwa kian tipisnya perhatian generasi muda terhadap tradisi. Di masyarakat modern, jenisnya beragam, termasuk para jurnalis yang meliput berbagai macam informasi beserta perkembangan informasi terkininya.

Dalam menentukan apa yang harus dilakukan untuk menghadapi suatu tantangan, masyarakat menggunakan sistem komunikasi sebagai sebuah ajang diskusi atau forum. Karena perubahan seringkali tak terelakkan, masyarakat harus berembuk sejauh mana perubahan tersebut dapat diterima atau disepakati secara consensus. Dalam masyarakat konservatif atau bisa dikatakan sederhana, keseopakatan dapat dicapai dengan pembicaraan langsung, seang pada masyarakat industry yang kompleks diandalkanlah media massa.

Sistem komunikasi juga dapat merubah kebudayaan. James Carey (2001: 4) dalam tulisannya The Mass Media and Democracy: Between The Modern And Postmodern menyatakan bahwa berbagai media komunikasi yang ada telah mempengaruji asosiasi-asosiasi di antara manusia. Karena pola-pola asosiasi yang tidak bebas maka penerapan control terhadap komunikasi sama dengan penerapan control terhadap kesadaran dan organisasi-organisasi sosialnya.

Sistem komunikasi membawa perubahan ini melalui media, dimana tantangan terhadap hal-hala lama disalurkan. Paradoksnya kemudian adalah, media cenderung mempertahankan status quo, sekaligus juga cenderung untuk menggerusnya sendiri

Sebagai sebuah institusi, sistem komunikasi memiliki kekuatan yang sangat besar. Sistem ini dapat membuat institusi lain lebih kuat atau melemah. Kemampuannya menyebar pesan sekaligus ke berbagai tempat, hingga pelosok pedesaan, menjadikannya sebagai sumber kekuatan terlepas dari informasi ataukah gagasan apa yang disebarkan oleh media. Disini, banyak pihak yang berusaha memanfaatkannya.

Di Indonesia sendiri diyakini pengaruh media massa, terutama televisi sesuai dengan teori jarum hipodermik yaitu bersifat sangat kuat dan langsung kepada masyarakat. Ini disebabkan rendahnya tingakt pendidikan masyarakat Indonesia, yang juga berdampak pada kurangnya minat baca (2006: 92).

Memperbincangkan televisi tak akan ada habisnya. Semua orang menonton televisi, tak ada yang tak menyukainya secara konsumsi informasi maupun hiburan. John Turow menuturkan bahwa kita semua memiliki tontonan favorit di setiap hari kehidupan kita. Bahkan ada kalanya dalam satu hari atau hitungan minggu kita merencakanan apa yang akan kita konsumsi dari televise. Untuk sebagian besar dari kita televise adalah sarana relaksasi yang murah dan menghibur. Dibalik “kotak” tersebut segala seusatunya serba tak terprediksi. Segala ide tentang apa makna televise bagi kita mendarah daging di setiap lini kehidupan (2009:505).

Banyak program-program acara televise yang melekat dalam kehidupan kita. Masing-masing memiliki ruang akses yang besar dalam ruang kehidupan kita. Baik berita resmi maupun tayangan berita yang menghibur. Salah satu program televisi yang paling diperdebatkan misalnya adalah infotainment. Betapa tidak infotainment telah memaksa kita bercinta dengan segala keburukan-keburukan sesama manusia. Tapi, masih juga besar animo masyarakat pada program ini.

Penting bagi kita untuk mengkonsumsi infotainment meski sebagian besar dari kita menyadari konten dari infotainment tidaklah mengedukasi, murni fungsi menghibur. Sebuah penelitian yang dilakukan di kota Klaten dan Sragen menyebutkan bahwa para ibu  di kota tersebut menyadari tentang bahaya infotainment bagi anak-anak dengan tidak membiarkan  anak  menonton  infotainment  sendiri. Para ibu tersebut sebenarnya sadar tentang bahaya tayangan infotainment, namun mereka tetap saja menikmati waktu luang  (leisure  time)  mereka  diisi  dengan  menonton tayangan  infotainment. Mereka intens mengkonsumsi tayangan tersebut (2010:2).

Terpaan program televise tak hanya berimbas di area kota, hal ini juga terjadi pada masyarakat pedesaan. Masyarakat pedesaan dapat dikatakan notabene masyarakat yang hampir tak terdengar feedback-nya dalam sistem komunikasi kita. Pemikiran dan pendapatnya hampir pasti terpinggirkan. Padahal untuk tercapai pada suatu mufakat consensus atas sebuah sikap akan suatu fenomena yang terjadi di media, prosedur dan sistemnya lebih lama dibandingkan masyarakat industry atau modern yang tak pelak terkena terpaan globalisasi informasi seiring berkembangnya teknologi informasi.

Memang untuk beberapa pedesaan di Indonesia telah tersentuh internet dan perkembangan produksi teknologi informasi lainnya. Namun untuk sebagian lainnya masih belum terkena terpaannya dan tetap saja, dalam regulasi di sistem komunikasi kita, minoritas terdengar suaranya. Lalu, bagaimanakah kemudian terjadinya globalisasi informasi melalui televisi ini mempengaruhi dan kemudian terjadi reproduksi informasi oleh masyarakat pedesaan dalam sistem komunikasi Indonesia atau media kita?

Di beberapa desa di Indonesia, misalnya di propinsi Jawa Timur telah terbentuk Kelompok Informasi Masyarakat (KIM). KIM merupakan perkumpulan di masyarakat desa yang memiliki peran strategis dalam upaya menjawab tantangan tersebut, karena KIM sebagai komunitas masyarakat informasi yang tumbuh dan berkembang di tengah – tengah kehidupan masyarakat khususnya di Indonesia merupakan masyarakat sadar informasi yang diharapkan dapat berperan menjadi fasilitator untuk menjembatani kesenjangan komunikasi dan informasi yang terjadi antara pemerintah dengan masyarakat (top down) atau sebaliknya antara masyarakat dan pemerintah (bottom up).

KIM sebagai agen informasi, berperan aktif mendistribusikan informasi yang perlu diketahui oleh masyarakat, sehingga masyarakat dapat melakukan langkah antisipatif yang bermanfataan untuk menopang aktivitas mereka.

Televisi Dan Konsumsi Televisi

Tak hanya infotainment, banyak program televise yang menjadi jenis tayangan televisi yang cukup populer dewasa ini. Tingginya popularitas beberapa program televisi dapat dibuktikan dengan semakin variatifnya program televisi dengan berbagai bentuk dan konsepnya yang menemui pemirsa. Walaupun semakin beragamnya nama tayangan atau program televisi, namun keberagaman nama ini tidak diikuti oleh keberagaman format acara. Anehnya di tengah kualitas tayangan televisi yang begitu-begitu saja, setiap tayangan tetap digandrungi para pemirsa. Pada jam tayangan utama (prime time) yang berkisar pukul enam sore sampai dengan sembilan malam, dimana umumnya di kisaran jam ini program acara memiliki rating tinggi, berbagai program televisi hiburan pun ikut meramaikan kompetisi perebutan rating di kisaran waktu ini.

Graeme Burton dalam bukunya, Memperbincangkan Televisi menjelaskan fenomena ini. Menurut Burton, fenomena tersebut dapat diterminologikan dalam sebuah konsepsi produk dan kesenangan. Semua dapat dimulai dengan ketersediaan dan aksesibilitas penuh terhadap televisi; dengan volume programming yang silih berganti setiap harinya. Pemirsaan digambarkan sebagai sebuah kesenangan. Skala interaksi dan khalayak berbanding lurus dengan taraf kesenangan (2000:116)

Pemirsa dapat begitu mudahnya teralihkan perhatiannya pada acara televisi dan sesegera mungkin mendapat kepuasan. Misalnya kehidupan para selebritis tak memiliki relevansi dengan kehidupan mereka secara literal, namun hal tersebut mempengaruhi dalam konteks mendapat kepuasan ketika mengikuti suatu kasus tertentu pada seorang selebriti. Ada sejumlah penikmat televisi yang menikmati informasi tentang Jokowi atau juga begitu menggilai serial drama tertentu. Baik produk lokal maupun produk negara tetangga, misalnya drama Korea.

John Hartley dalam Burton menyatakan bahwa televisi adalah sebuah usaha kapitalis, alat control sosial sekaligus sumber kesenangan yang populer (2000:117). Jika kita memahami hubungan khalayak dengan televise, kita harus menerima bahwa masyarakat memang menyukai televise. Menurut Burton (2000:118), ada beberapa kesenangan menurut Burton yang dapat diterima oleh khalayak saat menonton televisi:

  • Kesenangan akan pengakuan.

Hingga taraf tertentu ada keakraban yang menyenangkan ketika berbicara tentang televisi. Akan tetapi kesenangan itu adalah kesenangan yang khusus berhubungan dengan familiaritas program atau tokoh yang terkait dengan program tersebut. pengakuan membawa keamanan. Kebiasaan menonton merupakan upaya mendapatkan rasa aman, terlepas dari kesenangan untuk terlibat kembali dengan tokoh yang dianggap menarik. Jenis kesenangan ini berkaitan dengan pengulangan materi dan lain sebagainya.

  • Kesenangan akan refleksi.

Masyarakat suka berbicara tentang televise. Sedikitnya beberapa program telah menjadi pengalaman sosial dan budaya. Materi televise menjadi bagian dari interaksi sosial. Khalayak menikmati kesenangan dalam merefleksi pengalaman pemirsaan mereka, dan dalam mengulang kembali perckaapan, motif-motif, hasil yang dramatis.

  • Kesenangan akan kelanjutan.

Narasi yang tidak selesai, msialnya program yang berseri akan menciptakan sebuah pengertian bahwa senasntiasa ada sesuatu untuk kembali, yang ditunggu. Ada kesenangan dalam melanjutkan, kembali terlibat dalam urusan yang belum usai.

  • Kesenangan akan keterlibatan.

Kesenangan ini membawa khalayak untuk menaruh perhatian kualitas pemirsaan televise yang bersifat aktif. Makna-makna tidak sekedar diserap melalui mata, makna dibangun dalam benak.

  • Kesenangan akan penyelaman.

Hal ini terkait dengan derajat keterlibatan dalam materi. Kesenangan ini memutus hubungan khalayak dengan realitas keseharian. Kesenangan ini mengusir keberadaan realitas lain tanpa tanggung jawab yang menyertai.

  • Kesenangan mengetahui: informasi dan kepuasan.

Kesenangan ini muncul karena keluarbiasaan dan kesenangan yang berasal dari aktualitas. Berbagai jenis kesenangan ini sebagian merupakan konsekuensi dari beragam produk televise, namun berkenaan dengan cara-cara di mana pemirsa merespon produk televisi tersebut.

Menurut Fiske dalam Burton (2002:121), kesenangan merupakan hasil dari hubungan khusus antara makna dan kuasa. Pemirsa merasakan kesenangan saat merasa berada dalam kendali makna yang diperoleh dari materi, saat pemirsa merasa bahaw mereka menentang struktur dominasi yang ada dalam teks televise.

Roland Barthes dalam Burton (2000:122) membedakan dua jenis kesenangan terkait fenomena tersebut. yang pertama disebut dengan jouissance, semacam kesenangan mendalam namun spontan dan terkait dengan emosi. Kedua, plaisir, kesenangan yang dirasionalisasi. Sementara Bordieu berpandangan bahwa melalui televise, khalayak mendapat kesenangan akan sebuah pemahaman tentang identitas, harga diri, pengelompokan, meski terdapat fakta bahwa sistem dominan memberi tempat bagi minat mereka yang subordinat, yang kurang berkuasa. Menurutnya, kesenangan semacam ini membuat pemirsa maerasa kuat. Perasaan kuat menambah resistensi terhadap mereka yang ingin “mempertahankan agar anda tetap pada posisi anda”.

Khalayak Televisi Untuk Program Televisi

Dalam penelitian terkait tentang tayangan televisi yang khusus mengkaji persoalan infotainment dan audience yang dilakukan oleh Fajar Djunaedi (2010) mengutip kajian yang dilakukan oleh Frank Biocca dalam artikelnya yang berjudul  ”Opposing Conceptions  of  the Audience  :  The  Active  and  Passive  Hemispheres  of  Communication Theory”, dijelaskan beberapa kategori khalayak:

  • Pertama adalah  selektifitas  (selectivity).  Khalayak  aktif dianggap selektif  dalam proses  konsumsi  media yang mereka pilih  untuk  digunakan.  Mereka  tidak  asal-asalan  dalam mengkonsumsi  media,  namun  didasari  alasan  dan  tujuan

tertentu.

  • Kedua adalah  utilitarianisme (utilitarianism) di mana khalayak aktif dikatakan mengkonsumsi media  dalam  rangka  suatu  kepentingan  untuk  memenuhi kebutuhan dan tujuan tertentu yang mereka miliki.
  • Karakteristik  yang  ketiga adalah  intensionalitas (intentionality),  yang mengandung makna  penggunaan  secara sengaja  dari  isi  media.
  • Karakteristik  yang  keempat adalah keikutsertaan (involvement),  atau usaha.  Maksudnya khalayak secara  aktif  berfikir  mengenai  alasan  mereka  dalam mengkonsumsi  media.
  • Yang  kelima,  khalayak  aktif  dipercaya sebagai  komunitas  yang  tahan  dalam menghadapi  pengaruh media (impervious to influence), atau tidak mudah dibujuk oleh media itu sendiri.

Masyarakat Pedesaan dan Komunikasinya

Masyarakat pedesaan merupakan bentuk masyarakat dengan kepemilikan ikatan perasaan batin yang kuat. Ciri-ciri masyarakat pedesaan antara lain adalah sebagai berikut :

1. Di dalam masyarakat pedesaan diantara warganya mempunyai hubungan yang lebih mendalam dan erat bila dibandingkan dengan masyarakat pedesaan lainnya di luar batas-batas wilayahnya.

2. Sistem kehidupan umumnya berkelompok dengan dasar kekeluargaan ( Gemeinschaft atau paguyuban )

3. Sebagian besar warga masyarakat pedesaan hidup dari pertanian. Pekerjaan-pekerjaan yang bukan pertanian merupakan pekerjaan sambilan (part tim ) yang biasanya sebagai pengisi waktu luang.

4. Masyarakat tersebut homogen, seperti dalam hal mata pencaharian, agama, adapt istiadat dan sebagainya.

Karena sebagian besar masyarakat mempunyai kepentingan pokok yang hampir sama untuk mencapai kepentingan-kepentingan mereka. Seperti pada waktu mendirikan rumah, upacara pesta perkawinan, memperbaiki jalan desa, membuat saluran air dan sebagainya, dalam hal-hal tersebut mereka akan selalu bekerjasama. Bentuk kerjasama dalam masyarakat itu disebut dengan istilah gotong royong dan tolong menolong.

Bentuk komunikasi di pedesaan lebih cenderung kepada komunikasi antar personal. Yaitu proses pertukaran informasi di antara seseorang dengan paling kurang seorang lainnya atau biasanya diantara dua orang yang dapat langsung diketahui balikannya. Dengan bertambahnya orang yang terlibat dalam komunikasi, menjadi bertambahlah persepsi orang dalam kejadian komunikasi sehingga bertambah komplekslah komunikasi tersebut

Ciri khas dalam hubungan komunikasi masyarakat pedesaan lebih banyak menggunakan komunikasi antarpribadi karena masyarakat pedesaan belum begitu percaya terhadap media massa. Artinya, masyarakat lebih percaya terhadap informasi yang di sampaikan oleh seseorang yang patut di percaya. Disinilah peran opinion leader berbicara.

Dengan proses komunikasi antarpersonal yang terjadi di pedesaan yang biasa di sebut dengan istilah “gethok tular” artinya pesan komunikasi tersebut disampaikan secara lisan melalui satu orang kepada orang yang lainnya. Dengan demikian, proses komunikasi melalui lisan atau antar persona akan cepat berubah apabila pembaharuan cepat diterima oleh masyarakat desa tetapi bukan berarti masyarakat desa tidak berhak dalam mengkonsumsi teknologi dalam semakin majunya perkembangn zaman seperti sekarang ini.

Perkembangan tekonologi komunikasi dan informasi dewasa ini telah berkembang dengan sangat cepat. Hal ini berimbas pada adanya globalisasi informasi yang menerpa khalayak televisi. Mayoritas masyarakat yang tinggal di daerah pedesaan memerlukan upaya-upaya dan program-program untuk meningkatkan kualitas pembangunan agar tidak semakin tertinggal dengan masyarakat perkotaan. Maka untuk hal ini dibutuhkanlah media. Meski penerimaan masyarakat desa rendah akan media massa,, namun tak bisa dinafikan terpaan dari televisi telah menggantikan beberapa peranan komunikasi antar personal, termasuk peranan opinion leader.

Globalisasi Informasi di Televisi

Globalisasi media massa berawal pada kemajuan teknologi komunikasi dan informasi sejak 1970-an. Dalam masa itulah masyarakat mulai mengenal istilah-istilah populer seperti era informasi atau pun era satelit. Hal ini dilatarbelakangi oleh arus informasi yang semakin meluas ke seluruh dunia, globalisasi informasi dan media massa pun menciptakan keseragaman pemberitaan maupun preferensi acara liputan. Pada akhirnya, sistem media masing-masing negara cenderung seragam dalam hal menentukan kejadian yang dipandang penting untuk diliput. Peristiwa yang terjadi dalam suatu negara, akan segera mempengaruhi perkembangan masyarakat di negara lain. Atau dengan kata lain, menurut istilah John Naisbit dan Patricia Aburdene dalam bukunya  Megatrend 2000 pada tahun 1991, dunia kini telah menjadi ”global village” (Kuswandi 1996).

Akan tetapi ternyata di sisi lain, globalisasi informasi dan komunikasi tidaklah sepenuhnya membawa keuntungan bagi semua orang, masyarakat atau sebuah bangsa. Pengetahuan dan preferensi yang cenderung seragam terhadap informasi yang berasal dari barat justru dapat menumbuhkan kesenjangan internasional dalam berbagai bidang.

Dalam globalisasi media massa dan informasi, dunia menyaksikan peranan telekomunikasi serta media elektronik yang luar biasa. Dunia kian menjadi kosmopolitan dan manusia saling mempengaruhi dalam hal perilaku (1996). Arus globalisasi itu tidak berdiri sendiri, tetapi ditemani oleh perdagangan (globalisasi pasar) serta perjalanan dengan transportasi yang cepat.Memang membahas mengenai globalisasi media juga tidak terlepas dari kepentingan kapitalisme di dalamnya.

Beberapa akibat yang dapat terjadi kemudian adalah fenomena dehumanisasi dan alienasi. Itulah dampak yang mungkin timbul sebagai konsekuensi dari globalisasi media massa dan informasi. Akibat yang lebih jauh lagi adalah sulitnya mengendalikan arus nilai-nilai kosmopolit (asing) di suatu negara, khususnya pada negara-negara berkembang seperti halnya Indonesia. Meskipun globalisasi informasi dan media massa tidak lagi terlalu relevan untuk dipersoalkan dari sudut isu ketimpangan arus informasi dan komunikasi dunia internasional, tetapi muncul masalah lain yaitu siapakah yang mengontrol nilai budaya apa yang dominant dalam globalisasi media itu.

Segala perubahan yang terjadi dalam penjelasan di atas tidak terlepas dari revolusi industri dan masa setelahnya yang penuh kemajuan di bidang teknologi. Seperti pula yang telah dijelaskan oleh Alfin Toffler mengenai gelombang ke-tiga. Selain itu juga masyarakat pascaindustri oleh Daniel Bell yang diantaranya adalah; komunikasi dan pemrosesan data, penerbangan dan angkasa luar, energi alternatif dan dapat diperbaharui, teknologi biologi dan teknologi genetik (1996).

Banyak sekali memang pendapat para tokoh komunikasi mengenai fenomena kemajuan teknologi komunikasi dan informasi ini, begitu pula dampak serta akibat yang dihasilkannya. Dennis McQuail, dalam bukunya Mass Communication Theory menyatakan bahwa batasan public tentang media lebih banyak dibentuk oleh media itu sendiri secara langsung (2010). Adapun kondisi sosial budaya serta ciri-ciri intrinsik berbagai teknologi pun juga turut menyertainya. Setiap media cenderung mempunyai tempat dalam citra massa, serangkaian asosiasi dan harapan menyangkut fungsi dan kegunaannya.

Secara tidak langsung, globalisasi informasi serta komunikasi massa yang berhubungan dengan perangkat-perangkat teknologi tinggi akan membudaya dan tersosialisasi dalam kehidupan masyarakat yang lama kelamaan berkembang menuju tingkat kemajuan pengetahuan teknologi industrialisasi, khususnya proses interaksi antar manusia dalam berbagai isi pesan yang semakin universal.

ANALISA KASUS DENGAN TEORI TERKAIT PERSPEKTIF SISTEM & AKTOR

Pada masyarakat pedesaan dimana sebagian besar mereka adalah masyarakat tradisional, sudah sangat akrab dengan media rakyat. Namun masyarakat pedesaan saat ini begitu terikat dengan televisi. Di sebuah desa di Cepu (berdasar pengamatan pribadi penulis setiap hari lebaran), peran televisi mampu menggantikan keinginan untuk saling bersilaturahmi antar masyarakatnya yang dulu begitu melekat dengan tipikal masyarakat ini. Ketika sedang mengkonsumsi tayangan televisi, maka ketika membicarakan perihal program televisi terkait, kedekatan atau proximity yang baru dengan anggota masyarakat yang lain pun tercipta.

Tulisan ini mencoba menghubungkan realitas terpaan globalisasi informasi melalui televise di masyarakat pedesaan dengan teori strukturasi milik Anthony Giddens. Yang menjadi titik beratnya adalah dualitas struktur dan bagaimana informasi dari media massa tersebut dapat direproduksi oleh masyarakat pedesaan, meski, kecil kemungkinannya reproduksi informasi tersebut untukl didengar hingga di kalangan atas.

Beberapa pandangan tentang Giddens telah seringkali dianalisa dan digunakan oleh penulis lain untuk menjelaskan fenomena tentang televisi. Gauntlett misalnya, (2002) menjelaskan fenomena media massa dengan pemikiran Giddens untuk menelaah interaksi identitas dan media melalui telaahnya atas modernisasi. Juga melalui telaah Giddens atas tubuh, keagenan, dan identitas. Pemikiran Giddens sangat dekat dengan fenomena industri media dan komunikasi organisasi.

Menurut Giddens, misalnya dalam kajian media, kita dapat melihat wartawan sebagai agen, kemudian pola kerja, prosedur, dan yang berkaitan dengan konteks produksi pesan lainnya adalah struktur. Berita yang diproduksi tersebut selalu berkaitan dengan kecakapan wartawan, ketentuan prosedur di dalam profesi pencari berita, dan strategi organisasi media di mana wartawan tersebut bekerja. Proses produksi berita tersebut juga ada di dalam “struktur” lain yang lebih besar, semisal norma yang berlaku di dalam masyarakat, dan juga “sistem” bila struktur tersebut sudah relatif stabil

Bagaimanakah strukturasi Giddens menjelaskan tentang globalisasi informasi melalui televisi pada masyarakat desa? Komunikasi elektronis yang cepat dan langsung bukanlah sekedar cara untuk menyampaikan berita atau informasi dengan lebih cepat, keberadaannya dapat mengubah setiap relung kehidupan manusia. Globalisasi bukan hanya sekedar soal apa yang terjadi diluar sana, ia juga merupakan fenomena di sini, yang mempengaruhi aspek – aspek kehidupan yang intim dan pribadi. Ini adalah revolusi global yang konsekuensinya dirasakan diseluruh dunia, dari wilayah keerja hingga wilayah politik

Perubahan – perubahan yang terjadi menciptakan sesuatu yang disebut dengan masyarakat cosmopolitan global, yang tidak tenang atau terjamin, namun penuh dengan kegelisahan, serta ditandai dengan jurang pemisah yang dalam. Ketidakberdayaan ini bukanlah disebabkan secara alamiah akan tetapi merefleksikan ketidak mampuan lembaga-lembaga kita.

Hal yang penting dalam teori strukturasi Giddens dalam penulisan ini adalah mengenai konsep dualitas struktur. Dimana struktur bukan hanya menghambat melainkan juga memberdayakan sehingga aktor individu ditentukan oleh sejumlah kekuatan sosial yang ada diluar diri mereka sebagai obyek individu.sedangkan struktur sosial tersebut memberdayakan subyek untuk bertindak.

Sebelumnya perlu kita uraikan dulu bagaimana sebuah sistem komunikasi di pedesaan dengan formula Lasswell; who says what to whom through which channel with what effect. Who di sini merupakan media massa, what merupakan bentuk informasi yang dikonsumsi, whom merupakan masyarakat desa, channelnya adalah televisi, dengan efek adanya perubahan kultur sosial budaya di pedesaan karena adanya program-program televisi yang dipilih oleh masyarakat desa.

Sebelum media massa menyerbu pedesaan, opinion leader dan kelompok-kelompok kecil sangatlah berperan dalam sistem komunikasi pedesaan. Namun sejak masuknya televisi, peran opinion leader mulai terminimalisasikan dan termajinalisasi. Bukan hilang sama sekali. Karena untuk beberapa desa, hal ini masih termasuk kasuistik. Sebab masih banyak juga masyarakat desa yang tak begitu diterpa oleh media massa.

Dalam teori strukturasi, Giddens menyatakan bahwa kehidupan sosial tidak semata-mata ditentukan oleh kekuatan-kekuatan sosial. Antara agen dan struktur sosial berhubungan satu sama lain. Tindakan yang berulang-ulang (repetisi) dari agen-agen individual yang mereproduksi struktur tersebut. tindakan sehari-hari seseorang memperkuat dan mereproduksi seperangkat ekspektasi. Perangkat ekspektasi inilah yang kemudian membentuk kekuatan sosial dan struktur sosial. Sehingga terdapat struktur sosial seperti tradisi, institusi aturan moral, serta cara-cara untuk melakukan sesuatu. Sehinga juga, bahwa semau struktur dapat diubah ketika orang mulai mengabaikan, menggantikan dan mereproduksinya dengan secara berbeda.

Dualitas pada struktur, yakni, struktur sebagai medium sekaligus sebagai hasil dari tindakan-tindakan agen secara berulang. Sehingga perubahannya tidak berada di luar tindakan, namun sangat terkait dengan produksi dan reproduksi tindakan-tindakan tersebut. Struktur dan agen, beserta tindakan-tindakannya tidak dapat dipahami secara terpisah, pada tingkatan dasar, misalnya, orang menciptakan masyarakat, namun pada saat yang sama orang juga dibatasi oleh masyarakat.

Struktur diciptakan, dipertahankan melalui tindakan-tindakan agen. Sedangkan tindakan-tindakan itu sendiri diberi bentuk yang bermakna hanya melalui kerangka struktur. Jalur kausalitas ini berlangsung ke dua arah timbal balik, sehingga tidak memungkinkan untuk menentukan apa yang mengubah apa. Struktur, dengan demikian memiliki sifat membatasi sekaligus membuka kemungkinan bagi tindakan agen.

Seperti telah dituliskan sebelumnya, masyarakat pedesaan menerapkan sistem komunikasi antarpersonal dalam kehidupan sehari-harinya. Sistem gethok tular sangatlah melekat. Namun media massa menyatakan dan menginformasikan secara berbeda. Bahwa komunikasi dapat dilakukan tanpa tatap muka atau hanya dapat disampaikan pada dan tersampaikan oleh opinion-opinio leader. Melalui tayangan-tayangan berita yang mengedepankan konsep streaming atau katakanlah Metro TV dengan program berita yang memiliki fitur “suara anda”, dimana masyarakat dapat langsung memberikan feedback akan segala sesuatu yang tengah terjadi melalui teknologi informasi.

Di kota Batu, di mana sebagian masyarakatnya memiliki perkebunan sebagai pemasukan utama, selain bertani dan berdagang terdapat KIM, Kelompok Informasi Masyarakat. Anggota KIM sendiri, sebagian besar bertani dan berdagang. Melalui kelompok ini, feedback masyarakat tentang tayangan televise lokal, Batu TV atau Televisi lokal lainnya yang ditonotn oleh masyarakat dapat terdistribusikan ke divisi di pemerintahan daerah.

Sistem yang berubah adalah, sebelum berdirinya KIM, masyarakat berusaha menyalurkannya ke kepala dusun, kepala desa atau opinion leader setempat. Atau bahkan perihal protes akan tayangan televise lokal diperbincangkan di paguyuban-paguyuban atau perkumpulan kelompok informal. Namun berakhir dengan menguap begitu saja.

Hal ini mengalami perubahan ketika terjadi pelaksanaan kuliah kerja nyata oleh mahasiswa dari beberapa perguruan tinggi di Malang di desa Batu. Sebagian menjelaskan tentang penting dan bahayanya televisi, bahkan memberikan pelatihan blog, sebagai produk dari teknologi informasi, dan bagaimana kemudian hal-hal tersebut dapat membawa opini mereka naik ke jenjang yang lebih tinggi.

Beberapa ketua paguyuban akhirnya melakukan rembug desa dan dalam proses yang cukup lama akhirnya berdirilah KIM. Dengan terbentuknya KIM, otomatis prosedur dan berjalannya sistem komunikasi mengalami perubahan. Opinion leader bukan lagi perorangan namun menjadi kelompok. Mereka yang dituakan tak lagi dijadikan sebagai ujung tombak komunikasi dalam menyampaikan dan tersampaikannya suatu informasi.

Walau sebagian besar dari anggota KIM belum memahami konten televisi secara konteks komunikasi, akhirnya protes dari masyarakat tentang konten televisi lokal dapat terinformasikan pada pemerintahan daerah. Meski, menurut salah satu anggota KIM yang pernah ditemui penulis sebelumnya, masih belum terjadi perubahan dalam konten-konten program tayangan televisi lokal, khususnya Batu TV.

KIM disini dapat dikatakan sebagai bentuk reproduksi dari adanya tindakan-tindakan agen secara individual yang kemudian membawa perubahan pada sistem. Meski secara garis besar tidak dapat dikatakan berhasil, karena protes dari masyarakat hanya ditampung dan tidak mendapat aksi yang diharapkan dari pemerintah daerah setempat terkait konten program-program televisi lokal.

LITERATUR

SUMBER BUKU

Burton, Graeme. 2000. Memperbincangkan Televisi. Jalasutra: Yogyakarta

Carey, James. 1993. Mass Media and Democracy. Journal of International Affairs 47:1-21. The Trustees of Colombia University Press: New York

Curran, James. 2011. Media and Democracy. Routledge: New York

Fiske, John. 1997. Television Culture. Rotledge: London

Gauntlet, David. 2002. Media, gender and Identity. Routledge: New York.

Griffin, Emory A. 2003. A First Look At Communication Theory, 5th Edition. McGraw-Hill: New York.

Inglis, Fred. 1990. Media Theory : An Introduction. Basil Blackwell Ltd: Massachusset.

Kuswandi, Wawan, 1996.  Komunikasi Massa Media Televisi: Sebuah Analisis Isi Pesan Media Televisi. Rineka Cipta: Jakarta.

Little John, Stephen W, Foss, Karen. A, 2009 , Encyclopedia of Communication Theory, Sage Publications : Singapore

McQuail, Dennis. 2010. McQuail’s Mass Communication Theory. 6th Ed. Sage Publications: Singapore

Rivers, William L. 2003. Mass Media and Modern Society. Prenada Media: Jakarta.

Straubhaar, Joseph, LaRose, 2002, Media Now: Communications Media in The Information Age, Wadsworth Publisher: USA.

Syahputra, Iswandi 2006, Jurnalistik Infotainment : Kancah Baru Jurnalistik Dalam Industri Televisi, Cet. 1, Pilar Media: Yogyakarta.

Turow, Joseph. 2009. Media Today : An Introduction to Mass Communication. 3rd Edition. Routledge: New York

 

SUMBER NON BUKU :

 

PENELITIAN TERKAIT:

  • Banalitas Informasi Dalam Jurnalisme Infotainment Di Media Televisi Dan Dampaknya Terhadap Penonton Infotainment. 2010. Tri Hastuti Nur Dan Fajar Junaedi. UMY: Yogyakarta

Sejarah Film Dokumenter Dan Implikasinya Pada Perkembangan Film Serta Festival Dokumenter Di Indonesia

Secara tradisional, konsepsi media ditujukan pada satu hingga banyak komunikasi yang terakomodir melalu channel elektronik ataupun mekanik, yang menunda feedback dari audience, dan mencapai semua anggota khalayak massa pada waktu yang bersamaan.

Konsepsi tersebut biasanya tertuju pada jenis media selayaknya cetak, radio, televisi, dan film yang dulunya akrab kita sebut dengan media namun saat ini disebut dengan ‘old media’. Bertahun-tahun kemudian, media yang lebih baru seperti televisi kabel dan TV satelit ditambahkan pada kategori tersebut.

Pada perkembangannya kemudian, media digital baru, dalam hal ini, internet, perlu untuk dimasukkan dan melengkapi konsepsi sebuah media massa. Kondisinya adalah kemudian media baru ini mengaburkan perbedaan antara channel yang digunakan dan antara mana yang bersifat massa dan bersifat antarpersonal.

Jadi kemudian, bagaimanakah kita sampai pada sebuah terminology yang dapat menjelaskan secara gamblang konsepsi media massa? Maka kita memerlukan paying terminology baru untuk mengkonstruksi sebuah definisi baru. Media komunikasi merupakan media yang termediasi antara elektronik (radio, TV) atau channel mekanik (Koran, majalah). Definisi ini termasuk new media dan juga old media, baik elektronik maupun cetak, dan komunikasi media massa maupun media antarpersonal.

Meski telah terjadi konvergensi media, namun media lama atau biasa disebut dengan old media masih memiliki penikmat dan pangsa pasar tersendiri, baik Koran, radio, film maupun televisi.  Media film misalnya, merupakan media yang tak tergerus oleh masa meski saat ini internet merupakan pilihan media yang paling digemari. Justru dengan keberadaan internet memudahkan adanya promosi dan lebih mendekatkan media-media lain pada masyarakat untuk dikonsumsi meski kemudian menggunakan internet sebagai salurannya.

Perkembangan film di Indonesia sendiri pasca film Ada Apa Dengan Cinta makin mengalami titik terangnya. Semakin banyak film dengan idealism kritis namun banyak juga yang hanya memiliki konten menghibur, diproduksi oleh para sineas di Indonesia Namun bagaimanakah dengan film dokumenter?

Seperti diketahui film documenter bukan merupakan mainstream populer yang sering dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia pada umumnya. Metro TV menggiatkan kembali nafas film dokumenter, yang dalam sejarahnya merupakan jenis film pertama di dunia pasca kategori film bisu, melalui kompetisi Eagle Awards 2009 yang masih digelar hingga saat ini.

Keunikan yang dimiliki film dokumenter adalah tuntutan untuk memberikan sudut pandang yang unik terhadap sebuah fakta peristiwa dan menyampaikannya dengan kreatif. Film dokumenter yang baik harus mampu meyakinkan penontonnya agar setuju atau setidaknya berpikir terhadap sebuah fakta yang ditampilkan. Metro TV melalui program Eagle Awards memberikan sebuah media bagi anak-anak muda yang kreatif untuk kritis terhadap sebuah fakta peristiwa, terhadap sebuah masalah yang sedang terjadi di dalam masyarakat luas agar menjadi sebuah inspirasi perubahan.

Sinergisitas antara Eagle Awards dan anak-anak muda menghasilkan cerita inspiratif dari berbagai sudut pandang yang unik dan tegas. Melalui Eagle Awards anak-anak muda diajak untuk peduli dan kritis terhadap keadaan disekitar mereka dan menjadikan mereka para sutradara documenter Indonesia. Dan melalui pemikiran anak-anak muda, Eagle Awards mencoba mengajak masyarakat untuk melihat berbagai potensi bangsa Indonesia yang ada dibalik banyaknya permasalahan yang sedang dihadapi

Festival lain yang diadakan untuk para sineas dokumenter adalah FFD (Festival Film Dokumenter), yang telah diadakan sejak 2002 di Yogyakarta. Festival Film Dokumenter (FFD) Yogyakarta adalah festival film pertama di Indonesia dan di Asia Tenggara, yang khusus menangani film dokumenter. FFD dilaksanakan secara rutin setiap tahun di bulan Desember berturut-turut semenjak tahun 2002.

Festival Film Dokumenter (FFD) 2012 merupakan penyelenggaraan yang ke-11, masih tetap dengan visi untuk terus memberi ruang bagi aktivitas penciptaan, apresiasi dan sosialisasi, juga pendidikan di bidang film dokumenter dalam arti yang seluas-luasnya. Berangkat dari semangat berkarya, dibimbing dengan nilai-nilai gotong royong, dipandu oleh harapan untuk terwujudnya kehidupan seni, budaya dan kreativitas yang lebih baik, FFD 2012 dilaksanakan dengan program: Kompetisi Film Dokumenter Indonesia, Perspektif, Spektrum, School Docs, SEA Doc (Dokumenter Asia Tenggara),Master Class, Diskusi serta program-program pendukung lainnya.

Sejarah Film

            Dari sekian jenis media massa yang ada, film merupakan salah satu media yang  memberikan kontribusi besar dalam memberikan pengaruh terhadap bagaimana kita menjalani hidup. Sejarah film adalah lebih dari sekadar objek film saja. Kita dapat mengetahui bagaimana film dibuat dan diterima masayarakat. Kita akan memiliki kemampuan untuk membedakan tingkatan pilihan yang ada bagi pembuat atau penikmat film. Dengan mempelajari kebudayaan dan implikasi sosial dari eksistensi film, maka kita akan mampu melacak jejak isu-isu yang berimplikasi pada kehidupan masyarakat sesuai zamannya.

Karena film lama dalam pembuatannya sangat jauh berbeda dengan situasi dan kondisi yang kita alami sekarang. Maka sejarah film lebih mengacu pada masalah narasi besar tentang fakta yang terjadi pada jaman dahulu ditambah dengan bukti-bukti yang tersisa. Sejarah film menerangkan tentang perbedaan perspektif bagaimana film tersebut dibuat, dan perbedaan daya tarik dan tujuan dari film itu sendiri.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, film dapat diartikan dalam dua pengertian. Yang pertama, film merupakan sebuah selaput tipis berbahan seluloid yang digunakan untuk menyimpan gambar negatif dari sebuah objek. Yang kedua, film diartikan sebagai lakon atau gambar hidup. Dalam konteks khusus, film diartikan sebagai lakon hidup atau gambar gerak yang biasanya juga disimpan dalam media seluloid tipis dalam bentuk gambar negatif. Meskipun kini film bukan hanya dapat disimpan dalam media selaput seluloid saja. Film dapat juga disimpan dan diputar kembali dalam media digital.

Tahun-tahun awal pada produksi film ditandai dengan eksperimen pada konten dan bentuk, inovasi teknologi dan tantangan utamanya adalah pergerakan gambar pada film. Pada abad ke 19 terlihat perkembangan yang pesat dari bentuk visual sebagai budaya populer. Industri banyak memproduksi lentera bergerak/ diorama, buku kumpulan fotofoto, dan ilustrasi fiktif. Pada masa itu pula berkembang jenis hiburan yang dapat dinikmati secara visual. Sirkus, “freak shows”, taman hiburan, dan pagelaran musik seringkali berkeliling dari kota ke kota sebagai tontonan yang terbilang murah. Produksi dan biaya perjalanan yang tinggi tidak seimbang secara ekonomis.

Menurut Chris Newbold dalam Media Book (2002:101) film terlebih dulu disebut dengan terminology ‘moving image’. Istilah ‘moving image’ digunakan untuk memaknai segala sesuatu yang secara mekanik, teknologi dan elektronik dalam memproduksi gambar secara aktif dan ditonton oleh khalayak dan termediasikan melalui film, televise, video maupun layar komputer. Menurut Chris, film terdiri dari beberapa elemen penting, yakni kamera dan pergerakannya, editing, lighting, sound, serta special effects (2002:110).

Untuk kepentingan ‘moving images’ dibuat sebuah mainan bergerak semacam diorama yang memproyeksikan bayangan sebuah gambar. Lalu berkembanglah alat-alat lain yang menjadi prinsip dasar sebuah bioskop kelak. Antara lain:

  • Pada 1832 Fisikawan Belgia Joseph Plateau dan profesor geometri Austria Simon Stampfer menemukan Phenakistoscope. Lalu setelah itu ditemukan juga Zoetrope.
  • 1833. Prinsip yang sama dari kedua mainan ini yang nantinya digunakan pada film.
  • Kemampuan fotografi yang bisa mencetak gambar pada bidang datar juga diperlukan dalam perkembangan sejarah film. Foto tersebut dicetak pada lempeng kaca oleh Claude Niépce di tahun 1826. Lalu diproyeksikan per lempeng untuk setiap gerakan. Proses ini memakan waktu beberapa menit setiap frame-nya.
  • Henry Fox Talbot memperkenalkan negatif terbuat dari kertas (2003:16).
  • Selanjutnya George Eastman di tahun 1888, menemukan stil kamera yang mampu
  • menghasilkan foto diatas rol kertas halus dan sensitif/sensitized. Kamera ini dinamai Kodak, fotografi sederhana hingga orang awam pun mampu menggunakan kamera ini.
  • Tahun berikutnya Eastman menemukan rol film seluloid yang transparan untuk stil

kamera. – Pada tahap akhirnya dikembangkan pula mesin proyeksi intermiten yang

mengkoordinasikan pergerakan rol selulosa dan mengatur cahaya.

  • Tahun 1988 Thomas Edison dan asistennya, William Kennedy menemukan kamera pertama yang berfungsi menangkap gambar, ‘the kinetograph’. Edison juga menemukan proyektor kinetoskop pada 1892. Lumiere bersaudara dari Prancis yang kemudian menemukan gagasan untuk memproyeksikan gambar film pada layar (2002:193).
  • Edison mengembangkan Phonograf buatannya untuk dapat mendengarkan rekaman suara berbarengan dengan putaran rol selulosa. Mendengarkan phonograf ini menggunakan alat bantu earphone.
  • Pada tahun 1890-an berdasarkan kondisi teknis bioskop resmi ada.

Pada abad ke 19 terlihat perkembangan yang pesat dari bentuk visual sebagai budaya populer. Industri banyak memproduksi lentera bergerak/ diorama, buku kumpulan fotofoto, dan ilustrasi fiktif. Pada masa itu pula berkembang jenis hiburan yang dapat dinikmati secara visual. Sirkus, “freak shows”, taman hiburan, dan pagelaran musik seringkali berkeliling dari kota ke kota sebagai tontonan yang terbilang murah. Produksi dan biaya perjalanan yang tinggi tidak seimbang secara ekonomis.

Bioskop muncul sebagai suatu alternatif hiburan yang mudah, dengan cara yang lebih sederhana dalam menyajikan hiburan diantara masyarakat luas. Bioskop awalnya ditemukan. pada tahun 1890-an. Muncul pada masa revolusi industri sama halnya seperti masa kemunculan telepon, phonograph, dan automobil. Bioskop menjadi piranti teknologi yang menjadi basis industri yang lebih besar lagi (2003:7)

Sejarah Film Dokumenter

Film dokumenter tidak seperti halnya film fiksi, merupakan sebuah rekaman peristiwa yang diambil dari kejadian yang nyata atau sungguh-sungguh terjadi. Definisi “dokumenter” sendiri selalu berubah sejalan dengan perkembangan film dokumenter dari masa ke masa. Sejak era film bisu, film dokumenter berkembang dari bentuk yang sederhana menjadi semakin kompleks dengan jenis dan fungsi yang semakin bervariasi. Inovasi teknologi kamera dan suara memiliki peran penting bagi perkembangan film dokumenter. Sejak awalnya film dokumenter hanya mengacu pada produksi yang menggunakan format film (seluloid) namun selanjutnya berkembang hingga kini menggunakan format video (digital).

Sejak awal ditemukannya sinema, para pembuat film di Amerika dan Perancis telah mencoba mendokumentasikan apa saja yang ada di sekeliling mereka dengan alat hasil temuan mereka. Seperti Lumiere Bersaudara, mereka merekam peristiwa sehari-hari yang terjadi di sekitar mereka, seperti para buruh yang meninggalkan pabrik, kereta api yang masuk stasiun, buruh bangunan yang bekerja, dan lain sebagainya. Bentuknya masih sangat sederhana (hanya satu shot) dan durasinya pun hanya beberapa detik saja. Film-film ini lebih sering diistilahkan “actuality films”. Beberapa dekade kemudian sejalan dengan penyempurnaan teknologi kamera berkembang menjadi film dokumentasi perjalanan atau ekspedisi, sepertiSouth (1919) yang mengisahkan kegagalan sebuah ekspedisi ke Antartika.

Tonggak awal munculnya film dokumenter secara resmi yang banyak diakui oleh sejarawan adalah film Nanook of the North (1922) karya Robert Flaherty. Filmnya menggambarkan kehidupan seorang Eskimo bernama Nanook di wilayah Kutub Utara. Flaherty menghabiskan waktu hingga enam belas bulan lamanya untuk merekam aktifitas keseharian Nanook beserta istri dan putranya, seperti berburu, makan, tidur, dan sebagainya. Sukses komersil Nanook membawa Flaherty melakukan ekspedisi ke wilayah Samoa untuk memproduksi film dokumenter sejenis berjudul Moana (1926). Walau tidak sesukses Nanook namun melalui film inilah pertama kalinya dikenal istilah “documentary”, melalui ulasan John Grierson di surat kabar New York Sun. Oleh karena peran pentingnya bagi awal perkembangan film dokumenter, para sejarawan sering kali menobatkan Flaherty sebagai “Bapak Film Dokumenter”.

Sukses Nanook juga menginspirasi sineas-produser Merian C. Cooper dan Ernest B. Schoedsack untuk memproduksi film dokumenter penting, Grass: A Nation’s Battle for Life (1925) yang menggambarkan sekelompok suku lokal yang tengah bermigrasi di wilayah Persia. Kemudian berlanjut dengan Chang: A Drama of the Wilderness (1927) sebuah film dokumenter perjalanan yang mengambil lokasi di pedalaman hutan Siam (Thailand). Eksotisme film-film tersebut kelak sangat mempengaruhi produksi film (fiksi) fenomenal produksi Cooper, yaitu King Kong (1933). Di Eropa, beberapa sineas dokumenter berpengaruh juga bermunculan. Di Uni Soviet, Dziga Vertov memunculkan teori “kino eye”. Ia berpendapat bahwa kamera dengan semua tekniknya memiliki nilai lebih dibandingkan mata manusia. Ia mempraktekkan teorinya melalui serangkaian seri cuplikan berita pendek,Kino Pravda (1922), serta The Man with Movie Camera (1929) yang menggambarkan kehidupan keseharian kota-kota besar di Soviet. Sineas-sineas Eropa lainnya yang berpengaruh adalah Walter Ruttman dengan filmnya, Berlin – Symphony of a Big City (1927) lalu Alberto Cavalcanti dengan filmnya Rien Que les Heures.

Film dokumenter berkembang semakin kompleks di era 30-an. Munculnya teknologi suara juga semakin memantapkan bentuk film dokumenter dengan teknik narasi dan iringan ilustrasi musik. Pemerintah, institusi, serta perusahaan besar mulai mendukung produksi film-film dokumenter untuk kepentingan yang beragam. Salah satu film yang paling berpengaruh adalah Triump of the Will(1934) karya sineas wanita Leni Riefenstahl, yang digunakan sebagai alat propaganda Nazi. Untuk kepentingan yang sama, Riefenstahl juga memproduksi film dokumenter penting lainnya, yakni Olympia (1936) yang berisi dokumentasi even Olimpiade di Berlin. Melalui teknik editing dan kamera yang brilyan, atlit-atlit Jerman sebagai simbol bangsa Aria diperlihatkan lebih superior ketimbang atlit-atlit negara lain.

Di Amerika, era depresi besar memicu pemerintah mendukung para sineas dokumenter untuk memberikan informasi seputar latar-belakang penyebab depresi. Salah satu sineas yang menonjol adalah Pare Lorentz. Ia mengawali dengan The Plow that Broke the Plains (1936), dan sukses film ini membuat Lorentz kembali dipercaya memproduksi film dokumenter berpengaruh lainnya, The River (1937). Kesuksesan film-film tersebut membuat pemerintah Amerika serta berbagai institusi makin serius mendukung proyek film-film dokumenter. Dukungan ini kelak semakin intensif pada dekade mendatang setelah perang dunia berkecamuk.

Perang Dunia Kedua mengubah status film dokumenter ke tingkat yang lebih tinggi. Pemerintah Amerika bahkan meminta bantuan industri film Hollywood untuk memproduksi film-film (propaganda) yang mendukung perang. Film-film dokumenter menjadi semakin populer di masyarakat. Sebelum televisi muncul, publik dapat menyaksikan kejadian dan peristiwa di medan perang melalui film dokumenter serta cuplikan berita pendek yang diputar secara reguler di teater-teater. Beberapa sineas papan atas Hollywood, seperti Frank Capra, John Ford, William Wyler, dan John Huston diminta oleh pihak militer untuk memproduksi film-film dokumenter Perang. Capra misalnya, memproduksi tujuh seri film dokumenter panjang bertajuk, Why We Fight (1942-1945) yang dianggap sebagai seri film dokumenter propaganda terbaik yang pernah ada. Capra bahkan bekerja sama dengan studio Disney untuk membuat beberapa sekuen animasinya. Sementara John Ford melalui The Battle of Midway (1942) dan William Wyler melalui Memphis Belle (1944) keduanya juga sukses meraih piala Oscar untuk film dokumenter terbaik.

Pada era setelah pasca Perang Dunia Kedua, perkembangan film dokumenter mengalami perubahan yang cukup signifikan. Film dokumenter makin jarang diputar di teater-teater dan pihak studio pun mulai menghentikan produksinya. Semakin populernya televisi menjadikan pasar baru bagi film dokumenter. Para sineas dokumenter senior, seperti Flaherty, Vertov, serta Grierson sudah tidak lagi produktif seperti pada masanya dulu. Sineas-sineas baru mulai bermunculan dan didukung oleh kondisi dunia yang kini aman dan damai makin memudahkan film-film mereka dikenal dunia internasional. Satu tendensi yang terlihat adalah film-film dokumenter makin personal dan dengan teknologi kamera yang semakin canggih membantu mereka melakukan berbagai inovasi teknik. Tema dokumenter pun makin meluas dan lebih khusus, seperti observasi sosial, ekspedisi dan eksplorasi, liputan even penting, etnografi, seni dan budaya, dan lain sebagainya.

Implikasi Sejarah Film Dokumenter Pada Perkembangan Film Dan Festival Dokumenter Di Indonesia

Janet Horberd dalam Media Cultures menjelaskan tentang makna festival film. Menurt Horberd yang mengutip O’Hagan, jikan ada satu cerita yang dapat merepresentasikan kompleksitas sebuah kepentingan, tekanan dan kontradiksi dalam festival film pada abad ini, adalah Berlin Festival Film yang diadakan pada tahun 2000. Di tahun tersebut, merupakan festival ke 50 dan reunifikasi Jerman tahun ke 10, berlin Film Festival direlokasi dari Zoo Palast ke Potsdamerplats yang dikelilingi oleh venue-venue hamburger Amerika dan bangunan-bangunan yang hampir menyerupai bantal meledak.

Tempat diselenggarakannya festival, menurut pemberitaan setempat, merupakan bangunan setengah jadi dan ditutupi papan iklan produk L’Oreal.  Kebingungan tentang siapa atau apa yang bertanggung jawab pada festival tersebut, atau signifikasi ganda dari produk make-up yang menutupi seluruh tampat festival, mengemuka pada jajaran juri, Gong Li.

Festival film merupakan campuran dari berbagai kepentingan iklan, pengetahuan khusus tentang film dan juga produk-produk wisata. (2002:60). Sehingga hampir dapat dipastikan bahwa festival film, secara kultur dapat disebut sebagai target pasar yang optimal. Dalam batas-batas dari festival, setidaknya empat wacana beroperasi di lapangan. Pertama, wacana pembuat film independen dan produsen beredar di katalog, siaran pers, wawancara, dan teks-teks lainnya.

Pertama, wacana pembuat film independen dan produsen beredar di katalog, siaran pers, wawancara, dan teks-teks lainnya. Laporan menarik, konsep dan asumsi tak berformula dari avantgarde tersebut, tidak melawan satu dengan ‘lainnya’, tapi berbagai nilai-nilai budaya borjuis, nasionalisme dan komersialisasi. Kedua, wacana representasi media, khususnya pers, memberikan komentar tentang peristiwa, pada kontroversi, kacamata dan ‘baru’. Ini adalah teks-teks lokal, nasional dan internasional pers dan majalah publikasi.

Ketiga, wacana bisnis pembelian, harga dan hak cipta, yang ada dalam teks transaksi hukum dan kontrak, secara verbal diskusi, melaporkan sebagian dalam pers perdagangan. Jejak wacana komersial juga muncul dalam logo membuktikan sponsorship. Keempat, wacana pariwisata dan industri jasa, rilis pers lokal, brosur, Iklan pada dan panduan buku-buku yang memberikan antarteks antara acara filmis dan lokasi. Semua ini merupakan apa yang kita alami, baik dalam jarak atau di kejauhan, sebagai acara media dari festival film, dan apa yang saya akan memanggil diskursif (2002:61).

Bagaimana dengan festival film di Indonesia? Sejarah film dokumenter di Indonesia memang tidak sejelas film-film fiksi yang lebih populer. Namun dalam satu dekade terakhir, film dokumenter di Indonesia mulai berkembang pesat. Tema-tema yang diangkat oleh film-film dokumenter itu pun semakin beragam, yaitu antara lain tema sosial-politik, seni, perjalanan, petualangan, dan komunitas. Perlahan-lahan film dokumenter mulai diputar di televisi. Pada tahun 1996, film dokumenter “Anak Seribu Pulau” yang diciptakan Mira Lesmana dan Riri Riza menjadi film dokumenter pertama yang tampil di layar televisi.

Tahun 2002 menjadi sejarah baru bagi dunia perfilman dokumenter Indonesia. Ketika itu film dokumenter berjudul “Student Movement in Indonesia” menjadi film dokumenter pertama yang ditampilkan di bioskop Indonesia. Film karya Tino Sawunggalu itu menceritakan peristiwa Mei 1998 secara nyata. Sejak saat itu, dunia perfilman dokumenter Indonesia berkembang secara dinamis. Komunitas-komunitas penggiat film dokumenter mulai tumbuh di seluruh wilayah Indonesia.

Film dokumenter Indonesia menapaki langkah baru ketika Eagle Awards Documentary Competition (EADC) pertama kali diselenggarakan pada tahun 2005. Eagle Awards Documentary Competition menjadi tantangan baru bagi para pemuda untuk “merekam Indonesia” melalui film dokumenter. EADC setiap tahunnya memiliki tema yang berbeda-beda setiap tahunnya namun tetap mengangkat lima pilar utama Indonesia, yaitu pendidikan, lingkungan hidup, kesehatan, kesejahteraan, dan kemanusiaan. Film-film yang diciptakan dari Eagle Awards Documentary Competition itu selalu menarik perhatian karena merekam kenyataan yang terjadi di Indonesia. Misalnya, film “Garamku Tak Asin Lagi” yang tahun 2011 lalu menjadi Film Rekomendasi Juri Terbaik EADC 2011. Selain EADC, festival film documenter lainnya adalah FFD yang diselenggarakan di Yogyakarta sejak 2002.

Pokok persoalannya adalah bagaimana sejarah-sejarah dunia akan film dan festival begitu mengimplikasi pada perkembangan film di Indonesia, baik di kalangan sineas atau film-maker dan penikmat produk film. Sejak bangkit dari keterpurukannya, film di Indonesia merangkak pelan tapi pasti hingga di titik hingar-bingarnya saat ini. Di bioskop-bioskop tanah air saat ini film lokal kembali bersaing dengan karya-karya film Hollywood. Implikasi ini juga menghinggapi ranah produksi documenter yang dapat dikatakan non-mainstream. Generasi muda saat ini yang memiliki kecenderungan kenyang dengan produksi-produksi mainstream, dan lebih tertarik untuk mengangkat apa yang ada di sekitar mereka, termasuk fenomena-fenomena di tanah air.

Maraknya festival-festival film documenter yang kembali menggeliat di awal 2000-an membuktikan bahwa betapa sejarah memberikan trigger yang besar untuk sebuah karya. Peserta festival film documenter baik untuk EADC maupun FFD mayoritas adalah pelajar dan mahasiswa. Topic yang mereka angkat pun beragam. Mulai dari sosial hingga politik. Contohnya adalah 11 besar dari Festival Film Dokumenter 2012 yang baru saja usai digelar di Yogyakarta Desember lalu.

Beberapa karya yang penuh dengan ide tentang Indonesia. Mulai dari perbedaan perlakuan pada siswa beda agama di suatu sekolah di Yogyakarta, gerakan politik Ahok, perihal kematian-kematian di Jakarta, fenomena penumpang kereta listrik di Jakarta hingga kehidupan para penambang belerang di gunung Ijen menghiasi FFD 2012 lalu. Semoga torehan karya dokumenter tak hanya berhenti di level ini dan dapat berbicara lebih banyak lagi di kancah dunia internasional.

SUMBER BUKU :

Griffin, Emory A. 2003. A First Look At Communication Theory, 5th Edition. McGraw-Hill: New York.

Harbord, Janet. 2002. Film Cultures. Sage Publications: London.

Little John, Stephen W, Foss, Karen. A, 2009 , Encyclopedia of Communication Theory, Sage Publications : Singapore

Mast, Gerald. Cohen, Marshall. Braudy, Leo. 1992. Film Theory and Critism : Introduction Reading. 4th Edition. Oxford University Press: New York

McQuail, Dennis. 2010. McQuail’s Mass Communication Theory. 6th Ed. Sage Publications: Singapore

Newbold, Chris. Boyd-Barret, Oliver. Van Den Bulck, Hilde. 2002. The Media Book. Oxford University Press: New York.

Parkinson, David. 1995. History of Film. Thames & Hudson, Ltd : UK

Rivers, William L. 2003. Mass Media and Modern Society. Prenada Media: Jakarta.

Straubhaar, Joseph, LaRose, 2002, Media Now: Communications Media in The Information Age, Wadsworth Publisher: USA.

Thompson, Kristin. Bordwell, David. 2003. Film History: An Introduction. McGraw-Hill Higher Education: New York.

Turow, Joseph. 2009. Media Today : An Introduction to Mass Communication. 3rd Edition. Routledge: New York

Wahlberg, Malin. 2008. Documentary Time : Film and Phenomenology. Minnesota Press: Minneapolis.

 

SUMBER NON BUKU :

MEMPOSISIKAN MEDIA KOMUNITAS: Eksistensi Radio Komunitas Terkait UU Penyiaran 2002 Dalam Perspektif Ekonomi Politik Media

Media merupakan salah satu sumber informasi yang paling banyak diminati dan dijadikan acuan saat ini, bukan lagi individu/ kelompok maupun institusi yang tersentral, semisal opinion leader, seperti pada era rezim orde baru.  Bentuk hiburan yang didapatkan dari media juga semakin beragam. Di era lalu TVRI dan RRI menjadi satu-satunya hegemoni informasi yang membentuk fenomena national audience. Pada masa itu juga, hiburan, mulai drama seri, drama daerah, pilihan lagu telah menjadi magnet bagi penonton.

Pergeseran idealisme ini tak lepas dari tatanan sosial ekonomi politik yang begitu lama telah dikekang oleh hegemoni Negara, sehingga kebebasan dalam kreativitas terkendali serapat mungkin. Pada masa itu Negara menjadi institusi dan juga intrumen dalam hegemoni dan kapitalis (2004:213). Dalam konteks ini, negara memiliki peran sangat kuat dalam mengelola media yang ada. Sehingga struktur sampai konten media dikuasai dan dijerat dalam kekuasaan orde baru. Tetapi hal itu kemudian banyak berubah seiring perubahan tatanan politik yang mengalami perkembangan pesat beberapa tahun terakhir ini. Dimana tatanan social ekonomi banyak berubah menuju perspektif liberal.

Liberalisasi media saat ini, pasca jatuhnya rezim orde baru media mendapatkan porsi yang luar biasa dari Negara dan juga masyarakat. Eforia dalam kebebasan pers dan hilangnya belenggu kreativitas memacu media, baik cetak maupun elektronik. Kebijakan desentralisasi dalam pemerintahan juga memudahkan lahirnya media di daerah. Sejak itu pula, dimulai persaingan dalam hal, memperoleh iklan, juga dalam penguasaan audience.

Ketika kemudian, banyak media komersil berebut lahan, lahirlah media-media komunitas yang menjadi cerminan kebutuhan informasi pada masyarakat atau audience yang kurang diperhatikan. Meski fenomena media komunitas ini sudah ditengarai ada sejak lama, namun suaranya baru didengar pasca jatuhnya rezim orde baru. Namun kemudian, kehadiran media-media komunitas yang digadang-gadang banyak pihak secara normatif dapat memperjuangkan kepentingan komunitas, bukan elitnya terbelit banyak permasalahan klise atau klasikal.

Idealnya, media komunitas merupakan tampilan realitas sosial sebagai bentuk kelembagaan sosial semata, bukan kepentingan politik, bukan pula bisnis. Namun bagaimanakah kehidupan dari media-media komunitas tersebut. Di beberapa media komunitas di Jawa Timur, ditayangkan informasi dari warga komunitas untuk komunitas, namun ternyata juga terdapat praktik iklan oleh warga yang, misalnya, memiliki usaha dagang. Terbatasnya daya jangkau dan kapabilitas pengelolaan media juga menjadi permasalahan yang signifikan.

Fenomena tersebut di atas melahirkan banyak permasalahan di ranah media-medai komunitas, baik secara internal dan eksternal. Dengan mengambil beberapa sampel radio komunitas di Malang (tempat domisili asli penulis) maka tulisan ini dibuat dengan tujuan ingin memetakan eksistensi dari radio-radio komunitas tersebut, menyoal secara regulasi maupun sistem.

Analisa Kasus

Bila ditinjau dari pergeseran paradigma kebijakan media, terdapat fase-fase kebijakan komunikasi yang baru versi McQuail (2003:202), ketika tujuan ekonomi dipncangkan, mengingat kondisi dari media-media komunitas yang ada maka bisa dipastikan hal ini akan mengalahkan tujuan sosial dan politik, dan eksistensi beserta tujuan media komunitas akan kembali dipertanyakan. Fiske, dalam Graeme Burton, menyebutkan bahwa, sebuah kerangka ekonomi budaya di dalamnya terdapat makna kesenangan yang bersikulasi (2000: 41), akan makin menyurutkan posisi dari media komunitas. Dimana eforia audience akan era kebebasan informasi, juga dihadapkan pada makin besarnya tuntutan akan eforia informasi hiburan. Dan audience sudah tentu akan emndapatkannya dari media-media mainstream yang kontennya berisi mass popular content.

            Tak hanya berbenturan dengan masalah konten, sasaran audience dan eksistensi, masalah klasikal lain yang dihadapi adalah perizinan. Permasalahan birokrasi selalu menjadi keluhan utama di Indonesia. Urusan birokrasi perijinan selalu panjang, lama dan melelahkan. Kemudian akan terbentur lagi pada minimnya alokasi frekuensi serta daya pancar yang terbatas. Dan bagaimana bila ini kemudian dibenturkan dengan kepentingan pemerintah? Dalam Media Now, Straubhaar menandaskan tentang adanya implikasi pemerintah yang memiliki agenda public juga kepentingan hegemoni informasi dari kelompok dominan di masyarakat (2002:51)

Ditinjau dari banyaknya aspek ekonomi politik, dan juga permasalahan-permasalahan klasikal, lalu bagaimana sebenarnya posisi dari media-media komunitas tersebut? Kebijakan komunikasi yang baru, juga menyebabkan adanya perubahan dukungan keuangan, juga dukungan politis (2003:63). Kemudian, dukungan seperti apa yang bisa menjaga keberlangsungan aktivitas media-medai komunitas tersebut? UU No 32 tahun 2002 tentang penyiaran, sebenarnya merupakan dukungan, yang bisa dipetakan sebagai dukungan “politis” bagi menjaga nafas kehidupan dari media-media komunitas. UU tersebut diharapkan menjadi jaminan namun isu-isu klasikal sepertinya tak akan berhenti sampai disitu saja.

Media Komunitas

Dengan semakin meningkatnya kesadaran dan pemahaman masyarakat terhadap hak-haknya untuk memperoleh informasi yang sesuai kebutuhan dan tepat waktu diharapkan akan mewujudkan pemerataan dan keadilan dalam memperoleh informasi. Informasi dan media massa selain mempunyai peran yang sangat penting dan menentukan bagi keberhasilan pembangunan sistem politik demokrasi, juga berkaitan dengan upaya mencerdaskan bangsa.

            Media Komunitas sebagai media komunikasi massa mempunyai peran penting dalam kehidupan sosial, budaya, politik, dan ekonomi, memiliki kebebasan dan tanggungjawab dalam menjalankan fungsinya sebagai media informasi, pendidikan, hiburan, serta kontrol dan perekat sosial.

Media Komunitas dalam hal ini, radio komunitas tumbuh dengan pesat seiring iklim keterbukaan yang lebih luas sejak era reformasi. Media komunitas memiliki berbagai fungsi, khususnya untuk komunitas, antara lain: mempresentasikan serta mendukung budaya dan identitas lokal; menciptakan pertukaran opini bebas; merangsang demokrasi dan dialog; mendukung pembangunan dan perubahan sosial dan lain sebagainya.

Permasalahannya kemudian ada;ah, pemerataan dan keadilan dalam memeproleh informasi menemui ketimpangan. Ketika masyarakat yang miskin informasi dengan masyarakat yang kaya informasi semakin tampak besar marjinalisasinya. Media komunitas kemudian diharapkan menjadi jembatan unutk menghubungkan sekaligus meminimalisir permasalahan ini.

Lembaga Penyiaran Komunitas merupakan lembaga penyiaran yang memeberikan pengakuan secara signifikan terhadap peran supervise dan evaluasi oleh anggota komunitasnya melalui sebuah lembaga supervise yang khusus didirikan untuk tujuan tersebut.

Dalam konteks penyiaran komunitas secara geografis maupun atas dasar kesamaan identitas dianjurkan memeiliki batas daerah jangkauan karena semakin kecil atau terbatas daerah operasi, dianggap dapat menjalankan prinsip “dari,oleh, dan untuk komunitasnya”.

Kehadiran Lembaga Penyiaran Komunitas (selanjutnya disebut LPK) juga menimbulkan kekhawatiran. Misalnya munvcul konflik SARA, terutama untuk LPK yang berbasis dan mengusung identitas tertentu. Karena, seperti halnya di kota Malang, banyak penyiaran komunitas yang berdasarkan keterikatan dengan latar belakang agama tertentu. Selain itu kekhawatiran akan pemborosan spectrum frekuensi radio, dengan kecenderungan banyaknya komunitas identitas tertentu yang berdiri.

Menyikapi kekhawatiran tersebut, ada manfaat juga akan berdirinya sebuah LPK atau lebih. Adanya interaksi positif antar anggota masyarakat. Regulasi yang baik diharapkan juga menunbuhkan ketaatan menghindari pemborosan terhadap spectrum frekuensi radio yang ada. Berikut mapping dari fenomena tersebut di atas:

medkom 

Untuk mendukung idealism tersebut, maka dalam hal pengembangan media komunitas ada beberapa hal yang perlu dijadikan pokok pemikiran. Misalnya, ada keterlibatan dan kontribusi pihak-pihak berkepentingan terhadap pembuatan kebijakan atas media komunitas, semisal dari Lembaga Penyiaran Komunitas sendiri dan diwujudkannya draf Rancangan Peraturan Pemerintag Tentang Penyelenggaraan Lembaga Penyiaran Komunitas versi publik.

Radio Komunitas dan Realitasnya

Radio adalah suatu teknologi yang dapat mengirimkan pesan suara lewat udara menggunakan gelombang elektro magnetik yang dimodulasi. Menurut orang awam, radio adalah alat untuk mendegarkan pesan yang disampaikan berupa suara (voice). Radio memiliki fungsi yang cukup penting disaat ini, tidak hanya untuk mendegarkan musik, tapi juga mendegarkan beberapa berita yang disampaikan oleh penyiar radio. namun kini radio tidak hanya untuk mendegarkan berita dan musik saja, atau ceramah dan debat. tapi saat ini radio dapat mengirimkan informasi berupa teks yang dapat dilihat atau dibaca. RDS (Radio Data System) adalah teknologi yang dapat mengirimkan data teks kedalam modulasi sinyal FM radio ke penerima.

RDS ini biasanya dapat dilihat/dirasakan oleh radio penerima di HP (Hand Phone) dan radio yang ada pada mobil. Biasanaya data teks yang dikirimkan ini berupa pemberitahuan nama stasiun radio, judul lagu yang sedang di putar dan atau nama program radio yang sedang di on-airkan. jadi tidak berupa pesan panjang yang menjenuhkan.

Perbedaan Radio Komunitas dengan Radio Swasta adalah dimana radio komunitas diperuntukkan untuk kalangan komunitas itu sendiri, seperti warga, sekolah, kampus dan ataupun komunitas-komunitas lainya. Dimana dalam penyajian menggenai penyiaranya tidak jauh dari perkumpulan itu sendiri atau komunitas itu sendiri. Semisal radio kampus, yang mana isi dari radio tersebut berupa informasi sekitar kampus dan pendidikan di kampus, namun saat ini banyak radio komunitas yang ingin menjadi radio swasta ataupun negeri yang sudah terkenal dan terdapat konten-konten umun di dalam penyajian radio tersebut.

Ini merupakan tindakan yang salah bagi para radio komunitas, baik kampus, sekolah, warga dan lain sebagainya. dan tidak ada peraturan yang meng-iya-kan adanya konten umum seperti radio swasta pada radio komunitas, seperti peraturan yang telah dibuat oleh KPI, baik KPI Daerah dan Pusat.

Menyoal tentang kepemilikan frekuensi, hal ini sering dilanggar oleh pembangun radio komunitas. Standart yang diberikan oleh KPI untuk kepemilikan frekuensi radio komunitas adalah FM 107.7 MHz, 107.8 MHz dan 107.9 MHz. dan juga daya pancar sebesar 50 Watt dengan Gain Antena 0 dB dan jangkauan layanan 2.5 Km (sumber. Wikipedia.org). Harapan KPI adalah agar tidak terjadi gangguan antara radio swasta dan radio komunitas. Namun hal ini sering tidak dipatuhi oleh radio komunitas, hal ini terjadi untuk beberapa kasus pada radio komunitas di Malang.

Alasan yang sering dikemukakan oleh para pemilik radio komunitas adalah bila menggunakan frekuensi yang telah ditentukan oleh KPI tersebut, maka akan terjadi perebutan dan tabarakan frekuensi.”

Peraturan yang telah ditetapkan untuk menggunakan 3 frekuensi itu, dengan daya pancar 50 Watt dan jangkauan layanan 2.5 Km.memang terbatas dan mungkin dapat menyebabkan masalah internal bagi radio-radio komunitas yang ada dari segi sesame pemilik media komuntias.

Ada beberapa radio komunitas yang berada di Kota Malang patuh terhadap peraturan-peraturan tersebut, seperti radio religi (agama) baik Islam, Kristen dan lain-lain. Namun selama ini dari KPI Daerah belum ada tindakan tegas terhadap pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh radio komunitas di Kota Malang.

Melalui interview singkat dengan salah satu officer radio komunitas di Malang dan Batu, berikut beberapa masalah klasik yang kerap dihadapi oleh radio komunitas:

  • Proses Perijinan yang panjang, lama dan melelahkan
  • Minimnya Alokasi Frekwensi daya pancar
  • Daya pancar radio komunitas yang hanya dimasukkan pada kelas D dengan daya pancar maksimal 50 watt.
  • Daya jangkau radio komunitas yang hanya 2,5 km dari pusat siaran /pemancar.
  • Alokasi frekuensi radio komunitas yang hanya 1,5 % dari 204 kanal yang tersedia (3 kanal) dan lokasi kanal yang rentan bersinggungan dengan frekuensi penerbangan.
  • Proses sertifikasi alat siaran / pemancar yang belum jelas bagi radio komunitas Indonesia. Apakah proses sertifikasi alat siaran / pemancar radio komunitas harus dilakukan sampai Jakarta (BSN) atau cukup dilakukan sampai pejabat  wilayah setempat. Apabila  dilakukan sampai BSN, hal tersebut sudah barang tentu akan memberatkan radio komunitas
  • Masih sedikit pemahaman pemerintah daerah terhadap Lembaga Penyiaran Komunitas. Pemerintah daerah masih sulit membedakan mana  radio komunitas yang benar-benar tumbuh dan berkembang dimasyarakat sebagai media rakyat, dengan radio “yang meyebut komunitas” yang tumbuh  tanpa melibatkan peran serta masyarakat didalamnya. Pendek kata, semua radio komunitas dianggap liar.
  • Larangan beriklan di radio komunitas disaat tidak ada jaminan daya hidup selain swadaya komunitas.
  • Ribuan radio komunitas di indonesia dipaksa untuk tidak mampu mempertahankan eksistensinya karena kebijakan pengiklanan yang sangat diskriminatif terhadap radio komunitas. Pemerintah Indonesia dengan sengaja memotong jatah iklan bagi radio komunitas, padahal sebagai media, hidup radio tidak lepas dari iklan. karenanya, tidak heran jika ada ratusan radio komunitas yang gulung tikar atau mati setiap tahun.
  • Pemerintah Indonesia bisa saja disebut sebagai pemerintahan yang bodoh, karena dengan logika sehat negara harus berlaku adil pada rakyatnya. Sebagai media rakyat, radio komunitas juga mampu memenuhi kewajiban membayar pajak. Namun, pada kenyataannya pemerintah berlaku diskriminatif. misalnya saja, media komersil diberi ruang lebih luas dalam alokasi frekuensi, jangkauan dan iklan. sementara radio komunitas sendiri ditekan dengan aturan-aturan yang membunuh radio komunitas itu sendiri.

Melihat dari beberapa items yang disampaikan oleh para pelaku radio komunitas tersebut mungkin ditengarai adanya agenda publik dari pemerintah, apalagi di era liberalisasi yang memposisikan pemerintah menjadi pihak yang lemah, dukungan dari pemerintah dianggap sebagai salah satu pilar kuat yang menyokong aktivitas media komunitas. Arus perlawanan bagi media mainstream sebenarnya bisa dijadikan karakter penyeimbang dalam ekosistem bermedia. Media-media komersil Indonesia wajahnya dipenuhi dengan isu-isu pemilik media yang merupakan partisipan golongan tertentu. Kita tak lagi berbicara konten namun besarnya kepentingan-kepentingan terkait, agen-agen yang bermain di dalamnya. Mari tidak melihat sebuah media komunitas sebagai elit, tapi sebagai institusi yang bernaung di bawah payung tujuan sosial dan mengatasnamakan suara-suara yang selama ini kurang didengar.

Menyoal tentang UU penyiaran

  1. Undang-undang penyiaran No. 32 tahun 2002 pemerintah indonesia membuat aturan-aturan bagi radio komunitas yang justru mempersempit ruang gerak radio komunitas itu sendiri.
  2.  Undang-undang tersebut dikuatkan dengan peraturan Pemerintah No. 51 tahun 2005 dan Keputusan Menteri No. 17 tahun 2004.
  3.  Dalam aturan-aturan tersebut menyebutkan bahwa, radio komunitas hanya diijinkan bertempat di frekuensi 107.7, 107.8 dan 107.9. Radio komunitas cukup dengan daya 50 watt dan jangkauan 2,5 kilo meter.

Proses perizinan untuk lembaga penyiaran komunitas khususnya radio dinilai masih lambat. Hal ini makin diperumit oleh pemahaman sebagian pihak yang bersikeras bahwa dalam setiap wilayah layanan, seperti Bali, hanya boleh ada tiga siaran radio komunitas. Akibat dua masalah itu, sebagian besar radio komunitas yang hendak berizin memilih untuk bersiaran secara illegal.

Pemerintah semestinya dapat bertanggungjawab terhadap persoalan ini, karena mestinya mereka bisa mendorong radio-radio komunitas untuk melakukan perizinan. “Dari pada mereka beroperasi secara illegal, alangkah baiknya kita dorong mereka untuk berizin dengan memberikan percepatan perizinan dan penambahan kanal.

Diskusi Teori

Pelaku (agen) dalam strukturasi adalah “orang-orang yang konkret dalam arus kontinu tindakan dan peristiwa di dunia” sedangkan struktur didefinisikan “aturan (rules) dan sumber daya (source) yang terbentuk dari dan membentuk perulanan praktik sosial.” Sehingga alur dualitas agen-struktur tersebut terletak pada “struktur sosial merupakan hasil (Outcome) dan sekaligus. Dualitas itu terdapat dalam fakta struktur bagai panduan dalam menjalankan praktik-praktik sosial di berbagai tempat dan waktu sebagai hasil tindakan kita. Sifat struktur adalah mengatasi waktu dan ruang (timeless and spaceless) serta maya (virtual), sehingga bisa diterapkan pada berbagai situasi dan kondisi. (2002:23)

Kemudian Giddens membahas tentang sentralitas waktu dan ruang, sebagai poros yang menggerakkan teori strukturasi dimana sentralitas waktu dan ruang menjadi kritik atas statik melawan dinamik maupun stabilitas melawan perubahan, Waktu dan ruang merupakan unsur konstitutif tindakan dan pengorganisasian masyarakat. Hubungan waktu dan ruang bersifat kodrati dan menyangkut makna serta hakikat tindakan itu sendiri.

Jadi tindakan yang disengaja (dengan tujuan tertentu sering mengakibatkan akibat yang tak diharapkan). Dualitas Struktur dan sentralitas waktu dan ruang menjadi poros terbentuknya teori strukturasi dan berperan dalam menafsirkan kembali fenomena-fenomena modern, seperti negara-negara, globalisasi, ideologi, dan identitas. Teori strukturasi menunjukkan bahwa agen manusia secara kontinyu mereproduksi struktur sosial – artinya individu dapat melakukan perubahan atas struktur sosial. Giddens berpandangan perubahan itu dapat terjadi bila agen dapat mengetahui gugus mana dari struktur yang bisa ia masuki dan dirubah, gugus tersebut antara lain gugus signifikansi, dominasi, dan legitimasi.

Dualitas antara struktur dan pelaku berlangsung sebagai berikut kita ambil pengertian struktur sebagai sarana praktik sosial. Tetapi struktur tidak seta merta menjai struktur tanpa didahului perulangan praktik sosial, misalnya dalam sebuah Negara, pembakuan peraturan negara sebagai struktur signifikansi hanya terbentuk melalui perulangan berbagai informasi mengenai wacana peraturan negara tersebut. Peraturan negara sebagai struktur dominasi semakin baku hanya terbentuk karena perulangan berbagai praktik penguasaan yang terjadi dalam wadah-wadah tunggal tetentu misalnya adanya divisi kepatuhan yang bertugas mengecek penerapan peraturan negara. Dan struktur legitimasi peraturan negara menjadi semkin kokoh, misalnya melalui keterulangan penerapan sanksi terhadap para pelaku pelanggaran.

Dalam kasus ini, praktik sosial yang dimaksudkan Giddens itu bisa saja berbentuk fenomena terbentuknya radio komunitas dan permasalahan-permasalahan yang saling menyoal, tarik ulur antara regulasi, sistem baik secara kelembagaan maupun hubungannya dengan keberadaan negara dengan peraturannya mengenai radio komunitas itu sendiri. Dualitas yang dimaksud terletak pada struktur yang menuntun pelaku sebagai sarana (medium dan resources) dan menjadi pedoman praktik sosial di berbagai tempat. Sesuatu yang mirip ‘pedoman’ atau prinsip-prinsip ‘aturan’ itu merupakan sarana dalam melakukan proses perulangan tindakan sosial masyarakat. Giddens menyebut hal itu sebagai struktur.

Struktur seperti ekspektasi hubungan, kelompok peran dan norma-norma, jaringan komunikasi dan institusi sosial baik pengaruh dan mempengaruhi oleh aksi masyarakat. Struktur-struktur di sini memfasilitasi secara individu dengan aturan-aturan yang memandu aksi mereka, tetapi aksi mereka menciptakan aturan-aturan baru dan mereproduksi yang lama. Interaksi dan struktur dekat dengan kata lain kita melakukan untuk melengkapi intensi kita tetapi pada waktu yang sama, aksi kita memiliki unintended consequences (konsekuensi tidak terintensi) membangun struktur yang mempengaruhi aksi ke depan kita.

Ada tiga pokok yang biasanya terdapat dalam struktur sebagaimana dinyatakan dalam teori strukturasi Giddens, yaitu:

a. Struktur penandaan atau signifikasi (signification -S) yang menyangkut skema simbolik, pemaknaan, penyebutan dan wacana.

b. Struktur dominasi / penguasaan (domination -D) yang menyangkut penguasaan dalam konteks politik maupun ekonomi.

c. Struktur pembenaran atau legitimasi (legitimation -L) yang berkaitan dengan peraturan normatif dalam tata hukum.

Dalam hal ini radio komunitas merupakan struktur penandaan / signifikasi, penentuan radio komunitas sebagai bagian dari media komunikasi di Indonesia oleh Negara merupakan struktur dominasi dalam pengertian kebijakan politik, pengaturan tentang kepenyiaran dari radio komunitas oleh LPS maupun Depkominfo (negara) merupakan praktik struktur legitimasi. Pada saat tertentu, gugus struktur di atas bisa saling terkait. Dalam bahasa lain, struktur dalam pengertian Giddens ini menyangkut simbol / wacana, tata ekonomi, tata politik dan tata hukum.

Struktur sebagai medium, dan sekaligus sebagai hasil (outcome) dari tindakan-tindakan agen yang diorganisasikan secara berulang (recursively). Struktur dan agency (dengan tindakan-tindakannya) tidak bisa dipahami secara terpisah. Pada tingkatan dasar, misalnya, orang menciptakan masyarakat, namun pada saat yang sama orang juga dikungkung dan dibatasi (constrained) oleh masyarakat.

Tidak ada tindakan perilaku sosial tanpa ruang dan waktu. Inilah tema sentral pokok teori strukturasi Giddens yang lain. Ruang dan waktu menentukan bagaimana suatu perilaku sosial terjadi. Unsur ruang dan waktu ini sedemikian sentralnya dalam gagasan strukturasi Giddens sehingga ia menamakan teorinya sebagai strukturasi. Tambahan -asi di dalamnya bermakna sebagai kelangsungan proses. Ada proses menjadi yang dipengaruhi oleh ruang dan waktu.

Reproduksi struktur sosial berlangsung lewat keterulangan praktik sosial yang jarang kita pertanyakan lagi, rutinitas kuliah menggunakan baju berkerah dan bersepatu serta tepat waktu, pada gilirannya membentuk skemata menghargai kampus sebagai tempat intelektual, proses strukturasi ini terjadi pada tingkat kesadaran praktis dan pada tingkat ini pula struktur dibangun dan dilanggengkan dalam rutinisasi dan direproduksi. Ini bisa berlangsung karena pada tindakan sosial yang berulang-ulang berakar suatu rasa aman ontologis.

Namun bukan berarti reproduksi struktur sosial yang ada tanpa adanya perubahan, perubahan menjadi hal yang selalu mengikuti reproduksi sosial betapapun kecilnya perubahannya. Munculnya gagasan intropeksi dan mawas diri (reflexive monitoring of conduct) dari Giddens menyatakan pelaku dapat memonitor tindakannya dimana terbentuk daya refleksifitas dalam diri pelaku untuk mencari makna/nilai dari tindakannya tersebut kemudian agen mengambil jarak dari struktur akhirnya meluas hingga berlangsung ’de-rutinisasi’.

Derutinisasi adalah gejala dimana schemata yang selama ini menjadi aturan dan sumberdaya tindakan serta praktik social dianggap tidak lagi dapat untuk dipakai sebagai prinsip pemakanaan dan pengorganisasian praktik social sehingga terjadi tindakan yang menyimpang dari rutinitas.tAkhirnya muncul keusangan struktur dikarenakan semakin banyaknya agen yang mengadopsi kesadran diskursif dan mengambil jarak dengan struktur, maka dibutuhkan perubahan struktur agar lebih sesuai dengan praktik sosial yang terus berkembang secara baru.

Dalam aksus radio kmunitas ini, dengan segala perdebatan dan permasalahannya, maka seharusnya media komunitas diposisikan independen dalam struktur yang berpihak pada kepentingan grassroot level, salah satunya. Semoga adanya UU yang mengatur tentang media komunitas bukan sekedar permainan catur ranah ekonomi politik dalam pemetaan media-media di Indonesia. Sehingga media komunitas , dalam hal ini radio komunitas dapat lebih berbenah diri secara structural organisasi, permasalahan perekonomian sebagai bentuk eksistensinya dan mendapatkan tempat tersendiri bagi penikmatnya.

SUMBER BUKU

Burton, Graeme. 2000. Memperbincangkan Televisi. Jalasutra: Yogyakarta.

Gozali, Effendi, 2002, Penyiaran Alternatif Tapi Mutlak, Jakarta: FISIP UI

Giddens, A. 1984. The Constitution of Society of The Theory of Struturation, Polity Press.

Griffin, Emory A. 2003. A First Look At Communication Theory, 5th Edition. McGraw-Hill: New York.

Hesselbein, Frances. Goldsmith, Marshall. The Community of The Future. 1998. The Peter Drucker Foundation for Non Profit Management: New York.

Inglis, Fred. 1990. Media Theory : An Introduction. Basil Blackwell Ltd: Massachusset, USA.

LittleJohn, Stephen W, Foss, Karen. A, 2009 , Encyclopedia of Communication Theory, Sage Publications.

McQuail, Dennis. 2010. McQuail;s Mass Communication Theory. 6th Ed. Sage Publications: Singapore

Mosco, Vincent, 2009, The Political Economy Of Communication, Sage Publications: California.

Priyono, Herry, B. 2002. Anthony Giddens Suatu Pengantar. Gramedia : Jakarta.

Potter, James W. 2005. Media Literacy: Third Edition. Sage Publications: Oaks, CA.

Rivers, William L. 2003. Mass Media and Modern Society. Prenada Media: Jakarta.

Straubhaar, Joseph, LaRose, 2002, Media Now: Communications Media in The Information Age, Wadsworth Publisher, USA.

Sudibyo, Agus, 2004. Ekonomi Politik Media Penyiaran. LkiS: Yogyakarta.

 

Sumber Non Buku

http://radiokomunitas.blogspot.com/ diakses pada 2 Januari 2013 pukul 21.36 WIB

http://jrki.wordpress.com/2007/06/26/memperkuat-kelembagaan-radio-komunitas-dengan-dpk/ diakses pada 8 Januari 2013 pukul 23.45 WIB

http://www.kpi.go.id/component/content/article/14-dalam-negeri-umum/30905-kanal-radio-komunitas-perlu-penambahan diakses pada 9 Januari 2013 pukul 23.47 WIB